My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Ibadah Terpanjang.



Setelah menjemput para orang tua mereka di Bandara, kini Maura dan Gifa memboyong mereka menuju kostan yang selama ini mereka tinggali.


Papa Bilmar fikir selama di London Maura akan tinggal disebuah rumah atau kost-kostan yang sedikit besar. Nyatanya tidak, terlihat aura kekecewaan terpancar dari wajahnya. Papa Galih pun terlihat malu kepada besannya. Ia merasa anak mereka gagal untuk membahagiakan Maura.


Maklum, dua lelaki itu mempunyai perangai dan sifat yang sama. Gengsi yang tinggi, emosian, posesif, cemburuan tetapi penyayang. Papa Galih pun ingin sang putra dilihat sempurna di mata kedua mertuanya, dan ia menyesal kenapa Gifa selalu keras kepala untuk menolak bantuan darinya.


Beda hal dengan dua Mama. Walau dalam relung hati yang paling dalam, mereka juga merana. Namun sebisa mungkin raut wajah sedih tidak mereka keluarkan. Karena mereka harus bisa menghormati apapun pilihan Gifali dan Maura.


Mereka masih berkumpul didepan pintu kostan, menunggu Gifali selesai memutar kunci dan membukakan pintu untu mereka semua.


Krek.


Pintu kostan terbuka.


"Ayo Mah, Pah. Masuk kedalam." ucap Maura mempersilahkan mereka semua. Para orang tua itu pun masuk ke dalam. Gifali mendorong masuk koper-koper yang mereka bawa.


Mereka di persilakan untuk duduk diatas karpet plastik yang membentang di atas lantai, mungkin bisa dibilang ini adalah ruangan tv yang kenyatannya tidak ada televisi di sini. ruang depan yang mempunyai luas hanya sekitar 2×2 meter. Jika dibandingkan, kamar mandi mereka dirumah lebih luas dari pada ruangan ini.


"Maura buat kan minum dulu ya." ucap wanita itu, kemudian berlalu masuk kedalam dapur. Gifali sudah merapihkan koper mereka yang dijejerkan memanjang dan menempel di dinding. Ia pun ikut bergabung duduk bersama para orang tua.


"Apa tidak ada tempat tinggal yang lebih luas lagi dari pada ini?" akhirnya Papa Bilmar membuka suara.


Maura yang sedang sibuk menuangkan gula di gelas, lalu hening sesaat. Ia mendengar jelas ucapan sang Papa kepada suaminya didepan sana.


"Pah ..." Mama Alika menghentak bahu suaminya memberikan gelengan kepala untuk tidak mengeluarkan ucapan seperti itu.


"Ya nggak apa-apa dong, kalau kamu memang belum mampu menghidupi istrimu, Papa kan bisa bantu kalian, Gifa." ucap Papa Bilmar menatap Gifali. Melihat anak di intimidasi membuat Papa Galih geram.


"Biar nanti Papa yang belikan apartemen disekitar sini untuk kamu dan Maura, Kak." sahut Papa Galih.


"Papah!" Mama Difa pun melakukan hal yang sama seperti Mama Alika.


"Papa kasian sama Kakak, Mah." ucap Papa Bilmar kepada istrinya.


"Kakak baik-baik aja, Pah. Kakak senang di sini." ucap Maura yang langkahnya baru sampai dihadapan mereka kembali.


Meletakan nampan yang berisi enam gelas minuman teh hangat dan setoples kue. Ia pun duduk disamping suaminya. Mengusap punggung Gifali pelan dan tidak ada yang melihat itu. Ia ingin menenangkan hati suaminya yang sekarang sedang tersudut.


Gifali hanya terdiam, ia sudah yakin pasti masalah seperti ini yang akan dikeluhkan oleh kedua Papa mereka.


"Baik dari mana? Kostan ini terlalu sempit. Duduk aja rasanya sesak di sini!" jawab Papa Bilmar kepada Maura lalu ia menatap wajah menantunya yang hanya diam mendengarkan. "Jangan keras kepala Gifa! Istrimu sedang mengandung. Ada cucu saya didalam perutnya. Mereka butuh kehidupan yang layak."


"Pah, tenang dulu, sabar! Jangan pakai emosi!" Mama Alika menenangkan suaminya agar ucapannya tidak menyakiti hati anak dan menantunya.


"Apa yang dikatakan mertuamu benar, Nak. Maura sedang mengandung, kasian kalau harus tinggal ditempat kecil seperti ini." sambung Papa Galih.


