
"Siapa dia, Ra?" bisik Gifa disaat pelukan antara dirinya dengan sang istri belum terlepas.
Dengan segara Maura melepaskan pelukan itu, kemudian menoleh ke arah Kamil. Maura seraya menggelengkan kepala sambil terkekeh. Saking melepas rindu dengan Gifali, ia sampai melupakan ada sosok Kamil di sini.
"Kamil, ayo sini." Maura melambaikan tangan ke arah Kamil yang masih membeku di posisi berjarak tiga meter darinya. Kamil menurut dan menghampiri mereka.
"Kamil maafkan aku ya, jadi buat kamu lama menunggu."
Kamil tersenyum. "Enggak apa-apa, Ra. Aku faham, kamu sedang melepas rindu."
"Sayang, kenalkan ini Kamil." Maura mengelus bahu suaminya, seraya kode untuk berjabat tangan.
"Gifali ..."
"Kamil ..."
Mereka berdua saling berjabat tangan. Dan di saat itu pula langkah Adrian hadir, menambah keramaian diantara mereka bertiga.
"Ra ..."
"Kak ..." Maura mencium tangan Adrian.
"Oh iya, Kamil, kenalin ini Kakaknya suamiku." ucap Maura.
"Kamil ..."
"Adrian ..."
"Kalian satu pesawat?" tanya Gifa tanpa basa-basi. Raut wajahnya terlihat sedikit tidak suka. Mungkin, lelaki itu cemburu.
"Enggak sengaja ketemu. Saya duduk dibelakang kursinya Maura. Awalnya saya enggak tau yang duduk itu dia, tapi karena Ibu hamil ini berisik karena terus muntah-muntah selama perjalanan. Saya pun khawatir dan kasian. Saya bermaksud ingin memberikan minyak kayu putih. Tapi ternyata tanpa saya ketahui, ibu hamil itu ternyata Maura." jawab Kamil diiringi dengan senyuman. Maura pun ikut tersenyum.
Gifali mengangguk pelan. "Oh."
Walau di dalam hatinya, lelaki itu meringis. Ia sedih, mengapa tidak bisa menjadi suami siaga di saat istrinya tengah memerlukan bantuan.
Kening Maura mengkerut-marut. Dingin sekali suaminya, seperti tidak biasanya.
"Terimakasih." setidaknya ada yang membuat dada Maura lega karena pada akhirnya Gifa mengucapkan kata itu kepada Kamil.
"Sama-sama. Baiklah kalau begitu, saya permisi duluan." ucap Kamil kembali berjabat tangan dengan Gifa dan Adrian. Sepertinya ia tahu, Gifali tidak terlalu suka melihat dirinya berlama-lama di sebelah Maura.
"Ra, aku duluan ya." Kamil memegang bahu Maura dan tersenyum.
"Kamu hati-hati ya, Kamil. Makasih sudah mau menemaniku selama di pesawat." jawab Maura.
Sorot mata Gifali tidak lepas dari pegangan tangan Kamil di bahu Maura walau terbilang singkat. Bagaimanapun ia tidak menyukainya. Mau dilarang, namun gerakan tangan Kamil sangat refleks, cepat dan singkat.
Setelah mendapat anggukan kepala dan senyuman tipis dari Gifali dan Adrian, Kamil pun berlalu. Ia kembali melanjutkan langkah untuk menyambangi rumah Ibu nya.
"Kamu kenapa sayang? Kok melamun?" tanya Maura sambil memegang dagu suaminya.
"Gak apa-apa." jawabnya singkat dengan senyuman kecut.
"Cemburu, Ra." timpal Adrian. Lelaki itu bergelak tawa bahagia. Maura pun sama. Ia tersenyum puas. Hatinya dan jiwanya senang ketika dicemburui oleh sang suami.
"Tidak diragukan lagi dia memang hanya cinta padaku." Maura membatin.
Gifali mendengus. "Ayo kita pulang." ucapnya dingin tapi ia tidak marah. Lelaki itu menggandeng tangan Maura untuk dibawa pergi menuju pelataran parkir Bandara. Adrian mengekor dibelakang mereka sambil terus berucap syukur dan mengelus dada tanpa henti.
"Bisa mati gue, kalau sampai si Maura enggak balik dengan selamat. Gue bakal habis dipukulin sama Gifa, atau mungkin gue langsung mendam di tanah." Adrian menggelengkan kepala seraya mengusir bayangan yang tidak boleh terjadi.
Adrian tidak henti melemparkan senyum, ketika melihat kemesraan pasangan muda yang kembali rujuk dalam balutan rindu dihadapannya sekarang.
"Duh gerakannya kencang banget nih." Gifali mengajak anak-anaknya bicara.
Selama melangkah menyusuri lorong bandara, lelaki itu tidak berhenti untuk mengusap-usap perut istrinya. Dan ketiga bayi nya itu kembali bergerak aktif, seraya senang karena merasakan lagi usapan penuh kehangatan dari Ayah mereka.
***
Entah mengapa selama di pesawat. Maura tidak bisa menelan makanan apapun. Ia terus mual dan muntah. Walau begitu, ia mencoba untuk tetap memaksakan menelan makanan walau akan kembali keluar dan menjadi cairan muntahan. Ia tahu, ketiga buah hatinya butuh asupan makanan. Tapi tetap saja, Maura tidak sekuat itu.
