
Gifali masih fokus memutar-mutar stir kemudinya menyusuri jalan raya. Karena mereka baru saja pulang dari Rumah Sakit sehabis kontrol dari Dokter Kandungan. Memeriksakan keadaan tiga bayi mereka yang sampai saat ini belum menunjukan tanda-tanda kelahiran.
Sesekali ia melirik istrinya yang menyandar lemah di sandaran kursi sambil menatap ruas jalan dengan senyuman masam.
Gifali menjulurkan tangan untuk mencolek bibir ranum Maura. Dan wanita itu pun terkesiap, ia menoleh kemudian beringsut memeluk dada suaminya.
"Jangan dibuat stress, ikuti saja apa kata Dokter." ucap suaminya.
"Tapi aku takut, Gifa. Kenapa Bayi-bayi kita belum mau keluar juga ya?" Maura berbalik tanya dengan tatapan sendu, takut dan gelisah.
Ketiga bayi mereka masih ingin didalam perut Bundanya, tidak kunjung keluar. Tidak ada tanda-tanda mulas sama sekali.
"Dokter kan hanya bisa berencana, tapi Allah lah yang maha berkehendak. Kita tunggu saja, anak kita sebentar lagi lahir pasti akan lahir" Gifali mengelus-elus pipi tembam istrinya. "Berbaik sangka lah kepada Allah. Yang Maha Kuasa akan selalu memberikan segala sesuatu di waktu yang tepat untuk hamba-hambanya."
"Iya, sayang." Maura hanya bisa pasrah.
Sejatinya dua pasangan ini sedang di mabuk kegelisahan. Gifali pun sama persis seperti Maura. Ia juga was-was, karena sudah sampai tiga puluh delapan minggu, ketiga bayi mereka tidak kunjung menandakan tanda-tanda mau lahir.
Padahal idealnya, untuk melahirkan bayi kembar bisa dilakukan ketika usia tiga puluh enam minggu dengan persalinan sectio caesaria, tentu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Air ketuban Maura masih bagus, dan belum ada pembukaan. Dokter menyarankan mereka untuk menunggu seminggu lagi. Karena Maura bersikukuh untuk lahir secara normal
"Atau dilahirkan saja dengan proses operasi ya? Kan sama aja, Ra. SC dan normal." Gifali kembali memberikan pilihan.
"Aku tetap dengan pendirian ku."
Gifali hanya bisa mendesah kan napas berat. Ia bingung menghadapi kemauan istrinya yang tidak kunjung berubah.
Dua minggu sebelumnya, memang ada percekcokan sedikit antara Gifa dan Maura. Wanita hamil itu tetap tidak mau menjalani persalinan sectio caesarea. Maura tetap ingin berusaha untuk melahirkan normal.
Dokter pun mengatakan, ibu hamil kembar tiga masih bisa melakukan persalinan normal jika riwayat bayi dan si ibunya baik. Memang dari hasil lab darah dan urin Maura. Semua dikatakan bagus.
Kala itu Gifali hanya bisa menurut apa kemauan Maura. Karena ia tidak mau meributkan hal itu lama-lama. Takut, jika istrinya stress dan berpengaruh pada kandungannya.
"Kita mau kemana, Gifa? Kok bukan arah untuk pulang?"
Gifa tersenyum. "Aku mau ajak kamu ke jalan-jalan. Selama di London, kita belum pernah kemana-mana, kan?"
"Wah ... Serius?" bola mata Maura berbinar-binar. "Mau kemana sayang?" tanya Maura lagi. Ia semakin lekat didada suaminya seperti ulat bulu.
"Jalan-jalan di taman aja, enggak apa-apa, kan?"
Maura mengangguk bahagia. "Kemana aja, yang penting jalan-jalan." jawabnya lugu.
Selama menikah, dan mengandung. Gifali memang belum pernah mengajak istrinya berwisata selama di London. Masa-masa pernikahan yang begitu pelik. Keadaan ekonomi yang awalnya belum stabil. Dan menuntut mereka untuk selalu hidup dalam kesederhanaan. Harus bis menabung dan menekan biaya pengeluaran agar bisa seefisien mungkin.
