
"Tolong, bantu saya. Saya hanya ingin anak saya. Dimana dia sekarang?" Pramudya terus mengiba dan memohon dengan tatapan nanar.
"Pah, tenang dulu." Tamara mengelus bahu suaminya yang kelihatan tidak bisa menunggu sama sekali.
Malik berkali-kali mengusap wajahnya gusar. Hembusan napas berkali-kali ia suarakan. Kepalanya terasa pening. Entah ia harus senang atau bagaimana sekarang.
"Anda tidak apa-apa? Tolong Mah, belikan air." titah Pramudya. Tamara pun mengiyakan perintah suaminya dan berlalu dari rumah menuju warung untuk membelikan air minum.
"Mungkin anda kaget karena kedatangan saya. Saya pun tidak mengerti mengapa juga bisa ke sini, hanya karena mengikuti insting yang tidak bisa musnah dari kepala saya."
"Tolong pertemukan saya dengan Gita. Saya janji tidak akan menghancurkan rumah tangganya. Yang saya mau hanya anak saya." Pramudya kembali merengek, terus memelas dan meminta belas kasih dari Malik.
Malik masih memejam kedua mata sambil terus berfikir. Apakah ia harus jujur dan melangkahi Nadifa dan Galih, orang yang berjasa atas kehidupan Gifali selama ini. Tapi sepertinya, Gifali akan bahagia jika ia tahu dirinya masih mempunyai orang tua kandung.
"Saya adalah suami dari Kakaknya Gita. Gita sudah lama meninggal setelah melahirkan."
"APA?" seruan nyaring mencuat dari bibir Pramudya.
"Meninggal? Melahirkan anak? Anak siapa ia lahirkan? Anak saya atau Galih? Apa benar mereka menikah? Lalu bagaimana dengan rumah tangga Nadifa dan Galih, apakah mereka bercerai?"
Serentetan pertanyaan yang Pramudya ajukan kepada Malik, membuat kepala lelaki itu semakin pening. Apakah dirinya harus kembali menguak masa lalu?
Tak lama kemudian Tamara kembali membawa beberapa botol minuman untuk mereka minum. Menyuguhkan diatas meja untuk suaminya dan Malik.
"Silahkan di minum, Pak." Tamara mempersilahkan.
"Terimakasih Bu, maaf jadi merepotkan. Harusnya saya yang menyajikan untuk kalian berdua."
Malik belum mau menjawab pertanyaan Pramudya. Ia lebih memilih untuk menenggak air minum terlebih dulu, agar isi kepala dan hatinya menjadi tenang.
"Sabar sayang, jangan seperti ini!" bisik Tamara sambil menyodorkan botol minum yang sudah ia buka tutupnya.
"Sebenarnya sulit bagi saya untuk kembali menguak masa lalu. Karena setelah semua rahasia itu terbongkar, hidup kami semua sudah kembali membaik sampai detik ini." Malik membuka suaranya.
"Yang harus kamu tau, saat ini Galih dan Difa masih bersama. Namun delapan belas tahun yang lalu, rumah tangga mereka diterpa badai oleh perilaku Gita yang tidak bermoral."
"Gita datang untuk mempora-porandakan rumah tangga mereka dengan mengaku-ngaku sedang mengandung anak dari Galih."
Tamara dan Pramudya hanya bisa menatap Malik dan wajah melongo, Tamara sampai menutup mulut dengan telapak tangan karena tidak percaya.
"Gita menjebak Galih. Gita mengaku jika dirinya sedang mengandung anak dari Galih. Dan akhirnya Galih terpaksa menikahi Gita. Disaat bersamaan Nadifa belum bisa memberikan anak kepada Galih. Karena Difa merasa iba, akhirnya ia mau menerima pernikahan mereka, tinggal seatap dan di poligami."
