
Dengan berat hati Gifali melepas kepulangan Mama dan Papanya ke Indonesia, delapan jam yang lalu. Ingin ia berlari untuk menyusul dan ikut pulang dengan mereka, lalu bagaimana dengan Maura dan juga kuliahnya di sini.
Karena besok mereka harus sudah masuk kuliah lagi. Sejak kepulangan besannya, Papa Bilmar meminta Pramudya dan Malik untuk pulang dulu, agar bisa memberikan ruang untuk menantunya berfikir dan menata hati.
Maura sudah bolak-balik ke kamar, tidak tahu sudah dalam ke hitungan berapa. Mengusap, membelai, memijat tetap saja Gifali bergeming. Gifali berbaring miring menatap dinding, memaksakan tubuhnya untuk tidur sambil menggenggam gawai.
Ingin memastikan Mama dan Papanya selamat sampai di Indonesia. Banyak pesan yang ia kirim kepada Mama Difa dan Papa Galih, namun hanya centang satu karena mereka masih didalam pesawat.
Maura pun ikut murung. Hanya menatap makan malam tanpa Gifa duduk disebelahnya. Mengajak suaminya makan sudah, tapi Gifa bilang nanti saja. Dirinya belum lapar.
"Kakaknya harus kuat, jangan ikut murung." Papa Bilmar membuka suara. Maura mendongak dan menatap Papanya.
"Tapi kasian suamiku, Pah."
"Wajar, Nak. Gifali masih butuh waktu. Ini terlalu mendadak buat dia." sahut Mama Alika yang langkahnya baru sampai di meja makan dengan mangkuk sup di tangannya. Menuangkan sup itu ke piring suami dan anaknya. Maura hanya diam dengan tatapan lesu. Tidak pernah ia melihat Gifali seperti itu.
"Makasih sayang." ucap Papa Bilmar kepada istrinya, memberikan usapan lembut dilengan. Lalu mulai menyantap makanannya.
"Ayo, Ra. Kamu haru banyak makan sayur." titah Mama Alika.
"Apakah Mama dan Papa nggak marah dan kecewa dengan masa lalu suamiku?" pertanyaan itu membuat Mama dan Papa mengangkat wajahnya dengan kunyahan yang masih ada di dalam mulut.
Mereka berdua menggelengkan kepalanya bersamaan dan tersenyum.
"Enggak, Nak. Kami menikahkan kalian untuk menggapai masa depan bukan untuk memperdebatkan masa lalu." sambung Papa Bilmar dan diiringi anggukan setuju dari istrinya.
"Makasih ya, Mah, Pah." jawab Maura dengan wajah senang. Tentu ia faham tidak semua mertua akan menerima asal usul menantunya yang tidak jelas.
****
Awalnya Malik menolak untuk menginap di rumah Pramudya dan Tamara. Ia memilih ingin langsung pulang saja ke Indonesia. Namun Pramudya dan Tamara menolak, mereka ingin Malik di periksa oleh Dokter dahulu.
Melihat sikap mereka yang hangat membuat Malik enggan untuk menolak. Dr. Frans sudah memeriksa keadaan Malik, dan Dokter itu mengatakan bahwa keadaan Malik tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Setelah makan malam selesai, Pramudya dan Tamara serta Malik membawa Adrian dan Agnes ke ruang televisi. Memang sejak Malik berada dirumah, Adrian dan Agnes tidak hentinya berseru, menanyakan siapakah lelaki yang saat ini mereka bawa ke rumah mengapa dalam keadaan babak belur seperti itu.
"Mama bawa maling kerumah?" tanya Adrian.
"Kok maling sih?" Tamara tertawa.
"Ya lihat aja wajahnya babak belur gitu." sambung Agnes.
"Nanti sehabis makan malam Mama dan Papa ingin mejelaskan sesuatu kepada kalian."
