
Papa Bilmar pun bangkit untuk merangkul anaknya, membuat genggaman tangan Maura dan Gifa terputus begitu saja.
"Ammar pindah dulu sana." titah Papa Bilmar kepada anak lelakinya yang sedari tadi dudk bersebelahan dengan sang Papa.
"Iya, Pah." Ammar pun bangkit dan mencari kursi kosong, dan beruntungnya ia mendapatkan kursi disebelah Ganaya.
Maura menatap Gifa sebentar karena sikap Papanya yang seperti ini. Gifa hanya mengangguk dan membiarkan istrinya dibawa pergi untuk duduk disebelahnya.
"Kak ...." Papa Galih melambaikan tangan kepada Gifali. "Gem, pindah dulu sana." sama hal dengan Papa Bilmar, Papa Galih menyuruh Gemma untuk pindah duduk seperti Ammar.
"Iya, Pah." Gemma pun mencari kursi disamping Ammar.
Gifa duduk bersebalahan dengan sang Papa dan menatap lurus Maura yang masih dirangkul lekat oleh Papanya.
"Kok wajah kamu pucat, Nak?" pertanyaan Papa Bilmar tentu membuat Maura dan Gifa, terutama. Menjadi tidak enak hati.
"Papa, kayak nggak pernah nikah aja!" bisik Mama Alika. Ia merasa malu dengan sikap posesif suaminya.
"Tapi benar, Mah. Lihat nih wajah Kakak, lesu banget."
"Enggak kok, Pah. Kakak biasa aja, nggak lesu sama sekali." Maura berdalih.
Gifa tetap menatap wajah istrinya. Ia merasa sedikit menyesal karena sudah memporsir tenaga istrinya semalam, belum lagi setelah mereka selesai mandi tadi pagi, Gifa kembali meminta haknya kepada Maura sebanyak dua kali permainan.
Papa Galih tidak bisa menahan rona bahagianya. Ia tertawa pelan dan berbisik ditelinga putranya.
"Memang berapa kali semalam, Kak? Sampai pucat gitu istri kamu."
"Papah!!" Mama Difa ikut berbisik dan mencubit paha suaminya.
Gifali hanya menghela nafasnya, ia merasa gugup dan malu.
"Sakit, Mah ..." Papa Galih mengusap-usap pahanya yang terasa panas.
"Kamu tuh kalau ngomong yang bener, Pah. Masa anak ditanya hal kayak gitu!" Mama Difa mendelikan matanya.
"Bercanda, Mah." jawab Papa Galih santai. Ia kembali menoleh untuk menatap Gifali.
"Tapi enak kan, Kak?" benar-benar lelaki paru baya itu tidak jera dengan cubitan istrinya. Ia kembali menggoda putranya.
Gifa pun mengangguk dan mengiyakan ucapan Papanya, sontak anggukan kepala itu membuat Papa Galih kembali tertawa.
Papa Bilmar menoleh ke arah besan dan menantunya. "Pelan-pelan, Gifa. Jangan terlalu di porsir. Kasian kan, Maura."
"Papa!" seru Maura dan Mama Alika.
Papa Galih terus saja tertawa sampai semua orang yang ada dimeja menatapnya dengan hening. Papa Galih pun terkesiap dan menghentikan gelak tawanya.
"Papa, bikin malu aja!" decak Mama Difa.
"Wajar namanya juga pengantin baru. Lagi pula Maura sudah menjadi hak suaminya. Gifali lebih berhak dibandingkan kamu, Nak." Kakek Luky membuka suaranya.
"Iya betul itu, Bil." Kakek Bayu menyahut. Lalu ia menoleh ke arah Gifali.
"Gifa, tolerir saja sikap Papa mertuamu ya. Anak saya ini memang terlalu mencintai putrinya. Ia masih menganggap Maura seperti anak kecil, jadi ya begitulah sikapnya. Masih belum menerima, jangan dimasukkan ke hati ya." ucap Kakek Bayu meminta kerendahan hati Gifali untuk mentolerir.
"Gifa faham, Kek." Gifali memberikan senyum manis kepada Kakek Bayu dan Kakek Luky.
"Pah----" sergah Papa Bilmar kepada Papanya.
"Sayang." Mama Alika mengelus bahu suaminya, kode untuk menghentikan percakapan tentang hal ini.
"Papa, jangan khawatir ya. Kakak nggak apa-apa." Maura mengecup pipi sang Papa, membuat hati Papa Bilmar kembali segar.
"Dis..." seru Elang, membuat Gadis menoleh ketika ia sibuk melihat percakapan yang terjadi di meja makan. Elang pun bangkit meminta tukar duduk dengan Gelfani yang berada tepat disebelah Gadis.
Gelfa mengangguk dan pindah disamping Ammar. Namun Fadhil berdehem, membuat Gelfani tidak jadi duduk disebelah Ammar.
"Jangan dilihat, Dis. Ayo makan!" Elang mengambil alih sendok dari tangan Gadis untuk mengambil beberapa butiran nasi dari piring kekasihnya.
"Lang ...."
"Udah nggak apa-apa, ayo buka mulut kamu!" Elang tetap menyuapi Gadis. Gifali yang tidak sengaja menoleh dan melihat pemandangan itu.
"Alhamdulillah, akhirnya Gadis bisa menerima Elang." batin nya bersuara.
Om Lukman dan Mama Binar saling melemparkan pandangan, mereka begitu senang melihat keakraban buah hati mereka masing-masing.
****
"Gan ..." Ammar mengejar Ganaya yang sedang berjalan di bibir pantai. Menikmati udara bebas di sana.
