My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Kita Susul Ayah ya, Triple G.



"Mama ... Ingin Maura kembali ke London." suara Mama Alika begitu tegas dan lugas.


"Enggak, Mah. Papa mau, Maura di sini bersama kita." jawab Papa memelas. Lelaki itu masih saja bersikeras walau hatinya pun sakit, karena mengetahui anak dan menantunya terluka.


"Jangan terlalu mencintai seorang hamba melebihi rasa cinta kita kepada Allah, Pah. Sekalipun rasa cinta itu kepadaku, anak, dan orang tua. Cinta boleh, tapi tidak dengan cinta yang gila dan salah. Aku takut, Allah akan murka. Dan mencabut rasa cinta dari kami untukmu."


DEG.


Papa Bilmar kembali tersentak. Rasanya sangat luka tapi tidak berdarah. Lelaki itu tertunduk dan hanya bisa diam mendengarkan nasihat istrinya yang sejak kemarin selalu ia bantah.


"Mama tau Papa trauma. Mama pun sama, Pah. Tapi kita sebagai hamba hanya bisa berdoa dan percaya bahwa Allah akan mengabulkan doa kita untuk melindungi kedua anak-anak kita dimanapun mereka berada."


"Karena sejatinya Yang Maha Kuasa akan malu, ketika kita selalu menengadahkan kedua tangan ke atas untuk berdoa namun ia tidak mengabulkannya. Anak-anak kita pasti akan di jaga, Pah. Allah ada bersama orang-orang yang selalu meminta belas kasihnya."


Samar-samar kepala lelaki pari bayah itu bergerak dan memberikan anggukan kepala. Wajahnya masih saja lesu, namun apa yang diucapkan oleh istrinya, merupakan suatu kebenaran yang tidak bisa disanggah.


Mama Alika mendekap lelaki itu dan menenggelamkan di dadanya. "Kita kembalikan Maura kepada suaminya ya. Kita antar Maura pulang."


Papa Bilmar hanya diam dan mengangguk berat. Lega hati Mama Alika, ia tersenyum senang karena sang anak akan kembali berbahagia.


***


Lagi-lagi Maura terbangun dini hari, berkat pergerakan ketiga anaknya, membuat ia mengerjapkan kedua matanya secara mendadak. Bertepatan dengan itu, gawainya bergetar di atas nakas.


Maura meraba nakas untuk meraih kaca mata dan alat pendengarnya. Memasang dengan baik di mata dan telinganya. Ia menarik tubuhnya untuk duduk menyandar dipunggung ranjang.


"Kak Adrian?" gumam Maura ketika melihat panggilan tidak terjawab dari Adrian beberapa kali.


Ia membuka aplikasi whatsapp dan mengeceknya, siapa tahu Adrian mengirimnya pesan.


Dan betul saja.


[Gifali sudah dua hari terbaring di Rumah Sakit, Ra. Ia di rawat. Kena demam berdarah]


Tangan Maura bergetar, ketika sedang memegang gawainya, menatap layar terang pada benda itu. Semakin teriris ketika Adrian mengirimkan foto Gifali sedang tertidur dengan tangan terinfus.


Gifali sengaja merahasiakan keadaannya dari Maura. Karena ia tidak ingin istrinya resah dan sedih memikirkan dirinya. Tapi Adrian terpaksa melalukan hal itu, ia kasihan kepada Gifali yang terus merindu. Adrian ingin dengan keadaan Gifa yang seperti ini, Maura dengan baik mau kembali berbincang dengan istrinya.


"Ya Allah ..." lirih Maura. "Kasian sekali suamiku." ucap Maura sambil mengelus wajah Gifali di foto itu.


Dadanya kembali sesak. Rasa khawatir begitu saja memburu. Jiwanya tidak tenang, rindu begitu membuncah dan sudah tidak bisa di tahan. Ia kembali menangis di keheningan malam.


Apalagi penyakit itu, adalah salah satu penyakit yang bisa mematikan, dan Maura sedikit faham. Rasa takut akan terjadi sesuatu dengan suaminya, membuat Maura pendek akal.


