My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Akan Selalu Menjaganya.



PUTRA GIFALI HADNAN?


GIFALI?


GIFALI?


Pramudya dan Tamara terus menerus bergumam menyebutkan nama Gifali. Dada Pramudya berdenyut ngilu. Helaan napasnya begitu saja keluar dengan iringan garis senyum bibir yang merekah. Wajahnya berbinar, gurat-gurat cahaya menerangi tatapan matanya.


Pramudya menatap dan memeluk Tamara. "Gifali betul Anakku, Mah. Dia memang benar Anakku!" Pramudya menyerukan rasa senang di hatinya.


"Iya, Pah. Alhamdulillah, Gifali memang betul Anak kamu."


"Anakku gagah, Mah ... Anakku cerdas, sehat, dan budi pekertinya baik. Aku beruntung memilikinya." ucap Pramudya penuh syukur. Ia terus memeluk Tamara di atas sofa. Malik yang melihatnya hanya bisa menatap bingung.


"Apa kalian sudah mengenal Gifali?" tanya Malik.


Pramudya dan Tamara melepas pelukan mereka. Lalu kembali duduk dengan tegap.


"Gifali adalah mahasiswa saya di London. Saya adalah Dekan nya di kampus. Dari awal saya sudah curiga jika Gifali adalah anak kandung saya. Karena wajahnya mirip sekali dengan almarhumah ibunya, serta beberapa kali saya bermimpi, Gita mendatangi saya untuk menjaga anak kami."


Malik yang mendengar penjelasan itu kembali tercengang.


"Masya Allah Tabarakallah, sungguh kuasa Allah tidak ada yang bisa menandinginya. Memang sudah saatnya kalian bertemu." ucap Malik.


"Terimakasih banyak, Pak. Berkat kemurahan hati anda, saya jadi tahu siapa anak saya, saya sangat berhutang budi. Dengan apa saya bisa membalas kebaikan anda?" tanya Pramudya.


Malik hanya tertawa karena merasa lucu.


"Sudah menjadi kewajiban saya. Saya hanya ingin Gifali bahagia." timpal Malik.


"Saya berjanji akan membahagiakan dia, istrinya dan cucu saya." Pramudya berjanji.


"Jadi Maura itu istrinya, ya?" Tamara kembali memastikan.


"Iya betul nama istrinya Gifali adalah Maura. Maura berasal dari keluarga Artanegara. Anak pengusaha logam dan baja terbesar di Indonesia dan Asia.


"Wah?" Pramudya dan Tamara kembali tercengang. Mereka memandang takjub, merasa tidak percaya. "Keluarga Artanegara sangat terkenal di kalangan pengusaha." imbuh Pramudya.


"Gifali dan Maura sepakat untuk melepas kekayaan orang tua mereka ketika sudah menikah. Itu adalah syarat yang diajukan oleh Anak kalian. Ia ingin membuat Maura sukses dengan tangannya sendiri, ingin dianggap pantas karena sudah mendapatkan Maura yang mau menerima dirinya tanpa asal-usul yang jelas."


"Masya Allah, Pah. Anak kamu, sifatnya memang sangat terpuji. Walau ia sudah membohongi kampus dengan statusnya, tapi biarin aja ya, Pah. Jangan dikeluarkan, kasian Gifali. Dia begitu karena ingin sukes!" pinta Tamara kepada Pramudya.


Pramudya mengangguk dengan senyuman yang tidak sedari tidak surut dari wajahnya.


"Iya, Mah. Papa yang akan pasang badan untuk dia di kampus."


Terjawab sudah teka-teki yang selama ini belum berhasil ia pecahkan. Mengapa bisa Gifali bekerja di Kafe dan Maura bekerja di resroran hotel. Semata-mata hanya ingin mencari uang demi menyambung hidup selama di London, agar bisa terlepas dari fasilitas orang tua mereka masing-masing.


"Memangnya ada apa? Kenapa harus dikeluarkan dari kampus?" tanya Malik resah.


"Di kampus saya mempunyai peraturan kalau mahasiswa tidak boleh menikah dalam waktu satu tahun selama mengikuti pelajaran di sana. Jika ada mahasiswa yang ketahuan, maka harus membayar pinalti dan mau di keluarkan dari kampus."


"Ada-ada aja, anak itu." Malik tertawa.


"Sungguh saya merasa sangat bersalah selama ini." Pramudya kembali mendesah sedih.


Malik menepuk bahu Pramudya. "Ini salah Gita, bukan salah kamu. Gifali pasti mengerti."


"Apakah dia mau menerima saya?"


"Pasti, Gifali adalah anak yang dewasa dan baik hati. Iya pasti senang jika mengetahui kebenaran ini. Walau mungkin awalnya ia akan syok."


"Apakah anda bisa ikut bersama kami ke London? Menjadi jembatan diantara suami saya dengan Gifali? Agar Gifali percaya jika Pramudya adalah Ayah kandungnya." pinta Tamara kepada Malik dengan amat memohon.


Malik menghela napasnya perlahan. Menggerak-gerakan bola matanya kesana kemari. Seraya berfikir apa yang harus ia putuskan sekarang. Bagaimana nanti tanggapan Nadifa dan Galih? Lalu tanggapan dari keluarga Maura? Lebih tepatnya, Gifali?


"Kenapa, Pak?" tanya Pramudya ketika melihat Malik seraya menggelengkan kepala untuk mengusir terkaan yang sudah melalang buana jauh kemana-mana.


"Yang saya cemaskan saat ini, bukan lah Gifali, Pram. Tapi---"


"Tapi, siapa?"


"GALIH. Kamu pasti tau bagaimana perangainya, saya pasti akan habis dengannya, jika ia tau saya sudah menyembunyikan masalah ini bertahun-tahun."


"Iya benar. Saya sangat hafal dengan sifatnya yang sedikit tempramental, saya juga dulu tidak habis fikir, kok bisa-bisanya Difa mau dengan Galih. Apalagi Gita juga ke ikut cinta buta dan membuat saya hancur seperti sekarang!" Pramudya kembali geram. "Anda tenang saja, Pak. Saya akan melindungi anda." janji Pramudya.


Malik mengangguk, walau hatinya masih terasa gamang. Namun demi Gifali serta untuk membuat arwah Gita dan Kinanti tenang. Ia mau menuruti permintaan Pramudya.


"Kapan kita bisa berangkat ke London?" tanya Malik.


"Malam ini bagaimana?" tanya Pramudya.


"Biar nanti saya yang akan siapkan persiapan keberangkatan kita." sambung Tamara.


"Baik kalau begitu." jawab Malik mantap.


Ia harus meminta izin dulu kepada kedua anaknya dan berkemas serta tidak lupa membawa semua bukti-bukti yang akan membuat Gifali percaya kalau Pramudya adalah Ayah kandungnya.


"Mah ..." Pramudya kembali memeluk istrinya. "Makasih ya, Mah. Mama udah mau nolongin Papa sampai ke Indonesia, untuk mencari Anakku."


"Bukan Anakmu! Tapi Anak kita, Pah." Pramudya semakin senang dan bahagia.


"Beruntung aku menikahimu, Tamara."


****


Ini gengss masalahnya nanti ada sama Kakek Gayihh


Biasa nih, aku kasih satu episode lagi setelah ini. Tungguin yah.❣️