
"Assalammualaikum ..." suara Maura terdengar bersamaan dengan derikan pintu yang ia buka. Baru saja Papa Bilmar ingin menoleh dan menjawab salam, tapi keningnya sudah berkerut.
"Loh ... Loh, kenapa, Nak?" Papa Bilmar segera bangkit mengekor putrinya yang sedang melangkah terbirit-birit ke dalam kamarnya.
Howe.
Howe.
Howe.
Maura terduduk di atas lantai, membungkuk ke dalam closed. Sambil memegangi perut, ia menumpahkan cairan yang rasanya tidak enak ke dalam sana. Papa Bilmar terus menekan tengkuk Maura. "Ayo keluarin, Nak. Terus aja, sampai kamu lega."
Maura hening sebentar, dengan mata yang masih ia pejam. Menghirup oksigen di udara untuk menekannya masuk kedalam tubuh. Sungguh sangat sulit untuk menetralkan rasa muntah yang masih ingin melanda keluar.
Kemudian, Maura kembali memuntahkan cairan itu. Air liur terlihat menggantung di bibirnya diiringi dengan napas yang terengah-engah. Keringat dan tetesan air mata kembali bercampur dan membasahi wajahnya.
Papa Bilmar menekan push di closed. Dan melolongkan kedua tangannya di bawah lengan Maura untuk membawa anak itu berdiri.
Papa Bilmar menangkup air di telapak tangannya dan mengusapkan di wajah Maura. Mereka berdiri didepan cermin kamar mandi.
"Pah, kenapa hamil rasanya seperti ini?" tanpa sengaja Maura mengeluh.
"Sabar, Nak. Hamil memang begini, dulu, Mama Kannya dan Mama juga begini. Sama seperti Kakak."
Maura hanya mengangguk lemas. Papa masih mengusap wajah anaknya dengan tissu, lalu membawanya keluar dari kamar mandi untuk di dudukan di bibir ranjang.
"Kakak kenapa?" tanya Mama Alika. Wanita paru bayah itu baru muncul dengan mukena yang masih menyelimuti tubuhnya.
"Kakak mual, muntah dan pusing, Mah." Maura langsung mendekap sang Mama yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Maura masih kaget, Mah. Baru tahu dia rasanya hamil seperti itu." ucap Papa Bilmar yang masih berjongkok untuk melepaskan sepatu dan kaos kaki Maura. Ia begitu kasihan melihat putrinya dalam keadaan lemas seperti itu.
"Sabar, Nak. Mama juga dulu begitu. Apalagi Kakak masih muda, dan sudah mengandung. Tiga anak pula. Ditambah mengalami mual dan muntah yang rasanya tiga kali lipat dari hamil biasa, pasti Kakak kaget."
"Kakak harus terbiasa dan memakluminya. Namanya juga lagi hamil, ada suatu makhluk baru di tubuh kita, pasti ada perbedaannya."
Mama Alika terus memberi kekuatan dan beberapa wejangan.
"Berapa lama ya, Mah? Apakah dengan keadaan Kakak yang kaya gini, anak-anak Kakak tetap baik-baik aja?" tanya Maura dengan tatapan getir.
Mama Alika mengusap hijab dan mencium kening putrinya. "Yang penting kuncinya satu, Kakak gak boleh stress. Harus banyak makan, minum susu dan vitamin. Biar cucu Mama dan Papa didalam sini, selalu tumbuh dengan aktif, sehat dan tanpa masalah."
Maura mengangguk hening, tatapannya kembali kosong dan menerawang ke kejadian yang baru saja ia rasakan di ruang uks.
"Aku tau, kamu yang melakukannya, Agnes! Tidak akan aku biarkan kamu sejengkal pun untuk menyentuh aku, suamiku dan anak-anakku!" kecam Maura dalam batinnya.
"Papa buatin susu ya." ucap Papa.
"Iya, Pah." jawab Maura singkat lalu mendekap lagi Mamanya. Papa Bilmar pun berlalu menuju dapur.
"Mama doain Kakak terus ya, Mah. Biar Kakak, Gifa dan cucu-cucu Mama selalu sehat di sini." nada suara Maura begitu lirih.
"Enggak usah diminta, tiap saat Mama Doa hanya untuk kalian." jawab Mama Alik. Yang wanita paruh bayah itu tahu sang Anak berubah melow karena suasana orang hamil akan lebih sensitif. Lebih mudah tersinggung, sedih dan marah. Namun sayangnya ia tidak tahu, kalau putrinya sedang dalam jerat bahaya.
*****
[Kak, bilangin Gifa. Tadi siang disela jam pelajaran, Maura jatuh pingsan. Mual dan muntah terus]
Adrian masih terduduk di kursi kerjanya, membaca pesan masuk dari Ramona. Sontak ia kaget lalu mendongak ke arah Gifali yang masih fokus didepan komputer sambil sesekali melihat beberapa dokumen yang ada di meja kerjanya.
