
Sudah lelah rasanya untuk menangis. Kelopak matanya terasa berat untuk dibuka. Maura memilih membungkam diri dibawah selimut dari tadi sore sampai malam.
Berkali-kali Gifali membujuk Maura untuk makan, namun wanita hamil itu hanya menggeleng. Susu hamil yang dibuatkan Gifali pun dibiarkan saja sampai dingin di atas nakas.
Maura mengerjapkan mata, setelah beberapa jam tertidur pulas. Mungkin karena ia sudah letih menangis. Ia bangkit setengah duduk lalu menjulurkan tangan di atas nakas untuk meraba kaca matanya.
Ia tersenyum ketika mendapatkannya. Kaca mata dan alat pendengaran kembali ia pasang. Kemudian menoleh ke arah sebelahnya, mendapati Gifali tertidur memeluk guling sambil memunggunginya.
Terdengar dengkuran halus dari lelaki itu. Kasian sekali, ia diami lama oleh Maura. Malam ini begitu berbeda, biasanya mereka akan tidur saling berpeluk, tapi malam ini tidak. Membuat Gifali begitu merana.
"Sudah jam dua belas?" gumam Maura, bola matanya masih lekat menatap jam di dinding.
Kruk kruk
Maura sedikit terkekeh, ketika perutnya berbunyi. Ia menurunkan tatapan, untuk menatap perut buncitnya.
"Anak-anak Bunda laper ya? Kita bikin mie instan mau?" ajak Maura. Tangannya tidak berhenti untuk terus menerus mengusap-usap perutnya. Walau mie instan itu tidak baik, tapi sekali-kali di cicipi rasanya tidak masalah. Hanya karena ingin, namanya juga ibu hamil.
Maura menyeka selimut, dan beranjak bangkit dari ranjang menuju dapur. Selama dua bulan ini, langkah kakinya sudah stabil. Antara otak dan perintah hatinya sudah seimbang. Hanya saja penglihatan dan pendengaran nya masih bermasalah.
Berjinjit sedikit, dan menjulurkan tangan untuk meraih mie instan di dalam lemari yang menggantung di dinding. Mengambil panci lalu di isi air matang dan kemudian di masak diatas kompor. Membuka bungkus mie dan menuangkan bumbu diatas mangkuknya.
"Pakai telur dan sayur sepertinya makin enak." gumamnya lagi.
Ia kembali berjalan menuju kulkas untuk mencari bahan-bahan yang ia perlukan. Tidak hanya telur dan sawi yang ia ambil, tapi juga bakso dan tahu ia keluarkan dari kulkas.
Ibu hamil dengan tiga bayi kembar itu rasanya sangat lapar, ia butuh tenaga. Padahal di meja makan, masih ada sisa lobster masakan sang Mama. Namun Maura memilih mie instan sebagai penuntas rasa laparnya.
Tidak berapa lama makanan yang ia inginkan pun jadi. Satu mie rebus, dengan campuran telur, sawi, bakso, tahu serta irisan cabai rawit dan bawang goreng sudah siap di santap. Hawa panas dari mie tersebut mengepul di udara.
Srrt
Srrt
Maura terus menyeruput mie nya dengan fokus. "Emm, enak banget nih." pujinya kepada diri sendiri. Ia kembali memasukan potongan tahu dan bakso kedalam mulutnya. Menyeruput lagi kuah mie yang begitu gurih.
"Lapar?" suara itu membuat pangkal nya mengedik.
Maura mendongakkan wajah ke atas, berpaling dari mangkuk mie nya, ia sedikit kaget ketika melihat suaminya yang berseru. Dengan cepat ia mengubah mimik wajahnya kembali menjadi dingin.
Gifali tersenyum sambil mengacak pucuk rambut istrinya.
"Kenapa makan mie? Kan masih ada nasi dan lauk, susumu juga belum di minum sayang" ucap Gifa lembut. Ia memundurkan kursi lalu mendudukinya, tepat disebelah Maura.
Hening. Maura memilih kembali menikmati mie nya tanpa menimpali ucapan Gifali.
"Pelan-pelan makannya, Ra. Nanti kamu tersedak." Gifali meraih tissue, seraya ingin mengusap sudut bibir Maura yang meninggalkan banyak minyak.
Maura menjauhkan wajahnya dari tangan Gifali. "Jangan sentuh dan jangan bicara sama aku! Jika kamu masih bersikeras untuk meninggalkan kami di sini." decak Maura. Ia menggeser mangkuk mie dan duduk sedikit memunggungi suaminya.
Hening lagi. Gifali tidak bisa menjawab, keputusannya sudah bulat untuk meninggalkan Maura di Indonesia, agar lebih aman dan dapat diperhatikan dengan cukup.
Karena selama di London nanti, ia akan banyak menyerahkan waktunya dengan kampus dan kantor. Ingin belajar dengan giat agar bisa lulus dengan cepat. Apalagi Pramudya akan membuatkan Gifali sebuah kantor baru. Lelaki itu pasti akan sangat sibuk.
"Kita sudah membahas masalah ini sejak tadi sore, apa kamu tidak letih sayang?" Gifali mengusap lembut punggung istrinya.
