My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
MSW 2 : Hore, kita bisa main.



Sudah sepuluh hari Maura melahirkan si kembar. Dan selama seminggu setelah kelahiran baby two G, keluarga kecilnya masih menumpang tinggal di rumah Papa Bilmar.


Sudah bisa dibayangkan bagaimana keributan didalam rumah itu karena ulah ke lima anaknya. Belum teriakan dari Triple G dan suara tangisan nyaring dari Baby Two G.


Ammar selalu tidak tenang jika sedang belajar. Konsennya buyar. Sampai ingin naik ke atap genteng untuk bisa mediasi dalam belajar.


Dan tanpa ajakan, terkadang Triple G akan menerobos masuk ke kamar mana yang ingin ia tiduri. Kadang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Nenek dan Kakeknya. Atau masuk kedalam kamar Ammar.


Uh, rempong. Haha.


Dan setelah Gifali membersihkan rumah peninggalan Bundanya selama beberapa hari ini. Akhirnya ia membawa keluarganya untuk bermukim di rumah ini sementara. Sampai ia mendapatkan rumah yang lebih besar. Bukan berarti rumah Bundanya kecil, hanya saja rumah ini tidak memiliki halaman luas. Namanya juga rumah kompleks, walau ukurannya sudah dianggap besar jika dibandingkan dengan perumahan kompleks lainnya. Rumah berlantai dua dengan tiga kamar. Dua kamar di bawah dan satu kamar di atas.


Dan ngomong-ngomong sudah lima hari ini Gifali diterima bekerja di sebuah perusahaan otomotif bergengsi di Indonesia, sebelum memulai bisnis sendiri. Mencari bidang pekerjaan sesuai dengan passionnya.


Ia memilih untuk bekerja dulu di perusahaan orang. Bukan maksud untuk mengayakan bisnis orang, tanpa mau mengurusi bisnis keluarga sendiri. Tapi ia hanya ingin mandiri, tidak mau lagi membebani kedua keluarga besarnya.


"Tup ... Tup, tanan nangis ya." bak seorang ibu yang tengah mendiamkan bayinya yang sedang menangis. Terlihat Geisha duduk dipertengahan pusaran ranjang. Ia mengelus-elus Ginka dan Ghea yang sengaja diletakan di sana oleh Maura karena tadi baru saja tertidur sehabis kenyang menyusu. Wanita itu sedang memasak di dapur untuk makan malam.


Tadinya kedua bayi itu nyenyak-nyenyak saja. Tapi Pradipta datang menyolok-nyolok pipi mereka. Anak lelaki itu gemas. Dan setelah kedua bayi itu sedikit merengek, Pradipta kabur dari kamar. Tahu sang Adik masuk ke kamar dan akan berbuat jahil, Geisha pun masuk kedalam.


"Mau cucu ya?" tanyanya sambil menciumi wajah kedua adiknya. Refleks anak itu membuka baju. Mungkin karena sering memperhatikan Maura ketika sedang memberikan asi, Geisha pun menirukannya.


Ia menarik pangkal dadanya yang masih sangat kempis, untuk didekatkan ke bibir Ginka terlebih dulu.


"Duh, 'kok cucah cih!" gerutunya. Ia tidak bisa menariknya seperti Maura karena sangat kecil.


"Tup ... Tup, cayang. Tunggu sebental." anak itu tetap berjuang. Dan tetap saja gagal. Sampai dimana ia terlonjak, ketika mendapati teriakan dari Bisma.


"Bunda, Adek ndak pakai baju!" anak lelaki itu melihat punggung polos Geisha dari pusara ranjang.


Geisha terkesiap. Lantas menoleh dan ikut berseru. "Butan, Kak. Aku cuma mau cucuin Adek."


Bertepatan dengan itu, Gifali yang baru sampai di rumah, sehabis bekerja dari kantor. Langsung masuk kedalam kamar.


"Kenapa, Kak?" tanyanya sebelum langkah kakinya sampai di ambang pintu kamar.


"Itu, Yah. Geisha mau cucuin Adek." tunjuk nya. Anak lelaki itu pun ikut masuk mengekor di belakang tubuh Ayahnya.


Geisha tersenyum manis seperti biasa ketika menatap cinta pertama dalam hidupnya datang. Ia beranjak berdiri untuk mencium tangan Gifali dan memeluk dada Ayahnya.


"Ayo pakai bajunya lagi. Nanti kamu masuk angin, Nak." Gifali meraih dress yang sudah tergeletak di atas ranjang dan mengenakannya lagi di tubuh Geisha.


"Adekna kacian, Yah. Nangis telus, tadi cama Adek di colok-colok pipina. Jadina bangun deh." Geisha mengadu.


Gifali hanya mengangguk dan mendengarkan. aduan dari si Khumairah.


"Ayo main di luar dulu ya. Ayah mau boboin Adek lagi." pinta Gifali halus.


"Iya Ayah." jawab Geisha dan Bisma bersamaan. Kedua anak kembar itu menurut lantas keluar dari kamar. Gifa memilih untuk membuka kemeja kerjanya terlebih dulu dan mencuci tangan. Walau belum mandi tapi ia paksakan untuk menimang kedua buah hatinya secara bergantian. Membantu tugas istrinya dengan hal yang paling kecil.


