
Cit.
Deru mesin mobil Adrian sudah berhenti didepan gerbang kostan Maura dan Gifali. Melepas seat belt dan akhirnya turun sambil membawa beberapa banyak tentengan di kedua tangannya. Adrian membuka pintu gerbang kostan yang sama sekali tidak di kunci.
Sesampainya mereka dipelataran halaman, keduanya mendongak keatas, menatap pintu kostan sahabat mereka yang sedang terbuka lebar. Mereka pun senang karena Maura dan Gifali memang sedang ada di kostan. Kedatangan mereka pun tidak sia-sia.
Entah lupa atau bagaimana, di antara Ramona dan Adrian tidak ada yang mengabari para sahabat mereka dulu sebelum bertandang.
"Yang punya kostan ini Dosen aku, Mona. Namanya Pak Harun, sahabatnya Papa juga." ucap Adrian.
"Oh begitu." Ramona terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. "Syukurlah dengan begitu mereka ada yang menjaga." sambung Ramona.
Mereka kembali melanjutkan langkah untuk menaiki anak tangga, dan tak lama kemudian, tibalah mereka di lantai tiga. Suara-suara orang yang sedang tertawa terdengar nyaring berhembus ke daun telinga mereka.
"Itu dari kostan nya Gifa ya?" terka Ramona. Adrian mengangguk samar, karena sekilas ia melirik pintu kostan yang lain hanya tertutup rapat tanpa menimbulkan kebisingan. Hanya kostan sahabat mereka saja yang terbuka.
"Ya udah gak apa-apa. Kita kesana aja dulu." Adrian tetap menggandeng tangan Ramona. Menyusuri lorong untuk sampai didepan pintu kostan Maura dan Gifali.
Tap.
Langkah mereka terhenti tepat didepan pintu yang masih terbuka. Orang-orang yang sedang berbincang di dalam kostan pun menoleh ke arah luar. Menghentikan perbincangan mereka, menemukan dua pasangan muda yang tengah menatap mereka dengan wajah malu dan kikuk.
Mama Difa dan Mama Alika kemudian bangkit berdiri menghampiri mereka keluar pintu.
"Maura nya ada, Bu?" tanya Ramona. Ia menatap lurus dua wanita paru bayah yang menutup tubuhnya dengan gamis serta kerudung.
"Oh temannya Maura ya?" jawab Mama Alika, ia tersenyum menatap Ramona dan Adrian.
"Lagi keluar dulu dengan suaminya, sebentar lagi juga kembali, ayo masuk dulu." Mama Alika mempersilahkan mereka masuk kedalam kostan.
Ramona dan Adrian yang masih melongo hanya mengangguk datar. Saliva mereka dorong lamat-lamat kedalam kerongkongan. Sedang mengingat kembali ucapan Mama Alika, takut-takut mereka salah dengar.
Ramona dan Adrian bergantian menyalami mereka semua.
"Suami?" Ramona mengulang kalimat itu didalam hatinya.
"Siapa suaminya?" Adrian pun melakukan hal yang sama dalam batinnya. Ia masih saja menepis kalau apa yang ia dengar itu salah.
"Ayo duduk dulu, Ibu buatkan minuman dulu ya." ucap Mama Difa, kemudian berlalu ke dapur.
"Namanya siapa? Teman kampusnya Maura ya?" tanya Mama Alika yang duduk berhadapan dengan mereka.
"Nama saya Ramona, Bu. Saya teman sekelasnya Maura di kampus."
"Kalau saya Adrian, teman kampusnya Gifali."
Ramona dan Adrian saling memperkenalkan diri.
"Kalau ini, Papanya Gifali. Dan Ibu yang tadi, itu Mama nya." Mama Alika memperkenalkan Papa Galih dan Mama Difa kepada mereka.
Jantung Adrian dan Ramona kembali memburu. Mereka berdua saling bersitatap. Menerka-nerka apakah mereka satu pemikiran sekarang. Mereka berdua termenung cukup lama.
"Ada apa, Nak? Kenapa melamun?" tanya Mama Difa yang sudah kembali dan membungkuk untuk meletakan nampan berisi minuman di atas lantai. Para Mama dan Papa menjadi ikut bingung menatap raut wajah Ramona dan Adrian yang terlihat aneh.
"Loh kok bengong? Kalian kenapa?" tanya Papa Bilmar
"Om betul Papa nya Maura?" takut-takut Adrian membuka suaranya.
"Iya betul, Nak. Ini Papanya Maura, Papa mertuanya Gifali." jawab Mama Alika.
"Hah? Mertua, kok bisa?" tanya Ramona dan Adrian bersamaan.
DEG.
Jantung mereka berdua sepereti ingin mencelos jatuh ke dasar perut. Suara mereka terdengar nyaring. Ramona tidak kuasa untuk membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ramona begitu terperanjat.
Gadis itu sedikit menundukkan kepala untuk menahan rasa sesak yang seketika menyerang dadanya. Ramona kaget setengah mati. Begitupun Adrian, ia menghembuskan napasnya pelan, dengan pacuan jantung yang cukup kuat.
"Jadi Gifali selama ini berbohong?" gumam Adrian, ia masih tidak percaya.
"Kak?" Ramona menoleh menatap Adrian yang masih mengatur ritme napasnya.
"Maaf, Pak, Bu. Bukannya Maura dan Gifali adalah Kakak-Adik?" Adrian memberanikan diri untuk memastikan.
DEG.
Jika sejak tadi Adrian dan Ramona yang tersentak dengan kilatan kenyataan yang baru saja menghujam jantung mereka. Kini giliran pasangan suami istri paruh bayah tersebut. Raut wajah mereka seketika berubah menjadi guratan aneh yang penuh dengan kebingungan. Mereka tercengang dan terperanjat.
"Apa maksud kalian? Kakak Adik bagaimana?" suara bariton Papa Bilmar kembali mengguncang, mengintimidasi Ramona dan Adrian. Mereka berdua terlihat seperti tersangka yang sedang ingin dimangsa oleh Algojo.
"Coba kalian jelaskan, mengapa bisa kalian menyebut mereka Kakak Adik? Maura dan Gifali itu merupakan pasangan suami istri, dan kini Maura tengah mengandung."
"HAH? APA?" seru Ramona.
Wanita itu terlalu syok, mendengar penjelasan Papa Galih barusan. Seketika tubuhnya limbung, Adrian dengan sigap menangkap tubuh Ramona yang akan terjatuh. Wanita itu pingsan, hatinya tersentak, ia kaget karena selama ini sudah dibohongi mentah-mentah oleh Maura.
"Mona? Mon ..."
****
Aku aja gak sanggup bayangin nasib mereka setelah ini🙊
Like dan Komenya ya jangan lupa❤️