
Terlihat dua keluarga ini tengah bergoler untuk istirahat. Melepas penat dan lelah sehabis melakukan perjalan jauh di udara selama belasan jam. Karena masih ada waktu dua jam lagi menuju subuh, maka mereka semua memilih untuk memejamkan mata sebentar.
Maura, Mama Alika dan Mama Difa sedang tidur bersempit-sempit di atas kasur di ruang tengah. Sedangkan para lelaki tidur di atas karpet tanpa menggunakan bantal sama sekali di ruang depan.
Bisa dibayangkan bagaimana Papa Bilmar dan Papa Galih yang terlihat tidak nyenyak sama sekali. Mereka bergeliat kesana kemari. Gifali pun mengerti, namun ia hanya diam dan memaksa kedua matanya untuk terpejam, ia berada diantara dua calon Kakek tampan yang sedari tadi grasak-grusuk tidak jelas.
"Duh nyamuk!" decak Papa Galih memukul nyamuk yang tengah menghisap lengannya.
"Haduh, panas banget di sini!!" seru Papa Bilmar. Ia sudah berkali-kali mengipas-kipas tubuhnya dengan buku Maura yang terletak tidak jauh dari nya.
"Baju sampai basah begini." sambungnya lagi, lalu melepaskan baju dari tubuhnya dan memilih untuk bertelanjang dada.
Karena masih saja merasa gerah, akhirnya Papa Bilmar memilih untuk membuka pintu kostan dengan menganga lebar.
"Nah kan segar." serunya ketika angin dari luar kostan mulai masuk ke dalam, dan menerpa permukaan kulit tubuhnya.
Papa Galih menoleh dan menatap Papa Bilmar yang masih berdiri di pintu.
"Kok kamu telanjang, Mas?"
"Saya gerah, Mas."
"Jangan dibuka, Mas! Tutup lagi pintunya!"
"Biar aja terbuka! Biar udara masuk, saya pengap di sini! Panas!" Papa Bilmar tetap tidak mau mengalah.
Dari masa muda Papa Bilmar memang tidak bisa tidur tanpa ac. Maka ketika tidur dalam keadaan pengap seperti ini, ia merasa seperti tercekik. Lelaki itu kembali merebahkan tubuhnya disamping Gifali. Ia mendiamkan rancauan Papa Galih yang terus memaksanya untuk menutup pintu.
"Banyak nyamuk, Mas! Saya gak kuat, di gigitin terus dari tadi!" sungut Papa Galih. Ia masih menggaruk-garuk tubuhnya. Sesekali menepuk nyamuk yang tengah menghisap di tangan anaknya
"Tuh kasian anak saya, di gigit nyamuk!" imbuh Papa Galih.
"Tapi kok aneh, saya malah gak di gigitin sama sekali." Papa Bilmar tertawa sekilas.
"Darah kamu pahit kali, jadi nyamuknya nggak suka!" gerutu Papa Galih.
Gifali yang tidak tahan mendengar celotehan mereka berdua akhirnya terbangun.
"Kok bangun, Nak? Kenapa?" tanya Papa Bilmar.
"Bentar, Pah." Gifali pun bangkit berdiri dan melangkah masuk ke ruang tengah.
Ia melihat para Mama dan istrinya sudah tertidur pulas dan saling memeluk di atas kasur. Meraih kipas angin berdiri dan membawa nya ke ruang depan. Meletakan alat itu tidak jauh dari tubuh mertuanya.
"Nah gini dong, kan enak. Makasih ya, Nak." ucap Papa Bilmar.
"Ayo Pah pakai baju lagi, nanti Papa masuk angin!" titah Gifali. Mertuanya pun menurut dan memakai bajunya kembali.
Gifali menghampiri pintu kostan yang terbuka untuk ditutup serta menguncinya. Ia kembali menghampiri Papa Galih yang masih terduduk sambil menepuk-tepuk nyamuk yang masih setia bertengger dipermukaan kulitnya yang manis.
Papa Galih menatap sang anak yang sedang mengoleskan lotion anti nyamuk di telapak tangannya. Dan lelaki paru bayah itu tersenyum ketika Gifali mengusapkan lotion tersebut di kedua kaki serta tangan miliknya.
"Ayo Pah tidur lagi." Gifali membantu sang Papa untuk membaringkan tubuhnya.