"Khadijahku ... bobo lagi ya, Nak." seru lembut Gifa kepada kedua buah hatinya.


***


Makan malam sudah siap di meja makan. Di dominasi dengan makanan kesukaan triple G dan Gifali. Si Aisyah yang masih berbadan montok, terus saja mengusap peluh. Ia terlihat letih karena sehabis memasak. Memasak makanan untuk lima orang. Walau Triple G masih kecil, tapi porsi makan mereka sudah seperti orang dewasa. Apalagi masakan Maura enak.


Untuk persediaan pokok makanan kering. Seperti beras, mie instan, minyak, gula, susu triple G dan aneka cemilan lainnya. Sudah dipasok banyak oleh Mama Alika. Dan untuk bahan-bahan lauk pauk serta sayur. Setiap pagi akan ada yang mengantar ke rumah mereka, orang suruhan dari Mama Difa.


Beberapa kali Papa Bilmar menelepon Maura untuk mempekerjakan Baby sitter di rumahnya. Tapi Maura menolak, ia masih trauma dengan Baby sitter di London kala itu. Jadi ia hanya minta untuk dicarikan tukang cuci baju dan setrika yang bisa dua hari sekali datang tanpa menginap. Mungkin ia akan butuh pembantu ketika dirinya sudah mulai kuliah dua bulan lagi.


Maura menuangkan nasi terlebih dulu di piring suaminya. Lalu meletakan tumisan capcay, ayam goreng, tempe dan sambal.


"Makasih, Bun."


Maura mengangguk. Lalu menuangkan nasi di piring ketiga anaknya secara bergantian. Untuk Bisma dan Geisha, lauk yang diberikan sama seperti Gifali hanya tidak pakai sambal.


Namun berbeda dengan Pradipta. Anak itu tidak terlalu suka dengan ayam. Ia lebih suka dengan ikan goreng dan penyuka sambal. Anak itu doyan makan pedas, mulutnya seperti kering jika makan tidak dengan sambal. Padahal ia masih kecil, dan tidak mengerti sejak kapan suka dengan makan pedas seperti itu.


"Kakak, ayo bimbing doa sebelum makan." titah Gifali kepada Bisma.


Setiap malam, Gifa akan menunjuk salah satu dari anaknya untuk membacakan doa ketika mau makan. Ingin mengajari anak-anak mereka sedari dini dengan doa-doa sehari-hari yang mungkin banyak kita lupakan.


Bisma mengangguk. Dengan suara cadel, ia memimpin doa sebelum makan.


"Aamiin ..." seru semua ikut mengakhiri.


Sendok mulai berdentang di permukaan piring, membawa sekumpulan nasi yang bercampur lauk pauk dan sayur ke dalam mulut.


Triple G sudah pintar makan sendiri. Tidak terlihat berantakan sama sekali.


"Sebentar lagi Ayah akan memasukan kalian untuk belajar di sekolah. Jadi bisa bermain dan belajar bersama teman-teman yang lain." ucap Gifa setelah makan malam mereka selesai.


Kedua mata mereka membola.


"Wah selu ..." seru Pradipta.


"Iya, iya, aku tuga mau." ucap Bisma.


"Kalau cekolah, nanti yang tagain Adek ciapa, Ayah?" nada sedih terdengar dari bibir Geisha. Ia menoleh ke arah stroller, dimana Ginka dan Ghea sedang bergeliat dengan mulut yang memainkan busah.


Maura dan Gifali tersenyum. Terpana hati mereka, karena anak perempuannya cukup memiliki naluri seorang ibu. Sepertinya ia kasian melihat Bundanya letih seorang diri. Bahkan sesekali ia suka ikut menggerakkan sapu di atas lantai, menirukan Bundanya ketika sedang membersihkan rumah.


"Kan ada Bunda dan Ayah. Kakak sekolah dulu, hanya sebentar 'kok. Nanti habis itu bisa jagain Adek-adeknya lagi."


Geisha akhirnya mengangguk karena masih Bisa untuk dipengaruhi.


"Kapan, Yah. Kita cekolah nya?" tanya Bisma tidak sabar.


"Minggu depan ya."


"Yess, holle ... kita bica main." seru mereka bersamaan.


"Oh, iya. Mulai besok ada guru ngaji setiap sore. Jadi Bisma, Geisha dan Dipta harus sudah mandi sebelum jam empat. Tanpa harus di suruh-suruh dulu. Mengerti?"


"Iya, Ayah." jawab mereka bersamaan.


Jika di kalangan elit akan memasukan anak-anak seumuran triple G ke Playgroup yang mahal dan bonavit. Namun berbeda dengan Gifali. Lelaki itu hanya bisa memasukan anak-anak mereka ke Paud biasa.


Baginya tidak apa-apa, walau wadahnya biasa dan murah. Yang penting ketiga anaknya bisa berinteraksi dengan lingkungan dan manusia luar. Tidak melulu dirumah dan berwawasan sempit.


****


Like dan Komennya ya🌺🌺