
Hari ini tepat dua bulan pernikahan Maura dan Gifali, dan sekitar satu bulan setengah mereka sudah hidup mandiri di London. Berjuang bersama untuk bisa berdiri diatas kaki sendiri.
Perkuliahan mereka pun lancar, bahkan Gifali sudah menjadi Asdos di kampusnya, terkadang ia sering menjadi asisten Dekan. Tentu ia akan mendapatkan uang lagi dari pekerjaan tambahannya itu. Tidak jarang mahasiswa yang memandangnya dengan sebelah mata, mahasiswa baru tapi sudah bisa mengambil hati Dekan.
Pramudya memilih Gifali untuk menjadi Asisten kedua setelah Harun. Karena Harun sedang ditugaskan untuk membuat suatu buku yang akan dipergunakan untuk keperluan para mahasiswa, tentu ia tidak mempunyai waktu dobel untuk terus menemani Pramudya.
Sejujurnya ini memang siasat Pramudya, ia hanya ingin dekat dengan Gifali setiap hari. Persahabatan Adrian dan Gifali juga terus berlanjut, namun sayang Agnes belum mengetahui hal ini.
"Kamu hati-hati ya sayang." ucap Maura lalu mencium tangan suaminya. Setiap hari Gifali akan mengantar Maura sampai ke pintu gerbang kampus.
"Doain aku ya, semoga nanti malam pengunjung cafe banyak lagi, biar dapat tips nya banyak." ucap Gifa sambil mengusap lembut pucuk hijab Maura.
"Aamiin sayang."
"Kamu pulang kampus langsung ke kostan ya, jangan sering main ke rumah Ramona."
Dengan garis senyum lebar, Maura menganggukan kepala. Padahal jantungnya kembali berdegup, rasa bersalah karena terus membohongi suami selalu saja muncul. Niatnya setelah gajian bulan ke empat, Maura akan meminta resign dari hotel, karena merasa uang Gifali yang sudah ia hilangkan, kembali dan terkumpul.
"Iya sayang, aku akan pulang tepat waktu." Maura pun melambaikan tangan sambil berlalu menuju pintu gerbang dengan perasaan yang gamang.
Kemarin malam Gifali sempat protes, karena sekitar jam tujuh malam ia pulang dulu ke kostan untuk membawakan Maura makan malam. Namun ia terhenyak, ketika tidak mendapati istrinya di kostan, maka dari itu Maura berdalih ia bilang kalau dirinya sedang berada di rumah Ramona untuk mengerjakan tugas.
"Hey ..."
Gifali seketika menoleh ketika ia mendengar ada sapaan lembut mengarah kepadanya.
Gifali pun tersenyum dan menjawab.
"Hey..." walau dengan senyum yang biasa saja, beda hal dengan wanita yang kini ada dihadapannya. Suaranya dilembut-lembutkan, sungguh penuh paksaan.
"Nganter Maura?" tanya Agnes, ia sengaja memberhentikan mobilnya dulu di depan gerbang dan turun untuk menghampiri Gifali yang akan melangkah pergi.
"Punya nomor hape?"
Gifali menggelengkan kepala. "Maaf saya enggak bawa hape, dan enggak hapal dengan nomornya." jawab Gifa tanpa basa-basi.
Terlihat wajah Agnes sedikit sedih. "Oh ya gak apa-apa, kamu kuliah di---"
"Maaf saya duluan ya, permisi." Gifali memotong pertanyaan Agnes, dan memilih untuk berlalu.
Ia sangat tahu jika wanita itu ingin berkenalan dan ingin dekat, namun untuk menghormati istrinya, Gifali sebisa mungkin untuk menghindari ketika ada wanita tanpa suatu alasan jelas ingin meminta nomor teleponnya.
"Sombong banget sih! Lihat aja, lo pasti akan bertekuk lutut sama gue." sungut Agnes.
