
Sudah dua hari satu malam triple G di ungsikan di rumah Kakek dan Neneknya, karena Maura dan Gifali masih babbymoon di hotel berbintang.
Pramudya sangat menyukai ide kepergian anaknya. Bukan hanya ingin melihat rumah tangga anaknya semakin mesra. Tetapi ia juga bisa bebas menikmati kebersamaan dengan ketiga cucu yang biasanya ia temui hanya beberapa kali dalam sebulan. Selama triple G dirumah, Pramudya dan Tamara menyiapkan berbagai makanan dan minuman kesukaan para cucu mereka.
Sesekali Geisha melirik Pradipta yang sedang asik makan sepiring berdua dengan Rayna di atas karpet sambil menatap layar televisi. Sedangkan dirinya sedang asik minum susu di atas sofa, dan juga sedang menikmati acara kartun yang sedang mereka nikmati bersama.
Pradipta dan Rayna terlihat terus tertawa. Pradipta yang gemas, selalu mencium pipi Rayna, sepupunya tapi tidak sedarah. Rayna adalah anak perempuan Agnes dan Razik. Usianya hanya lebih muda enam bulan dari triple G. Rayna memiliki wajah yang tidak kalah cantik dari Geisha. Matanya sipit dan bibirnya mungil. Kulitnya putih dengan rambut sebahu berponi.
Geisha menatap punggung Pradipta dan Rayna dengan tatapan masam. Pasalnya sang adik yang selalu mengajaknya bermain, kini lebih sering mengajak Rayna bermain ketimbang dirinya selama di sini.
Tak lama kemudian datanglah Bisma dari arah dapur sambil membawa sebuah mangkuk di tangannya. Ternyata anak itu meminta dibuatkan sereal kepada Agnes. Lantas Bisma duduk berdekatan dengan Pradipta dan Ryana di atas karpet.
Bisma menoleh ke arah Geisha. "Adek mau ndak?"
Geisha menggeleng dengan botol susu yang masih mengatung di bibirnya. Mendadak, Bisma tersentak menatap Geisha.
"Kan Ayah udah bilanin, jangan naikin kaki kalau lagi duduk. Ayo tulunin kakinya!" seru Bisma.
Yang diserukan seperti tidak perduli. Geisha tetap duduk santai sesukanya sambil menyusu dan menonton televisi.
Mendengar hardikan Bisma, sontak membuat Pradipta dan Rayna ikut menoleh ke belakang. Mendapati Geisha seperti itu membuat Pradipta ikut menautkan alis.
"Kakak tulunin kakinya. Itu nana nya keliatan." Pradipta menunjuk ke arah dalaman Geisha.
Saat ini Geisha sedang memakai dress, lalu duduk dengan kaki terangkat ke atas, dan kedua lutut sejajar dengan dada. Hal seperti ini memang kebiasaan Geisha. Entah di kursi meja makan, di sofa atau dimanapun.
Jika ia duduk, Geisha akan lebih enak dengan gaya seperti itu. Gifali dan Maura selalu mengingatkan, atau sampai memarahi jika Geisha susah di nasehati seperti sekarang oleh Kakak dan Adiknya.
Anak berambut panjang itu benar-benar tidak perduli titahan dari kedua saudara kembarnya tersebut. Geisha melepas botol susu dari mulutnya.
"Ah belisik! Udah nonton aja." decak Geisha.
"Ih kamu di bilanin sama Kakak, ndak ngelti?" Bisma beranjak berdiri dan menghampiri saudara kembarnya. Menurunkan paksa kedua kaki Geisha yang masih duduk dengan gaya mengangkang.
"Ndak mau!" Geisha kembali menaikan kedua kakinya ke atas.
Pradipta yang ikut gemas, juga beranjak bangkit. "Nanti di malahin Ayah. Tulunin kakinya! Itu nana Kakak keliatan." Pradipta ikut menurunkan kaki kakaknya.
Rayna yang masih duduk di atas karpet hanya menoleh dan tertawa melihat mereka bertiga. Tapi tidak dengan Geisha, bocah perempuan itu malah kesal. Ia memang sudah menyimpan rasa cemburu dari kemarin kepada Rayna. Tidur saja tidak mau besebelahan dengan sepupu perempuannya itu.
Lalu.
Geisha melempar botol susunya ke arah Rayna.
"Ahh!!" seru Rayna kaget, tapi anak itu berhasil menghalau botol susu yang dilempar oleh Geisha. "Kok kamu lempal ke aku?" Rayna butuh penjelasan.
"Bialin." jawab Geisha ketus.
Sejak tadi Geisha memang sudah menahan kesal. Karena kedua saudara kembarnya lebih akrab dengan Rayna. Seakan lupa dengan dirinya.
"Kakak kok gitu?" tanya Pradipta.
