
Pagi ini Pramudya, Adrian dan Gifali memilih mengantar Agnes dan Maura ke kampus. Karena rasa kesal yang masih bercokol dari semalam, membuat Agnes hanya terdiam disepanjang jalan. Setibanya di kampus pun ia langsung turun tanpa kata, tanpa salam dan salim kepada Pramudya.
"Si Agnes sikapnya kok gitu lagi sih! Bukannya tadi malam, udah baik-baik aja tuh anak? Aneh!" gerutu Adrian di kursi kemudi.
Ya begitulah anak itu, Pramudya dan Adrian sudah tidak aneh dengan sikap Agnes. Sejak kecil gadis itu memang membenci Pramudya. Dia tidak suka karena Tamara menikah lagi dengannya.
Padahal harusnya Agnes bersyukur, karena berkatnya lah Tamara bebas dari suami yang suka ringan tangan.
Agnes berlalu begitu saja memasuki gerbang kampus. Dan Gifali yang masih duduk disebelah Adrian melirik ke arah bayangan Agnes yang terus berlalu. Ia terlihat sedikit tidak suka, karena gadis itu tidak menghormati Ayahnya.
Gifali turun dari kursinya lalu melangkah ke pintu penumpang yang sudah terbuka, ia ingin menghampiri Maura, menunggu istrinya keluar dari dalam mobil.
"Ayah, Maura turun dulu ya." Maura mencium tangan Pramudya.
"Hati-hati ya, Nak." Pramudya mengusap lembut kepala sang menantu.
"Kak, aku turun dulu ya." Maura mencium tangan Adrian.
"Titip salam untuk Ramona ya, Ra."
"Iya, Kak, pasti." jawab Maura dengan senyuman.
Maura pun turun dari dalam mobil dan mencium tangan suaminya.
"Aku masuk ya, sayang." ucap Maura.
"Sebentar, Ra." jawab Gifa. Dan Maura hanya mengangguk ketika Gifa sedang memasukan jari-jarinya kedalam kerudung untuk merapihkan anak rambut yang sedikit keluar.
"Anakku memang sangat mencintai istrinya." gumam Pramudya menatap keromantisan Gifali kepada Maura. "Aku senang, ia bisa hidup dengan wanita yang dicintai." sambungnya.
"Hati-hati ya. Jangan terlalu capek dan banyak berdiri. Kalau ada apa-apa, minta bantuan Ramona dan Ag---"
Kalimat itu terhenti ketika Maura menautkan kedua alisnya. Tidak mau melihat Maura merajuk, Gifali merubah kalimatnya.
"Telepon aku kalau mau sesuatu ya."
Dan Maura tahu Gifali keceplosan ingin menyebut nama wanita yang ia benci.
"Iya pasti sayang. Aku masuk dulu ya, kamu jangan telat makan siang." ucap Maura, ia kembali melambaikan tangan ke dalam mobil. Adrian dan Pramudya tersenyum dan balik melambaikan tangan. Berlalu lah Maura sampai tidak terlihat lagi bayangannya.
Gifali hening sesaat. Memikirkan pertengkaran tadi malam antara istri dengan Kakak tirinya.
"Sepertinya memang betul, aku harus mengawasi Agnes. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan istri dan anakku." gumam Gifali. "Jika Maura seperti ini terus, dia akan stress. Dan pasti berpengaruh dengan janinnya."
Karena tadi malam, Maura beberapa kali mengigau menyebut-nyebut nama Agnes dengan berbagai umpatan kebencian. Selama ia mengenal istrinya, tidak pernah melihat Maura sampai seperti itu.
Gifali faham, kalau Agnes sudah sangat mengusik kehidupan istrinya. Ditambah lagi gadis itu pernah ingin mendekati dirinya.
"Hai kesayangan ante, triple twin." bisik Ramona sambil mengelus-elus perut Maura.
"Banyak yang sayang nih sama kalian, Nak. Dari kemarin perut bunda di usap-usap terus." jawab Maura menatap perutnya dengan senyum.
"Jadi dia bilang gitu, Ra? Kurang ajar banget ya. Dulu aku juga pernah putus sama Kak Adrian karena dia! Makanya aku benci sama Agnes!" sungut Ramona kesal.
"Kok bisa, Mon. Memangnya masalah apa?"
"Dia fitnah aku, katanya lihat aku jalan sama cowok lain. Agnes gak suka sama aku, Ra." Ramona tertawa sekilas. "Dan aku gak tau apa masalahnya dia benci sama aku."
"Keterlaluan Agnes! Dan Kak Adrian percaya?"
Ramona menghela napas, sepertinya ia malas untuk mengungkit masa lalu. Tapi karena Maura sekarang adalah rivalnya Agnes. Maka Ramona mau menceritakannya lagi.
Ramona menganggukan kepala. "Iya. Kak Adrian begitu aja percaya sama mulutnya Agnes. Tanpa mau denger dulu pembelaan aku. Ya udah aku diputusin gitu aja."
Dua bola mata Maura membeliak hebat. Mulutnya menganga begitu saja tidak percaya. Yang ia tahu, Adrian sangat mencintai Ramona. Mengapa bisa begitu saja terpengaruh dengan Agnes.
"Sejahat itu kah dia, Mona? Kalau Kak Adrian aja bisa terpengaruh. Bagaimana dengan Gifa?" jawab Maura. Tatapannya kembali sedih. "Apalagi sekarang Pak Pramudya adalah Ayahnya, hubungan keluarga akan semakin kuat."
Ramona mengusap lembut punggung Maura. "Allah akan membalas kontan, perbuatan orang yang sengaja ingin mendzalimi kita, Ra. Buktinya Kak Adrian terbuka sendiri hatinya, ia tahu kalau akhirnya aku di fitnah oleh adiknya sendiri."
"Gifali orangnya bijak dan dewasa. Apalagi kamu adalah istrinya. Gifa pasti akan lebih percaya sama kamu dibanding dia!"
"Kamu gak boleh lemah, jangan takut sama dia!"
"Tapi untuk saat ini, karena kamu sedang hamil muda. Lebih baik kamu fikirin aja ketiga anak kamu. Sekarang kamu gak usah mikirin dia. Nanti kamu stres, Ra. Karena nahan emosi terus."
Serentetan nasihat yang Ramona lontarkan kepada Maura. Ia ingin menguatkan hati sahabatnya dan memupuk keberanian Maura agar bisa melawan Agnes.
"Tapi kalau dia berani membocorkan rahasiaku bagaimana?"
Ramona menggeleng. "Dia gak akan berani, Ra. Kamu percaya saja sama aku ya." ucap Ramona.
"Karena aku juga punya rahasia dia, Ra. Itu juga yang membuat dia mau berdamai denganku sekarang tentang Kak Adrian." gumam Ramona dalam hatinya.
"Iya Mona aku akan ikutin semua nasihat kamu. Jagain aku ya." pinta Maura lirih.
"Iya dong pasti. Aku akan jaga kamu kalau lagi dikampus." jawab Ramona.
Akhirnya jantung Maura berhenti memburu. Napasnya sedikit lega. Jujur saja ia memang masih sedikit takut. Tapi mendengar Ramona mau untuk selalu menjaga dan membantunya. Maura bisa tersenyum senang.
****
Like dan Komen ya guyss.