Lalu ia kembali terdiam, seraya berfikir mencari ide -ide yang bisa membuat ia dekat dengan Gifa. Karena jujur Agnes tidak bisa melupakan bayangan Gifali, tatapan Gifali sangat meneduhkan hatinya. Mungkin ini yang dikatakan cinta pada pandangan pertama.
"Kayaknya gue harus minta nomornya lewat Maura nih." ucapnya, lalu kembali masuk kedalam mobil dan berlalu dari sana.
Sebenarnya akhir-akhir ini Agnes ingin terus mendekati Maura, tapi Ramona selalu menjauhi Maura dari Agnes, mereka pun tidak ada kesempatan untuk bertemu dan berbincang hangat.
*****
"Besok main kerumah gue, Gif. Mama gue mau kenalan sama lo." ucap Adrian ketika kedua matanya masih saja fokus menatap laptop.
Gifali yang masih berdiri, tengah memasukan kembali buku-buku yang sudah ia baca ke dalam rak perpustakaan, pun menoleh.
"Ada acara apa memang, Kak?"
"Enggak ada acara apa-apa sih, hanya aja Mama mau kenalan sama lo." Adrian pun bingung, mengapa sang Mama mau begitu saja mengenal Gifali.
Setiap malam, Pramudya akan menceritakan tentang Gifali. Sosok yang selalu membuat ia mengenang masa lalu. Walau Pramudya tahu Gifa adalah anak dari orang lain, tetap saja batinnya selalu kuat, jika merasa Gifali adalah anaknya Gita. Satu minggu lagi, Pramudya dan Tamara akan memutuskan untuk pergi ke Indonesia. Mereka ingin mencari Gita dan menanyakan kembali apakah benar anak mereka memang betul sudah di aborsi.
"Oke bisa Kak, sepulang dari kampus ya." jawab Gifali, ia tidak enak jika menolak. Lagi pula jam berkunjung ke rumah Adrian tidak akan mengganggu jam kerjanya di Kafe. Sampai detik ini pun Adrian tidak tahu kalau temannya ini mempunyai pekerjaan sampingan, hanya Harun yang mengetahuinya.
Adrian mengangguk dan kembali menatap layar laptopnya.
"Gifa, kamu dipanggil Pak Pramudya ke ruangannya." Gifali menoleh ke arah Brian yang baru saja meletakan gagang telepon di meja petugas perpustakaan.
"Ya udah sana." titah Adrian. Gifa mengangguk dan berlalu dari sana.
"Ada yang aneh sama Papa, kok bisa ya, Papa lebih mempercayakan tugas-tugas kampus ke Gifa dibandingkan ke gue?" tanyanya dengan pandangan yang menerawang jauh.
"Ya memang sih, Gifa tuh cerdas banget." sambungnya lagi, dan Adrian tidak cemburu akan hal itu. Dirinya sadar, Gifa memang satu tingkat cerdas diatasnya, dan tidak etis juga kalau Pramudya menanggung kan beban itu kepada Adrian, karena para dosen dan mahasiswa akan merasa bahwa Pramudya kkn.
"Assalammualaikum, Pak." Gifali memberi salam ketika langkahnya sudah sampai diambang pintu.
"Waalaikumsallam Gifa, ayo duduk." Pramudya mempersilahkan Gifa untuk duduk di hadapannya.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?"
"Saya ingin meminta bantuan kamu dan juga Adrian. Tapi kamu yang menjadi ketua tim nya."
Gifali masih fokus menatap Pramudya, keningnya sedikit berkerut.
"Selain menjadi Dekan, saya juga punya bisnis sampingan. Ada perusahaan yang memang tidak terlalu besar, tapi cukup berkembang. Saya ingin, kamu dan Adrian bisa membantu saya di sana selepas kampus. Saya memang sedang mencurigai salah satu karyawan saya di sana, apa kamu bersedia? Tentu saya akan memberikan gaji perbulan."
