My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Terimakasih Bunda (END)



Gifali POV.


Terlihat sinar matahari mulai muncul dari ufuk timur, menggantikan cahaya rembulan tadi malam. Cuaca yang begitu cerah, mengiringi perjalanan kami menuju gedung. Tempat dimana aku akan di wisuda.


Kaca mobil sengaja aku turunkan sedikit sehingga semilir angin pagi yang begitu segar bisa dengan mudah masuk ke dalam. Terlihat kedua anak lelakiku yang sedang duduk di bangku belakang, langsung heboh dan terus merancau. Bisma dan Pradipta menempelkan wajahnya tepat di jendela mobil yang terbuka.


"Kepala dan tangan jangan di keluarin ya." titah ku, dan mereka hanya mengangguk dengan sorotan mata masih fokus menatap ruas jalan.


Mereka terus berbicara sambil menunjuk-nunjuk apapun yang mereka lihat. Mobil, motor, pejalan kaki atau apapun yang menarik perhatiannya.


Aku tetap memperhatikan mereka dari balik kaca spion tengah. Ketika sedang asiknya menyetir, tanpa ku sadari ada dengkuran napas halus yang bersaut-sautan.


Geisha ternyata tertidur. Anak perempuanku ini akan selalu meminta duduk dipangkuanku, kalau aku sedang menyetir. Cantik sekali Geisha, memakai dress panjang seperti Bundanya.


Kemudian aku melirik ke arah istriku, dan pemandangan yang aku dapati sama seperti Geisha, Aisyahku itu sudah terlelap entah sari menit keberapa dan aku hanya membiarkannya saja.


"Unda itu ..." suara Bisma terhenti ketika aku memberikan kode dengan satu jari didepan bibir. Tangannya terjulur ke arah luar seraya ingin memberitahukan sesuatu yang tengah ia lihat kepada Bundanya.


Dengan kode itu, Bisma mengerti, kalau aku menyuruhnya agar diam dan tidak berisik. Ia mengangguk dan tersenyum. Kembali bergumam dengan saudara kembarnya, Pradipta.


Aku usap kepala istriku dengan lembut, mencoba menenangkan ketika ia mulai bergumam tidak jelas. Jika mengingat tentang nasib Maura, rasanya ada luka di sudut hatiku yang begitu menerpa batin.


Tujuan ku empat tahun lalu ke London, sebenarnya bukan untuk menimba ilmu atau mencari kerja di sini. Aku datang ke negara ini, hanya ingin menemani istriku dan membuatnya sukses dengan kedua tanganku.


Entah kah, Semesta merasa aku tamak dan sombong atau memang ini lah takdir hidup darinya untuk Maura. Yang aku tahu, hidup terlalu memainkan perasaan kami kala itu.


Aku bersikeras ingin membuat Maura menjadi chef terbaik dari lulusan universitas kuliner terbaik di dunia. Dengan tenagaku, dengan kerja kerasku tentunya. Dan aku bisa melakukan itu di beberapa bulan pertama.


Aku ingin ia hidup hanya dari bulir-bulir keringatku saja. Karena aku ingin menyempurnakan diriku, yang kala itu aku tahu, aku adalah anak dari hubungan yang tidak jelas. Mungkin bisa dibilang aku adalah anak haram.


Tapi semua malah di luar bayanganku. Maura yang di ultimatum oleh Papanya harus berhasil di sini, malah harus dikeluarkan dari kampus, di blacklist dan akhirnya selama tiga tahun setengah ia tidak menimba ilmu apa-apa.


Sedangkan aku? Aku yang hanya ikut-ikutan menimba ilmu di sini, berniat hanya ingin menemani sang istri, malah tercemplung dalam keseriusan mengemban ilmu di negara ini.


Miris sekali hidup kami berdua.


Namun sekarang aku mengerti, dibalik rasa lucuku mengartikan kehidupan kami itu, Allah telah menyiapkan ke indahan yang tidak terkira. Semesta mempertemukan aku dengan Ayah kandungku.


Dan skenarionya begitu hebat. Ketika aku mendapatkan sosok lelaki itu tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga, beliau berada tidak jauh dariku. Ialah pemilik kampus sekaligus seorang dekan di sana.


Maha dasyat Allah dengan segala alur ceritanya yang ia buatkan untukku.


Sebenarnya di sini aku sudah bisa membangun kantor ku sendiri. Sudah banyak relasi dan kolega yang mau bekerja sama denganku. Tapi, aku akan melangkah sesuai rencana yang sudah aku susun. Aku ingin kembali ke Indonesia.


