My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Peluklah Seerat Mungkin



Hasil rengekan nya kepada Dokter ternyata membuahkan hasil. Ia diperbolehkan pulang lebih cepat dari Rumah Sakit. Gifali sudah tidak sabar untuk melesat langsung menuju Indonesia. Sesegara mungkin ingin memeluk sang istri seperti dulu.


Dengan kereta besi mewah milik sang Ayah. Gifali pergi dengan gagah menyambangi universitas Maura. Jika beberapa bulan lalu ia bertandang kesini sebagai seorang Kakak, namun saat ini berbeda, dengan lantang ia membuka jatidirinya sebagai seorang suami untuk Maura nanti didepan jajaran dosen dan dekan kampus.


Pramudya dan Mama Difa menemani Gifali untuk melangkah masuk kedalam kampus. Sedangkan Tamara, sudah rutin setiap pagi sampai sore menemani Agnes di tempat rehabilitasi, dan Adrian sudah harus masuk kampus seperti biasa.


Semua mata mahasiswa memandang karena Ramona berseru memanggil Gifali dari arah barat.


"Gifa ..." seru Ramona, ia berlari dengan napas terengah-engah menuju langkah Gifali yang sudah berhenti ditempatnya. Ia menuggu kedatangan sahabat istrinya itu.


Perseteruan antara Agnes dan Maura memang bukan hal tabu lagi, semua penghuni kampus sudah mengetahui tragedi apa yang menimpa mereka.


Banyak mahasiswi yang berbisik-bisik, mencemooh dan menggunjing. Tidak jarang mereka tahu siapa lelaki paru bayah yang datang bersama Gifali.


Mereka hapal betul, Pramudya adalah Ayah dari Agnes. Tetapi mereka akan kembali tercengang, jika tahu Gifali lah yang sebenarnya anak kandung dari Pramudya.


"Assalammualaikum, Om, Tante, Gifa." Ramona memberikan salamnya kepada mereka bertiga, dan bergantian menyalami Mama Difa dan Pramudya.


"Waalaikumsallam, Mona." jawab mereka bertiga dengan senyuman.


"Ibu Maria sudah menunggumu, Gifa." ucap Ramona.


Gifali mengangguk. "Iya, Mona. Ayo antar aku ke ruangannya." jawab Gifali.


Ramona mengangguk, dan mereka kembali melangkah menuju ruang dekan.


"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu, Gifa?" tanya Ramona ketika langkah mereka bersisihan.


Gifa mengangguk. "Iya, Mona. Ini semua untuk kebaikan istriku."


"Tapi aku pasti akan merindunya ..." nada itu terdengar amat menyakitkan ditelinga Gifali. Gifali tersenyum dan memegang pundak Ramona. "Kamu bisa main ke Indonesia, setelah liburan semester."


Ramona menyeka air mata yang menggerumpul di sudut matanya. Ia hanya bisa mengangguk berat.


*****


"Maafkan atas kebohongan yang sudah kami lakukan kepada kampus ini, Bu..." akhir kalimat Gifali dari beberapa banyak paragraf yang sedari tadi sudah ia kemukakan kepada dekan dan beberapa dosen yang berada didalam ruangan ini.


Ibu Maria selaku dekan, hanya bisa menggeleng tidak percaya. Bagaimana bisa mahasiswanya melakukan hal kecurangan seperti itu.


Namun karena Ibu Maria mengenal dekat dengan Pramudya. Karena mereka sama-sama sejawat di bidang ilmu pendidikan, maka untuk itu kasus Maura tidak ia limpahkan ke ranah hukum.


Maura hanya di drop out dari kampus, seperti Agnes. Nama mereka berdua sudah dicoret dari daftar mahasiswi. Pramudya amat malu sekali, karena dua anaknya tersandung masalah berat.


Gifali hanya mengangguk senang, dan tidak berhenti mengucap syukur kepada Semesta. Walau mereka berkali-kali di coba dalam berbagai kesusahan, tapi tetap saja ada kemudahan yang mengiringi.


"Terimakasih Ibu Maria, sudah memberikan kebaikan hatinya untuk kasus putri-putri saya. Maaf jika Agnes dan Maura sudah mencoreng nama baik kampus." ucap Pramudya kepada Maria.


