My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Eks Part Seven



"Kakek ..." seru Bisma. Anak lelaki itu tersenyum riang ketika melihat Papa Galih di sambungan video call dari Indonesia.


Bisma memegangi layar gawai dengan amat susah, karena Pradipta juga berebut ingin memegang. Papa Galih setiap weekend pasti akan menghubungi cucu-cucunya.


Kebetulan ponsel Gifali tertinggal di meja. Lelaki itu ada urusan sebentar diluar. Bisma langsung mengambilnya ketika melihat ada foto Kakeknya di sana. Triple G sudah terbiasa menerima telepon dan menghubungi para Kakek dan Neneknya.


"Jangan ribut, Nak." suara di seberang di sana. Papa Galih dapat melihat jelas keributan di antara Pradipta dan Bisma.


"Gantian dong, Kak." ucap Pradipta tidak sabar. Ia berhasil menarik gawai.


"Kakek ..." ia melambaikan tangan bahagia. "Adek kangen, Kek." ucapnya.


"Iya, Nak. Kakek juga kangen. Nanti bulan depan ketemu ya." Karena bulan depan rencananya Maura akan pulang, dan melahirkan di Indonesia.


"He'eh." Pradipta mengangguk senang.


"Nenek ..." serunya lagi ketika melihat Mama Difa baru muncul disamping suaminya.


"Sini dong, gantian." Bisma menarik gawai itu dan akhirnya wajahnya kembali mendominasi layar gawai.


"Berdua aja barengan, biar Nenek bisa lihat." titah Mama Difa.


Bisma, si anak cerdas mengangguk. Lantas meletakan layar gawai dipertengahan antara dirinya dengan sang adik.


"Geisha nya mana?" tanya Papa. Bersamaan dengan itu langkah Geisha muncul dari dalam kamar mandi. Dengan lilitan handuk didada, ia melangkah menuju kedua saudara kembarnya yang masih duduk santai di atas sofa. Anak itu baru mandi, karena ia bangun lebih lama dari Bisma dan Pradipta.


"Nih, Kek. Kakak balu mandi." ucap Dipta. Geisha ikut menerobos mereka. Duduk diantara Bisma dan Pradipta. Ia melambaikan tangan dengan senyuman bahagia menatap Kakek dan Neneknya.


"Geisha, kok baru mandi, disana kan udah siang banget, Nak" tanya Nenek.


"Balu bangun. Hehe." anak gadis itu tertawa. Memperlihatkan gigi susunya yang kecil-kecil.


Pradipta menciumi Geisha, sampai anak itu bergeliat. Geisha mendorong wajah saudaranya untuk menjauh. Pradipta sangat suka dengan anak perempuan yang wangi, apalagi Geisha habis mandi. Tubuhnya bau sabun. Sungguh mengenakan lubang hidung Bisma dan Pradipta.


"Jangan diciumin terus adiknya. Pengok tuh hidungnya nanti." Papa Galih tertawa, ketika Pradipta kembali memaksa mencium Geisha di bagian hidung.


"Ia nih, aku ndak cuka!" Geisha setengah berteriak kepada Pradipta, membuat Bisma menengahi mereka yang akan bertengkar.


"Adek, sayang. Jangan gitu, Nak." ucap Mama Difa. Geisha menoleh lagi ke layar. "Adeknya nakal, Nek. Aku ndak cuka di tium-tium." Geisha mengusap wajahnya yang basah.


Papa Galih di sana terkekeh geli. "Adek tuh sayang sama Kakak, jadinya gitu suka cium-cium."


Bola mata polos Geisha membulat. "Benelan? Kaya gitu sayang?"


Papa Galih dan Mama Difa mengangguk.


Geisha menoleh ke arah Bisma yang juga sedang menatap Kakek dan Neneknya. "Tapi, Kakak ndak pelnah tium-tium aku, beyayti ndak cayang, ya?"


Duh, salah ngomong. Batin Papa Galih.


Mama Difa mendengus menatap suaminya. "Kamu sih, ada-ada aja kalau ngomong."


Bisma melongo lalu mengerjapkan mata dua kali, karena mulai mengerti maksud pembicaraan antara Kakek dan Geisha. Anak itu langsung bertindak.


"Kakak cayang Adek, kok ... emmuach."


Jenius sekali, Bisma. Bisa mencari aman agar adiknya tidak merajuk.


