My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Kelegaan Maura



Sepulang dari rumah sakit, dengan bantuan cairan infus membuat Maura terlihat segar dan wajahnya kembali menghangat. Gifali sudah bisa bernapas lega dan senang. Walau saat ini tubuhnya sangat letih.


Terlihat Gifa sedang meninabobokan istirnya di pulau kapuk.


"Kok melamun terus?" tanya Gifa. Ia bingung mengapa selama diperjalanan Maura banyak diam tapi wajahnya masih biasa. Terlebih lagi sekarang, wanita itu masih saja lurus menatap atap-atap langit yang berwarna biru muda.


Maura masih saja hanyut dalam lamunan dan tersadar ketika Gifa mengecup keningnya. Wanita hamil itu tersenyum.


"Kok melamun?" Gifa mengulangi pertanyaannya. Maura menggeleng dengan kerongkongan yang tiba-tiba gatal ingin berucap mengeluarkan suara. Ia ingin bercerita tentang Agnes, Ramona dan lelaki yang belum ia kenal. Tapi lidahnya masih kelu.


"Kenapa, Ra? Jangan banyak fikiran ya. Kalau ada masalah, bagilah denganku. Aku kan suamimu." Gifa tetap ingin membuat Maura berbicara jujur.


"Aku yakin kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu." ucapnya lagi.


Maura menggeleng lagi, dan Gifa geram karena itu. Mengubah mimik wajahnya menjadi kecewa.


"Aku tidak apa-apa sayang, sungguh." jawab Maura bohong. Ia menatap lekat bola mata Gifali yang sedang menatapnya dengan posisi miring bertumpu pada sikut di bantal dan telapak kirinya lurus memegang area pipi sampai ke dagu. Bibirnya mengerucut.


Maura tertawa. "Mandi sana, kamu asem sayang."


Bukan marah, namun lelaki itu tertawa. "Oh, ya? Aku asem ya?" Gifali mengendus-endus aroma tubuhnya dari balik kemeja yang sejak pagi ia pakai.


"Tapi kamu kok gak mual?"


Maura tertawa sekilas. "Mungkin anaknya maklum, karena Bundanya udah buat Ayahnya capek hari ini. Maafin aku ya, sayang ..."


Gifali tertawa dan mencium pipi istrinya. "Sudah jadi kewajiban aku, Ra. Kamu gak perlu bilang terimakasih segala."


Gifali beranjak untuk mengambil susu di nakas yang ia buat. Sengaja menunggu dingin dulu biar tidak terlalu panas untuk di minum.


"Ayo minum susu dulu, habis itu kamu tidur." titah Gifali. Maura mengangguk dan bangkit setengah duduk. Menenggak habis susu hamil berwarna cokelat tersebut.


"Sudah habis." ucap Maura tertawa sambil mengusap sisa-sisa susu di bibirnya. "Jangan di elap, Ra." Gifali memegang tangan Maura untuk berhenti melakukannya. Kening Maura menyembul berlipat-lipat ketika melihat suaminya beringsut untuk mendekati wajahnya.


Maura fikir Gifali akan mencium bibirnya tanpa alih-alih ia lebih dulu menutup mata. Debaran jantung kembali terasa, namun ternyata hanya gesekan lidah yang ia rasakan didepan katupan bibirnya, Gifali mengelap kebasahan sisa-sisa susu di bibir Maura dengan lidahnya.


"Sekarang kamu tidur ya." ucapnya setelah menjauhi tubuh Maura.


Maura hanya menghela napas dan mencubit lengan suaminya. "Kamu tuh ada-ada aja kelakuannya!"


Gifali tertawa, dan mengacak pucuk rambut istrinya. "Ayo tidur." Gifa menepuk bantal dan Maura menurut untuk meletakan kepalanya di sana.


"Jangan fikir macem-macem ya. Kamu harus terus sehat untuk aku dan anak-anak." ucap Gifa. Ia mencium kening Maura sambil mengusap-usap perut istrinya. Maura mengangguk pelan dan tersenyum. Lalu memejam mata.


Tak lama kemudian.


Maura sudah terlelap dengan selimut menutup tubuhnya. Wanita itu tidur dengan perasaan gegana. Tapi ia tidak mau terus memikirkan hal yang ia lihat di ruang emergency beberapa jam lalu.