"Aku harus ke London saat ini juga!"


***


Krek.


Pintu kamar orang tuanya Maura buka. Ia memandang sendu kedua orang tuanya yang sedang pulas tertidur di atas ranjang sambil berpeluk.


Maura meninggalkan koper kecil di ambang pintu, ia pun melangkah mendekat ke pembaringan Mama dan Papanya. Sangat pelan, agar pasangan suami istri itu tidak bangun dan menyadari kehadirannya di sini.


"Maafin Kakak ya, Pah, Mah." ucap Maura. Ia membungkuk di tepi ranjang menjulurkan tangan untuk mengusap wajah pasangan suami istri itu dengan isakkan tangis yang tertahan.


"Kakak harus pulang. Suamiku sakit, Pah, Mah." ucapnya amat pelan.


Ia mencium Papa dan Mamanya secara bergantian. "Kakak janji akan kabari Mama dan Papa jika sudah sampai di London." tukasnya lagi.


Setelah selesai berpamitan hanya dengan tatapan, Maura kembali melangkah dan masuk kedalam kamar sang Adik.


Terlihat anak lelaki itu masih bergulung di dalam selimut sambil memeluk guling.


"Ammar maafkan, Kakak." serunya. "Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu."


Ia mengelus rambut Ammar dengan tekanan halus. Air bening di kelopak matanya begitu saja mengembun. Hatinya begitu pedih karena begitu mudah menyakiti adiknya dengan perkataannya tadi pagi.


"Kakak pulang ya, Dek. Jaga Mama dan Papa."


Maura kembali menegapakan tubuh, menyeka air matanya dan memutar kembali langkah untuk cepat berlalu dari rumah ini.


Maura mentekad kan langkah, untuk menyusul suaminya ke London. Tidak perduli jika ia harus menerjang angin malam yang begitu dingin sambil membawa ketiga bayinya yang masih terbungkus dengan perut buncit yang saat ini sudah membesar, karena satu bulan setengah lagi wanita itu akan melahirkan.


Padahal tanpa ia tahu, rencananya besok pagi. Papa Bilmar dan Mama Alika akan kembali berbincang dengan Maura, dan membawanya kembali menuju London. Sepasang suami istri pari baya itu ternyata kalah cepat. Maura lebih dulu pergi menyusul suaminya.


"Aku datang suamiku, Tunggu aku."


Wanita hamil besar itu terus melangkah mengendap-endap dari pintu gerbang rumahnya. Beberapa satpam rumah keasikan berada didalam mimpi sampai putri mahkota Artanegara saja bisa pergi dengan santai.


Maura mematung lama didepan pintu gerbang, ia kembali menarik manik matanya untuk menatap rumah mewah orang tuanya.


"Maafin Kakak, Mah, Pah. Jangan kecewa dan marah padaku." lirihnya. Air mata itu ia seka, dan melanjutkan kembali langkahnya sesuai arah dan tujuan yang ia inginkan.


Dengan memakai gamis, kerudung rumahan dan jaket tebal. Wanita gembul itu terus mengerek kopernya, ia berjalan menyusuri ruwas jalan untuk menunggu taxi.


Hatinya tidak tenang. Ia begitu memikirkan suaminya. Doa-doa keselamatan terus ia ucapkan untuk Gifali yang masih terbaring lemah di sana. Tapi ia lupa dengan keselamatannya sekarang.


"Dingin sekali ya." gumamnya. Hawa dingin malam di pukul 02:00, memang tidak baik. Namun Maura tidak punya pilihan. Ia harus ke London sekarang juga.


"Kita jalan kaki dulu ya, Nak. Sampai ada taxi yang menjemput." ucap Maura sambil mengusap lembut perutnya. Walau ia harus berjuang dan berjalan jauh dengan kedua punggung kaki yang sudah bengkak.


Dengan napas yang mulai tertatah-tatah, ia kembali berucap kepada ketiga bayi nya yang tidak mau kembali tidur.


"Kita susul Ayah ya, triple G."


***


Like dan Komennya ya guyss.