My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Aku Pasti Bisa



"Hadnan ..." ada suara yang terdengar memanggil dari belakang tubuhnya. Gifa yang baru saja ingin melangkah masuk kedalam mushola sehabis berwudhu pun menghentikan langkahnya. Ada banyak kerutan di dahinya yang muncul.


"Hadnan?" ucapnya sendiri. Ia pun menoleh ingin memastikan siapa yang memanggil dan apakah ada orang lain yang namanya sama seperti nama ujungnya.


Deg.


Ada Pramudya yang berdiri didepan pintu masuk tempat wudhu pria. Gifa berpendar ke sekeliling, ingin mencari tahu apakah ada orang lain lagi selain dirinya yang sedang di ajak bicara.


"Hadnan ..." Pramudya mengulang memanggil Gifa.


Gifa pun menurunkan kakinya dari anak tangga, ia pun memutar tubuhnya untuk selangkah menghampiri lelaki paru bayah itu. Ia mengangguk sopan dan memberikan senyuman hangat.


"Saya Gifali, Pak." Gifa memperjelas namanya, agar lelaki itu faham.


"Oh saya berarti salah ya memanggil nama kamu?" jawabnya sedikit tertawa. Membuat Gifa ikut tersenyum.


"Enggak salah kok, Pak. Hadnan juga nama saya. Nama belakang saya, tepatnya nama keluarga saya." Gifa menjelaskan cukup detail, tentang nama panjangnya.


Deg.


Senyum lebar Pramudya seketika terhenti terbawa angin ke udara. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi serius dan tegang.


"Nama keluarga?" ulangnya.


Gifa pun faham dengan perubahan raut wajah Dekan nya yang mendadak tersebut. Gifa pun menjadi panik, takut-takut Pramudya hapal tentang keluarganya, dan ia takut jika Pramudya tahu bahwa dirinya sudah menikah dengan Maura. Di Indonesia, sudah sangat hafal siapa Galih Hadnan. Pengusaha tampan yang sangat sukses di kaca industri, walau ia masih berada satu langkah dibawah kesuksesan Bilmar Artanegara, Papanya Maura.


"Gif!" Ada suara Topan yang baru muncul dari dalam mushola. Ia keluar karena menyusul Gifa yang dirasa lama sekali untuk masuk. Lelaki itu pun kaget ketika melihat Gifa tengah berbicara dengan Dekan mereka.


Kebetulan ada Topan, Gifa tidak akan melewatkan momen tersebut untuk berlama-lama berhadapan dengan Pramudya. Ia pun pamit permisi untuk masuk kedalam mushola.


"Iya silahkan, Gifa." jawab Pramudya melepas Gifali untuk kembali melangkah menuju mushola.


Pramudya semakin dibuat resah dengan jawaban Gifali.


"Hadnan? Nama keluarga? Apakah ia adalah anaknya ..."


"Kok bengong?" Harun menghentak bahu Pramudya. Lelaki berjenggot itu baru datang untuk berwudhu dan menemukan temannya sedang melamun. Pramudya menoleh dan sedikit mengelus dadanya.


"Kamu bikin kaget saya, Run!"


"Lagi ngapain di sini? Ayo cepat wudhu!" ucap Harun sambil melewati Pramudya.


"Run, sebentar!"


Harun menoleh sambil menaikan lengan bajunya sampai ke siku, menarik kain celananya sampai ke pertengahan betis.


"Kenapa?" tanyanya.


"Setelah jam istirahat, coba kamu antar biodata salah satu mahasiswa kepada saya."


Harun mengerutkan keningnya. "Siapa yang ingin kamu ketahui?"


"Gifali."


"Apa?" refleks Harun meninggikan volume suaranya.


"Loh kamu kenapa, Run?"


Harun menggelengkan kepalanya. Ia merasa hatinya kembali tidak enak.


"Ada masalah apa dengan anak itu?" tanyanya memberanikan diri.


Pramudya merasa tertangkap basah dengan Harun. Lebih tepatnya mereka yang sama-sama tengah menyimpan rahasia tentang Gifali. Pramudya menggeleng cepat, merubah raut wajahnya untuk netral kembali.


"Saya hanya ingin mengenal lebih dekat tentang dia, kenapa Gifa bisa secerdas itu." jawab Pramudya, lalu melangkah untuk mengambil wudhu.


Harun hanya menghela napas kikuk, tiba-tiba ia seperti ragu dengan Pramudya.


"Baik, Pram. Nanti akan saya bawakan biodatanya kepada kamu."


Pramudya mengangguk dan tersenyum. Memang darah itu lebih kental dari air. Tidak ada yang bisa memisahkan batin seorang bapak terhadap anaknya, apalagi ada darah Pramudya disetiap onggok daging yang berada ditubuh pemuda itu. Pemuda yang tidak akan pernah ia bayangkan, mengapa baru sekarang hadir dan mulai mengusik hidupnya dengan suasana masa lalu yang masih mengganjal batinnya.


