
Masih dengan pakaian seragam yang basah karena peluh keringat, namun hijab sudah lebih dulu ia lepas. Maura langsung menyiapkan makan malam untuk suaminya. Ada sisa makanan di restoran yang sayang jika tidak ia bawa, sebungkus sandwich yang dibelikan Ramona tadi siang pun ia sajikan di sebuah piring agar Gifali melahapnya.
"Wah, makanannya enak-enak semua. Kamu beli dimana?" tanya suaminya.
Suaranya sedikit gugup namun Maura masih bisa mengatasinya degan wajah yang bisa dipercaya.
Baru saja ia ingin membuka katupan mulutnya untuk menjawab, Gifali kembali menyelak dalam pertanyaan yang masih menghantui fikirannya.
"Kamu tadi dari mana, Ra? Kok kampus kamu sudah gelap gulita?" Gifali menatap lurus wajah istrinya.
Namun ketika ia ingin menjawab, matanya tidak sengaja melihat punggung tangan Gifa seperti ada luka memar namun tidak terlalu parah.
"Ya Allah sayang, tangan kamu kenapa?" seru Maura menyentuh tangan suaminya.
"Ada dua hal yang ingin aku ceritakan. Hal baik dan hal buruk. Tapi sebelum aku cerita, aku mau dengar dulu penjelasan kamu, kamu tadi dari mana?" Gifa tetap ingin tahu. Sebenarnya Maura sedang panik, ia bingung ingin menjawab alasan apa kepada suaminya.
"Aku tadi tidak sengaja mengantar temanku yang sakit untuk pulang kerumahnya dulu. Aku takut dia jatuh pingsan dijalan. Kebetulan acara ospek sudah selesai satu jam dari rundown acara."
"Karena kamu sudah berjanji akan menjemput ke kampus, ya sudah aku balik lagi kesana. Ingin menunggu kamu, tapi ternyata kamu sudah sampai." jawab Maura tersenyum sambil menjawil pipi suaminya. Ia gemas melihat Gifa yang terus menatapnya dengan raut tanpa rasa curiga. Namun dibalik itu, Maura sedang menutup rasa bersalah yang semakin membuncah batinnya.
"Oh begitu." jawab Gifa santai.
"Maaf sayang, aku sudah bohong." gumam Maura.
"Aku kompres lukamu ya." ucap Maura.
"Nanti aja, sekarang aku lapar, Ra." jawab Gifa tertawa. "Aku lapar banget nungguin kamu."
Maura mengelus lembut pipi suaminya, lalu mengecup sekilas. "Ayo makan sayang." titah Maura kepada Gifali. Lelaki itu pun menyantap makanan yang sudah tersaji, yang sengaja ia bawa dari hotel dan sandwich milik Ramona.
"Kamou engg-ak maan?" tanya Gifa dengan suara yang tidak jelas karena sedang mengunyah.
"Habiskan dulu yang ada didalam mulutmu, baru bicara sayang." jawab Maura.
Gifa menenggak air minum untuk cepat mendorong kunyahan nya kedalam kerongkongan.
"Kamu enggak makan? Lalu beli makanan sebanyak ini dimana?"
Tidak mungkin kan ia bilang, kalau makanan-makanan lezat itu ia bawa dari tempat kerjanya?
"Aku udah makan dirumah temen aku, orang tuanya menawarkan makan bersama, aku enggak enak nolaknya. Kalau makanan ini, aku sengaja beli buat kamu, biar kamu selalu makan makanan yang bergizi."
Gifali mengangguk, namun dahinya mengerut.
"Tapi kok rasanya, mirip masakan kamu ya?" Ia kembali memasukan suapan nasi kedalam mulut nya.
Deg.
Maura lupa jika Gifali pasti hafal akan semua rasa masakannya selama ini. Namun bagaimana lagi, masakan hotel memang dirinya yang memasak.
"Hanya mirip aja kali." jawab Maura dengan santai, walau jantungnya sedang berdetak cepat. Ia kembali mengisi air minum di gelas Gifa yang tinggal setengah.
