
Menjadi seorang Ayah secepat ini, mungkin tidak pernah terbesit di dalam hidup seorang lelaki muda bernama Putra Gifali Hadnan. Bisa menikah dan menjalani mahligai rumah tangga dengan wanita impiannya saja, ia masih suka tidak percaya.
Apalagi saat ini Maura bisa memberikannya tiga orang anak sekaligus. Dan di tengah-tengah kebahagiaan itu, Semesta menunjukan arah pulang Gifali kepada Ayah kandungnya. Ia menemukan jatidiri, dan tetap berada di lingkungan keluarga yang kaya raya.
Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang Gifali dusta kan?
"Apakah sakit?"
"Enggak, Gifa." Maura menggeleng.
Gifali berulang kali bertanya dengan hal yang sama. Dan sang istri hanya bisa menjawab dengan hal yang sama pula berulang-ulang.
Gifa takut istrinya kesakitan begitupun bayinya. Lelaki itu gugup dan amat gelisah. Menyetir mobil pun tidak konsen. Debaran jantungnya sangat kentara. Berusaha menekan oksigen kedalam dada, lalu menghembuskan nya secara perlahan ke udara.
"Jangan panik sayang." ucap Maura. Mengelus lengan suaminya. Maura pun gugup, tapi mau bagaimana lagi. Ia harus melewatinya.
"Kalau sakit bilang, ya." Gifali berusaha fokus mengemudikan mobilnya.
Malah ia sampai memukul stir kemudi, karena terjebak di lampu merah. Walau jika Maura mengadu sakit, toh lelaki itu tidak akan bisa melakukan apapun selain berucap kata sabar.
"Sabar ..." malah Maura yang memberikan ketenangan batin kepada suaminya.
Jadi sebenarnya, siapa sih, yang akan melahirkan?
"Aku gugup. Aku takut." rintihan pelan begitu saja lolos dari bibir Gifali. "Aku butuh Mama." ucapnya lirih. Biasanya jika lelaki itu sedang gugup, hanya satu yang bisa menetralkan suasana hatinya, yaitu genggaman tangan dari Mama Difa. Namun sayang wanita yang diinginkan keberadaannya masih jauh di seberang sana.
Maura menyunggingkan senyum tipis. "Jangan gugup. Kami tidak akan kenapa-napa." Maura kembali menguatkan.
Gifali mengangguk berat, dengan air muka yang sudah banyak. Selama mengemudi pun, terlihat duduknya tidak tenang. Kedua tangan bergetar, menghela napas berkali-kali sambil mengucapkan lantunan doa untuk keselamatan istri dan bayinya.
Maura memilih menyandarkan diri di sandaran kursi sambil mengusap-usap perutnya. Ketiga bayi itu masih saja bergerak aktif. Dan anehnya, Maura tidak merasakan mulas atau rasa apapun setelah air ketubannya pecah.
Selama di perjalanan, Gifa sudah mengabari semua keluarga. Ia menelpon langsung Pramudya, Papa Galih dan Papa Bilmar. Dan mereka bilang akan on the way secepatnya. Mungkin Pramudya akan lebih dulu melihat ketiga cucunya dibanding Papa Galih dan Papa Bilmar.
"Gifa, jangan terlalu kencang mengemudikan mobilnya. Kita bisa kecelakaan!" Maura yang sudah takut, akhirnya menyentak suaminya. Ia sampai meremat tali seat belt, karena takut mobil yang akan ditumpanginya mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.
"Maaf sayang ... Maaf." lirih Gifali. Ia menarik tangan Maura untuk digenggamnya. Lelaki itu berusaha untuk menguasai dirinya agar terhindar rasa panik.
Walau rasanya sulit.
****
Air ketubannya ternyata sudah mulai menipis. Saya menyarankan agar Istri anda menjalani tindak operasi, lebih aman bagi ibu dan bayinya.
Penjelasan Dokter masih saja terngiang-ngiang ditelinganya dari setengah jam yang lalu. Kadar persediaan air ketuban didalam perut Maura memang drastis berkurang. Padahal dua hari lalu Dokter mengatakan air ketuban masih bagus dan layak.
Gifali sedang duduk di bibir ranjang, berhadapan dengan istrinya yang masih menatapnya dalam kebingungan. Setelah di periksa oleh Dokter, Maura disarankan untuk terlebih dulu masuk ke ruang bersalin. Agar para Bidan mudah untuk memonitor keadaannya.
Karena setelah diperiksa dalam, Maura sudah mengalami pembukaan satu. Dan masih sangat lama untuk menunggu. Sepertinya tidak mungkin jika wanita itu tetap bersikeras untuk melahirkan normal.
"Operasi saja ya." pinta Gifali. "Normal atau operasi, sama saja bagiku. Kamu tetap pahlawan bagi kami." sambungnya lagi. Memang selama ini yang dipermasalahkan Maura adalah, ia ingin mencoba melahirkan secara normal.
Seakan semua orang mengatakan kalau benar-benar akan menjadi ibu sejati ketika kita bisa melahirkan anak secara normal tanpa operasi. Belum lagi rasa sakit pasca operasi sectio caesaria lebih menyakitkan dibanding proses normal. Tentu hal itu membuat Maura terpengaruh.
