
Gifali terduduk melamun. Menatap istrinya yang sedang tertidur dengan wajah sangat pucat. Kantung matanya menggelap. Kilat cahaya yang biasanya bersinar dari wajahnya begitu saja terhempas.
Selama lima tahun menikah, baru kali ini ia melihat Maura tidak sama sekali bernafsu untuk makan, mandi dan bicara. Pusat fikiran wanita itu terus tertuju kepada Ghea dan Ginka.
Walau tadi, Gifa berhasil membujuk Maura untuk makan. Tapi, Maura hanya menyentuh lauknya saja tanpa nasi, walau begitu, Gifa sudah senang bukan main karena akhirnya sang istri mau makan. Sudah bisa diajak bercanda walau berkali-kali akan kembali diam.
"Yang semangat dong sayang. Aku rindu senyumnya kamu." lirih Gifali. Tangan kiri mengusap-usap rambut Maura, sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan wanita itu.
Setelah melahirkan. Hanya raut sendu yang Maura berikan. Senyum manisnya tidak terlihat lagi. Bayangan seram karena takut kehilangan buah hati begitu mendominasi hatinya.
Suasana hati istri memang sangat berpengaruh bagi suami. Suami akan merasa hidupnya gelap, jika istri tidak memberikan senyuman manis seindah mentari.
"Jangan sedih lagi. Kita hadapi semua ini sama-sama. Aku yakin, Ghea dan Ginka akan pulih kembali."
Sebuah doa penguat diri untuk menutupi rasa takut yang tiba-tiba timbul dihatinya. Padahal sedari tadi ia selalu memberikan tatapan kuat dan semangat kepada Maura, kalau anak-anak mereka baik-baik saja.
Tetapi tadi, lima menit yang lalu saat Maura baru saja tertidur. Perawat menginfokan kalau si kembar kembali sesak. Tentu, menyimpan kabar buruk ini sendirian, sangat menyiksa batinnya. Tapi jika jujur kepada Maura, wanita itu pasti akan kembali histeris.
Drrt drrt drtt.
Ponsel Gifa bergetar. Ia merogoh kantung celana dan meraih ponselnya. Wajahnya senang karena sang Ayah dari London menghubunginya.
"Assalammualaikum, Ayah." sapa Gifa. Nada suaranya terdengar lirih. Mengadukan hal yang dirasa sulit kepada orang tua, tentu membuat batin menyeruak sedih.
"Waalaikumsallam, Nak. Bagaimana kabar istri dan Anak-anakmu sekarang?
Gifali beranjak bangkit dari kursi. Melangkah keluar untuk meninggalkan kamar perawatan. Ia takut Maura terbangun.
"Anak-anakku sesak lagi, Yah. Kalau Maura sudah mau makan, walau sedikit." rasanya ingin menangis. Namun sebisa mungkin Gifali tahan.
"Subhanallah, sabar, Nak. Ayah yakin si kembar enggak apa-apa. Alhamdulillah kalau Maura sudah mau makan ." Pramudya mencoba menenangkan. Pasalnya ia tahu kalau menantu sedang dilema.
"Tapi, Bundanya anak-anak kasian, Yah. Melamun terus. Bawaannya nangis melulu, Gifa jadi serba salah." ucapnya sendu. Gifa menyandarkan tubuhnya di dinding dengan mata lurus menatap atap, seraya mencari bayangan Ayahnya di sana.
"Wajar, Nak. Maura nya syok. Kamu harus banyak sabar. Jangan gampang kesal dan emosi."
Jangan kan Maura, para Ibu diluar sana pun pasti akan merasakan hal yang sama, sama-sama syok.
"Iya, Yah. Sebisa Gifa. Doakan anak-anak, Yah." pintanya.
Ya Allah, lirih sekali suara lelaki itu. Meminta belas kasih doa dari orang tuanya.
"Allah sedang menguji kenikmatan mu, Nak. Kamu harus sabar."
"Iya, Yah."
"Maafkan Ayah, belum bisa kesana. Mungkin habis liburan semester ya, Ayah akan ke Indonesia. Ayah sudah mengirimkan uang untukmu. Coba dicek."
"Jangan repot-repot, Yah. Gifa masih ada uang. Ayah 'kan kemarin juga sudah memberikan uang untuk menambah biaya beli rumah." lelaki itu kembali kecewa, ketika mengingat rumah yang tidak jadi untuk ia miliki.
Dan saat ini ia masih belum memiliki rumah yang layak. Harus menumpang lagi dirumah mertua. Sepertinya untuk sementara, ia akan menempati rumah mendiang almarhumah Bundanya.
Pramudya lupa jika Gifali mempunyai sifat keras kepala dari Bundanya. Anak lelaki itu jika sudah bersikukuh dengan pedoman hidupnya, ia tidak akan berpaling. Ingin Mandiri, tetap mandiri.
"Ya sudah lah anggap saja untuk anak-anakmu dan istrimu. Dari Kakek untuk cucunya." ucap Pramudya. Ia lebih memilih mengalah, dibandingkan berkelit dengan anak sendiri.
"Makasih, Yah."
"Jaga shalat. Minta selalu perlindungan kepada Allah untuk keluarga besarmu. Jangan lupakan kesehatan, sebagaimana pun sikap Maura sekarang. Kamu harus bisa berkepala dingin."
"Iya, Yah. Insya Allah. Ayah juga, dan keluarga di sana semoga selalu diberikan kesehatan. Gifa rindu Ayah ..."