Maura sedikit memejamkan mata, sejujurnya ia tidak tega jika harus terus merajuk seperti ini kepada lelaki yang selalu berucap dengan nada lembut dan membuat hatinya menjadi teduh. Tapi ia harus tetap seperti ini, sampai Gifali luluh dan mau membawanya.
"Aku tidak akan letih membahas masalah penting seperti ini, Gifa! Pokoknya kamu harus membawaku kembali ke sana." suara Maura begitu tegas.
"Tolong, Ra. Mengerti keadaan kita." ucap Gifali mengiba.
"Keadaan siapa yang harus dimengerti? Tinggal bawa aku kesana! Kenapa sangat sulit bagimu? Kamu memang yang selalu merumitkan keadaan, Gifa!" Maura mengeluarkan unek-unek dan segala kekecewaannya.
"Selama ini aku selalu menerima, mengerti dan menuruti apa saja kemauanmu. Melepas kastaku, menjalani kehidupan sederhana, selalu bersabar dengan berbagai ujian yang sedang menimpa kita seperti saat ini. Lalu apa salahnya sekarang untuk gantian? Kamu menuruti kemauanku, aku ingin kembali kesana bersamamu, Gifa!"
"Sulit, Ra. Aku ingin kamu aman di sini bersama anak-anak kita. Aku ingin kamu mengandung tanpa rasa trauma. Di London, terlalu banyak masalah. Aku tidak ingin kamu stress."
Maura membanting garpu dan sendok yang sedari tadi masih ia genggam diatas meja makan. Ia bangkit berdiri dan menurunkan tatapannya untuk menatap suaminya.
"Aku sudah tidak memikirkan masalah itu lagi, Gifa. Aku sudah ikhlas! Aku hanya ingin tinggal bersamamu, dengan ketiga anak kita di sana. Aku ingin menemanimu seperti kemarin." ucap Maura dengan nada memelas. Air bening kembali mengalir dari balik kaca matanya. Susah sekali fikirnya, untuk memaksa lelaki ini agar mau membawanya.
"Selama ini aku sudah berjuang untuk terus menerima keadaan rumah tangga kita, namun sekarang kamu patahkan begitu saja. Aku jadi hilang semangat!" Maura terus saja berdecak, dadanya bergerak naik turun. Puas sekali rasanya, rasa emosi yang sejak sore menggumpal bisa begitu saja mengalir dengan deras.
"Apa kamu menyesal menikah denganku?"
"Awalnya tidak, namun sekarang IYA! Aku merasa hanya seorang istri yang tidak pernah dianggap suaranya oleh suami!" jawab Maura lantang. Air matanya terus saja menggelosor turun. Perih sekali hatinya, bisa berbohong hanya karena rasa kecewa yang tidak mau padam.
"Aku hanya ingin melindungimu, Ra. Aku akan tetap berangkat sendiri ke London. Keputusanku sudah bulat!" Gifa menatap bola mata istrinya, lurus dan tegas. Tidak ada semburat kegoyahan dari netra pekat milik nya.
"Kamu dan anak-anak tetap di Indonesia." sambungnya lagi.
Maura tertohok, samar ia menggelengkan kepala. Sampai tak sadar, ia meremat kain berlapis didepan dadanya. Dadanya terasa sesak dan pilu.
"Baik kalau begitu! Pergilah kamu kesana, dan jangan pernah kabari aku lagi!" Maura membawa langkah kakinya untuk meninggalkan Gifali yang masih membeku di meja makan. "Aku tidak akan pernah membalas pesan-pesanmu nanti." sambungnya.
DEG.
Jantung Gifa berdentam kuat. Ancaman yang seharusnya tidak ia dengar didetik-detik keberangkatannya. Namun lelaki itu masih saja sabar, ia menahan ego untuk tidak emosi.
"Sabar, istrimu sedang hamil." suara lain di hatinya menasihati.
Lalu
Baru setengah melangkah, wanita hamil itu berhenti di posisinya. Ia menurunkan tatapannya ke arah perut. Maura menyerengit kaget, ia mengusap perutnya penuh kelembutan.
Air mata yang sejak tadi turun, kini ia hentikan. Berganti dengan wajah yang mulai penuh dengan sinar kegembiraan. Samar-samar sudut kedua bibir Maura terangkat sempurna.
"Kamu kenapa sayang? Ada yang sakit?" tanya Gifa, yang buru-buru menghampiri istrinya.
Maura tersenyum menatap Gifa, seakan rasa kesalnya sudah mental begitu saja.
"Coba pegang perutku, Gifa." Maura meraih telapak tangan kiri suaminya untuk diletakan diatas perutnya.
DEG.
Gifa melongo, mulutnya menganga sedikit. Lalu kembali tersadar ketika gerakan didalam perut istrinya semakin terasa.
"Masya Allah ... Anak-anak kita bergerak, Ra?"
Sungguh ketiga anak itu adalah pemersatu mereka berdua.
*****
Like dan Komen jangan lupa ya, cinta cintanya Ayah Gifa dan Bunda Maura❤️🤗