
Empat jam sudah Gifali bertaruh nyawa di meja operasi. Dan saat ini ia sudah dipindahkan ke ruang ICU, untuk bisa di monitor lebih lanjut. Lega hati Pramudya, karena sang anak sudah melewati operasi yang sangat panjang dan menghujam jiwa.
Walaupun kata Dokter Gifali akan sadar dalam waktu delapan jam kemudian. Karena reaksi bius umum yang masih bersarang di tubuhnya.
Sesekali Pramudya akan bolak-balik dari ruang ICU lalu ke kamar perawatan Maura. Ia juga ingin menjaga menantu yang akan memberikan ia tiga orang cucu.
"Apakah Papa akan mengabari Orang tua Gifali di Jakarta?" tanya Tamara kepada Pramudya yang masih berdiri dengan telapak tangan memegang dagu. Kedua bola matanya lurus menatap Maura yang masih belum sadarkan diri. Pilu hatinya, mengingat putranya pasti akan meronta jika melihat keadaan Maura seperti ini.
Helaan napas panjang mengudara. Lelaki paru bayah itu hanya terdiam sambil terus berfikir. Apa yang harus ia katakan kepada mereka semua di Jakarta?
"Papa akan berfikir sebentar. Tolong Mama di sini dulu untuk menjaga Maura. Papa mau tengok Gifa dulu." Pramudya berlalu tanpa menuggu jawaban dari Tamara.
Wanita paru bayah itu hanya menatap kepergian suaminya dengan linangan air mata, ia tahu suaminya tengah kecewa. Ia menoleh ke arah Maura. Mengusap lembut punggung tangan dan dibawanya naik untuk menempel di bibirnya.
"Maafkan anak Ibu, Nak. Ibu yang salah, karena tidak bisa mendidik Agnes dengan baik. Sadarlah, Nak. Maura kuat." ucap Tamara.
Ia menundukkan wajah, dengan dahi menempel di punggung tangan Maura yang sejak tadi ia angkat. Turun lagi air mata itu dengan deras.
****
Adrian dan Ramona masih berdiri di depan kaca tembus pandang. Menatap Gifali yang masih terbaring terlentang dengan banyak alat di dadanya. Dengan sungkup oksigen di hidungnya membuat wajah Gifali tidak begitu terlihat dengan jelas.
"Pah ..." ucap Adrian, ketika langkah kaki Pramudya sudah sampai disebelahnya, ia menatap sendu putranya yang belum lama ia rengkuh.
"Papa gagal menjaganya." desah Pramudya, manik matanya yang gelap masih memandang lurus Gifali di ranjang.
Mendengar ucapan itu membuat Adrian menunduk, menyimpan rasa sedih dan penyesalan dengan sikap adiknya.
"Kalau bisa diganti, biar saja Adrian yang menggantikan posisi Gifali di sana, Pah." jawab Adrian dengan suaranya yang masih parau.
Pramudya menghela napas dan sekilas mengusap bahu Adrian sambil melangkah pergi untuk masuk ke dalam ruangan kaca. "Shalat lah dulu, doakan adik-adikmu."
Lelaki itu lebih dulu memakai baju steril dan alat pelindung diri, kemudian baru di perbolehkan masuk kedalam untuk menemani sang putra.
"Sabar, Kak. Ini bukan salahmu." Ramona menguatkan Adrian. "Ayo kita shalat Dzuhur dulu. Kita doakan Gifali dan Maura." ajak Ramona, Adrian pun menurut dan membiarkan tangannya digandeng oleh Ramona menuju Mushola.
"Gifa ... Anak Ayah." seru Pramudya. Ia membelai rambut putranya yang terlihat sedikit berantakan. Lalu mencium keningnya, membiarkan tetesan air mata jatuh membasahi kedua pipi sang anak.
"Maafkan, Ayah. Nak. Ayah gagal menjagamu." isak tangis Pramudya makin menggema.
"Padahal setiap waktu, Ayah selalu mendoakan untuk kebahagiaan, kesehatan dan keselamatanmu. Tapi ini lah yang terjadi ... sudah takdir darinya."
Pramudya semakin terisak ketika ia mengingat ucapan Malik, kalau Gifali pernah mengalami kecelakaan fatal dan masuk ke ruang ICU sebanyak dua kali.
"Dan sekarang kamu merasakannya lagi, Nak. Maafkan Ayah." seru Pramudya dengan tangisan yang terseguk-seguk.
