
Selama Maura tidak jelas dalam penglihatannya. Ia dibantu jika sedang membersihkan diri. Mama Alika akan selalu membantunya ketika sedang mandi. Karena tidak mungkin Maura mandi menggunakan kaca mata dan alat pendengar.
Pernah Maura nekat untuk mandi sendiri. Ia malah melakukan kesalahan, mengambil sabun cuci muka untuk dijadikan sampo dan pernah hampir tergelincir ke dalam bath up. Ia masih kikuk dengan gerakan tubuhnya tanpa indera penglihatan.
Memang sangat menyusahkan, dan berkali-kali air mata Maura turun dan mengucap kata terimakasih kepada sang Mama.
Walaupun saat ini, sang suami sudah kembali. Maura tetap tidak mau dibantu lagi. Ia juga sudah hapal dengan berbagai aroma sabun, sampo dan pencuci muka.
Tata letak kamar mandi ia sudah hapal. Hanya perlu hati-hati dalam melangkah, semua pasti terselesaikan dengan baik. Ia tidak mau terus-terusan menjadi seonggok yang tidak bisa apa-apa.
"Aku bisa sayang." ucapnya tanpa sorotan mata. Karena kaca matanya sudah dulu ia letakan di atas nakas.
"Aku bantu ya."
"Enggak." jawab Maura tersenyum, ia masih mendengar karena alat pendengarnya masih terpasang.
"Nanti kamu jatuh." Gifali memaksa.
"Kemarin-kemarin juga bisa sendiri kok." Maura ingin menjawil pipi Gifali, namun tangannya meleset. Yang ia pegang adalah udara. Dengan tatapan sendu, Gifali meraih tangan Maura untuk diletakan di pipi kanannya.
"Eh--iya, pipi nya di sini ya." Maura tertawa lebar, memperlihatkan gigi geliginya yang berjejer rapih berwarna putih.
"Sama aku ya mandinya, sekalian aku mandi, biar cepat. Sehabis mandi, aku mau ajak kamu jalan-jalan sore di sekitar alun-alun taman. Sampai kita lihat senja."
Maura mengangguk tanpa sorotan mata, tapi percayalah senyuman manis penuh keikhlasan terus saja mengembang di wajah cantiknya.
Akhirnya ia menurut dengan perkataan Gifali. Lelaki itu melepaskan alat pendengaran yang masih menempel di telinga Maura, dan meletakannya di atas nakas disamping kaca mata.
Gifali menggiring Maura untuk masuk ke dalam kamar mandi. Melepaskan dress rumahan yang sedang istrinya pakai. Lelaki itu membungkukkan badan, ia melepas banyak ciuman diperut Maura.
"Anak-anak Ayah." ucapnya.
Maura hanya terdiam, tidak menimpali seperti biasa. Namun ia tahu dan juga merasakan jika sang suami sedang mencium perutnya yang sudah mengencang.
"Doakan Bunda kalian, ya. Bantu Ayah untuk menyembuhkannya." ucap Gifali getir. Ia mendongak menatap Maura yang hanya terpaku diam menatap dinding. Air bening dari sudut mata lelaki itu mengembun lagi.
"Saya sudah ikhlas, maafkan saya. Jika masih bersedih." lirih Gifali sebagai doa kepada Rabb nya.
Mengusap air matanya yang masih menggerumun sebelum terlepas jatuh di permukaan pipinya. Ia tahu kesedihan yang berlarut-larut tidak akan menghasilkan apa-apa.
Maura sedikit mengedikan pangkal bahu karena kaget, ketika tiba-tiba ada air dingin langsung menerpa permukaan kulit disekujur tubuhnya.
"Aku kaget sayang ..." serunya dengan gelak tawa.
"Maaf, ya. Aku gak kasih aba-aba dulu." jawab Gifali, walau ia tahu ucapan itu tidak akan mendapatkan timpalan apa-apa dari Maura. Maura kembali terdiam, dan mengusap wajahnya berkali-kali ketika air dingin itu dikucurkan dari atas kepala.
Gifali dengan telaten, membersihkan lekuk tubuh Maura dengan cairan sabun. Sampai dimana intinya berdenyut ketika ia sedang membasuh pusat tubuh milik istrinya. Sekumpulan saliva mendadak muncul di ambang mulutnya.
Intinya kembali berdenyut. "Aku ingin melakukannya, tapi perut ku msih sakit." desahnya dengan raut meringis. Apalagi dengan mata bebas, ia bisa melihat dua bongkahan salju milik Maura yang menjuntai kencang. Begitu merekah dan kencang.