Aku ingin melihat istriku kembali menggapai masa depannya. Padahal ia bilang, sudah ridho jika seumur hidup hanya akan menjadi seorang ibu rumah tangga. Aku pun senang, tapi aku tahu. Mimpi tetaplah mimpi


Apalagi keberhasilannya menjadi chef adalah kemauan orang tuanya yang sudah merawat dan membesarkannya dari bayi sampai sebesar ini.


Aku hanyalah lelaki yang baru mengenalnya dan membawanya hidup susah denganku. Meminta dirinya untuk mengabdi hidup kepadaku dan anak-anakku.


Tentu, aku ingin Maura tetap mendapatkan mimpinya. Walau ia terus menolak dan bersikeras tetap ingin tinggal di London.


Dengan keputusan yang sudah aku ambil secara bulat. Aku akan kembali ke Indonesia. Mengalihkan kantor yang sudah berjalan di sini. Walau aku harus berjuang dari nol lagi, itu bukan perkara berat untukku.


Yang penting Maura tetap bisa berbahagia dengan segala mimpinya yang akan tercapai, dan kedua orang tuanya tetap bisa berbangga diri untuk mengelukan nama Maura didepan semua orang.


Aamiin.


***


Kini kami sudah sampai didepan pintu masuk ballroom yang akan dipergunakan para mahasiswa untuk wisuda sebentar lagi.


Maura sedari tadi tidak berhenti menyerukan Bisma, Pradipta dan Geisha yang sedang berlari-larian kesana kemari dengan gelak tawa yang membuat orang berhasil memperhatikan mereka. Beruntungnya ada Kak Adrian dan Ramona yang bisa memegangi mereka selama aku, Maura dan Ibu akan pergi ke dalam ballroom.


Aku sudah memakai baju toga dan topi dengan tali mengayun lurus dari pusarannya. Debaran jantung begitu kentara menderu-deru didalam tubuhku. Bukan hanya aku, namun istriku sama. Berkali-kali aku tangkap tatapan matanya yang terlihat sedikit gugup.


Aku menggenggam erat tangannya. "Bunda kok gugup?" tanyaku.


Maura sedikit meringis. "Enggak tau, Yah. Ini pengalaman pertama melihat orang yang di wisuda."


"Beberapa tahun lagi, Bunda juga akan di wisuda sama seperti Ayah." aku berusaha membesarkan hatinya, menatap legam bola matanya seraya mencari rasa sedih yang mungkin tertinggal di dalam sana, dan aku tidak berhasil menemukannya.


Istriku tidak memperlihatkan rasa sedih atau kecewa. Malah hanya rasa senang yang aku dapatkan dari sinar matanya.


Maura kembali menggelengkan kepala, ia tetap saja bersikeras untuk menyanggah ucapanku.


"Bunda enggak kuliah juga enggak apa-apa, Yah. Yang penting Ayah nya sukses." istriku tersenyum sambil mengelus lembut pipiku.


"Ayah berharap Bunda selalu menjadi istri solehah yang akan menurut keinginan suami."


Seketika Aisyahku terdiam. Namun lama-lama kepalanya mengangguk. Aku tersenyum puas melihatnya. Akhirnya ia setuju.


"Bulan depan kita akan kembali ke Indonesia." tanpa sadar aku meraih punggung tangannya dan aku kecup lama.


"Aku ingin melihatmu berpakaian seperti ini." aku seret bola matanya untuk menatap gaun wisuda yang saat ini sudah terpasang di tubuhku.


"Aamiin ..." aku dan Maura tertawa, ketika Ibu menyerukan kalimat itu ditengah-tengah kemesraan kami.


Beberapa saat kemudian, ada aba-aba agar wisudawan bisa berbaris terlebih dulu sebelum masuk secara bergilir ke dalam ballroom.


Aku mengecup kening istriku. "Doakan Ayah."


Maura mengangguk senyum. Kemudian aku mencium tangan Ibu. Dan menatap lama ke arah Kak Adrian dan Ramona yang tengah direpotkan oleh ketiga anak-anakku yang sedang membuat mereka pusing dengan tingkahnya.


Aku ikut berbaris di deretan wisudawan dan wisudawati. Melangkah masuk ke dalam sesuai prodi, nama dan nomor absen. Aku melambaikan tangan kepada Maura sampai sosoknya tidak terlihat lagi dari pandangan mataku.


