My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Cepat Cari!



Setelah menempuh perjalanan selama dua jam menuju bandara, akhirnya wanita hamil itu pun sampai. Ia mendapatkan taxi ketika sudah lelah berjalan selama satu kilo meter.


Turun dari pintu taxi setelah membayar ongkos kepada pengemudinya. Menggerek koper masuk kedalam pelataran bandara. Melangkah pelan menuju counter chek in penerbangan internasional. Maura sudah lebih dulu mendapatkan tiket menuju London dengan aplikasi online.


Jantungnya berpacu cukup kuat. Baru kali ini ia berpergian dengan pesawat seorang diri, yang akan memakan waktu perjalanan di udara dengan belasan jam. Apalagi saat ini ia tengah hamil besar. Walau tidak ada larangan bagi ibu hamil besar untuk naik pesawat, tetap saja Maura merasa khawatir.


Ia menatap arloji dipergelangan tangan kanannya. "Sudah mau subuh, Mama pasti akan ke kamarku." gumamnya sendu. "Mereka pasti akan panik. Dan Papa ... Ya Allah, jangan sampai jantungnya kambuh. Maafkan Kakak ya, Pah." lirihnya.


"Aku serahkan hidup dan matiku kepadamu ya, Rabb." doa Maura ketika sudah duduk manis didalam pesawat. Sesuai instruksi pramugari, Maura mulai mematikan gawainya.


Dan berangkatlah wanita hamil itu menyusul suaminya. Tanpa meninggalkan sebait kata pamit kepada semua orang. Tentu perjalanan selama enam belas jam Maura di udara, akan membuat semua orang kelabakan dan meraung histeris.


Mereka akan mengira Maura kabur entah kemana.


*****


[Sayang, kamu sedang apa?]


Gifali melepas satu pesan pembuka di hari ini. Ia tahu saat ini di Indonesia sudah pagi. Ia terus berharap agar Maura mau berbaikan dengannya.


Lelaki itu masih berbaring di ranjang Rumah Sakit, menyandarkan kepala sambil menatap tayangan di televisi. Meletakan gawainya kembali di atas nakas. Ia menunggu notifikasi pesan balasan dari Maura.


Walau menurut Gifali rasanya nihil.


Tiga puluh menit kemudian, Gifa kembali meraih gawainya. Kedua alisnya menaut ketika melihat pesan yang sudah ia kirim tiga puluh menit yang lalu, belum terlihat tanda sudah masuk ataupun terbaca.


"Kok ceklis satu? Enggak biasanya." lalu ia menatap jam dinding yang mengarah kepadanya. Seraya menghitung, sudah pukul berapa di Indonesia.


"Kira-kira sudah pukul 09:00 di sana, kok tumben hape Maura mati? Biasanya juga aktif terus."


Lelaki itu mulai aneh. Ia mulai gundah dan gegana. "Apa Maura sengaja mengganti nomor hapenya? Agar aku tidak bisa menghubungi?" Gifali menerka.


Wajar saja, dirinya sedang sakit. Hawa perasaannya menjadi melan colis, apalagi tidak ada sang istri yang menemani. Sudah dipastikan suasana hatinya menjadi kalut dan mudah berfikir buruk.


"Keterlaluan kamu, Ra! Istri durhaka kamu!" Gifali murka. Rasa rindu yang membuncah, membuat ia tenggelam dalam ketakutan dan kekecewaan. Bayangkan saja, selama dua bulan setengah Gifali tidak bisa mendengar suara Maura atau balasan pesannya.


Gifali menekan icon telepon, namun tidak tersambung. Lelaki itu semakin gemas dan frustasi.


"Apa mungkin sedang lowbet, terus sedang di cas?" Gifa berusaha mendinginkan kepalanya. Ia baru teringat akan hal itu. Ia menggeleng kepala samar sambil menghela napas panjang. "Aku harus tetap berfikir positif." terlihat Gifa sedikit menyesal karena sudah memaki istrinya sendiri.


Tetapi untuk berfikir positif dengan hati yang gelisah, tidak begitu saja bisa mengguyur batinnya yang sedang was-was.


"Aku coba telepon Mama." Gifali memilih untuk menelpon Mama mertuanya. Namun sudah melakukan beberapa panggilan, wanita diseberang sana tidak kunjung menjawab. Ia beralih mencari kontak Papa Bilmar, namun sama saja. Lelaki paru bayah itu tidak juga menjawab.


"Ammar saja lah kalau begitu!" namun kembali ia urungkan. "Ammar pasti sedang sekolah."