Semua lekuk tubuh Maura juga sudah banyak tertimbun lemak, membuat tubuh itu semakin montok dan berisi. Gifali berkali-kali menelan cairan saliva nya, bersikap tenang untuk tidak menuruti hasratnya yang sedang datang.
"Rasanya tidak pantas, jika meminta bantuan Maura untuk memuaskan ku dengan bibir atau tangannya, di saat keadaanya masih seperti ini." ucapnya kepada diri sendiri, ia terus saja bergumam. Ia tahu istrinya tidak akan mendengar.
"Ih, geli sayang." sang istri kembali tertawa. Entah apa yang Gifali lakukan, sampai Maura bergelinjang geli.
"Kangen, gak?" Gifali bertanya dan Maura hanya diam. "Oh iya aku lupa, kamu enggak dengar."
Jika Maura mengatakan iya, mungkin Gifali tidak akan tahan lagi untuk berpuasa. Ia akan menerkam Maura saat ini juga.
Di arahkan lagi shower ke tubuh istrinya, untuk menghilangkan sekumpulan busa sabun yang bertengger di disejujur tubuh.
"Tidak ada pilihan lain, aku harus bermain solo di sini." ucapnya, dan hanya kamar mandi yang akan menjadi saksi bisu dari pelepasannya nanti.
******
"Kangen banget ya?" ledek Gifa.
Wajah Maura mendadak merah seperti jambu air. Malu-malu ia mengangguk.
"Kangen apanya?" Gifa kembali menggoda dengan nada lembut.
"Semuanya." jawab Maura masih dengan senyuman yang tidak surut. Kembali menenggelamkan wajahnya di dada sang suami. Memeluk perut lelaki itu sambil menatap ruas jalan.
"Kangen sama yang dibawah, nggak?" Gifa berdecis geli.
Maura mengerutkan kening. "Dibawah?" dan wanita itu kembali tertawa. Ia menjawil hidung suaminya.
"Nakal kamu."
Cup.
Maura melepas kecupan hangat di pipi suaminya. Ia mengusap bulu-bulu halus yang berjajar rapih disekitar pipi.
"Kamu kangen ya? Aku siap kok sayang." jawabnya polos dengan wajah yang masih memerah.
Gifali kembali tertawa. "Mau sekarang?"
"Di sini? Di mobil?" Maura terlihat kikuk.
Gifali kembali terkekeh. Mengacak pucuk hijab Maura. "Enggak sayang, nanti aja kalau aku sudah kuat. Perutku masih linu."
"Kita ke Dokter ya, biar kamu kontrol lagi. Siapa tau ada vitamin atau obat tambahan, jujur aku masih khawatir dengan luka kamu, Gifa."
Gifali mengangguk dan membawa kembali Maura ke dalam dadanya. "Besok ya, sekalian kita kontrol anak-anak kita. Aku ingin memastikan mereka baik-baik saja di layar usg."
Maura mengangguk. Ia mendongakkan wajahnya kembali menatap suaminya. "Kenapa?" tanya Gifa.
Maura mengerucutkan bibirnya ke atas. "Cium."
Gifali kembali tertawa. Ia mengecup bibir ranum itu yang sangat menggemaskan.
"Lagi."
Bola mata Gifa membeliak. "Manja banget kamu, Aisyah." Gifali terkekeh.
"Bawaan bayi." Maura kembali mengerucutkan bibirnya ke atas.
Cup. Gifali kembali mengecup bibir itu tak habis-habis. Membagi fokusnya menjadi dua, fokus mencium dan fokus menatap jalan yang ada didepannya.
"Sudah kenyang?" tanya Gifa meledek.
Maura menganggukan kepala.
"Mau lagi?" Gifa mengulangi.
Maura Menggerakkan kepala dengan gelengan. "Nanti malam aja." Maura tertawa. Ia kembali membawa dirinya untuk lebih erat masuk kedalam dekapan dada sang suami.
Menikmati suara detakkan jantung didalam sana. Indah sekali, bisa bermesraan tanpa ada yang menggangu dan mengomeli, malah mendapatkan pahala banyak.
Gifali hanya bisa terkekeh. Menyambut semua itu dengan suka cita, berkali-kali ia mencium tangan sang istri, tapi ia juga harus tetap fokus, karena sedang mengemudikan stir mobil dan menatap jalan yang cukup ramai di sore hari ini.
Sesuai janji, Gifali ingin membawa Maura menghirup udara segar di taman alun-alun. Ingin membawa istrinya jalan-jalan dan menikmati berbagai cemilan di sana.
****
Like dan Komen yaa genggsss❤️🌺