Setelah para wisudawan dipersilahkan untuk duduk rapih di jajaran kursi. Baru lah terdengar instruksi kepada para tamu undangan dipersilahkan untuk masuk ke dalam ballroom, untuk duduk di tempat khusus tamu undangan yang sudah dipersiapkan. Karena undangan hanya diberlakukan untuk dua orang, maka yang masuk adalah Maura dan Ibu.


"Di mohon kepada semua hadirin untuk berdiri. Karena prosesi sidang senat terbuka akan segera di mulai" dua orang MC mengintruksikan kembali kepada para hadirin yang sudah ada di dalam ruangan.


Tak lama kemudian pembawa pedel berseru.


"Prosesi senat institut manajemen bisnis London University dalam rangka wisuda sarjana ke lima puluh satu, memasuki tempat upacara." seruan terdengar bersamaan bunyi pedel dari sebuah galah berbalut emas dengan beberapa lonceng yang di hentak kan beberapa kali ke atas lantai.


Gaudeamus igitur. Juvenes dum sumus. Gaudeamus igitur. Juvenes dum sumus.


Mars akademi yang selalu di padu suarakan di berbagai negara, kini terdengar seiring langkah Ayahku yang diapit oleh beberapa ajudan senat mulai terlihat.


Ayahku yang masih gagah dan tampan itu, terlihat memakai baju yang sama sepertiku bedanya ia memakai banyak kalung medali di sekitar dadanya, melangkah tegap dari ruang tersembunyi menuju mimbar senat yang keberadaannya ada didepan khalayak ramai.


Sekilas ia menatapku dalam senyuman penuh bangga. Lelaki bijaksana, cerdas dan sangat lembut. Ya, dialah Putra Pramudya. Ayah kandungku.


Aku putar bola mataku untuk melirik Maura dan Ibu yang terbilang jarak dan posisi nya cukup jauh dariku. Tapi dengan mudah aku bisa mencarinya. Karena hanya istriku, satu-satunya orang yang memakai hijab di ruangan ini.


Aku lihat Maura dan Ibu menatap bangga kepada Ayah. Walau mungkin sebenarnya Ibu sudah biasa melihat Ayah mengikuti prosesi wisuda seperti ini, karena tahun kemarin Ayah juga mengikuti proses wisuda Kak Adrian.


Namun untuk Ayah, tahun ini adalah tahun yang sangat berbeda untuknya. Ia bisa mewisuda diriku, yang notabene adalah anak kandung yang selama ini ia rindukan.


Kini Ayah dan jejeran anggota senat wisuda sudah duduk menempati kursi di atas mimbar. Aku bisa menatapnya jelas dari posisiku, lelaki yang selalu memberikan senyum meneduhkan kepada para wisudawan, keluarga dan tentunya kepadaku.


***


Setelah beberapa lama mengikuti prosesi sidang senat terbuka. Ini adalah saat yang paling mendebarkan. Namaku dipanggil kedepan untuk memberikan kata sambutan kepada semua para hadirin.


Kenapa harus aku yang dipanggil? Karena saat kelulusan aku mendapat gelar Cumlaude. Ketika aku beranjak dari kursi dan melangkah menuju podium di atas mimbar, sekilas aku lihat istriku menyeka air matanya. Tidak hanya dia, Ibu dan Ayah juga melakukan hal yang sama.


Aku berdiri dibelakang podium, membawa kertas kecil yang sudah aku siapkan. Karena aku sudah diberitahu oleh panitia. Sebelum prosesi jabat tangan dan pemberian tabung toga. Aku akan diminta untuk memberikan kata sambutan, nasihat dan kiat-kita bagaimana bisa mendapatkan nilai yang cukup spektakuler bagi mereka. Aku berhasil mendapatkan IPK 4.2.


"Pertama-tama saya ucapkan terimakasih kepada Allah SWT, orang tua saya, istri serta anak-anak saya dan juga kepada semua pimpinan universitas, fakultas dan Bapak-Ibu dosen program studi kami yang telah membimbing dengan tulus, serta dekan kami yang sekaligus Ayah saya, Bapak Pramudya."


Aku hening sesaat bersamaan hingar bingar tepukan tangan dari para hadirin. Aku menoleh dan mendapati wajah Ayah sedang berkaca-kaca kepadaku. Aku memulai lagi memberikan kata sambutan sampai di kalimat terakhir.