"Nakal nih! Bialin nanti aku bilangin Ayah!" seru Bisma. Karena kesal sejak tadi Geisha tidak bisa di nasehati, Bisma sampai mencubit paha montok milik adik perempuannya itu.
"Aahhhh ... cakit! Kakekkkkkkkkkk." Geisha menangis dan berteriak memanggil nama Pramudya. Geisha mempunyai suara nyaring melebihi apapun. Gifa dan Maura suka ingin menyumpal telinga mereka jika Geisha sudah menangis.
Pradipta dan Bisma terlihat kelimpungan ketika Adiknya menangis. Mereka takut di marahi oleh Kakeknya.
Mendengar kegaduhan di ruang televisi, terlihat Tamara keluar dari kamar, Pramudya keluar dari ruang kerja, Agnes berlari dari dapur dan Adrian masuk ke dalam rumah dari taman belakang.
"Ada apa ini?" tanya mereka serempak.
Geisha masih menangis, meronta-ronta di atas sofa. Sebenarnya cubitan yang dilayangkan oleh Bisma tidak terlalu sakit, tapi ia memang sedang kesal dan cemburu. Jadi semua rasa itu ia tumpahkan dengan gelak tangis bersamaan dari cubitan Bisma.
"Kenapa, Nak?" tangan Pramudya terulur meraih tubuh Geisha untuk di gendong.
"Umi, Kak esa timpuk aku pakai botol." seru Rayna menunjuk Geisha kepada Agnes.
Agnes terkesiap. Ia melirik botol susu yang memang sudah berguling di atas karpet, membenarkan ucapan Rayna.
"Rayna nakal ya? Godain Kakak?" tanya Agnes. Ia tahu Geisha lebih susah di bujuk dibanding Rayna. Maka Agnes lebih memilih membesarkan hati Geisha ketimbang anaknya sendiri.
"Ndak Umi, Kakak nya yang nakal." Rayna berusaha berbicara apa adanya.
"Kenapa adikmu, Kak?" tanya Tamara dan Adrian bersamaan. Ia mengelus tubuh Geisha yang masih bergeliat kesal di gendongan Kakeknya. Suara tangis Geisha pecah di dalam ruangan.
"Kakak kesal, Nek. Adek ndak mau di bilanin."
"Iya, Kakak nya nakal, Nek. naik-naikin kakinya telus ke atas. Nana nya keliatan. Kalau sama Ayah ndak boleh kayak gitu." timpal Pradipta.
Merasa terus di suduti, Geisha semakin menangis. Mungkin ia juga malu, karena tidak dibela didepan Rayna.
"Bundaaaaaaa .... Ayahhhhhhhhh." Geisha terus menangis menyebut nama orang tuanya.
Tanpa kata, Pramudya memilih membawa cucu perempuannya pergi dari kegaduhan itu. Percuma di adu, namanya juga anak kecil.
Geisha melingkarkan lengannya di leher sang Kakek. Wajahnya yang putih kini sudah berubah menjadi merah karena masih menahan kesal. Bulir-bulir air dari sudut matanya terus saja turun tidak mau berhenti.
"Mau ke Bunda, Kek." ucapnya dengan sesegukan tangis.
"Bunda pulangnya besok, Nak. Di sini aja dulu sama Kakek ya." jawab Pramudya.
Langkah kakinya kini sudah di depan halaman depan rumah. Pramudya terus menenangkan Geisha untuk berhenti menangis. Mengusap-usap lembut punggung anak itu dan menggendongnya dengan gerakan tubuh yang bergoyang ke kiri dan ke kanan.
"Geisha mau jajan? Kita beli kue? Ice cream?"
Geisha menggeleng di bahu Kakeknya. "Mau Ayah sama Bunda." cicitnya sendu.
Pramudya menghela napas. Lelaki itu hening seraya berfikir. Jika ia memilih untuk menelpon Gifa atau Maura, Geisha pasti akan merengek untuk minta di antar kesana. Pramudya terus saja merenung sampai ia terlonjak karena mendengar pintu rumah terbuka dari dalam.
Keluarlah Agnes menghampiri mereka. "Sama Ante yuk, Nak. Ante masak spaghetti kesukaan Geisha." Agnes mengecup pipi Geisha yang masih basah.
Awalnya anak itu menggeleng dan masih bersikeras merengek ingin bertemu Ayah dan Bundanya. Tapi ketika Agnes mengucap berulang-ulang tentang makanan kesukaannya. Geisha berhenti dari rajukan nya.
Agnes memencet hidung Geisha, agar ingusnya yang terlihat bergerumul didalam bisa keluar.
"Sama Ante ya."
Geisha akhirnya mengangguk, mengulurkan kedua tangannya untuk meraih leher Agnes. "Pah, aku bawa Geisha kedalam ya." ucap Agnes seiring mengambil alih tubuh Geisha dari Papanya.
Pramudya mengangguk sambil mengelus rambut hitam yang panjang terurai milik cucunya.