Walau ia tidak suka dengan bahasa dan nada Papa Bilmar, tetapi jauh dari hal itu ia sangat setuju. Ia sangat iba melihat kehidupan Gifali yang sangat memperihatinkan, tentu akan terasa seperti itu jika dipandang dengan kaca mata sang Milioner. Namun jika dipandang dengan kaca mata rakyat jelata, kehidupan Maura dan Gifali masih dianggap baik dan aman.


"Tapi, Pah---"


Gifali memegang tangan Maura untuk tidak mengeluarkan suara. Maura menoleh dan menatap suaminya. Ingin membela lelaki itu sampai titik darah penghabisan.


Ya, biarkan saja lelaki itu yang menyelesaikan, ini memang maunya untuk hidup mandiri. Ia kembali teringat dengan tujuannya untuk menikahi Maura, ia hanya ingin hidup mandiri tanpa kekayaan dari orang tua.


Mengingat Gifali selalu terbayang-bayang kenyataan kalau ia bukanlah anak kandung dari Mama Difa dan Papa Galih. Tidak bisa menuntut macam-macam dari kekayaan yang mereka punya, dan itu adalah syarat yang sudah Maura sepakati dengannya.


"Maaf, Mah, Pah jika ucapan Gifa ini akan membuat kalian kecewa." Gifa membuka suaranya, menatap hormat kepada orang tua dan mertuanya.


"Hidup mandiri selama di London dengan hasil keringat sendiri, sudah Maura setujui ketika kita belum menikah. Jadi mau tidak mau, Maura harus senang dan mengikuti apa kemauan suaminya."


"Walaupun kami baru bisa menyewa kostan seperti ini, tapi kami senang karena ini semua kami dapat dari jerih payah sendiri. Gifali akan selalu berjuang untuk membahagiakan Maura, walau jalan awalnya harus seperti ini dulu."


Semua rentetan alasan, Gifali keluarkan dengan bijak dan lembut kepada mereka semua. Lalu ia kembali menoleh untuk menatap Maura.


"Apakah kamu bahagia menikah denganku?"


Maura mengangguk lalu menatap orang tua mereka. "Demi Allah, Maura bahagia menikah dan tinggal bersama Gifali. Gifa selalu memberikan apapun yang Maura mau di sini. Gifa mengurus Maura dengan baik, Pah, Mah." netra pekat miliknya berpendar menatap satu persatu wajah orang tua dan mertuanya.


Papa Bilmar hanya bisa menggelengkan kepala dan mengusap wajahnya kasar. Begitupun Papa Galih hanya bisa menghela napas dan memijat pangkal dahinya.


"Mau tinggal dimanapun, kalau kalian saling mengasihi dan mencintai. Tempat tinggal itu akan terasa seperti istana." ucap Mama Alika.


"Jalani rumah tangga ini karena Allah. Karena pernikahan adalah Ibadah terpanjang." timpal Mama Difa.


Gifali merangkul istrinya dan mereka akhirnya saling memeluk. Papa Bilmar dan Papa Galih sangat tersindir dengan ucapan para istri mereka. Kedua lelaki paru bayah itu akhirnya mau menurunkan sedikit egonya untuk memilih diam tanpa berucap kata kembali.


"Lagi pula Gifali sudah dapat pekerjaan yang cukup bagus sekarang. Menjadi kepala keuangan di perusahaan garmen." ucap Maura. Ia terpaksa mengatakan ini kepada mereka, karena tidak ingin suaminya direndahkan lagi.


"Oh jadi sudah enggak nyanyi di kafe lagi ya, ups!" ucap kedua Mama berbarengan. Mereka keceplosan. Para suami pun menoleh menatap istrinya masing-masing.


"Jadi itu pekerjaan suaminya Maura selama ini, Mah? Kenapa Mama tutup-tutupi dari Papa?" tanya Papa Bilmar. Lelaki itu kembali tertohok. Sepertinya ia kembali tersentak untuk kedua kalinya.


Begitu pun dengan Papa Galih. Ia menatap istrinya karena sudah dibohongi mentah-mentah.


"Yang penting halal, Pah." ucap Mama Difa, sebelum lelaki itu semakin menyuduti nya.


"Tapi kan kasian anakku." lirih Papa Galih.


Air matanya terlihat menggenang kembali, tak kuasa menahan sedih menatap kepedihan yang selama ini Gifali rasakan selama di London.


"Udah sabar, Gifa nya juga senang. Jadi kita harus dukung, lagi pula sekarang sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik." ucap Mama Difa


"...Itu berkat buah kesabaran. Bagi siapapun yang bekerja keras dan tetap sabar, serta mau berusaha untuk mengubah derajat hidupnya. Allah pasti akan memberikan hasil terbaik. Selamat ya, Nak." imbuh Mama Alika.


Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka merubah diri mereka sendiri ( QS. Ar- Ra'd : 11).


****


Semangat Abang Gifa❣️