
Denyutan nyeri terasa pekat di dadanya. Hatinya masih tidak ikhlas karena melepas kepergian menantunya begitu saja. Terlebih ia sudah gagal, karena tidak bisa memegang teguh janjinya kepada sang putra untuk menolong istrinya.
Terlihat Pramudya sedang mengaji dalam isakkan tangis. Tetesan air mata terjerembab jatuh membasahi lembaran kitab ayat-ayat Al-Quran yang sedang ia tatap, dengan tangan yang lekat menggenggam tangan Gifali. Seraya ingin mengalirkan energi kesembuhan dan kekuatan dari segala doa-doanya saat ini.
Sudah enam jam Gifali terbaring diranjang, dan selama itu pula Maura sudah pergi meninggalkannya. Sesekali Pramudya melirik arloji ditangannya. Selalu menghitung berapa ribu menit dan detik lagi yang harus ditempuh untuk menunggu putranya sadar.
Pramudya tetap saja meratap gelisah, tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan Dokter dengan terkaan kalau sang putra akan sadar dalam waktu delapan jam.
Dan di detik ke lima belas, setelah jarum panjang tepat di angka enam waktu London, bersamaan Adzan Magrib berkumandang, Gifali mengerakkan jari-jarinya lemah didalam kepalan tangan Pramudya.
"Alhamdulillah, Ya Allah ..." seru Pramudya. Ia meletakan dulu Kitab Al-Quran di sisi ranjang yang kosong. Lalu beranjak bangkit untuk mendekat ke wajah anaknya.
Terlihat kelopak mata Gifali mengerjap lemah.
"Nak, ini Ayah." bisik Pramudya. Bola mata Gifali dengan malu-malu terbuka perlahan, lalu membeliak sempurna. Menatap lurus atap kamar kemudian beralih ke arah Pramudya.
"A---" suara Gifa yang tidak begitu jelas terdengar karena mulutnya masih ada didalam sungkup oksigen.
"Iya, Nak. Ini Ayah." Pramudya mencoba mengerti isyarat itu.
"Mm--aa ..." Ia masih sulit untuk menyebut nama istrinya secara lengkap.
"Jangan khawatir, istrimu baik-baik saja." jawaban itu ampuh membuat Gifali mengangguk dalam ulasan senyuman yang tipis.
Bagai permukaan kulit yang di sayat lalu diberi perasan air cuka. "Mengapa sesakit ini membohongi anak sendiri, Ya Allah." desah Pramudya. Ia meringkuk dan menunduk sedikit untuk menelan kebohongan dari matanya agar tidak tertangkap dari sorot mata putranya.
Derap sepatu Adrian, Ramona dan Tamara melangkah bersama, mendekat ke tempat pembaringan Gifali. Semua tersenyum dalam senyuman luka. Senang karena lelaki itu sudah sadar, dan sedih karena Maura sudah pergi meninggalkannya.
"Ayo sembuh, lo kuat, Gif." seru Adrian, ia berdiri di sebelah kiri Gifali. Gifa hanya mengangguk lemah dengan senyumannya yang belum surut sama sekali.
"Sembuh ya, Nak." ucap Tamara sambil seraya mengusap selimut dibagian kaki Gifali.
"Maura baik-baik aja." seru Ramona pelan.
Bibir dan lidahnya terasa sakit sekali mengucapkan kalimat bohong tersebut. Karena sesuai Perintah Pramudya, semua yang ada di sini harus bisa menutup dulu tentang keadaan Maura, sampai keadaan Gifali membaik.
Gifa mengangguk senang. Ia kembali tersenyum sambil menatap semua wajah secara bergantian. Tiba-tiba kedua bola mata Gifali mendelik tajam ke atas, hanya ada warna putih dalam bola matanya.
Seketika tubuhnya menggelepar, kedua tangannya mengepal kuat. Sepertinya syok akibat perdarahan muncul, trauma pasca operasi kembali meradang.
"Tolong panggil Dokter!" teriak Pramudya. Tamara dan Ramona berlari keluar, Pramudya dan Adrian sekuat tenaga memegang tubuh Gifali yang sedang berontak.
"Ya Allah, kenapa lagi ini?" desah Pramudya cemas. Jantungnya kembali bergemuruh, dadanya kembali terasa sesak dan panas.
"Sadar, Gifa. Sadar." seru Adrian. Ia memegangi bagian perut dan paha. Sedangkan Pramudya masih membungkuk merentangkan kedua tangan untuk memegangi kedua lengan sang anak.
*****
Rembulan masih terjaga di peraduan. Membekap malam yang begitu pekat di bumi. Hembusan angin dingin begitu saja menerpa setiap permukaan kulit yang tengah berjaga di sini. Tepat dini hari, pukul 02:00 Wib, Maura tiba di Rumah Sakit yang sudah disiapkan oleh Tante Binara.
Semua keluarga sudah berkumpul di kamar perawatan Maura yang baru. Air mata keluarga berduyun-duyun mengalir dari pelupuk mata mereka.
