
"Sayang, bangun yuk. Sudah Adzan Subuh." terdengar Gifali berbisik di telinga istrinya.
Notifikasi pengingat shalat sudah terdengar di gawai milik Gifali. Jika tidak memakai aplikasi itu, mereka tidak akan tahu kapan Adzan berkumandang. Karena di sekitaran kantor, jauh dari Masjid.
Wanita hamil itu mengerjapkan kedua matanya pelan-pelan. Walau hanya ada bayangan tidak jelas di hadapannya. Diiringi dengan uapan dari mulutnya. Dan tubuh yang ia geliatkan walau hanya dengan merentangkan kedua tangan.
Satu bulan sudah Maura berada di London. Ia kembali menemani suaminya untuk hidup dan tinggal di sini. Pasca kejadian kaburnya dari rumah, Papa Bilmar sudah mengizinkan apa pun yang menjadi kemauan putrinya. Keluarga Artanegara dan Hadnan, bisa bernapas lega ketika mengetahui Maura tiba selamat kala itu, di London.
Papa Bilmar tidak akan memaksakan lagi kehendaknya. Yang penting Maura tidak lagi melalukan hal nekad dan gila. Hanya satu pintanya, Gifali harus bisa menjaga baik-baik Maura di negara ini.
"Ambil wudhu yuk, shalat dulu terus tilawah, nanti boleh tidur lagi." ucap Gifali. Lelaki itu sudah berdiri di tepi ranjang.
Wanita itu mengangguk. Maura tidak berhenti menguap.
"Kok tumben ya masih ngantuk banget. Biasanya tiap subuh, mataku udah segar." ucapnya sambil berusaha untuk duduk di bibir ranjang.
Maura mau mengumpulkan segala energinya terlebih dulu. Kedua matanya kembali terpejam dalam posisi duduk.
"Aku kan sudah bilang jangan nonton drakor sampai larut malam." ucap Gifali, lalu meraih kaca mata dan alat pendengar di atas nakas. Membantu memasangkan kaca mata dan alat pendengar. Sangat miris, karena sampai sekarang Maura belum menunjukan tanda-tanda bisa terlepas dari kedua alat tersebut.
Maura tersenyum. "Maaf sayang, soalnya ceritanya lagi seru-serunya."
Gifali menggeleng kepalanya samar. "Kalau nanti malam begitu lagi. Aplikasi drakor di hapemu akan aku hapus!" decak Gifali.
Mendengar ancaman suaminya, Maura kembali membuka kedua matanya.
"Jangan dong cintaku ..." cicitnya manja.
Kemudian ia menjulurkan kedua tangannya ke arah ke leher Gifali. Lelaki itu pun membungkuk sedikit untuk menarik tubuh istrinya ke atas agar bisa berdiri tegak. Kemudian di gandeng menuju kamar mandi.
Usia kandungan Maura sudah menginjak delapan bulan setengah. Rencana Dokter dua sampai tiga minggu lagi Maura akan melahirkan bayi kembarnya.
Terlihat kedua kakinya sudah bengkak sekali dan perutnya amat besar, Maura faham. Ia sudah tidak bebas lagi untuk menggeliatkan tubuh dan tidur hanya bisa satu posisi.
Shalat saja harus duduk tidak mampu berdiri. Dokter mengatakan kedua kakinya sedikit kurang mampu untuk menopang tubuh yang semakin membesar.
Maka dari itu, Gifali memilih untuk tinggal di kantor sampai Maura melahirkan. Ia ingin dengan mudah mengawasi istrinya ketika sedang beraktivitas.
Maura akan ditinggal Gifali pagi hari dari pukul 09:00 sampai dengan pukul 12:00, sehabis bada Dzuhur, lelaki itu sudah kembali di kantor untuk meneruskan pekerjaan dan mengawasi istrinya lagi.
Setelah melaksanakan shalat jamaah dan menyelesaikan tilawah. Maura merasa kedua matanya sudah segar. Tidak jadi untuk tidur kembali.
"Kamu mau sarapan apa sayang?" tanya Maura.
"Aku beli aja di luar ya. Kamu enggak usah masak."