"Kepada istriku dimohon untuk berdiri." aku lihat ia langsung gelagapan dengan permintaanku. Pasti dalam hatinya, mau apa sih? Haha, lucu sekali wajahnya sekarang. Begitu tegang.


Hingar bingar seruan terus menerpanya, membuat Maura mau tak mau harus mengiyakan kemauanku. Maura pun berdiri, wajahnya gugup karena banyak di sorot oleh ribuan mata.


Sayup-sayup ku dengar, ada yang memuji kecantikannya. Iyalah, siapa dulu suaminya. Haha, maaf, aku terlalu berbangga diri.


Maura berdiri dengan tatapan mata yang hanya berani menyorot ke arahku, aku tahu ia sedang gugup.


"Kenapa kok gugup gitu? Biasa aja sayang ..." aku sengaja menggodanya dengan suara nyaring di mikrofon.


Wajah Maura semakin memerah, mungkin dalam hatinya. 'Lihat saja akan aku cubit perutmu, Gifa sampai biru'.


Tidak mau berprasangka buruk sih, tapi sepertinya memang itu yang sedang ia utarakan dalam hatinya.


Haha, suami macam apa aku ini?


"Nilai ini aku persembahkan untukmu, Aisyah. Istriku tercinta."


"Wiw ..."


"... Citcuit"


Kembali para hadirin memberikan ku tepuk tangan paling meriah dan renyah. Walau sebelumnya aku pernah membohongi mereka dengan jatidiri kami.


Tapi bersyukurlah statusku dengan Maura bisa tertutupi di tahun pertama. Karena ditahun berikutnya, aku sudah terbebas dari semua syarat-syarat kemahasiswaan.


Maura mengangguk, kali ini ia tidak terlihat gugup. Tetap tersenyum dengan air bening yang terus turun dan membuat kedua pipinya basah. Cantik sekali dia, beruntungnya aku mendapatkannya di dunia ini.


Setelah acara pemberian kata sambutan selesai. Kini kami kembali mengikuti acara inti upacara sidang senat terbuka.


"Selamat ya, Nak."


"Makasih Ayah." ucapku pada Ayah sekaligus dekanku.


Ia memindahkan tali di topiku dari kiri ke kanan. Lalu menyodorkan tabung toga dan berjabat tangan denganku. Aku lihat kaca-kaca sudah bergerumun di bola mata Ayah.


Beliau tidak mampu berkata-kata apapun lagi kepadaku, karena ketika ia membuka mulutnya dan mengucapkan satu kata, aku yakin air matanya akan langsung membanjiri wajah.


Seperti yang aku ketahui, Ayah harus melakukan hal ini kepada 2000 mahasiswa lainnya yang masih menunggu dibelakang ku.


****


"AYAH!!!!" triple G berseru nyaring kepadaku.


Padahal aku baru saja keluar dari pintu ballroom dengan Maura dan Ibu. Ketiga anakku itu turun dari gendongan Om dan Tantenya.


Berlari dan menerjang kami dengan pelukan. Aku menjatuhkan diri dengan lutut menekan lantai, aku merentangkan kedua tangan untuk memeluk ketiga anak-anakku.


Bisma, Geisha dan Pradipta terlihat bertanya-tanya dengan pakaian wisuda yang aku kenakan saat ini. Dan mereka mulai cerewet untuk melontarkan berbagai macam pertanyaan kepadaku.


"Ayah ini apa?" Geisha menyentuh topi yang sedang aku pakai.


"Ini apa?" Pradipta memegang tabung toga yang masih aku genggam.


"Ini aju apa, Ayah?" Bisma menunjuk toga yang masih bertengger di tubuhku.


Aku masih memeluk mereka dengan pejaman mata. Bahagia sekali hari ini, aku berhasil merengkuh pendidikan di sini dengan berbagai aral melintang dan cobaan yang akhirnya bertepi.


Aku mendongak dan mendapati istriku yang kembali menangis menatap kebersamaan ku dan anak-anak.


"Bun ... Sini." aku melambaikan tangan kepadanya. Dan ia mengangguk lalu berjongkok seperti aku, kemudian masuk kedalam pelukan kami. Aku menciumi pusaran rambut mereka satu persatu. Aku berikan untaian doa keselamatan untuk mereka semua.


Setelah selesai melepas rasa haru. Karena Ayah sudah hadir kembali menghampiri kita. Aku melepaskan pelukan kami berlima.