Sebelum masuk kedalam mobil, Gifali terlebih dulu membelikan mekdi di Bandara untuk di santap saat di perjalanan pulang. Ia tidak mau istri nya terkena sakit maag.
Terlihat kedua pipi gembulnya terus bergerak-gerak seiring kunyahan makanan didalam mulutnya.
"Yang bener? Kok sekarang lahap banget." sahut Adrian meledek. Ia melihat Maura yang tengah makan dengan rakus dari kaca spion tengah. Mendengar ucapan Adrian, Gifali terkekeh pelan.
"Beneran, Kak. Di pesawat itu----"
"Sst!" Gifali menghentikan ucapan Maura. "Kamu lagi makan jangan banyak bicara, nanti tersedak. Ayo ..."
Maura menurut dan mengangguk. Ia kembali membuka mulutnya untuk menerima gulungan nasi dan suwiran ayam dari tangan suaminya. Gifali dengan hati-hati menyuapi istrinya makan malam.
Selama di perjalanan, Maura tidak berhenti melepas senyum bahagianya. Memang keadaan seperti ini yang ia mau, selalu mendapatkan kehangatan dan kasih sayang nyata dari Gifali. Ia selalu ingin dimanjakan seperti sekarang ini.
Setelah dua ayam dan satu nasi habis di lahap oleh Maura, kini wanita itu kembali menenggak satu kotak susu hamilnya.
"Gimana enggak gendut, makannya aja banyak banget gitu." Adrian kembali meledek.
"Namanya juga lagi hamil, bayi ku kan tiga, Kak." cicit Maura polos. Ia terus membela diri. Gifa hanya tertawa saja, ia kembali menggelosor kan tubuhnya yang masih lemah di sandaran kursi.
Maura beringsut untuk memeluk dada suaminya. "Sekarang apa yang dirasa sayang? Masih lemas tubuh kamu?"
Gifali mengusap pipi istrinya dan mengangguk.
"Kenapa menjemputku? Aku kan bisa pulang dengan taxi." ucapnya dengan suara sedih.
"Kamu fikir Gifa suami macam apa? Membiarkan istrinya tengah malam berkeliaran di Bandara seorang diri. Jangan terlalu nekat, Ra. Bahaya. Aku jadi menyesal mengabari kamu kemarin." ucap Adrian kembali menyelak ketika Gifali akan menjawab. Lelaki itu masih fokus memutar-mutar stir kemudinya untuk mengikuti arus jalan.
"Aku khawatir dengan Gifa, Kak. Ya hanya dengan cara seperti ini, aku bisa menemuinya."
Gifali mengusap lembut lengan Maura "Jangan di ulangi lagi, ya. Cukup tindakan mu ini yang pertama dan terakhir kali! Jujur aku tidak meridhoi nya." ucapnya lugas. Maura mengigit bibir bawahnya karena takut. Tapi dirinya kembali bernapas lega, karena setelah Gifali berucap, lelaki itu melepas kecupan hangat di pipi nya.
Maura tersenyum senang dan mendongakkan wajah ke atas. Ia menemukan bola mata suaminya yang masih balik menatapnya, menunggu jawaban sang istri untuk melegakan hatinya.
"Iya, suamiku. Aku berjanji sayang ..." Maura mencium pipi suaminya.
"Sesampainya di Rumah Sakit, kita telepon Mama dan Papa ya." perintah Gifali.
Maura mengangguk mantap.
Saat ini wajah mereka sudah sangat dekat, sampai angin pun sulit berhembus di antara mereka. Samar-samar dan semakin jelas ketika Gifali terus menurunkan wajahnya untuk mensejajarkan bibir mereka.
Maura tahu sebentar lagi mulut mereka akan bertemu, dan ia memilih untuk memejamkan mata seperti biasa ketika sang suami akan memagut bibirnya. Jantung mereka kembali berdentam, diiringi rasa rindu yang sedang membuncah untuk dikeluarkan.
Lalu.
"Et deh!! Tahan dong, masih ada gue di sini. Adeuhhh!" decak Adrian. Lelaki itu mendengus nyaring didalam mobil.
Maura dan Gifali refleks menjauhkan kepala masing-masing. Mereka berdua malu karena tertangkap basah akan berciuman. Hanya bisa terkekeh.
"Makanya cepat nikahin Ramona. Nikah itu enak, indah dan halal." ledek Maura kepada Adrian. Gifa kembali tertawa pelan.
Mendesis. Adrian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nikah ... Nikah, emang gampang?" sungutnya.
Sungguh miris nasibnya malam ini. Sudah jadi supir, terlebih menyedihkannya lagi ia hanya menjadi kambing congek, pada saat Gifa dan Maura saling berpeluk dalam kemesraan yang sedang merekah.
Maura memeluk lagi dada suaminya. Gifali mengunci tubuh itu dengan kekuatan yang masih ada. Walau tubuhnya masih lemas, tapi jika ada Maura, tentu itu merupakan suatu kekuatan tersendiri untuknya.
"Udah pada tidur aja, nanti kalau udah sampai, gue bangunin."
Mereka mengangguk bersamaan. Memilih mengiyakan ucapan Adrian. Tak lama terdengar dengkuran halus dari keduanya. Maura dan Gifali kembali hangat dalam kebersamaan.
***
Episode ke tiga di hari ini ya.
Kalau suka, Like dan Komen jangan lupa🌾❤️