Air bening terjerembab turun, membuat jejak garis lurus dari sudut matanya. Membasahi permukaan pipi dan leher. Tanpa Gifa sadari dari balik pintu ada istrinya yang juga sedang menangis, menatap kesedihan suaminya yang tidak mau terlihat didepan wajahnya.
"Aku tau kamu sedih, Gifa. Kamu tidak sekuat itu!"
***
Malam kembali menyapa. Terlihat triple G masih anteng di atas sofa menatap layar televisi bersama Gadis, Elang dan Eldy. Ketiga anak itu sudah di pakaikan piyama tidur oleh tantenya. Geisha menatap Eldy yang sedang asik di nina bobokan oleh Elang. Bocah perempuan itu merubah raut wajahnya nanar. Ia teringat Gifali.
Dan tak lama ia menangis.
"Ayahh ..." serunya dalam tangisan.
Sontak semua menoleh karena kaget mendengar tangisan Geisha. Gadis beringsut mendekat, namun Geisha lebih dulu beranjak dari sofa berlari ke arah tangga untuk menghampiri Om nya yang sudah berada di kamar. Bisma dan Pradipta pun mengekor. Mereka pun sama sepertinya sedang sedih, ingat Bunda dan Ayahnya.
"Et deh si Gana. Gue wa dari pagi, baru dibalasnya sekarang. Padahal perasaan dari tadi update story terus!" dengus Ammar. Lelaki itu terlihat kecewa karena pujaan hatinya tidak merespon pesannya.
"Loh kok pada nangis? Kenapa nih?" Ammar merentangkan kedua tangannya, bersiap memeluk triple G. Mereka merangkak naik ke atas ranjang lalu mendekap tubuh Ammar.
"Mau pulang, mau ke Bunda cama Ayah." seru mereka bersamaan.
Tuh 'kan rungsing.
"Pulangnya besok ya. Sekalian lihat dedek bayi. Kalau sekarang udah malam. Bunda sama Ayah udah tidur."
"Ahhhh, maunya cekalang!!" Geisha berteriak sambil menarik jambang Ammar. Anak itu terlihat gemas.
"Aduh sakit dong, Dek! Om gigit nih hidungnya biar hilang!" gerutu Ammar.
Geisha kembali menangis di pelukan Om nya. Bergeliat seperti biasa, tantrum nya muncul dan Ammar sudah hafal. Ia hanya mendiamkan saja.
"Om ayo kita ke lumah cakit. Aku penen ke Bunda." ucap Bisma sendu. Ia menyeka air matanya yang terus saja menetes.
"Adek juga, Om. Kangen cama Bunda, cama Ayah, cama---" suara itu mengatung. Pradipta masih berfikir.
"Dedek bayi." imbuh Ammar.
Pradipta mengangguk untuk membenarkan. Ammar menarik tepi piyama Dipta untuk mengeluarkan cairan ingus yang tidak bisa anak itu tarik ke dalam puncak hidung.
Semua keponakannya merengek meminta malam ini juga untuk pergi ke Rumah Sakit.
"Besok ya, Om janji deh."
"Kalau kamu mau eek lagi dicelana, Om bolehin deh. Yang penting jangan nangis." ucap Ammar kepada Pradipta. Anak lelaki itu masih saja menangis. Padahal Bisma sudah tiduran dan berhenti menangis. Menatap lekat atap kamar, mencari bayangan Bunda dan Ayahnya.
Kemudian Ammar menoleh ke arah Geisha, dimana anak itu sudah berguling-guling di atas lantai. Ingin mencari perhatian Ammar agar permintaannya dituruti.
"Ya enggak apa-apa deh kamu guling-guling kayak sosis bakar di situ. Dari pada ngerengek tetep minta ke Rumah Sakit." Ammar sudah pasrah. Tidak ada cara lain, ia harus bersikap tegas. Karena malam ini mustahil untuk membawa triple G ke Rumah Sakit.
Krek.
Pintu kamar yang sudah terbuka, kembali melebar. Ada Gadis yang muncul dari balik pintu.
"Ya Allah, pada nangis begini." ucap Gadis.
"Biasa, lagi rungsing. Mereka kangen Bunda sama Ayahnya." jawab Ammar.
Gadis menggeleng kepalanya samar ketika melihat Geisha meronta di atas lantai sampai wajahnya memerah.
"Bangun yuk, Nak."
"Jangan, Kak. Biarin aja. Nanti Geisha akan diam sendiri. Kalau di rayu-rayu, bakalan lama diam nya."
"Berapa lama?" tanya Gadis.
"Ada kali setahun." jawab Ammar dengan kekehan.
Gadis ikut tertawa karena lucu. Tapi buru-buru melipat bibirnya dan beringsut mencubit lengan Ammar.
"Keponakan lagi nangis malah diketawain." dengkus nya. Gadis memaksa menggendong Geisha untuk dibawa keluar.
Ammar membola kan matanya. Memiringkan sudut bibirnya. "Padahal tadi dia juga ikut ketawa. Deuh dasarr!"
Ammar beralih menatap Pradipta yang masih duduk menyila dan berbalik menatapnya.
"Adek bobok ya. Sama Om dan Kakak. Biar besok pagi kita langsung ke Bunda." bujuk Ammar.
Ia menarik tangan Pradipta untuk tidur di sebelahnya. Ammar memposisikan dirinya, untuk berada ditengah-tengah mereka.
Bisma dan Pradipta tertidur sambil memeluk Ammar.
"Kasian nih jagoan." ucapnya. Kedua tangannya mengelus-elus lengan Bisma dan Dipta yang tertidur tepat di dadanya.
"Sabar ya, Nak."
****
Like dan Komennya yaah.
Gardapati & Gasendra