"Kak Gana, panggil aku dengan sebutan Kakak, Ammar!" Ganaya terus berjalan cepat meninggalkan Ammar dibelakangnya.
Ammar melangkah cepat untuk mensejajarkan langkahnya.
Ganaya mendelikan matanya, menatap tajam ke arah Ammar. "Aku mau nya kamu jadi Presdir dengan usaha kamu!"
"Susah dong, Gan." desah Ammar.
Ganaya menghentikan langkahnya. "Susah, kan? Makanya jangan belaga mau jadi Presdir!" Ganaya berdecak lalu meninggalkan Ammar dari posisinya.
Ammar menggelengkan kepalanya, ia merasa kewalahan untuk mendekati Ganaya. Tetap saja wanita manis itu menutup diri dan menjauh dari Ammar. Baginya, Ammar itu seperti Gemma. Adik lelakinya, tentu ia akan merasa memacari adik sendiri.
"Ganaya, tunggu!" Ammar tetap mengejar wanita itu.
Dari arah lain
Terlihat Elang sedang membidik gambar dengan kameranya untuk memotret Gadis. Gadis mengatur pose genic nya sesuai arahan dari Elang. Mereka terlihat tertawa lepas di pelataran bibir pantai.
"Akhirnya mereka bahagia juga ya, Gifa." ucap Maura yang masih berada dalam dekapan suaminya.
"Iya, Ra. Aku bersyukur Gadis mau memaafkan kesalahanku dulu, begitu pun dengan kamu." Gifali membawa Maura untuk kembali melangkah mendekat ke arah pantai.
"Yang lalu biar berlalu, sekarang kan kita udah sama-sama!"
Gifali tersenyum dan mengangguk. Tangannya mengalung erat di pinggang istrinya. Maura merebahkan kepalanya di bahu Gifali.
"12 tahun lalu kita hampir mati ya digulung ombak di pantai ini..." ucap Maura mengingatkan suaminya akan masa lampau.
Gifali kembali mengangguk. "Tapi 12 tahun kemudian, kita kesini lagi untuk menikah. Pantai ini kembali menjadi saksi janji suci kita, Gifa."
"Iya, Ra. Ternyata penantian kita nggak sia-sia." jawab Gifa lalu melepas kecupan hangat di puncak hijab istrinya.
"Hemm..wangi banget rambut kamu. Walau sudah ketutup hijab, wanginya tembus sayang.." Gifali terus mengendus aroma sampo yang masih menempel di hijab istrinya. Gifali terus mengendus-endus dan telapak tangannya mulai mengusap-usap punggung Maura.
"Kamu masih capek ya, Ra?"
"Hm ....?" Maura mendongakkan wajahnya. "Capek kenapa?"
Gifali tersenyum malu. "Capek karena semalam----"
Bukan hanya Gifali yang malu, tetapi Maura pun sama. Wajah wanita itu memerah seperti tomat.
"Enggak, sayang." jawab Maura pelan.
Gifali menoleh ke kiri dan ke kanan. Seolah mencari-cari bahwa tidak ada siapa-siapa yang sedang mendengarkan ucapannya.
"Beneran, Ra?" tanya Gifali meyakinkan istrinya.
Maura mengangguk. "Kalau aku minta lagi, apa boleh, Ra?"
"Hh...?" Dua bola mata Maura melebar sempurna. Mulut yang sedari tadi sudah terkatup, kini menganga.
Gifali memasukan sedikit helaian rambut yang keluar dari sisi dahi Maura. Merapihkan hijab istrinya yang mulai bergeser karena hembusan angin sejuk dari pantai.
"Hehehehe, enggak kok, canda." Gifali tersenyum malu. Ia takut Maura akan merajuk. Namun ia kembali salah dalam menebak.
"Boleh sayang, aku selalu siap!" Maura memberikan wajah gembira dan sangat antusias. Membuat wajah Gifali berbinar kesenangan. Maura mengalungkan kedua tangan dileher suaminya dan menatap penuh cinta.
"Tapi wajah kamu pucat, Ra." Gifa mengelus lembut pipi Maura.
Wanita itu menggeleng dan mulai menggandeng tangan suaminya untuk melangkah menuju paviliun.
"Aku pucat karena enggak pakai bedak aja sayang. Padahal tubuhku sehat!"
"Beneran, Ra?" tanya Gifa sekali lagi.
"Iya, benar." Maura tetap meyakinkan Gifali. Walau saat ini ia berdalih, tentu saja tubuhnya masih pegal-pegal dan masih terasa panas serta perih dibagian intinya.
"Yes, asik!" seru Gifa. Ia melepaskan gandengan tangan itu. Sontak membuat Maura terhenti dari langkahnya. Sebelum ia bertanya mengapa, dengan cepat Gifali menggendong dirinya ala bride style. Membuat Maura terkaget-kaget lalu tersenyum.
"Gifa, malu nanti ada orang." sergah Maura sambil menutup wajahnya.
"Aku enggak perduli. Yang aku perdulikan hanya kamu sekarang."
Lalu mereka pun tertawa bersamaan sebelum akhirnya sampai di paviliun. Seindah itu memang pasangan halal. Menikmati bulan madu tanpa larangan dan tanpa dosa. Malah membuat mereka mendapat banyak pahala. Maura sebisa mungkin akan melayani suaminya semampu dirinya, karena kebahagiaan Gifali adalah kebahagiaanya juga.
Nikmatilah terus masa-masa bulan madu kalian, sebelum kalian memutuskan untuk berhenti mengulanginya lagi.
****
Yang jomblo, semoga cepat mendapatkan jodoh dan menikah ya, nikah itu indah❤️
Hehehehehe🤭🤭
Bagi jempol nya ya buat Like dan komennya❤️