Menerka-nerka tentu tidak baik untuk kesehatan dirinya. Apalagi ia tengah mengandung, Maura takut akan stress lagi. Ia sudah berniat besok pagi akan mempertanyakan semuanya kepada Ramona. Barulah jika informasi sudah lengkap, ia akan memberitahukan hal ini kepada Gifali


Kemudian Gifali bangkit dari ranjang untuk membersihkan dirinya ke dalam kamar mandi. Dibawah kucuran air shower, Gifali melamun menatap dinding. Ia masih saja memikirkan apa yang sekiranya menjadi buah fikir Maura.


"Aku harus bertanya dengan Ramona."


****


Baru saja ingin mengambil piyama tidur di lemari, wajahnya langsung menoleh ketika ponselnya berdering di atas nakas. Ia berjalan dengan tubuh yang masih sedikit basah dengan handuk melilit dibagian bawah.


"Ayah?" serunya. "Kenapa telepon malam-malam?"


Ia usap icon hijau dan mendengar suara Pramudya di sana. Seketika bola matanya lurus menatap dinding tidak bergerak. Tercengang hebat, ia masih tidak percaya. Mengulang-ulang pertanyaan yang sama kepada Ayahnya.


"Kok bisa, Yah?" tanya Gifali. Bahu lelaki itu terasa seperti merosot jauh ke dasar pinggang. "Gifa bener-bener nggak nyangka, Yah." sambungnya lagi.


"Iya, baik, Yah. Besok pagi, Gifa dan Maura akan kesana."


Gifa menutup sambungan telepon itu, dan meletakannya lagi di atas nakas. Sedikit menunduk untuk membuang napas. Bagaimanapun Gifa sudah menganggap Agnes sebagai saudara, tentu ia miris mengetahui jalan hidupnya seperti itu.


Gifa menoleh menatap wajah Maura yang masih tertidur pulas.


"Sayang ... Maura." serunya. Mengusap-usap lengan istrinya agar lekas bangun.


Maura bergeliat sambil bergumam tidak jelas, Gifa pun tidak tega menghancurkan mimpi istrinya yang sedang berjalan. Tapi ia tetap harus memberitahukan kabar ini kepada istrinya.


"Maura ..." seperti biasa, jika Maura susah dibangunkan. Gifa akan menciumi pipi istrinya sampai bangun.


Maura kembali bergeliat dan membuka matanya setengah mengantuk.


"Bangun dulu sayang." titah Gifali.


"Iya, kenapa?" tanya Maura dengan suara yang masih berat.


"Besok pagi kamu tidak udah masuk kuliah dulu."


"Hah? Kenapa?" Maura beringsut bangun, dengan mulut menganga.


"Karena besok pagi Agnes akan menikah."


Setelah kalimat itu dilayangkan, Maura hanya memberikan napas kelegaan dan membuat raut bingung di wajah suaminya.


"Kok kamu gak kaget, Ra?"


"Aku bersyukur karena lelaki yang menghamili Agnes akhirnya mau bertanggung jawab."


Gifali tercengang hebat. "Jadi kamu sudah tau hal ini?"


Maura mengangguk.


"Jadi ini yang membuat kamu seperti orang bingung? Sejak kapan? Dimana?" Gifali terus mencecar. Raut wajahnya mulai menunjukan ia tidak suka dibohongi.


"Tunggu sayang, jangan menerka-nerka dulu." Maura bisa menangkap pandangan Gifali kepadanya.


"Baiklah, ayo jelaskan!" titah Gifali dengan kedua tangan melipat didada polosnya.


Akhirnya Maura menjelaskan apa yang baru saja ia lihat di ruang emergency Rumah Sakit.


"Begitu ceritanya, Gifa. Aku pun baru tau." Maura mengakhiri penjelasannya. Membuat Gifali menarik napas berkali-kali.


"Dan yang begitu kaget apa hubungan Ramona dengan mereka, itu yang ingin ku tanya besok dengannya. Tapi tidak, aku tidak bisa menunggu untuk besok. Aku akan meneleponnya malam ini juga."


Maura bergegas menjulurkan tangannya ke atas nakas untuk meraih gawainya.


"Tidak usah, Ra." Gifali memegang tangan Maura. "Ayo taruh lagi." titahnya. Maura pun menurut dan meletakkannya kembali.


"Tapi Gifa, Ramona harus tau kalau Agnes akan menikah besok." ucap Maura dengan wajah polos. Ia merayu suaminya.


"Ramona sudah tau, Ra. Karena lelaki yang menghamili Agnes, adalah Kakak tirinya."


****


Besok kita kondangan yuk ceman-ceman, kasih amplop isi duit ya, jangan isi sabun sama sampo, ups😶


Like dan Komen ya, see you again. Bbye❣️