"Gita ... Maafkan aku, aku tidak bisa menjaganya." lirih, ngilu sekali hatinya. Ia tahu Gita sedang menangis di alam sana, melihat anaknya kembali terkapar tidak berdaya.
"Cepat sadar ya, Nak. Kasihan istrimu."
*****
Papa Bilmar terlihat mulai panik karena ia sudah lama berdiri di depan pintu rumah Maura namun tidak ada jawaban. Mengetuk daun pintu dari tekanan sedang sampai keras.
"Bukannya jam segini Maura sudah pulang dari kampus? Lagi pula, bukan ada art di rumah ini? Pada kemana sih, ponsel Maura dan Gifa juga hanya menyambung tidak diangkat!" Papa Bilmar frustasi. Ia sedih kalau harus pulang ke Jakarta tanpa mencium dulu Putrinya.
Pembantu memang ada, namun Maura menyuruhnya untuk tidak datang dulu ke rumah. Karena mereka akan pergi ke rumah Pramudya sampai sore.
Papa Bilmar kembali menghubungi gawai mereka masing-masing. Dan senyumannya merekah dengan kelegaan hati ketika ponsel Maura terangkat di seberang sana. Ada Ramona yang menjawabnya.
"Assalammualaikum, Kak. Apa Kaka sudah pulang?"
Hening. Tidak ada jawaban di seberang sana.
"Papa baru saja sampai didepan rumahmu, Nak."
Papa Bilmar kembali bersuara dengan kerutan di kening. Mengapa sejak tadi Maura tidak menjawab suaranya. Papa Bilmar menjauhkan gawainya untuk melihat apakah telepon mereka masih tersambung.
"Kakak ... kenapa diam aja?"
Hening. Di sana Ramona sedang mengigit bibir bawah sambil menatap Adrian. Saling bertatapan, penjelasan apa yang harus mereka berikan.
"Tiga jam lagi Papa akan kembali ke Jakarta, Papa kangen mau ketemu Kakak dulu, sekalian bawain kering kentang kesukaan Kakak, bikinan Mama."
Papa Bilmar kembali bersuara, ia gelisah mengapa tidak ada juga suara dari seberang sana.
"Bagaimana ini, Kak? Ups."
Papa Bilmar semakin meregang ketika mendengar suara yang bukan suara anaknya. Ramona keceplosan bersuara kepada Adrian.
"Hey! Siapa itu!" nada bariton Bilmar membuat Ramona semakin mengedikkan bahu. Suara nyaring itu begitu keras menggelegar. Ia pun takut untuk menyampaikan berita tentang Gifali dan Maura. Dengan cepat ia menyodorkan gawai tersebut kepada Adrian.
Takut-takut Adrian meraih gawai itu, menatap lekat bola mata Ramona. Langkah apa yang harus ia ambil sekarang. Ramona hanya bisa memberikan raut panik tanpa bisa memutuskan hal apapun sekarang.
"Hey! Jawab! Siapa di sana? Mengapa ponsel anakku ada padamu!" Papa Bilmar menghentak, ia takut ponsel anaknya di curi.
Dengan terbata-bata, Adrian memberitahukan kalau Maura dan Gifali sedang ada di Rumah Sakit.
"APA?"
****
Brug.
Pramudya terlempar ke sudut dinding kamar perawatan Maura. Papa Bilmar mengeram dengan dua tangan mengepal. Memandang lurus lelaki yang sudah menjadi besannya sekarang.
"Keparatt! Dimana anak kamu! Akan saya remukan tulangnya!!" teriak Papa Bilmar, ia kembali menarik kerah baju Pramudya. Papa Bilmar sudah geram hati, ia ingin membunuh Agnes hari ini juga. Namun wanita itu lebih dulu dibawa pergi oleh Razik.
Setelah mendapatkan penjelasan duduk perkara yang terjadi antara Maura, Gifali dan Agnes. Lelaki paru bayah itu terlihat menjadi garang seperti harimau yang akan menelan mangsanya.
Hatinya tercabik-cabik melihat putrinya terbujur tak sadarkan diri di pusaran ranjang Rumah Sakit karena perbuatan brutal dari seseorang yang tidak mempunyai hati. Pedih hatinya, remuk jiwanya.
"Mas tolong, masalah ini bisa dibicarakan baik-baik." ucap Tamara menjadi penengah. Papa Bilmar tidak mengidahkan ucapan Tamara, ia masih bernapsu ingin menelan Pramudya.
