
"Mona ..." panggil Maura pelan dari mejanya.
Howe. Maura buru-buru membekap mulutnya yang seketika ingin menumpahkan cairan bening dari dalam perut. Saat ini ia begitu mual. Tubuhnya terasa dingin, kepalanya begitu pening. Sepertinya efek kehamilan mulai tampak. Apalagi saat ini ada tiga anak sekaligus didalam tubuhnya.
Mencoba mengendus bau minyak kayu putih, siapa tahu rasa mual akan hilang. Nyatanya wangi minyak itu menjadi musuhnya sekarang. Ia geser botol minyak kayu putih itu jauh-jauh dari nya. Rasanya ingin muntah sekarang juga.
Howe. Maura sebisa mungkin menekan rasa itu agar tidak kembali keluar. Ia membuka botol minum dan menenggak isinya. Namun cara itu nihil, Maura tetap ingin muntah.
"Mona ..." Maura kembali mengulang panggilannya. Tapi sayang Ramona yang duduk di meja depan sebelah kanan tidak begitu mendengarkan sapaan Maura. Gadis itu sedang asik mencatat.
"Ya Allah, rasanya lemas sekali." Maura mendesah. Air keringat mendadak muncul. Membasahi seluruh permukaan kulit tubuhnya. Sekilas ia memejamkan mata, karena tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan didalam tubuhnya.
"Mama ... Papa." Maura menyerukan Mama Alika dan Papa Bilmar. Kemudian menyerukan nama suaminya. "Gifa ..."
Maura terus memanggil-manggil nama mereka bertiga. Seraya memanggil untuk meminta bantuan. Walau mustahil mereka akan datang mendadak begitu saja, tanpa di hubungi.
Rasa ingin muntah kembali menerpa. Merasakan rasa panas yang sudah hadir di sekitar kerongkongannya.
"Kenapa rasanya hamil seperti ini ya?" rintih nya lagi. "Tapi demi kalian, Bunda akan kuat, Nak." Maura memegang perutnya.
Dan
Howe. Rasa mual itu tetap saja tidak ingin pergi. Malah semakin meremas, mengaduk-aduk dalaman perutnya.
"Pening sekali, dan mataku terasa gelap." desahnya sambil terus menguatkan diri. Mengerjapkan beberapa kali kelopak matanya yang dirasa akan tertutup layu. Lama-lama pandangan yang ada di hadapannya berubah menjadi kabut putih.
Dan
Brug.
Semua mata menoleh dan memandang. Terutama Ramona yang melototkan kedua matanya dan berseru histeris. Ia beranjak bangkit dari kursi lalu menghampiri Maura yang sudah tersungkur di atas lantai. Wanita hamil itu pingsan.
*****
Blup.
"Ah tolong!" Maura meronta-ronta. "Tolong aku ... Tolong!" Maura terus merancau.
"Sadar, Ra, sadar!"
Dengan cepat Maura membuka matanya ketika Ramona mengguncangkan kedua lengannya. Maura langsung memeluk Ramona yang sedang membungkuk di hadapannya.
"Tolong aku, Mona. Tadi ada yang ingin membekap wajahku dengan bantal!" seru Maura menangis.
Ramona tersentak kaget. Ia ingin melepas pelukan itu tapi Maura menahannya. Jantung Maura teras berdenyut cepat. Dan jantung Ramona ikut bertalu-talu. Keningnya mengerut beberapa lipatan. Memang beberapa saat lalu Ramona meninggalkan Maura seorang diri di sini. Karena ia harus meminta ijin untuk menemani Maura kepada dosen.
tanpa sengaja ia menoleh ke arah kaca dan mendapati Agnes sedang membawa bantal dengan langkah cepat.
"Brengsekk!" kelakar Ramona dalam hatinya.
"Aku takut, Mona!" seru Maura lagi.
"Sst! Udah gak apa-apa, aku di sini, Ra." Ramona tetap menenangkan Maura sebisanya. Dadanya menjadi amat geram melihat sikap tidak beradab dari Agnes.
"Bisa-bisanya dia, ingin membunuh Maura. Lihat saja nanti, akan ku balas kamu, Agnes!" Ramona berjanji dalam dirinya.
Ramona melepas pelukan itu. "Minum dulu ya."
Maura menggeleng dan memegang tangan Ramona kuat-kuat.
"Kamu tadi lagi bermimpi, Ra. Gak ada yang ingin bunuh kamu." Ramona menelan air liurnya jauh-jauh. Menekan rasa kikuknya agar Maura tidak curiga kalau ia sedang menutupi sesuatu.
