
Helaan napas Adrian panjang dan mendesah. Bola matanya melirik kesana kemari. Ia termangu menatap toples-toples yang berjajar di meja ruang televisi. Telinganya tidak salah kan? Apa yang ia dengar barusan adalah realita kan? Mengapa aneh rasanya? Gifali? Benarkah Gifali Adik tirinya?
Adrian masih membeku ditempatnya. Ia tidak memberikan komentar apapun. Dirinya masih tertohok tidak percaya, baru saja kemarin ia digemparkan dengan status Gifali yang sudah menikah dan sekarang ia kembali dikejutkan kalau Gifali adalah anak kandung dari Pramudya, Ayah tirinya.
Lalu bagaimana dengan Agnes?
Setelah mendengar penuturan dari orang tuanya. Gadis itu berlari ke kamarnya sambil menangis. Menutup pintu dengan kencang dan menguncinya. Menangis sesegukan dipusaran ranjang.
"Ah tidak mungkin! Gifali anak Papa?" seru Agnes.
"Itu benar, Nak. Gifali adalah anak kandung Papa. Dan Maura adalah istrinya."
Mendengar penjelasan itu, membuat jantungnya terasa diperas. Ia benci, ia muak. Meronta-ronta di kamar. Dada nya terlalu sesak, air mata pun sudah bercampur dengan leleran peluh. Menyandarkan dirinya dibalik pintu sambil memukul-mukul dadanya. Ia merosot jatuh terduduk di atas lantai. Ia kembali mengerang.
"Tapi aku mencintainya, Mah, Pah."
"Tapi Maura sudah menikah, Nak. Apalagi Maura saat ini sedang mengandung."
Jdrrr
Mengingat ucapan sang Mama, membuat Agnes semakin terisak. Ia pun bangkit berdiri, menghampiri ranjang lalu mengacak-ngacak seprai, selimut dan bantal. Membuang barang-barang tersebut ke sembarang arah.
Kemudian beralih mengacak-acak alat kosmetiknya di meja rias. Membuang, membanting, dan melempar barang apapun yang ada didekatnya. Mendengar kerusuhan terjadi didalam kamar sang anak, membuat Pramudya, Tamara dan Adrian bergegas menuju kamar Agnes.
"Sayang, buka pintunya!" seru Tamara dari luar sambil mengetuk-ngetuk pintu. Maura sangat cemas, ia takut Agnes akan melukai dirinya.
"Agnes, ayo buka Pintunya, Nak." seru Pramudya sambil terus menggerak-gerakkan handle pintu.
"Buka pintunya, Dek." Adrian turut memanggil. Sedangkan Malik hanya termangu, ia memilih untuk terdiam di atas sofa. Ia bingung harus berbuat apa. Ia pun syok karena putri Pramudya yang ia belum tau seperti apa asal-usulnya malah mencintai Gifali.
"Harusnya tadi saya tetap pulang saja." gumam Malik, sambil memijit-mijit kepalanya yang masih saja terasa pening. Ia masih memikirkan Mama Difa dan Papa Galih. Merasa menyesal dan amat berdosa.
"JANGAN GANGGU AKU!" hentak Agnes kepada Mama, Papa dan Kakaknya yang masih setia bertengger didepan pintu.
"Aku benci kalian!"
"Aku benci kamu, GIFA!"
Mengucap nama lelaki itu membuat dadanya sakit, seperti sedang terhunus panah. Panas, linu dan pedih. Harapannya sirna, baru saja ia ingin mulai langkah untuk mendekati Gifali, tapi langkah tersebut sudah dibekukan.
Tidak ada lagi celah baginya. Padahal Gifali adalah cinta pada pandangan pertama. Ia selalu membayangkan wajah lelaki itu jika hendak tidur.
"Dan kamu malah sudah menikah!" kelakar Agnes dengan tatapan kesal.
"Akan ku bunuh istrimu! Maura dan anak kalian harus lenyap!"
"Kamu hanya milikku, Gifa! Aku tidak perduli walau kamu adik tiriku!"
"Kita harus bersama. Gifali hanya punya Agnes!"
Sumpahnya dengan mata yang menyala-nyala. Ia terus bertekad akan menghabisi nyawa Maura.
Cinta sudah membutakan mata dan menghilangkan akal sehatnya. Tidak perduli apa yang akan ia lakukan, yang penting ia tetap bisa mempertahankan hidup bersama orang yang ia cintai. Gifali merupakan candu baginya.
*****
Terlihat Maura sedang meremas kain seprai dengan buku-buku jarinya. Ia melenguh, bukan karena nikmat tapi karena ia mulai merasakan sakit.
Gifali melakukannya dengan gerakan kasar. Ia menyesap permukaan kulit dada Maura yang sudah terbebas dari helaian pakaian. Gifali tidak seperti biasanya, yang akan sangat lembut dan hangat. Namun sekarang berbeda, ia terus menyentak miliknya dengan ritme cepat.