Agnes berlalu bersama Geisha kembali ke dalam rumah. Penyesalan, akibat perlakuannya kepada Maura dulu disaat mengandung triple G, masih saja kentara di dalam hati Agnes.
Walaupun Maura dan Gifa sudah berulang kali memaafkan dan kejadian itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu, tetap saja Agnes masih selalu merasa bersalah.
Maka dari itu, untuk menebus kesalahannya. Agnes setiap minggu akan mengirimkan kue-kue yang ia buat kerumah Maura untuk triple G. Karena Gardapati, Gasendra dan Geisha sudah Agnes anggap seperti anak kandungnya sendiri.
Geisha masih merebahkan kepalanya di ceruk leher Agnes. Membawa anak itu menuju meja makan. Terlihat Pradipta, Bisma dan Rayna sudah ada di sana sedang menyantap spageti nya. Rasa cemburu kembali datang, Geisha mencebik dengan air mata yang ingin kembali menggenang.
Pradipta dan Bisma bersamaan turun dari kursi, ia menghampiri Agnes dan Geisha.
"Adek mamam yuk, Kakak suapin."
"Adek aja yang suapin Kakak." Pradipta menjauhi tangan Bisma dari kaki Geisha yang masih terjulur kebawah dari gendongan Agnes.
Geisha tidak mengidah kan ucapan saudara kembarnya yang sepertinya sedang menyesali sikapnya. Geisha melirik ke arah Rayna yang tersenyum kepadanya.
"Kak Esa sini, nanti kita main sama Lisa." Rayna menyembulkan boneka barbie yang sejak tadi ia letakan dipangkuan nya.
Sepertinya Rayna tidak kesal dengan Geisha, walau anak itu sudah melemparinya dengan botol susu. Raut senang yang begitu tulus terpancar dari wajah Rayna. Geisha yang sejak tadi hanya diam, kini ikut tersenyum.
Geisha mendongak untuk menatap Agnes. "Main bareng sama Adek, ya." pinta Agnes.
"Iya." Geisha mengangguk. Lantas Agnes menurunkan Geisha dari tubuhnya, yang langsung disambut hangat oleh Pradipta dan Bisma. Dua anak lelaki itu menciumi Geisha sampai Geisha terkekeh geli. Dan menggandengnya ke meja makan berkumpul berempat bersama Rayna.
"Papa sangat setuju kalau adikmu selalu membawa istrinya jalan-jalan. Bisa dibayangkan bagaimana repot nya Maura ketika mengurus tiga anak dengan sifat yang berbeda-beda seperti itu. Pasti sangat melelahkan." ucap Pramudya yang langkahnya sudah tiba disebelah Agnes.
Agnes mengulumm senyum. "Benar, Pah. Maura memang wanita solelah yang sabarnya luar biasa. Aku saja suka tidak sanggup kalau Rayna sedang rewel. Apalagi ini mengurus tiga anak belum lagi dua anak yang akan lahir sebentar lagi. Rumah mereka pasti akan seperti kapal di tengah laut yang banyak bergoyang karena ombak ... sulit dibayangkan." Agnes mengeluh dengan gelengan kepala samar.
Pramudya hanya tertawa dan merangkul bahu Agnes. "Kalau Adik-adikmu saja bisa. Masa kamu enggak? Jadi kapan nih kamu mau kasih Papa, Adiknya Rayna?" Pramudya mengedipkan mata beberapa kali. Lelaki paru bayah itu senang sekali membuat Agnes merungut.
Agnes mendengus. "Kak Adrian dulu aja, Pah. Nanti keburu lumutan. Tunangan udah, nikahnya masih aja lama---"
"Heh ... ngomong apaan tuh?" suara Adrian tiba-tiba muncul, dengan langkah kaki yang mulai menghampiri Agnes dan Pramudya. Takut akan dicubit, Agnes bergegas lari menuju anak tangga untuk menjauh, tapi Adrian sudah siap mengejarnya.
"Tadi keponakannya, sekarang Tante dan Pamannya. Aduhh ...." Pramudya hanya bisa menggeleng dengan kekehan kecil.
Oh, baik sekali Tuhan. Sudah menentramkan jiwanya yang selama berbelas tahun ini terasa kosong dan hampa. Terus dirasuki mimpi buruk dengan anak kandung yang sudah ia anggap enyah dari bumi ini.
Dan Tuhan, mengembalikan kehampaan itu dengan kesenangan dari buah sabarnya. Sekarang ia bisa bernapas lega, tidur terasa nyenyak dan makan pun lahap karena anak lelakinya masih hidup dan mau menerima kehadirannya.
Pramudya trus bersyukur karena sudah diberi kenikmatan oleh Tuhan untuk berkumpul bersama keluarga besarnya, walau ia akan sedih karena sebentar lagi Gifali akan kembali ke Indonesia dan meninggalkan dirinya.
****
Duh kesayangan ayah Gifa, si Khumairah🌺