"Lho kenapa? Masih ada bahan makanan kok dikulkas. Aku bisa membuatkan mu nasi goreng." Maura melangkah pelan menuju kulkas yang berada di belakang kamar.
"Sudah enggak usah." Gifali mencekal pergelangan tangan istrinya. "Biar aku yang beli ke luar. Kamu istirahat aja. Tapi ingat jangan nonton drakor lagi!"
***
"Aku berangkat ya." Gifali mengecup kening Maura sebelum ia berangkat ke kampus.
"Iya sayang, hati-hati ya." Maura berbalik mencium kening suaminya.
Lelaki itu pun membungkuk sedikit untuk mencium ketiga buah hatinya. Mengusap lembut dan mendoakan. "Jagain Bunda ya, Nak. Ayah sekolah dulu."
Gifali mendongak menatap Maura. "Kayaknya mereka belum bangun deh."
"Masih tidur, nanti bangunnya kalau jam sepuluhan, Yah."
Gifali mengangguk dan kembali mencium. Kemudian mensejajarkan tubuhnya lagi dengan sang istri. "Ingat pesanku ya, jangan makan ice cream lagi. Anak-anak kita tubuhnya sudah besar-besar. Ingat kan apa kata Dokter?"
Maura mengangguk senyum dan melepas kepergian suaminya dari kamar. Selepas Gifali pergi ke kampus, Maura hanya akan berdiam diri di kamar. Memang tidak ada hiburan apapun, hanya ada tivi saja di sana.
Ia akan menghabiskan waktu seharian untuk rebahan, makan, baca buku, nonton drakor dan tidur. Itu-itu saja aktivitasnya. Namun ia tidak pernah mengeluh. Lebih baik bosan seharian di kamar dari pada harus berjauhan dengan suaminya. Ia tidak sanggup lagi untuk hal itu, jika kembali terjadi.
"Aku gendut sekali ya." ucapnya ketika menatap diri di cermin. Kelopak matanya saja sampai sedikit menyipit karena pipi nya sudah banyak tertimbun lemak.
"Lengan, perut, paha dan kaki semua bulat." ucapnya lagi sambil tertawa. Di sela-sela ia berbicara sendiri, Maura sedikit kaget karena perutnya kembali bergerak.
"Assalammualaikum selamat pagi anak-anak Bunda. Udah pada bangun ya?" sapa nya, sambil mengusap-usap perutnya yang sudah lebih besar dari tubuhnya sendiri.
"Ayah sudah berangkat, Nak." timpalnya lagi. Entah mengapa, seakan mengerti. Setiap Maura menyebutkan nama Gifali, ketiga buah hati itu selalu lincah bergerak di dalam. Mungkin karena setiap malam usapan dan bacaan shalawat tak henti Gifali suarakan untuk triple G.
Maura melangkah dengan kedua kaki yang sudah bengkak. Berjalan hati-hati keluar dari pintu kamar dan menuju ruang kerja suaminya. Ruang kamar dan ruang kerja memang hanya di sekat dinding. Setiap hari Maura akan membersihkan meja kerja Gifali. Maura meminta OB hanya untuk membersihkan ruangan dan kamarnya saja.
Menata buku-buku, map-map dan beberapa berkas yang ditumpuk secara asal dimeja. Lelaki itu tidak sanggup membereskannya karena matanya sudah terasa lelah.
"Apa ini?" tanyanya sendiri. Ia meraih sebuah kertas yang terselip di agenda suaminya.
"Nama bayi kami?" garis senyum wanita hamil itu mengembang tinggi. Maura memang menyerahkan pemilihan nama anak-anak mereka kepada Gifali. Dan lelaki itu mengiyakan, namun tak kunjung memberitahu. Biar surprise katanya.
Air mata Maura menggenang, ia memilih duduk di kursi sambil menatap tiga buah nama indah di sana.
"Suamiku baik sekali, sampai memakai nama yang mirip dengan Papaku, Papanya dan Ayahnya." desahnya haru.
Maura menundukkan kepala, menatap perut dan mengelusnya, lalu mengucap nama kecil dari ketiga anaknya.
"BISMA-GEISHA-PRADIPTA."
****
like dan komennya ya guyss❤️