Mama Alika masih memeluk perut Maura dengan membaringkan kepalanya di bibir ranjang. Wanita paru bayah itu menangis sesegukan. Mengerang dalam emosi yang tidak bisa ia keluarkan. Ammar pun menangis ikut memeluk sang Mama dari belakang.
"Sabar, Mah." lirihnya, ia pun sakit melihat sang Kakak yang dalam beberapa bulan ini belum ia temui dengan mata telanjang.
"Jika saja aku paksakan untuk merebut Gifali, mungkin saat ini aku yang sedang terbaring di sana." gumam Gadis.
"Kenapa kamu selalu memberi luka di hati Kakakku, Gifa! Kenapa selalu ada wanita yang ingin mengincarmu!" Gadis membatin.
Suasana kamar semakin sesak, dengan iringan air mata yang mengalun deras.
Papa Bilmar langsung beranjak dari sofa ketika melihat kedatangan kedua Papanya dari luar pintu. Ia memeluk Kakek Bayu. "Anakku, Pah." lelaki itu membuncah kembali dalam tangis.
"Sabar, Nak. Sabar ... Istighfar." ucap Kakek Bayu, ia terus mengusap lembut punggung anaknya.
"Nak ..." Kakek Luky melangkah mendekat ke arah Mama Alika. Wanita itu pun mendongak lalu memeluk sang Papa. "Pah, Maura ..."
"Iya, Nak. Sabar. Maura akan pulih." ucap Kakek Luky.
Lelaki yang sudah beruban penuh dirambutnya itu, hanya bisa menatap Maura dengan tatapan nelangsa. Sedih sekali melihat cucu kesayangan, kembali pulang tanpa suara dan senyuman.
"Kasian sekali Maura, mana sedang hamil." ucap Om Rendi ikut mengiba. Ucapan dari Papanya itu sontak membuat hati Gadis kembali terenyuh. Air matanya menetes deras.
"Ku relakan cintaku lepas begitu saja untuk kebahagiaannya denganmu, Gifa! Tapi kenapa kamu tidak bisa menjaga Kakakku!" Gadis melepas rasa kesalnya yang hanya bisa terkuak dalam hati.
Walau jujur, ia juga mengkhawatirkan keadaan Gifali di sana, namun rasa kesalnya masih saja meradang dan tidak terima dengan perbuatan Agnes. Papa Bilmar sudah menceritakan duduk perkara dengan detail kepada semua keluarga.
Krek.
Pintu kamar perawatan Maura terbuka dengan dorongan brutal dari luar. Ada langkah Papa Galih, Mama Difa dan ketiga anaknya yang datang. Mereka masuk dengan napas tertatih-tatih.
"Assalammualaikum ..." suara salam bersamaan dari bibir keluarga Hadnan.
"Waalaikumsallam ..." jawab keluarga Artanegara serentak.
Mama Difa langsung berhambur memeluk Mama Alika. Dua wanita berhijab itu saling beradu dalam tangis.
Amar menoleh menatap Ganaya dengan wajah rindu. "Gana ..."
Ganaya tidak begitu merespon. Bersama Gemma dan Gelfa mereka terus melangkah untuk menatap wajah Maura lebih dekat. Berbisik mengusap salam ditelinga Maura. Gadis dan Tante Binara bergeser ke sudut.
"Mengapa anakku tidak kamu bawa, Mas?" tanya Papa Galih dengan nada sedingin es dan sorotan bola mata yang mencekam bagai burung elang yang sedang lapar.
Papa Bilmar mengurai pelukan Kakek Bayu dan melangkah menghampiri Papa Galih, yang masih berdiri didepan kaki ranjang Maura.
Tidak ada lagi perangai bersahabat di wajahnya. Ada sisa-sisa kebasahan air mata yang membekas di kedua pipinya. Lelaki itu menangis di sepanjang perjalan menuju Rumah Sakit ketika akan datang kemari. Perih hatinya mendengar Gifali sedang bertaruh nyawa di London.
"Ayahnya Gifa, melarang saya untuk membawa Gifali ke Indonesia, Mas. Saya tidak punya cukup waktu untuk berkelit dengannya. Saya sangat mencemaskan nyawa putri saya yang masih terancam ... Maafkan saya, Mas." jawab Papa Bilmar dengan nada memelas, raut sendu serta rasa sesalnya.
Dalam perjalanan menuju Indonesia pun, lelaki itu tidak tenang karena harus meninggalkan Gifali. Tapi ia yakin, Pramudya akan menjaganya dengan baik.
Mendengar ucapan itu. Membuat rahang pipi Papa Galih tercetak jelas. Dengusan napas kasar keluar begitu kentara. Otot-otot hijau menyembul keluar dari setiap lekukan di pelipisnya. Kedua tangannya mengepal kuat, menahan rasa sakit yang seperti sedang menusuk semu organ vital didalam tubuhnya.
"Brengsekk!" seru Papa Galih, ia mengeram menatap bayangan Pramudya.
*****
Like dan Komen ya guyss, sehat selalu❣️