"Tolong, Om. Ini bukan kesalahan Papa." ucap Adrian, memeluk perut Papa Bilmar dari belakang untuk melerai.
"Ah lepas!" Papa Bilmar mengurai pelukan, lelaki berotot itu mampu melepas Adrian dari tubuhnya sampai terjatuh.
"Kak, menjauh lah!" titah Pramudya kepada Adrian. "Kamu juga, Mah!" Pramudya menoleh ke arah Tamara.
Adrian dan Tamara pun menjauh beberapa meter. Dan Ramona hanya bisa meringis di samping ranjang Maura. "Ayo, Ra. Sadar. Biar Papamu enggak marah." gumam gadis itu menurunkan tatapannya ke arah Maura yang masih memejam kedua matanya.
"Saya nikahkan Maura dengan Anak kamu, untuk bahagia! Bukan untuk menjemput ajal seperti ini!" dengusan napas kasar menerpa wajah Pramudya.
"Ini bukan kesalahan Anak saya, Gifali juga menjadi korban di sini. Salahkan saja saya dan maafkan karena saya sudah lalai menjaga mereka." nada Pramudya begitu lirih.
Papa Bilmar semakin mengerang dalam kemarahannya, tarikan di kerah kemeja telah berganti menjadi sebuah cekikan.
"Saya akan membawa pulang Maura ke Indonesia detik ini juga!" ucap Papa Bilmar dengan mata menyala-nyala.
Bola mata Pramudya terbelalak, ucapan itu seperti menghunus jantung dengan busr pedang yang tajam. Dengan ringisan sesak karena sulit bernapas. Ia menepis sekuat tenaga tangan Papa Bilmar agar terlepas dari lehernya.
Pramudya terbatuk-batuk memegang lingkar lehernya. "Tidak ada yang bisa membawa Maura. Maura adalah istri anak saya. Dan Gifali masih belum sadar, walaupun kamu Papanya Maura, kamu harus mendapat ijin dulu dari anak saya!" tanpa sadar Pramudya berubah menjadi emosi, nada suaranya meninggi satu oktav.
"Keparatt kamu!" Bilmar beringsut ingin mencengkram leher Pramudya kembali, tetapi dengan sigap, Adrian mebentangkan tubuhnya didepan sang Papa.
"Jangan, Om. Saya mohon." Adrian mengiba.
Bilmar mengusap wajahnya gusar. Air matanya menetes. Mengutuk hari ini, mengapa harus anaknya yang terluka.
"Saya saja Papanya tidak pernah sekalipun menggores luka di hati anak saya dengan kekerasan tangan saya!"
"Tidak ada satu pun lalat yang saya biarkan mendarat di kulitnya, tapi hari ini anak perempuan kamu yang gila itu sudah membuat anak saya hampir terbunuh! Bahkan lihat sekarang, Maura masih belum sadar!"
"Saya akan menjebloskan anak kamu penjara!" Papa Bilmar memuntahkan kekecewaan dan keputusannya.
Semua tercengang hebat, lebih utamanya Tamara yang langsung menangis. Dadanya kembali sesak, ia merintih karena hidup Agnes akan semakin hancur.
"Sesuai ucapan Gifali dulu, jika ia lalai menjaga anak saya. Saya akan membawa Maura pulang kembali!"
"Lalu bagaimana dengan Anak saya, tidak mungkin jika istrinya dibawa." kelakar Pramudya, ia tetap ingin mempertahankan Maura di sini. "Saya akan bertanggung jawab untuk kesembuhan menantu saya, Maura juga anak saya, Mas."
"Pilih mana, kamu mudahkan saya membawa anak saya pulang dan menyembuhkannya di sana atau memaksa Gifali untuk menceraikan Maura!"
"Karena kalian teteplah asing bagi saya, bisa saja anak perempuan kamu yang gila itu akan menyakiti anak saya lagi!"
Papa Bilmar tetap bersikukuh pada keputusannya.
"Sekarang kalian semua keluar dari kamar anak saya! KELUAR!!"
*****
Gimana nih guys Maura tetap dibawa pulang ga yah?
Sebenarnya masih ada satu part lagi tapi belum aku edit. karena aku lagi gak enak body, Insya Allah malam kalau gak bsok pagi lagi. tp boleh aja rayu aku dengan komen yang banyak, komen panjang-panjang aku suka banget✌️
Kasian nih Abang bakal nangis kalau ditinggal Maura.