Begitulah percakapan antara Tamara, Adrian dan Agnes. Entah mengapa dada Agnes seketika berdenyut ngilu. Seperti ada hal yang tidak enak bersarang didalam hatinya.
****
Mengelus punggung suaminya dan melongokkan kepala untuk menatap jelas wajah Gifali dari samping. Linu sekali hati Maura melihat air mata suaminya masih saja menetes padahal dengkuran pelan sudah mencuat dari Gifali.
Dengan hati-hati iya mengambil gawai yang masih di genggam erat oleh Gifali. Sepertinya sebelum tidur, Gifa membuka-buka galeri ponselnya dan membuka salah satu foto keluarga Hadnan ketika sedang berada di Artanegara Resort, tepatnya saat Gifali dan Maura menikah.
Di foto itu terlihat. Mama Difa dan Papa Galih tersenyum mengapit Maura dan Gifali yang baru saja selesai melaksanakan akad nikah. Ketiga adiknya pun meramaikan foto tersebut dengan senyuman gembira. Maura mengusap foto itu menatapnya sendu.
"Aku saja sedih melihatnya. Apalagi kamu sayang." desahnya pelan. Lalu mematikan gawai itu untuk diletakan di atas nakas. ia kembali beringsut untuk membangunkan suaminya.
"Sayang bangun dulu yuk, kamu belum makan malam. Nanti kamu sakit." Maura merubah posisi suaminya untuk berbaring terlentang. Mengusap lembut pipi Gifali agar terbangun.
Gifali dengan kepala yang terasa berat, pening tidak tertahan masih berusaha membuka kelopak matanya yang terasa pedih. Menangis berjam-jam membuat wajahnya terasa sakit. Suaranya terdengar serak.
"Air, Ra."
Maura meraih segelas air lalu membantu Gifa untuk duduk menyandar di punggung ranjang. Menyodorkan air itu tepat langsung ke bibir suaminya. Dirasa cukup, Gifa mendorong gelas itu dan mengusap bibirnya yang masih meninggalkan kebasahan.
"Makan ya ..." ucap Maura. Gifali menjawab hanya dengan anggukan kepala.
Maura mulai mengambil piring nasi dari atas nampan, membasahi buliran nasi dengan kuah sup ayam buatan Mama Alika. Gifa memegang tangan Maura, wanita itu pun menoleh.
"Kenapa sayang?"
"Kamu udah minum susu belum?" tanya suaminya. Maura tersenyum. "Sudah."
Walau dalam keadaan seperti ini, ia masih saja mengingat tentang anaknya didalam kandungan Maura.
"Jangan ikut memikirkan masalahku, Ra. Kamu gak boleh stres!"
"Istri mana yang akan tutup mata kalau suaminya sedang seperti ini? Apa yang harus aku lakukan agar membuatmu sedikit tenang?" tanya Maura. Gifali menghela napas panjang, kembali menyeret bola matanya ke sudut atap kamar. Wajah Mama dan Papanya kembali terbayang.
"Maafkan aku, Ra. Aku selalu membawamu ke dalam masalahku sejak dulu." lirih Gifali.
Maura meletakan nasi itu kembali di atas nakas. Lalu merentangkan tangan untuk membawa suaminya masuk kedalam dadanya. Gifali pun menyambut dan meletakan kepalanya di ceruk leher Maura.
Rasanya sangat menenangkan.
"Kalau masih mau nangis boleh, tumpahin aja biar dada kamu gak sesak." titah Maura, ia tetap mengunci tubuh suaminya.
Memang tidak ada suara menangis atau guncangan pada bahu sebagai penyertanya, tapi Maura tahu Gifali sedang menangis, karena kain baju disekitaran lehernya terasa basah.
"Menangis lah jika dengan itu membuat kamu lega sayang."
Gifali semakin merekatkan tubuhnya untuk memeluk Maura. Untuk saat ini, yang ia tahu. Hanya Maura tempat teraman untuk dirinya.