Bisma mencium pipi gembil Geisha. Mencium lagi dan lagi. Sampai Geisha bergeliat menjauh dan juga mendorong wajah Kakaknya yang masih mendekat.


"Cana ah, bau." Geisha mengusap lagi wajah dan kedua lubang hidungnya. Pradipta tertawa nyaring, anak itu malah meledek Kakak lelakinya.


"Haha. Kakak bau, aku dong, ndak bau." ucapnya bangga.


Bisma memang sedang mengunyah stik kentang. Rasanya tidak bau-bau amat, hanya bau makanan saja.


Karena Pradipta terus saja tertawa, Bisma yang gregetan langsung menjambak rambut adiknya dari belakang.


"Ih, kok kakak nalik lambut aku!" seru Dipta. Ia kembali menjambak rambut Kakaknya.


"Eh--eh! Ya Allah, kenapa jadi berantem?" seru Kakek dan Nenek bersamaan. Layar gawai sampai mau jatuh dari tangan Bisma dan Geisha mengambilnya. Menegakan lagi, dan terlihat di belakang dirinya Bisma dan Pradipta sedang adu gelut.


Bukan melerai, anak gadis itu malah tertawa. Ia lucu karena Bisma dan Pradipta saling menjambak rambut.


"Dek, bilangin Bunda sama Ayah." titah Mama Difa.


"Bialin aja, Nek. Nunggu ada yang nangis dulu." bisik Geisha.


"Ya Allah, anaknya si Gifa, kelakuannya semua pada begini." desah Papa Galih. Lelaki itu hanya bisa menggeleng samar.


"Adek, Kakak! Jangan berantem!" Mama Difa terus berteriak-teriak.


"Siapa ya yang bakal menang? Tapi memang kedua cucu laki-laki ku ini, menurun bakat ku." ujar Papa Galih dengan gelak tawa. Ia merasa lucu.


Mama Difa mendelikan mata tajam. Suaminya hanya meringis segan. Ia memilih ikut melerai dengan cara berteriak di sambungan video call.


"Kakek, Adek, ayo sikat ... eh!" Papa Galih buru-buru membekap mulutnya. Maksud ingin melerai, mengapa jadi menyemangati supaya mereka terus berkelahi?


"Sini ah!" Mama Difa mengambil layar gawai dari tangan suaminya. Lalu berbicara serius dengan Geisha.


"Adek, panggil Bunda ya. Atau Ayah. Bilangin Bisma dan Dipta lagi berantem."


"Ah, sakit!" kembali terdengar erangan dari bibir Bisma dan Pradipta. Anak itu terus menjambak, sesekali menarik baju dan memukul.


"Dasal bau!" teriak Dipta.


"Kamu tukang eek di celana!" teriak Bisma tidak mau kalah.


Papa Galih meraih gawainya lagi. Ia menatap Geisha, dan dibelakang cucu perempuannya itu. Bisma dan Pradipta sudah saling tindih di atas sofa.


"Mulut kamu bau jigong." teriak Pradipta.


"Ndak!!" teriak Bisma. Ia kembali meng hah kan napasnya ke arah Pradipta yang masih berada di bawah kungkungan nya.


"Aduh gawat nih urusannya. Begini terus kali ya, tiap hari? Untung aja Maura enggak sampai kena penyakit ambeyen karena ngurusin ketiga anak yang kaya begitu sifatnya. Pasti nih nurun dari si Pramudya, dia kan bar-bar."


What? Setenang itu Kakek Pramudya di bilang bar-bar? Apa kabar dirinya dan Papa Bilmar kalau begitu? Haha.


Mama Difa menghentak bahu suaminya. "Kena stroke yang ada, masa ambeyen!"


"Apa itu eyen?" celetuk Geisha.


"Itu, Nak. Yang ada di pantatt." Papa Galih tanpa rasa dosa malah memperjelas.


Geisha kembali membola 'kan matanya. Ia malah membuka handuk yang membelit tubuh dan menoleh ke belakang walau sulit. Tangan kirinya seperti meraba lubang anus.


"Waduh, tuh pipiw nya keliatan, Nak." seru Papa Galih ketika melihat Geisha telanjang bulat.


"Papa sih ah! Anak nya jadi kepo pengen tau." Mama Difa melirik kesal.