Dimana Maura juga harus ikut bekerja karena sebuah insiden yang tidak baik pernah menerpa dirinya. Sampai harus berdusta kepada suami dan melepaskan hijabnya. Membantu Gifali yang masih bekerja menjadi penyanyi malam di kafe.
Dan semua tapak kan perih dalam rumah tangganya mereka jalani dengan ikhlas. Allah menggantinya dengan sebuah hadiah, yaitu buah hati kembar tiga.
***
Setelah membelah jalanan dalam waktu tiga puluh menit. Kini, Gifa dan Maura telah sampai di sebuah taman kota yang indah di London.
Taman St. James Park, taman yang memiliki banyak pepohonan, bunga-bunga dan danau yang membentang di sepanjang jalannya. Di mana di sana kita bisa melihat banyak angsa dan burung pelikan yang bertebaran di udara.
"Masya Allah ... Indah banget sayang." seru Maura ketika melihat pemandangan yang baru ia tatap. Dirinya masih terpaku di dalam mobil.
Maura mengangguk.
"kita turun ya."
"Iya."
Kemudian Gifali melangkah turun terlebih dulu dari kursinya. Ia memutar langkah dan membukakan pintu untuk Maura. Memapah tubuh istrinya agar bisa menuruni mobil dengan baik. Terlihat otot-otot di pelipisnya begitu kentara ketika membantu istrinya turun. Maura memang sudah berat sekali sekarang.
"Kamu senang?"
"Banget!" Maura melepas kecupan singkat di pipi Gifali.
"Makasih Ayah, udah mau ajak kita jalan-jalan." Maura tersenyum renyah. Dan perutnya kembali bergerak-gerak.
"Kayaknya mereka senang nih dibawa jalan-jalan." sambung Maura lagi.
Gifali tersenyum, dan mengusap perut istrinya. "Cepat lahir ya anak-anak Ayah, kasian Bunda nya nih, Nak." nada suara lelaki itu terdengar memelas.
"Iya, Ayah." Maura mewakili.
Mereka kembali melanjutkan langkah untuk masuk kedalam pintu gerbang taman yang dibuka secara bebas.
Di taman ini juga mempunyai jembatan, yang jika di lewati bisa melihat Istana Buckhingam dan London Eye. Dan setiap siang menjelang sore seperti ini. Akan ada kegiatan pawai atau iring-iringan pasukan Household Cavalry.
Telapak tangan kiri Gifali tidak surut menggandeng tangan istrinya. Ia berusaha untuk mensejajarkan langkah kakinya dengan Maura yang berjalan begitu pelan dan seadanya.
Walaupun terasa sangat lelet dan lama sekali, tapi Gifa tidak mempermasalahkan itu. Ia sangat mewajari nya. Lelaki itu malah senang, karena melihat raut wajah istrinya yang begitu bahagia menikmati suasana taman yang meneduhkan.
"Duduk di situ ya." Gifa menunjuk sebuah bangku yang terletak di pinggiran taman yang banyak disinggahi daun kering berwarna kuning berjatuhan dari atas pohon.
"Tidak di sana saja?" Maura menunjuk ke arah keramaian beberapa meter dari posisinya. Terlihat orang-orang sedang duduk di atas rumput kehijauan, persis di pinggir danau.
Gifali menggeleng. "Nanti kamu terlalu lelah jika berjalan lama. Sudah, di sini saja." langkah kaki mereka bertepatan henti didepan kursi yang ingin mereka duduki.
"Iya sayang." Maura menurut.
Mereka pun duduk bersisihan di kursi melamin. Menatap orang-orang yang tengah berlalu lalang melewati sepanjang jalan taman St. James Park.
"Sayang ..."
"Hemm?" Maura yang sedang sibuk melihat sekumpulan anak tengah berlari-lari lalu menoleh ke arah suaminya. "Kenapa?"
Terlihat Gifali merogoh saku celana dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sorotan mata Maura tidak luput dari benda yang berbentuk kotak berwarna biru navy berbahan ludru.
Gifali membuka kotak benda kecil itu dan memperlihatkan isi dalamnya.
"Masya Allah ..." Maura terperanjat. Ia sampai membekap mulutnya karena tidak percaya.
****
Abang ganteng kasih apa tuh kira-kira?
Masih ada satu episode lagi, kira-kira jam delapan malam akan aku post.
Like dan Komennya dulu banyakin ya.