Padahal porsi sesungguhnya menjadi ibu sejati tidak hanya dilihat dari dua hal itu saja. Tidak perduli mau normal atau cesar. Yang jelas ia sudah berhasil menghadirkan bayi kepada suaminya. Hanya saja cara melahirkan yang berbeda.
"Aku tidak ingin mengambil resiko. Aku tidak mau kehilanganmu dan anak-anak." tukas Gifa dengan genangan air bening yang sudah bergerumun di sudut matanya. Maura mengusap air mata itu sebelum jatuh menetes. Lirih hatinya jika melihat Gifa memangku wajah dengan kesedihan.
"Iya, sayang. Aku mau." Maura akhirnya menurut.
Lebih baik dirinya menanggung sakit pasca operasi cesar, dibanding harus kehilangan ketiga buah hatinya dan kesedihan yang akan dirasakan oleh suaminya.
Gifali bergegas dari ruangan untuk mencari suster dan Dokter setelah mendapatkan anggukan kepala dari Maura.
Wanita hamil itu kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang. Menatap lurus langit-langit kamar yang berwarna putih bersih.
"Lancarkan operasi nanti ya Allah. Selamatkan aku dan bayi-bayi kami." Lalu ia menundukkan kepala menatap perut buncitnya. "Kita berjuang ya, Nak."
***
Persiapan operasi pun di mulai. Gifali dengan dada yang terus bergemuruh, terlihat bolak-balik kesana kemari, menyiapkan segala sesuatu untuk kebutuhan persalinan Maura.
Mulai dari menyelesaikan administrasi, membubuhkan tanda tangan di beberapa berkas persetujuan tindakan operasi. Dan setelah semua selesai, Gifali kembali beranjak ke ruang bersalin. Ingin melihat keadaan Maura. Namun setelah tiba di sana, ruangan sudah ramai. Karena Pramudya, Tamara, Adrian dan Ramona sudah berkumpul menemani istrinya.
"Sudah selesai, Nak? Biar nanti Ayah saja yang bayar adiministrasinya." ucap Pramudya.
Gifali menggeleng sopan. "Makasih, Yah. Tapi tidak usah, tabungan Gifa masih cukup."
Pramudya menghela napas lagi, sebenarnya sulit untuk menerima kemandirian anaknya. Namun mau apa daya, ini sudah menjadi pilihan Gifali. Pramudya harus tetap menghormatinya.
"Ada yang dirasa?" tanya Gifali. Ia menghampiri Maura dan duduk di sebelah kepalanya. Maura menyendarkan kepala di perut Gifali.
"Sakit maksudnya?" Maura berbalik tanya.
"Iya."
Maura menggeleng. "Kalau sakit enggak, tapi lagi ingin sesuatu."
Kening Gifali menyerengit. "Mau apa sayang?" tanyanya lembut.
"Aku ingin makan nasi Padang dengan gulai ikan." air ludah terdengar terdorong jauh ke dasar kerongkongan Maura.
Wanita itu betul-betul menginginkannya sekarang. Apalagi tadi siang ia tidak jadi makan siang. Bayi-bayinya seperti menagih karena lapar.
"Hah?" Gifali melongo.
Semua yang mendengarkan lalu terkekeh, ada-ada saja ibu hamil ini. Kalau sebelum menjelang persalinan, Maura terlihat takut. Malah untuk saat ini, rasa takut itu tidak tampak.
Maura terlihat tenang dan biasa saja, tidak merasakan sakit, mulas atau rasa lainnya. Tamara saja sampai takjub. Sungguh Allah memberikan Maura kemudahan dalam menjalani proses kelahiran bayi-bayi mereka.
"Satu jam lagi Maura di minta untuk berpuasa sebelum masuk ke kamar operasi, belikan lah dulu apa yang istrimu inginkan." ucap Ramona.
"Nasi Padang di London? Memang ada yang jual?" Gifali menatap Ramona.
"Kayaknya ada di Brack Line. Di sejajaran rumah makan khas Indonesia. Siapa tau di sana ada." sahut Adrian.
Gifali menghela napas panjang. Mengusap pusaran kerudung istrinya. Lalu mengecup kening itu dengan pejaman mata. "Aku akan membelinya untukmu."
"Makasih ya sayang ... Oh satu lagi, aku juga ingin bakso dan es campur." ucap Maura polos. Ia terlihat sangat manja sekali seperti anak balita.
Gifali kembali menggelengkan kepalanya. Masya Allah katanya, apakah ada ibu hamil yang sebentar lagi akan melahirkan masih memikirkan makanan-makanan yang enak seperti itu?
Tentu saja ada, mungkin sebagian dari mereka yang sedang tidak merasakan mulas dan sakit. Maka Maura hanya fokus dengan rasa ingin untuk melegakan perutnya.
****
Sebenarnya masih ada satu episode yang ingin aku keluarkan. Tapi belum aku edit. Dan hari ini aku agak sibuk. Kalau tidak nanti malam, mungkin besok pagi akan aku UP sambungannya ya.
like dan komennya jangan lupa❤️