Bisma dan Pradipta yang masih sibuk berkelahi. Lantas menoleh ke arah punggung Geisha, mereka berdua tersentak ketika Geisha sedang fokus memegangi lubang anusnya.


"Ih jorok!" seru mereka berdua.


"Bunda ... Kakak ngobel-ngobelin lubang eek nya!" Pradipta berteriak.


Haha.


Geisha gelagapan. Ia takut dimarahi Bundanya yang sebenarnya berhati baik tapi suka berubah galak sekali kalau mereka sedang melakukan hal yang salah atau tidak benar.


"Tadi Kakek bilang ada eyen di pantat, makanya aku mau liat." cicitnya polos. Tapi tangan nya masih saja berada di bokong.


Papa Galih dan Mama Difa melebarkan matanya di seberang sana.


"Bunda! Adek megang-megangin pantat telus. Di suluh Kakek." teriak Bisma. Anak lelaki itu jadi salah persepsi.


"Aduh, mati nih." ucap Mama Difa datar.


"Kak, maksud Kakek bukan kayak gitu." Papa Galih panik. Ia merasa tidak enak hati jika Maura menelan ucapan kedua anaknya itu bulat-bulat seperti tahu bulat di goreng dadakan, lima ratusan.


Haha. Bercanda malah membawa petaka. Batita seumur triple G, memang lebih sering banyak tahu dan menirukan. Apapun yang didengar, dilihat dan ditemukan. Anak-anak sepantar mereka akan mengikutinya. Maka dari itu, Gifali dan Maura jika sedang cekcok kecil akan berusaha untuk menjauh dari triple G.


"Geisha jangan di pegangin terus, bau, Nak." titah Mama Difa.


Geisha mengangguk. Ia menarik tangannya tapi malah diendus wanginya. Mama Difa dan Papa Galih melotot, dan Geisha hanya tertawa. "Iya, bau, nih."


Kakek dan Nenek menggusar wajah karena gemas.


"Masya Allah, cucu kita, Pah." keluh Mama Difa. Papa Galih pun sama hanya bisa memijat pangkal hidungnya.


"Geisha pakai handuk nya lagi, Nak. Jangan telanjang gitu, malu dong kak ada Kakak. Nanti pipiw nya lepas." titah Papa Galih.


"Apaan si Pipiw!!" rungut Mama Difa. Ia mencubit lengan suaminya. Papa Galih hanya tertawa dan mengusap ke pusat inti istrinya.


Mama Difa mendelik lagi. "Dasar mesumm!"


Papa Galih terus tertawa terbahak-bahak.


Bukannya menurut, Geisha masih saja fokus dengan baunya. Lalu menoleh ke arah Bisma dan Pradipta. Mengibaskan jarinya yang bau kepada Bisma dan Pradipta. Sontak kedua anak lelaki itu menjauh. Menarik tepi kaos di leher untuk menutup hidung mereka.


"Ih, bau campah!" maki Dipta.


"Bundaaaaaaaaaa!! Adek nih, nakal!" seru Bisma. Suara nya lebih nyaring sampai Maura baru sadar kalau ia sudah asik dengan teleponnya.


"Kenapa, Nak?" jawab Maura dari kamar. Wanita hamil itu bergegas mendekat.


"Pah, matiin teleponnya. Gak enak sama Maura." titah Mama Difa ketika mendengar suara menantunya.


"Iii--ya, Mah." jawab Papa Galih tergagap. Jantungnya berdegup cepat karena takut.


Tut.


Sambungan terputus.


Mama Difa dan Papa Galih langsung menghela napas. Mengusap dada pelan. Mereka tidak akan menerka bahwa pembicaraan video call yang mereka lakukan akan membuat ketiga cucunya rungsing dirumah.


"Papa sih bikin riwet aja! Ini mulut bisa enggak sih di sortir!" decak Mama Difa menjawil bibir suaminya.


Kalau bukan karena ucapannya, Bisma dan Pradipta tidak akan berkelahi dan Geisha tidak akan kepo dengan Ambeyen.


Haha.


***


Aku sih ada rencana mau lanjut season dua. Tapi tetap di work ini. Tapi ini juga baru rencana loh ya hiihihi. Mungkin kalau jadi akan aku up di awal Januari.


Kalau suka ceritanya, komen sama like nya jangan lupa ya, biar aku cemungut.


Ginka dan Gheana soon to be.