"Makasih ya, Kak." ucap Papa lalu mengelus lengan sang anak. Papa Galih kembali memejamkan kedua matanya untuk melanjutkan tidur.
Gifali mengoleskan lotion kembali ditelapak tangannya untuk ia balur kan di kedua kaki dan tangan Papa Bilmar. Lelaki paru bayah itu seketika mengedikkan bahu karena kaget, karena merasa ada sentuhan hangat mendadak yang tengah ia rasakan. Membuka mata dan menemukan menantunya tengah mengoleskan lotion anti nyamuk dipermukaan kulitnya.
"Iya, Pah. Maaf ya, jika kostan kami membuat Papa sulit tidur."
Papa Bilmar mengangguk. "Ayo tidur lagi sini!" ia menepuk bagian kosong disebelahnya, Gifali pun menurut dan membaringkan tubuhnya lagi di sana.
****
Pagi kembali menerpa, dengan rencana yang matang, Pramudya dan Tamara akhirnya mantap melangkahkan kaki menuju Indonesia. Tamara ingin membantu suaminya untuk mencari info tentang Gita dan anak mereka, yang Pramudya anggap sudah mati selama ini. Serta lelaki itu berniat ingin mencari keberadaan Papa Galih dan Mama Difa di Jakarta. Seperti biasa Adrian pasti yang akan mengantar mereka ke bandara.
"Jaga adikmu ya, Yan. Papa dan Mama pergi dulu. Kalau ada apa-apa, tolong cepat kabari kami." ucap Pramudya.
"Mama dan Papa enggak akan lama kok, Nak. Hanya seminggu." timpal Tamara. "Titip Agnes. Jangan lupa ingatkan makan."
"Iya, Mah." Adrian menjawab singkat tanpa banyak bertanya lagi.
Ia hanya percaya ketika sang Papa bilang akan menghadiri pesta pernikahan anak sahabatnya di Jakarta. Adrian dan Agnes pun mengizinkan orang tua mereka untuk pergi beberapa hari.
"Hati-hati ya, Mah, Pah." ucap Adrian lalu mencium punggung tangan mereka secara bergantian. Tamara memeluk dan mencium anak lelakinya.
"Kami pergi dulu ya, Nak."
"Iya, Mah, Pah."
Dan pasangan paru bayah itu pun berlalu dari pandangannya untuk menuju counter check in.
Tatapan Adrian seperti tengah menerawang jauh. Menatap bayangan orang tuanya yang semakin tidak terlihat lagi. Lelaki itu merasa seperti ada yang sedang disembunyikan oleh kedua orang tua mereka, terutama oleh Papanya, Pramudya.
Pramudya tetap menggandeng tangan istrinya. Melewati lorong bandara menuju pesawat. Senyum bahagia terus ia tebarkan. Ia sangat berterimakasih mendapatkan istri sebaik Tamara, mau mengerti dan memahami isi hatinya selama ini.
Walau jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam Tamara masih sangat takut. Ia begitu gelisah jika pertemuan Pramudya dengan Gita akan membawa percekcokan didalam rumah tangga mereka nantinya. Ia cemas jika suaminya kembali mencintai wanita itu.
Oh, tenang saja Tamara, saingan kamu sudah lama meninggal dunia.
Drrt drrt drrt
Ponsel Adrian bergetar, ada satu pesan singkat masuk.
"Ramona.." eja nya.
Ia mulai membaca pesan singkat yang dikirim oleh sang kekasih.
[Kak kamu sudah sampai bandara? Nanti siang anterin aku ke kostan Maura ya, aku mau jenguk dia, sekalian bawain buah dan kue]
Adrian membaca pesan masuk dari Ramona.
[ Aku sudah sampai di bandara, Mama dan Papa juga sudah berada di pesawat. Baiklah, nanti siang aku jemput kamu di kampus]
Kembali ia memasukan ponsel kedalam saku celana dan melangkah pergi meninggalkan bandara. Entah apa yang akan terjadi, ketika Adrian dan Ramona melihat orang tua Maura dan Gifali sedang berada di kostan. Mampukah Maura dan Gifali mengelak lagi dan menyembunyikan rahasia mereka selama ini?
****
Ayonih gengss, jantung kalian debar-debar nggak??🤭😂
Maapin malem banget munculnya, tadi nya mau dikeluarin besok, tapi kasian kalian padaa nungguin hehe. Like dan Komennya jangan lupa ya.❣️