****


Selepas shalat, hatinya memang terasa tenang. Ia merebahkan dirinya ditepian kasur dengan dengan mukena yang masih menutup tubuhnya. Menatap lurus sudut atap kostan seraya kembali berfikir. Mencari-cari cara untuk menyelesaikan masalah ini dengan keikhlasan.


Lalu


Tring


Ide hangat hinggap begitu saja di kepalanya. Ia menatap lemari dan kemudian beranjak. Meraih kotak perhiasan yang ia simpan di pertengahan tumpukan baju. Membuka kotak dan terus menatap beberapa emas di sana.


"Apa aku jual saja ya?" Maura meraih sebuah cincin kawin hadiah mahar dari Gifali.


"Kalau Gifa tanya bagaimana?"


Lalu ia menepis dengan cepat keraguan yang ada.


"Masih ada alasan lain yang bisa ku berikan kepadanya!"


Maura memutuskan untuk meraih cincin itu dan menjualnya ke toko perhiasan. Ia tidak mau membuat suaminya kelaparan karena ulahnya. Melepas mukena dan tidak sempat untuk dilipat, akhirnya dengan cepat ia melesat pergi ke toko perhiasan yang ada disekitar Brick Lane.


Memilih-milih dari toko perhiasan yang saling berjejer dalam garis koridor yang sama. Dengan hati yang sedikit cemas, ia tetap melaju untuk melangkahkan kakinya ke salah satu toko yang ia putuskan untuk menjual cincin kawin itu.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya si pemilik toko. Dengan wajah malu-malu, Maura pun mendekat dan menjawab.


"Saya ingin menjual ini, Bu." Maura menyerahkan cincin permata pemberian suaminya.


Si penjual melihat-lihat keadaan cincin tersebut, dan ia pun mengangguk dan mulai menghitung. Beruntunglah ia, setidaknya emas itu masih bisa dijual di sini.


"Totalnya segini, bagaimana?" si penjual menyodorkan kalkulator yang sudah terdapat angka hasil perhitungannya.


"Baik, Bu." dengan terpaksa ia menyetujuinya, walau harga yang ditawarkan, ia jadi sedikit merugi. Tapi baginya tidak masalah, yang penting ia masih bisa memasak malam ini.


Setelah menunggu 10 menit, akhirnya Maura memegang uang kembali.


"Aku berjanji, akan menebus cincin itu kembali, maafkan aku ya sayang.." lirihnya disepanjang jalan.


Ia pun menyimpan uang itu dengan sebaik-baiknya. Tidak ingin kejadian pencurian barusan terulang kembali. Dengan wajah penuh syukur, Maura sudah kembali tenang. Ia pun memutar langkah menuju pasar, untuk membeli bahan makanan.


Dalam pernikahan, suami-istri memang harus sama-sama berjuang. Karena yang akan bahagia bukan hanya 'Kamu dan Aku', yang benar adalah 'Kita'. Kita yang harus sama-sama bahagia dalam menyelami berbagai masalah dan kembali bermuara untuk mempertahankan kebahagiaan. Bukan hanya salah satu saja yang berjuang.


"Hanya satu saja?" tanya si penjual ikan.


Maura mengangguk mantap.


"Biarlah aku makan telur saja, yang penting kamu tetap makan bergizi ya sayang ..." ucap Maura ketika ia masih fokus menatap si penjual tengah membersihkan sisik ikan ditempatnya.


lagi dan lagi wajah suaminya terbayang dibenak Maura. Wanita berhijab itu ingin kembali menangis, namun masih bisa ia tahan. Memilih mengiyakan keinginan suami untuk mandiri, tidak pernah ia bayangkan jika jalannya akan sesulit ini.


"Ini ..." si penjual menyodorkan bungkusan yang berisi satu ikan. Maura meraihnya dan menyodorkan uang yang harus ia bayar. Kembali berjalan menuju kostan.


"Aku pasti bisa untuk terus mendampingi kamu!" batinnya.


"Hey ..." teriak Maura ketika si peloper koran yang tidak sengaja menjatuhkan salah satu koran di hadapannya. Peloper koran itu sudah pergi dengan ayuhan sepedah nya dengan kencang.


Maura meraih koran itu dan melihat halaman pertama. Entah mengapa ia dibuat tertarik untuk membaca. Padahal posisinya ia masih berada di bahu jalan dengan bungkusan plastik belanjaan yang ia letakan dulu di atas aspal.


Seketika wajahnya mengulas senyum dengan penuh kegembiraan. Begitu senang ketika ia membaca salah satu berita di sana.


"Kalau jalan sekarang, sepertinya masih ada waktu." ucapnya sambil melihat ke arah jarum jam yang sedang berdetak di arloji mahalnya.


Tanpa fikir panjang, Maura pun melesat ke tempat yang ingin ia datangi. Ia merasa keberuntungan akan ia dapatkan setelah ini.


Semoga saja, teruslah bersabar, Maura❤️


****


Like dan Komennya ya guyss❤️