Maura hening sesaat, seraya mengingat sesuatu hal yang kembali membuat ia pusing. Wanita hamil itu meringis sambil memegangi kepalanya.
"Kamu tadi pingsan, Ra." ucap Ramona lalu membaringkan Maura kembali di ranjang uks. Ia menyeka air mata Maura yang terus saja menetes.
"Aku gak tau kalau hamil rasanya seperti ini, Mona. Bagaimana kalau aku terus begini, teman-teman dan para guru akan curiga." rintih Maura.
Ramona hening, ia bingung harus bagaimana menghadapi masalah Maura. Tentu masalah kehamilannya sangat rumit. Ditambah lagi dengan sikap Agnes yang dianggap kelewat batas.
"Bagaimana kalau kita ke Dokter aja? Minta obat mual dan muntahnya. Seenggaknya kamu bisa memanipulasi keadaan. Orang-orang tidak akan curiga kalau kamu sedang hamil, Ra."
Maura mengusap kebasahan yang masih berbekas di sudut matanya dan memberikan senyuman hangat kepada Ramona.
"Terimakasih Mona. Tapi nanti aja, aku harus bicara dan minta ijin dulu dengan suamiku."
Ramona membalas senyuman itu dan mengangguk.
"Apa mau aku telepon kan, Gifa?" Ramona menawarkan.
"Jangan, Mona. Nanti ada yang curiga kalau Gifali masuk kedalam pekarangan kampus. Dan aku juga tidak mau Agnes bertemu lagi dengan Gifa." tukas Maura, suara dan wajahnya terlihat kembali emosi. Ia kembali memegangi dadanya. Rasanya begitu sesak ketika harus memikirkan banyak masalah yang begitu saja bercabang.
"Tuh kan emosi lagi. Kamu harus sabar, jangan fikir macam-macam dulu. Kamu mau anakmu kenapa-napa didalam?"
Maura hanya diam mengangguk. Ia kembali menetralkan napasnya yang sejak tadi terengah-engah menahan kesal.
"Aku pergi dulu ke kantin ya. Ingin membelikan mu minum dan roti."
"Maaf ya, Mon. Aku ngerepotin kamu."
"Enggak apa-apa aku senang kok, Ra." jawab Ramona dengan senyum. Lalu ia melepaskan genggaman tangan itu dan berlalu.
"Ya Allah, kenapa masalahku jadi banyak begini? Padahal aku masih cemas dengan ketiga anak ini, apakah aku bisa mempertahankannya dengan kondisiku yang seperti ini." Maura mengusap kembali perutnya. Walau masih ada rasa mual, namun tidak ingin sampai muntah seperti tadi. Ia masih menatap sudut langit kamar uks.
"Belum lagi masalah kampus, bagaimana jika mereka tau? Aku bisa dikeluarkan, Gifa, Mama dan Papa pasti akan kecewa." desanya dengan air mata yang kembali berlinang. Meremas kain seprai dengan kepalan tangan karena rasa kecewa yang begitu saja membuncah.
"Dan tentang Agnes! Aku benci sama dia! Aku benci!!! Aku tidak suka jika ada wanita yang telak-telak ingin merebut Gifali dariku!"
Maura terus merancau sedih, melepaskan unek-unek yang tengah bersarang di dalam batinnya. Meminta kekuatan kepada Allah, agar masalah yang sekarang terjadi dapat hempas dan terselesaikan."
"Bisakah aku mengandung dalam keadaan nyaman?" ia kembali bergumam sendiri.
Sudah dipastikan jika Maura seperti ini terus, psikis nya akan terganggu.
Terlihat Ramona merubah langkahnya setelah keluar dari ruangan Uks. Ia tidak jadi pergi dulu ke kantin. Tapi ia melangkah ke arah yang berbeda. Ia tahu, ini adalah saat yang tepat untuk menemui orang yang sama-sama mereka benci.
"Eh, TUNGGU!" suara Ramona menghentikan lajuan langkah wanita yang ada dihadapannya.
"Gue mau ngomong delapan mata sama lo!" decak Ramona dengan suara menantang.
Agnes pun menoleh dan menyugingkan senyum.
"Oke! Gue siap." jawab Agnes tidak kalah lantang. Ia menantang Ramona dengan dagu yang dinaikan. Mata yang di tajamkan. Menatap Ramona dengan kedua tangan melipat di dada.
*****
Like dan Komennya jangan lupa ya❣️