Ayah, Ibu, Kak Adrian bergiliran memelukku, mengucap kata selamat dan wajah bahagia. Begitupun Ramona, ia memberikanku jabatan tangan karena ikut senang dengan nilai tertinggi yang bisa aku raih.


Beberapa saat kemudian, kita sampai di rumah foto. Ayah membawa kami kesini, untuk mengabadikan momen penting ini. Kami saling berfoto dengan beberapa macam gaya.


Dan paling terkahir, aku meminta kepada kameramen untuk mengambil fotoku berdua saja dengan Maura, istri solehah ku.


Kami duduk bersebelahan di atas kursi. Aku jadi teringat gaya seperti ini mirip ketika kami sedang foto di taman St. James Park, sebelum Maura melahirkan si kembar tiga tahun yang lalu.


"Oke bagus." ucap Kameramen.


Aku pun mengangguk dan bermaksud beranjak bangkit dari kursi, namun Maura mencekal tanganku. Aku menurunkan tatapanku kepadanya sambil menghempaskan bokongku di kursi kembali.


"Kenapa sayang? Masih mau foto lagi?" tanyaku.


Maura menggeleng. Ia merogoh tas nya, dan mengeluarkan sebuah kotak. Kemudian disodorkan nya kepadaku.


"Kado?" tanyaku untuk memperjelas.


Maura mengangguk dengan wajah sorai gembira. Buru-buru aku membukanya. Yang aku fikir kalau bukan arloji, gelang, dasi atau dompet barangkali. Karena kotak kado ini tidak terlalu besar.


Lalu.


DEG.


Bola mataku menatap tajam benda yang sedang menatapku tanpa kata. Tubuh ini mendadak bergetar tidak percaya. Berkali-kali ku tatap Maura dengan isi kotak tersebut secara bergantian.


"Ra ...?" tanyaku kepadanya. Aku ingin ia mengiyakan bahwa apa yang aku lihat ini, bukanlah suatu kesalahan.


"Selamat sayang, sebentar lagi kamu akan kembali menjadi Ayah." ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih datar.


Air bening dari kelopak mataku begitu saja menetes tanpa ijin. Aku termenung menatap tespack dengan dua garis merah di sana.


"Masya Allah ... Tabarakallah." seruku penuh rasa syukur. Tak sadar aku langsung bersujud di atas lantai. Lengkap sudah kebahagiaanku hari ini. Sungguh, momen kali ini sangat berharga bagiku.


Maura ikut berjongkok dan mengelus punggungku. Aku beranjak bangkit dan menatapnya. Air matanya pun berlinang. Aku mengecup wajahnya tanpa henti, aku tidak perduli jika mereka semua menontoni kami berdua.


"Sejak kapan?"


"Sudah jalan dua bulan ... calon anak kita yang ke empat."


"Ya Allah, Bun." desahku bahagia.


Jika aku punya sayap seperti burung atau kupu-kupu, sudah dipastikan aku akan terbang ke udara, mengitari angin untuk menumpahkan rasa bahagia yang sulit aku lontarkan lagi dengan kata-kata seperti sekarang.


Maura tersenyum. "Aku ingin memberikannya sebagai kado di hari ini." jawabnya lalu mengecup singkat bibirku.


Aku menatapnya dengan peluh yang sudah berkerumun di wajah dan tubuhku. Mengusap lembut pipinya dan kemudian aku mendongak sedikit untuk mencium bibir dan keningnya.


"Terimakasih, Bunda, AisyahKu, cintaKu, hidupKu ... Terimakasih banyak."


"Sama-sama Ayah."


Kami pun berpelukan dalam kadar cinta yang tidak pernah berkurang.


TAMAT.


****


Wah Tamat guys💔.


Makasih banyak sudah menemani perjalan MSW kurang lebih dalam waktu tiga bulan. Atau mungkin sudah ada yang mengikuti kisah mereka dari Gifali dan Maura belum menikah. Terimakasih sudah memberikan apresiasi untuk mendukungku lewat Like dan Komen.


Cek IG aku ya, biar kalian tau kalau Ammar dan Ganaya udh realis apa belum. @megadischa


Makasih banyak❤️❤️


Salam dari,


Putra Gifali Hadnan.


Maura Zivannya Artanegara


Dan ketiga buah hati mereka,


Gardapati Bisma Hadnan


Geisha Alyra Hadnan


Gasendra Pradipta Hadnan.


Serta Insya Allah,


Si calon baby gemes.