"Sama-sama, Pak. Semoga Agnes bisa secepatnya pulih dari Narkoba dan Maura bisa sembuh secara total." jawab Maria.


*****


Setelah selesai dengan urusan kampus. Gifali meminta untuk langsung berangkat menuju Indonesia, dengan jet pribadi yang sudah disiapkan oleh Papa Bilmar dari Indonesia.


Walau Pramudya berkali-kali menahan dan meminta agar Gifali jangan dulu pulang ke Indonesia. Ia khawatir karena tubuh sang anak belum stabil betul, apalagi anak itu akan meninggalkannya dalam waktu tiga bulan. Sungguh akan menjadi beban fikirnya kembali.


"Titip anakku, Difa." ucap Pramudya di bangku tunggu bandara, sambil menatap Gifali yang berdiri beberapa jarak meter dari mereka. Anak lelakinya itu sedang tertawa lepas sambil menatap layar ponsel, begitu bahagianya ia, berbicara dengan Maura di seberang sana.


"Tidak perlu meminta, pasti akan aku lakukan, Pram." jawab Mama Difa.


Pramudya tertunduk, menyembunyikan rasa sedihnya karena kembali kehilangan sang anak.


"Jangan sedih, Pram. Gifali tetap anak kandungmu. Aku dan Galih juga orang tuanya. Kita tetap mempunyai hak yang sama. Pintu rumah kami selalu terbuka, jika kamu mau datang untuk menengok Gifali. Jangan anggap kami orang lain lagi, sekarang kita ini saudara." Mama Difa meyakinkan Pramudya. Ia tahu sekali bagaimana rasanya dipisahkan atau ditinggalkan oleh anak sendiri.


Mendengar ucapan manis itu membuat Pramudya mendongak, menatap wajah Mama Difa dengan air mata yang sudah menggenang.


Mama Difa terkejut lantas meraih tissu dari dalam tasnya. Ia menyodorkan tissu itu kepada Pramudya.


"Usap air matamu, Pram. Jangan buat Gifa berat hati meninggalkanmu dalam keadaan kamu yang berat seperti ini."


Pramudya menurut apa kata Mama Difa. Menyeka air matanya yang sialnya, tidak mau begitu saja surut. Hatinya masih teramat pilu, gundah dan gulana menjadi satu.


"Ayah, kenapa menangis?" tanya Gifali yang ikut menghempaskan dirinya untuk duduk disebelah Gifali. Lelaki itu sudah mengakhiri sambungan telepon bersama istrinya.


Pramudya tidak kuat untuk pura-pura tegar, ia beringsut untuk memeluk anaknya. Menumpahkan air mata di ceruk leher sang anak. Melingkarkan tangannya dileher Gifali.


Air mata Gifa pun turun membasahi kedua pipinya. Ia mengunci lelaki itu dengan kedua tangannya, memasukan ke dalam dadanya dengan dekapan erat.


"Gifa akan lebih merindukan Ayah. Gifa pasti akan pulang lagi ke sini, tapi sementara. Gifa harus pulang dulu, kasian istriku, Yah." jawab Gifali berusaha untuk menguatkan hati Ayahnya.


"Iya, Nak." bibir lelaki paru bayah itu bergetar. Ia pun tidak bisa egois. Rasa cinta tidak boleh membuat ia menjadi bodoh.


Dan tak lama kemudian.


"Gifa ..." suara dari arah lain membuat mereka yang sedang terduduk dibangku bandara menoleh.


Mendapati langkah kaki yang setengah berlari dari arah Utara. Ada Tamara dan Adrian yang sedang menuju mereka. Gifali sontak melepas pelukan sang Ayah lalu beranjak berdiri.


Tamara memeluk Gifali dengan erat. "Hati-hati ya, Nak. Sekali lagi tolong maafkan Agnes. Bagaimanapun dia juga Kakakmu." ucap Tamara dengan wajah nanar. Gifali mengangguk dengan senyum. "Iya, Bu. Gifa dan Maura sudah ikhlas." jawabnya pelan.


Tamara melepas pelukan itu dan menangkup wajah Gifali. "Benar, Nak? Ibu tidak salah dengar kan?"