Adrian beranjak bangkit dan menghampiri Gifali ke mejanya.
"Gif, nih baca." Gifali mengalihkan tatapannya ke layar ponsel Adrian.
"Astagfirullahaladzim, Ya Allah, Maura." desah Gifali.
"Pingsan? Kok bisa?" gumamnya lagi. Gifali terlihat panik dan kalang kabut.
Dengan rasa khawatir Gifali mengangguk dan menurut. Ia terus memperhatikan raut wajah Adrian yang sedang menghubungi Ramona.
"Ya, hallo sayang." suara Ramona terdengar.
"Ini Gifali mau bicara ya sayang." jawab Adrian.
"Mona, ini Gifa. Bagaimana keadaan Maura?" suara Gifali terlihat parau. Ia gelisah sekali. Rasanya begitu sesak, mendengar orang yang di cinta sedang merasakan sakit.
Ramona pun akhirnya menjelaskan secara rinci apa yang dialami oleh Maura, tentu tidak menceritakan kalau Agnes mencoba membunuhnya. Karena bagi Ramona belum saatnya, ia ingin menunggu itikad baik dari Agnes, apakah wanita itu mau berubah atau tidak.
"Sekarang udah dirumah, Gif. Aku sudah mengantarnya pulang."
"Syukurlah kalau begitu, terimakasih ya, Mona. Maaf aku dan Maura merepotkan mu."
"Iya, sama-sama."
Gifali menurunkan ponsel dari telinganya dan kembali menyodorkan kepada Adrian.
"Nanti aku telepon lagi ya sayang." ucap Adrian kepada Ramona diseberang sana. Sambungan telepon pun terputus ketika Ramona berkata iya.
Gifali mengusap wajahnya gusar, Menghembuskan napas yang terasa sesak ke udara.
"Kasian Maura, Kak. Harus merasakan mual dan muntah seperti itu." lirih Gifali.
"Sabar, Gif. Namanya juga lagi hamil. Lebih baik pulang sana, kerjaan gampang. Biar gue yang handle." ucap Adrian.
"Beneran, Kak?" tanya Gifali dengan wajah berbinar. ia tidak menyangka Adrian bisa pengertian tentang kondisinya.
Belum saja Adrian menjawab, mereka berdua menoleh bersamaan, ketika pintu ruangan dibuka pelan dari luar.
"Agnes?" seru Adrian.
Agnes pun melangkah masuk ke dalam sambil membawa bungkusan kue ditangannya.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Adrian. Agnes tidak menggubris pertanyaan dari sang Kakak. Ia memilih untuk duduk di hadapan Gifali lalu meletakan bungkusan kue di atas meja.
"Kamu sudah makan siang Gifa?" tanya Agnes sambil membuka bungkusan kue tersebut.
Gifali mengangguk tanpa senyuman. "Sudah." jawabnya singkat.
Entah mengapa ketika ia menatap Agnes, Gifali merasa jantungnya berdenyut nyeri. Apakah itu telepati batin seorang ayah dengan anak, ketika para bayinya tahu kalau beberapa waktu lalu wanita ini berusaha untuk menyakiti bunda nya.
"Maaf, Nes. Aku harus pulang. Maura sakit." ucap Gifali menghela ketika Agnes ingin menyodorkan potongan kue kepadanya.
"Kak ..." Gifali beranjak bangkit dan menepuk bahu Adrian.
"Hati-hati ya, Gif."
Gifa mengangguk dan melangkah pergi untuk berlalu meninggalkan ruangan.
Adrian kembali menoleh menatap Agnes. "Jangan bikin ulah, Nes!" ancam Adrian. Agnes sedikit tertohok dengan ucapan sang Kakak. Ia tersentak dan tiba-tiba gugup. Ia takut kalau Ramona sudah menceritakan apa yang telah ia lakukan kepada sang Kakak. Padahal Ramona masih menyembunyikan masalah itu rapat-rapat.
"Apa maksud Kakak?" tanya Agnes lalu berdiri kaget. Ia menatap Adrian yang sudah melangkah kembali ke mejanya.
"Gifa itu adik kamu! Dia sudah punya istri, jangan dikejar, dengan cara mengambil segala bentuk perhatiannya!"
"Jika kamu terus begitu dan gak berubah ..." Adrian terdiam sejenak, memandang wajah Agnes lamat-lamat. "Tentu kamu nggak akan aku akui lagi sebagai adik!"
Agnes hanya bisa diam, dan mengeram ketika mendengar ucapan Kakaknya yang tidak pernah main-main. Rasanya sangat sakit seperti ditampar bolak-balik. Tapi bagaimanapun ia mencintai Gifali. Rasa cinta seakan sudah membutakan jiwa dan raganya.
*****
Udah dua episode ya guyss, ayo dong komennya lebihin dari seratussss. Bikin aku senang🤗😂