Maura sebagai istri pun mencoba mengerti dan terus memahami. Karena saat ini suaminya sedang dalam keadaan tidak stabil. Maka dari itu ia hanya menurut saja untuk tidak mengeluh atau memaki.
Walau pusat tubuhnya terasa sangat perih, karena Gifali melakukannya tanpa pemanasan atau bercumbuu rayu terlebih dulu.
"Euh!" Maura meloloskan erangannya. Ia berpindah mencengkram lengan suaminya yang masih bergerak maju mundur di atasnya dengan merebahkan kepala di ceruk lehernya.
Rasanya sakit sekali.
Maura mengigit bibir bawahnya, ia meringis. Karena suaminya kembali menghentak nya dengan ritme yang berantakan. Dan entah mengapa, Gifali sulit untuk ekskresi.
Didalam tubuhnya ingin, tapi dikepalanya tidak konsen sama sekali. Bayangan Mama dan Papanya kembali datang. Ia takut sekali jika dibuang dari keluarga Hadnan.
Dan akhirnya.
Maura bisa kembali bernapas lega, karena Gifali menghentikan lajuan nya sejenak. Maura ingin mengerjap kedua matanya untuk memeriksa keadaan suaminya. Mengapa Gifali menghentikan permainannya, namun sebelum ia membukanya dengan sempurna, ia tersentak karena Gifali kembali menyentak intinya dengan kasar.
"Euhh ..." Maura kembali mengerang. Dan rasanya lebih sakit dibanding sebelumnya. Gifa kembali melakukannya sampai ia bisa bermuara dengan baik.
"Sakit, Gifa ... Sakit ... Perih." gumam Maura dalam hatinya. Sebisa mungkin ia tahan keluhan itu agar tidak terdengar.
Semakin lama, Gifali terus menyentak Maura tanpa ampun. Ia hanya mengikuti hawa napsu nya saja. Kedua matanya terpejam dengan mulut yang sedikit menganga diringi dengan desahan berulang-ulang.
"Maura ..." Gifali terus memanggil-manggil nama istrinya. Melumatt habis bibir Maura, terlihat bibir ranum itu mulai membengkak.
Lalu Mengecup leher Maura, meninggalkan bulatan merah yang berpindar warna menjadi keunguan. Jika dikatakan, Itu sudah bukan kecupan lagi, tapi fasenya sudah berubah menjadi gigitan. Gifali terus tenggelam dalam konsentrasinya untuk mencapai puncak kebahagiaan, dengan menyakiti istrinya.
Lalu
Dirasa gelombang panas akan ia keluarkan, Gifali menurunkan tubuhnya untuk menghisap habis bongkahan berlian Maura. Kembali dengan kasar, bukan hanya hisapan namun juga gigitan kencang dipangkal bongkahan salju tersebut. Maura terlihat meringis.
Mulut Gifali pun terlihat penuh, ia semakin mempercepat gerakannya, sampai dimana perut dan pinggang nya mengencang dan Gifali berhasil merengkuh rasa nikmat yang sedari tadi ia cari. Mengeluarkan cairan hangat didalam pusat tubuh istrinya.
Gifali melepas penyatuannya dan berguling ke sebelah Maura. Ia berbaring terlentang tanpa sehelai pakaian pun. Napasnya masih tersengal-sengal, jantungnya bergemuruh hebat.
Gerakannya tadi sangat memacu adrenalin dalam dirinya. Yang ia tahu Maura pun menikmatinya. Namun Gifali salah, mungkin ia akan menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat. Masalah hari ini memang membuat fikirannya kacau balau.
Maura pun sama, napasnya masih terengah-engah. Ia membuka mata dan menoleh, menatap Gifali yang sudah memejamkan kedua mata dengan hembusan napas kasar. Seperti tengah meraup oksigen di udara lepas. Maura menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya yang polos.
Kemudian Maura beranjak untuk memunguti pakaian nya yang terserak. Memakai piyama tidurnya kembali. Lalu Ia melangkah menuju kamar mandi dengan langkah yang sedikit diseret.
Rasanya begitu sakit dan perih. Kedua paha dan pinggang terasa remuk. Maura mengelus-elus perutnya yang masih datar. Ia sedikit cemas dan takut jika gerakan kasar Gifa barusan akan mempengaruhi janinnya.
"Ahh...." Maura mendesah panjang ketika sedang duduk di closed untuk buang air kecil. Rasanya sangat perih, ia kembali kaget ketika air urinnya sedikit bercampur dengan warna merah.
"Hah? Apa itu?" Maura tercengang. Lalu ia mengusap intinya dengan dua jarinya.
"Astagfirullohaladzim, darah?" serunya.
*****
Like dan Komen ya guyss
Maafin ya, Ra❣️