Gifali mengangguk mantap, ia mengulum senyum merekah.


"Iya, Bu. Gifa dan Maura sudah memaafkan Agnes. Sehelai daun yang jatuh dari tangkai pohon saja itu semua kehendak Allah, begitupun kejadian kemarin. Itu juga kehendak darinya."


Tamara kembali menangis, diikuti Adrian yang sudah memerah di kedua kelopak matanya yang tebal.


Ia tidak menyangka lelaki yang baru saja ia rengkuh sebagai adik. Yang tidak mempunyai ikatan darah sama sekali, bisa begitu mudah memaafkan kesalahan Agnes yang terlampau menyakitkan. Tamara tak kuasa menahan gejolak hatinya, ia kembali memeluk Gifali.


"Kamu anak Ibu, Gifa. Anak Ibu. Ibu sayang sama kamu." seru Tamara.


Adrian pun menimpa pelukan mereka. Mereka bertiga saling memeluk dalam lingkaran. Pramudya dan Mama Difa ikut menangis.


Ini kah Putra Gifali Hadnan? Anak lelaki yang mereka banggakan? Mempunyai hati seindah lembayung senja seperti menantu mereka, Maura Zivannya.


"Maafkan kami, karena belum bisa mencabut tuntutan hukum atas Agnes, Bu, Kak. Semua itu kuasa dari Papa mertuaku." ucap Gifali kepada Tamara dan Agnes, setelah pelukan mereka terlepas.


"Enggak apa-apa, Gifa. Agnes harus membayarnya. Kalau tidak begini, ia tidak akan sembuh dari narkoba."


"Akan aku bicarakan lagi dengan mertuaku, tentang penangguhan Agnes agar terbebas dari tuntutan. Karena ia sedang mengandung, Maura bilang, ia kasian kepada Agnes."


"Masya Allah, baik sekali Maura. Hatinya sungguh indah." desah Tamara. "Jika saja, Agnes bisa seperti Maura, Ibu pasti akan senang sekali." lirihnya.


Gifali hanya tersenyum, mengusap lembut lengan Tamara.


"Oh, iya, ini ..." Tamara melepas kalung berlian berliontin bintang berwarna biru muda yang masih bertengger di lingkar lehernya sekarang. Lalu meletakannya di telapak tangan Gifali. "Berikan ini untuk Maura, dari Ibu."


"Tapi, Bu ..."


Tamara menggeleng. "Kalung itu tidak ada artinya dibalik kebaikan dan kekayaan hati yang dimiliki istrimu, Gifa."


Gifali mengangguk, tak ada yang bisa dibantah olehnya. Sungguh kebaikan orang lain harus kita terima. Gifali memasukan kalung itu kedalam saku celana. "Makasih, Bu. Gifa titip Ayah, ya." Gifali menoleh sekilas ke arah Pramudya yang masih duduk menatapnya.


Baru saja Tamara ingin menjawab, namun ia lebih dulu terselak.


"Permisi, dengan keluarga Hadnan?" tanya salah satu petugas bandara.


"Iya betul." jawab Mama Difa.


"Jet sudah siap, Bu. Lima belas menit lagi kita akan berangkat. Dipersilahkan untuk menunggu didalam jet."


Mama Difa menatap Gifali. Anak itu pun mengangguk. Ia kembali duduk untuk menenangkan Pramudya dan kembali memeluknya.


Lelaki paru baya itu kembali menumpahkan cairan matanya. Isak tangis Pramudya semakin kentara. Ia tidak perduli dianggap cengeng. Yang penting ia bisa mendekap Gifa sampai puas. Gifali pun terenyuh, hatinya berdesir kuat. Ia akan lama tidak berjumpa dengan sosok lelaki paruh bayah ini dalam waktu tiga bulan.


"Bisakah, undur keberangkatan saya satu jam lagi?" pinta Gifali kepada petugas bandara.


Petugas pun mengangguk dan ijin pamit untuk berlalu.


"Peluk lah Gifa seerat mungkin, Yah" titahnya kepada sang Ayah.


*****


Like dan Komen ya guys❣️


Jangan lupa follow IG aku ya @megadischa


Aku akan spoiler tentang novel2 ku di sana.