"Astagfirullohaladzim Ya Allah." rintih Pramudya, dengan rahang yang sudah mengeras. Terlihat kedua tangannya mengepal. Hatinya begitu sakit, air mata menggenang begitu sana di pelupuk matanya.
Pramudya menghentak kepalan tangan di atas pahanya. Tamara pun menatap sedih dan terus menguatkan suaminya. Rasanya begitu perih dipisahkan dari darah daging sendiri.
"Namun Allah berkata lain, Gita dipanggil terlebih dulu. Ia meninggal setelah melahirkan. Anak itu pun diurus dan dirawat oleh Difa dengan sejuta cinta dan kasih sayang. Yang ia tahu, anak itu adalah anak kandung Galih."
"Saya dan istri, berbelas tahun memendam dan menutup rahasia ini rapat-rapat. Berkali-kali saya ingin mengambil hak asuh anak itu, tapi melihat cinta yang diberikan oleh Nadifa dan Galih, membuat saya urung untuk menjelaskan kepada mereka, bahwa anak itu bukan lah anak Galih."
Tumpah lah air mata Pramudya. Isak tangisnya begitu saja keluar diiringi dengan pangkal bahu yang mengguncang. Lelaki itu menangis sejadi-jadinya. Hatinya begitu pilu, selama di London ia tidak pernah tenang menjalani hidup. Tersiksa karena merasa berdosa, ada wanita yang tega memisahkan dirinya dengan sang buah hati hanya karena cinta Buta.
"Apakah Galih tahu jika akhirnya anak itu bukan anaknya?" tanya Tamara.
Malik mengangguk. "Akhirnya Difa dan Galih tahu, disaat anak itu mengalami kecelakaan dan membutuhkan banyak darah. Darah Galih tidak cocok dengan sang anak, dan diperkuat setelah mereka melalukan tes DNA. Hasilnya tidak cocok sama sekali."
"Kecelakaan? Tapi anak saya masih hidup kan?" Pramudya menatap serius wajah Malik. Bola matanya sudah memerah karena terus menangis. Air di mukanya sudah banyak. Cerita yang baru saja diceritakan oleh Malik sangat menghujam jantungnya.
"Jangan sampai anda bilang kalau anak saya meningal dunia!" kelakar Pramudya dengan nada yang tertekan. Percuma saja ia tahu kalau Gita tidak mengarborsi anak itu, tetapi anak tersebut tidak bisa ia rengkuh sekarang.
"Anak kamu Alhamdulillah sehat. Dia lolos dari maut, walau setelah itu mentalnya terguncang, karena ia tau jika Difa dan Galih bukanlah orang tua kandungnya."
Seketika wajah Pramudya berbinar bahagia, ia sampai bersujud di atas lantai untuk mengucap syukur. Tamara mengelus lembut punggung suaminya sambil menangis.
"Alhamdulillah Allah mengabulkan doa-doa kami." ucap Tamara. Malik pun yang menatap, ikut haru dan menitikkan air mata.
"Anak suami saya laki-laki atau perempuan ya?" tanya Tamara.
"Anak itu berjenis kelamin laki-laki. Baru saja menikah, dan sekarang tengah berbahagia karena istrinya tengah mengandung. Nadifa dan Galih pun sekarang sedang menjenguk anak kalian di London."
Pramudya mendongak, lalu kembali bangkit untuk duduk kembali. Pramudya dan Tamara kembali bersitatap, apakah yang mereka fikirkan sama.
"London?" jawab Pramudya dan Tamara. Wajah mereka semakin serius.
"Iya anak kamu menikah sehabis lulus SMA, ia mengikuti istrinya untuk mengemban ilmu di London."
"Siapa nama anak saya." tanya Pramudya
"PUTRA GIFALI HADNAN."
*****
Udan pecah nih tompel, eh bisul deng. Duh aku sedih guyss. Rasanya tuh sakit banget dibohongin beratahun2. Bener-bener emang Nenek Gita, udah bohongin Kakek Galih sama Kakek Pramudyađź’”