Gifali kembali menghembuskan napas kasar ke udara. Ia semakin dibuat bingung.


"Apakah semua sedang sibuk?" tanyanya. Ia kembali menatap kontak Maura. Dan lagi-lagi ia memekik, karena ponsel wanita itu masih saja dalam status offline.


*****


"CEPAT CARI KE SUDUT RUMAH! ATAU KEPALA KALIAN AKAN AKU PENGGAL!!" seruan Ammar kepada para satpam rumah yang ia anggap tidak berguna. Mereka yang diserukan hanya mengedik pangkal bahu karena takut lalu berpencar sesuai suruhan dari majikannya.


Lelaki muda bertubuh besar itu yang sifat ketegasannya menurun dari sang Papa sedang berdiri di depan ambang pintu dengan kedua tangan diletakan di atas pinggang. Ia tidak jadi masuk sekolah, karena mengetahui pagi ini Maura kabur.


Raut wajahnya sudah memerah, sepertinya sebentar lagi akan timbul asap dari kepalanya. Ia tidak akan menyangka Kakaknya akan kabur, tapi kemana? Itu yang sedang ia fikirkan.


Ammar beberapa kali mengacak rambutnya. Tidak lepas dengan gawai ditangannya, ia masih berusaha melacak gps ponsel Kakaknya. Namun sayang, anak muda itu tidak berhasil. Karena saat ini, ponsel Maura dalam keadaan offline.


Terlihat dari di dalam, suara tangisan Mama Alika pecah dengan gagang telepon rumah berada ditangannya. Ia sedang berbicara di sambungan telepon dengan Gadis.


"Tante sudah telepon ke toko, tapi Maura juga enggak ada. Dia pergi bawa baju, Dis. Kopernya enggak ada di kamar."


Sedangkan Papa Bilmar tampak pucat duduk tidak jauh dari istrinya. Ia sedikit menunduk dengan tangan kanan memegangi dada kiri. Sakit sekali rasanya, mengetahui anak yang ia cintai setengah mati pergi begitu saja. Air mata lelaki itu pun menetes, menyesali segala sifat kerasnya.


"Pah, kita ke kamar aja yuk. Nanti jantungnya Papa kambuh." ajak Ammar yang langkah kakinya sudah sampai dihadapannya.


Papa Bilmar mendongak dan menatap anak bungsunya. "Cari Kakakmu, Dek."


Ammar mengangguk. "Iya, Pah." jawab Ammar singkat lalu meraih lengan tangan sang Papa untuk dibawa berdiri dan memapahnya menuju kamar.


***


"Apa? Kabur?" ucap Gifali dengan gelak nada nyaring yang menggema di kamar perawatannya. Ia mencengkram kuat gawai yang masih mengudara didepan daun telinganya.


Kedua manik matanya melotot tajam, ketika mendengar Ammar mengadukan kepergian Maura dari rumah. Urat-urat tercetak jelas menyembul di sekitar permukaan kulit lehernya. Dadanya terlihat naik turun dengan helaan napas kasar. Tangan kirinya mengepal kuat. Rasa lemas dalam dirinya tidak ia rasakan lagi, semua itu terganti dengan debaran jantung yang membahana.


Dengan kobaran api yang masih menjalar di tubuhnya dan emosi yang tidak bisa ia keluarkan. Gifali melempar gawai nya ke dinding sampai luluh lantah terbelah diatas lantai.


Ia mencabut selang infus dari tangannya. Darah begitu saja mengalir dan menetes di seprai. Mengacak-acak rambut dan memukul-mukul kepalanya.


"Suami bodohh! Tidak bisa menjaga istri! Aku menyesal, kenapa tidak membawanya kesini!" Gifa terus berteriak, merancau seperti orang tidak waras.


Ia menarik dan menggusar kan seprai, melemparkan bantal kesana-kemari. Hilang sudah rasa sabarnya. Rasa rindunya saja selama dua bulan setengah ini belum terbalas, malah mendapati kabar kalau istrinya pergi.


"Arrgghh ... Kemana kamu, Ra!" Gifali kembali berteriak, ia terisak sejadi-jadinya.


Badannya membungkuk di atas kasur sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba saja sakit. Lelaki itu masih lemas, fisiknya belum sembuh betul. Tapi sudah di khawatirkan dengan keadaan istrinya yang seperti ini. Gifali takut Maura dan ketiga anaknya, tidak bisa menjaga diri.


Tenang Gifa, ada Allah.


***


Episode selanjutnya akan aku update mulai tengah malam ya. Sebelum akhir bulan, MSW akan tamat🌾.