"Katanya tadi kamu mau cerita, cerita tentang apa? Kok ada hal buruk ya segala?" Maura merubah raut wajahnya menjadi cemas. Gifali pun faham akan hal itu.
Maura pun mengangguk walau dengan wajah yang masih merengek agar suaminya menceritakan sekarang saja. Tapi memang hari sudah malam, tubuhnya pun lengket. Ia memilih menurut ucapan suaminya untuk mandi sekarang juga.
****
Maura terlihat memeluk Gifali dengan raut wajah senang dan bahagia. Ia tidak menyangka kalau suaminya akan mendapatkan pekerjaan dengan cepat serta gaji yang memuaskan.
"Kamu senang, sayang?" tanya suaminya, ketika sudah menjelaskan salah satu hal baik. Maura mengangguk dan tidak henti-hentinya tersenyum.
"Selamat ya, sayang." Maura mengecup bibir Gifali. Ia kembali membenamkan dirinya di dada lelaki itu.
"Terus hal buruknya apa?" tanya Maura sedikit cemas.
"Tadi ketika ingin menjemput kamu, aku dihadang oleh segerombolan preman. Dia mau mencuri jam ku, Ra."
"Ya Allah, kok bisa ..." jantung Maura kembali berdenyut cepat.
"Enggak apa-apa kok, jam aku nggak keburu diambil karena ada Kakak senior yang nolongin."
"Kakak senior dikampus kamu?"
"Iya, Ra. Namanya Kak Adrian, dia itu anak dekan aku. Oh iya kamu ingat nggak, bapak-bapak yang pernah aku tabrak sampai kaca matanya terlepas?"
Maura mencoba mengingat-ingat, seraya pergi ke beberapa dimensi yang lalu. "Oh iya, bapak berjas ya? Yang waktu kita mau daftar ke kampus kamu kan?"
"Ternyata beliau itu dekan aku, Ra."
"Yang benar?" kedua bola mata Maura membulat sempurna, kembali mengulang takut-takut telinganya salah dalam mendengar.
"Iya benar, beliau juga yang ngasih hadiah ke aku waktu itu."
Maura mengangguk. "Syukurlah sayang, kamu dikelilingi orang-orang yang baik."
"Tapi sekarang, aku jadi resah karena mikirin kamu, Ra."
"Loh, kenapa?" tanya Maura.
"Besok kamu pulangnya gimana ya, aku kan enggak bisa jemput karena masih kerja. Kamu pulang malam kayak gitu aku khawatir."
Maura menatap nanar dan sendu. Pantaskah ia mendapatkan cinta tulus dari suaminya, sedangkan ia sedang membohongi lelaki itu walau dengan berbagai alasan yang kuat.
Gifali menoleh menatap Maura yang tengah melamun menatap wajahnya. "Kamu kenapa sayang? Kok bengong? Oh gini aja, aku nanti minta ijin aja untuk jemput dulu kamu, baru nanti balik lagi ke kafe."
Maura menggelengkan kepalanya. "Jangan Gifa, nanti kamu jadi capek banget. Bolak-balik kayak gitu. Aku nanti bisa pulang sama teman yang searah kok, atau aku akan minta ijin pulang cepat." Maura terus beralasan agar Gifali mempercayainya.
"Tapi kalau semisalnya pulang dari kampus aku ke kafe enggak apa-apa kan?" sambung Maura sebelum suaminya menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Boleh dong, yang penting kamu harus selalu hati-hati. Tapi kalau capek, ya gak usah dipaksain ya, langsung tidur aja, dan nggak usah masak untuk makan malam. Aku sudah dapat jatah makan dari kafe."
"Alhamdulillah baik sekali pemilik kafe itu ya." jawab Maura dengan kilangan senyum menawan. Membuat Gifali gemas dan beringsut untuk membenamkan bibirnya di katupan bibir sang istri.
Dan dari lima menit setelah itu, suara mereka berdua sudah terganti dengan erangan yang bergelora. Gifa dan Maura kembali bermain cinta malam ini.