Sejenak Gifali terdiam, ia bingung. Di satu sisi ia sudah tidak punya waktu kosong lagi untuk pekerjaan yang sedang ditawarkan oleh Pramudya, di satu sisi lagi ia tidak mungkin melepas pekerjaan sampingannya di kafe, mata pencahariannya untuk menafkahkan istrinya.
"Tapi saya belum mempunyai pengalaman di bidang mengurus perusahaan, Pak. Saya takut Bapak kecewa nantinya." jawab Gifali sopan.
"Tapi semua nilai teori dan praktek kamu dalam ilmu bisnis bagus, kok. Saya yakin kamu bisa, sekalian kamu belajar, dan bisa juga mengajari Adrian di sana."
Sungguh terbalik, seharusnya Adrian yang mengajarkan ilmu bisnis kepada Gifali, karena lelaki itu sudah berada di semester ke empat.
Gifali kembali terdiam, ia merenung sebentar. Menimang-nimang penawaran yang diberikan lelaki paru baya itu.
"Saya akan berikan kamu gaji sebesar sepuluh juta perbulan."
Kedua bola mata Gifali membeliak sempurna. Ia tidak akan menyangka bisa mendapatkan gaji sebesar itu, tiga kali lipatnya dibandingkan di Kafe.
"Terimalah Gifa, dari pada kamu harus bekerja di kafe. Saya terenyuh melihat kamu seperti itu." pinta Pramudya, namun hanya dalam hatinya.
Tiga hari yang lalu tidak sengaja mobilnya berhenti didepan sebuah kafe, tempat dimana Gifali bekerja, tanpa sengaja ia melihat Gifa tengah bernyanyi dan bermain gitar, banyak dari para tamu yang memberikannya uang tips. Pramudya merasa kasihan dengan Gifali.
"Jika memang, kamu anak mereka. Mengapa pula kamu harus hidup susah seperti ini? Entah mengapa saya tidak yakin kalau kamu bukanlah anak dari mereka, wajah mu dengan mereka tidak ada kemiripan sama sekali. Justru wajahmu sangat mirip dengan Gita dan juga saya." batin Pramudya terus saja menggema.
Ia sudah tidak sabar untuk mencari keberadaan Gita. Ia masih tidak percaya jika Gifali adalah anak dari pasangan Mama Nadifa dan Papa Galih. Di Indonesia Papa Galih cukup dikenal sebagai pengusaha industri terbaik dan hartanya pun melimpah.
Lalu Gifali membuka suara dan membangunkan Pramudya dari lamunan.
"Saya akan fikirkan dulu, Pak. Ingin berbicara dulu dengan---"
Seketika mulutnya terkatup sebelum lebih jauh kalau dirinya ingin berbicara dulu dengan istrinya.
"Dengan adikmu itu?" tanya Pramudya.
Samar-samar Gifali menganggukan kepalanya. "Iya, Pak."
"Kenapa harus tanya ke adik? Bukan kepada orang tua?"
"Pasti saya akan bilang ke orang tua saya, Pak." jawab Gifa dengan sigap.
"Oh iya, istri saya ingin mengajak kamu main kerumah besok. Bawalah adikmu sekalian, biar saya juga bisa berkenalan."
Pramudya penasaran dengan wajah adik Gifali, apakah wajahnya memang betul mirip dengan Nadifa dan Galih?
Dengan senyuman penuh ragu dan sedikit kaku, Gifali mengangguk.
"Mungkin nanti akan saya usahakan, Pak."
Jantung Gifa kembali memburu, ia bisa saja membawa Maura untuk dibawa pergi kerumah mereka. Tapi ia takut, jika mereka semua curiga kalau Maura bukanlah adik kandungnya, wajah saja tidak ada mirip-mirip nya. Sudah dipastikan rahasia Gifali akan terbongkar.
"Maaf, Pak. Tapi saya tidak bisa membawa Maura untuk bertemu anda dan keluarga." bisik Gifali dalam hatinya.