
"Mas, apa tidak bisa dibicarakan baik-baik?" tanya Papa Bilmar.
Papa Galih tertawa sekilas untuk menutupi rasa malu nya. Mengapa bisa kejadian ini terjadi tepat ketika dua keluarga sedang berkumpul. Papa Galih merasa tidak punya muka dan harga diri.
"Apa yang harus dibicarakan lagi, Mas? Semua sudah jelas. Lagi pula sudah waktunya, saya dan istri untuk kembali pulang. Kasian adik-adiknya Gifa, sudah menunggu kami di rumah." kilah Papa Galih.
"Pah, jangan marah sama Gifa ya. Tetaplah di sini dulu Pah." Maura menggenggam tangan Papa Galih. Lelaki itu pun tersenyum dan mengelus puncak hijab Maura.
"Papa titip Gifa padamu, dan jaga kandungan mu, Ra. Ada cucu---" Papa Galih menghentikan ucapannya.
Cucu? Cucu siapa yang akan ia maksud? Cucunya kah? Sebelum ia semakin lancang dan malu, Papa Galih lebih memilih untuk menggantinya dengan bahasa yang lain.
"Ada anak kalian didalam, dijaga baik-baik ya." semua yang mendengar terenyuh. Hati Gifali dan Maura begitu tersentak. Untuk mengucap kata cucunya saja, sepertinya lidah Papa Galih kelu dan tercekat.
"Saya pamit, Mas, Mba. Kami pulang duluan. Terimakasih selama di sini sudah menjamu dan memberikan kami tepat untuk menginap." ucap Papa Galih.
"Sama-sama, Mas. Tapi apa tidak sebaiknya pulang saja bersama kami?" Mama Alika tetap bernegosiasi. Papa Galih menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Terimakasih Mba, tapi saya dan Difa akan tetap pulang sekarang."
Papa Galih kembali menatap Gifali, menghela napasnya berat lalu mengusap rambut anaknya yang tidak berantakan sama sekali.
"Papa pulang ya, Kak. Kalau ada apa-apa, hubungi Papa dan Mama ya. Pintu rumah selalu terbuka untuk Kakak kapan saja." Papa Galih memeluk sang anak dan mengecup dahinya. Mengelus-elus kedua lengan Gifali yang masih menangis.
"Ayo, Mah." ucap Papa Galih lalu melangkah kedepan dengan membawa lagi dua kopernya, Papa Bilmar pun menemani lelaki itu untuk beranjak keluar. Pramudya dan Malik seketika bangkit ingin mendekat. Namun langkah Papa Galih sudah melesat cepat.
Papa Galih sengaja tidak ingin menoleh atau memberi mereka berdua celah untuk berbicara. Ia takut emosinya kembali naik. Sampai kapanpun, mereka berdua sulit untuk dimaafkan. Walau dalam kata lain, semua ini bukan kesalahan mereka semata.
"Mah, di sini dulu ya. Jangan pulang, Mah." Gifali memeluk Mama Difa. Air mata wanita itu pun terlihat surut, walau permukaan wajahnya masih basah.
"Biarkan Papamu untuk berfikir, Nak. Papamu masih kaget, Papa syok sekali dengan kejadian di hari ini. Berikan Papamu ruang untuk mengobati lukanya."
"Kakak pasti hapal bagaimana sifat Papamu kan?" Mama Difa meminta Gifali untuk menerima dulu.
"Jangan takut Kak, Mama dan Papa enggak akan tinggalin kamu. Benar apa kata Papa, adik-adikmu sudah lama ditinggal. Mereka sedang ujian. Di sini kan ramai, ada mertuamu, istrimu dan juga---" Mama Difa menjeda suaranya lalu menoleh ke arah Pramudya dan Malik.
"Ada Ayah dan Pamanmu." Mama Difa mengakhiri kalimatnya dengan kecupan di pusaran rambut anaknya. Menahan gejolak tangis yang semakin ingin membuncah keluar.
Maura mengangguk dan mengusap lembut punggung Mama mertuanya. "Iya, Mah. Maura pasti akan jagain Gifa." dua bola mata Maura berkaca-kaca.
"Mba, aku pamit ya. Makasih banyak." ucap Mama Difa lalu memeluk Mama Alika.
"Sabar ya, banyakin istighfar Mba, cobaan hanya ingin membuat kita untuk naik derajat. Kabari ya kalau sudah sampai." Mama Alika menguatkan hati Mama Difa.
"Iya, Mba. Makasih banyak."
Lalu Mama Difa menoleh ke arah Pramudya dan Malik.
"Tolong jaga Gifali, Pram. Aku percayakan padamu." ucap Mama Difa kepada Pramudya. Hatinya pun sakit ketika mengatakan hal itu. Ia harus bisa membagi Gifali dengan tangan terbuka.
"Pasti akan saya jaga. Terimakasih karena selama ini kalian sudah mencintai anak saya dengan tulus. Maafkan atas kesalahan saya dan Gita yang akhirnya menjadi beban di rumah tangga kamu. Saya sangat berhutang budi kepada kamu dan Galih."
"Gifali bukanlah beban, ia adalah harta berharga saya. Gifali tetap anak kami, Pram. Ia akan selalu memakai nama suamiku dibelakang namanya. HADNAN! Putra Gifali Hadnan!" suara Mama Difa terdengar lugas, ia kembali mengeja nama putranya.
"Ya, Nadifa. Saya tahu itu." jawab Pramudya singkat. Ia tidak bisa beragumen apapun.
Lalu
Mama Difa menoleh ke arah Malik. Lelaki yang wajahnya sudah babak belur karena dihajar suaminya. Malik masih bisa tersenyum menatap Mama Difa, seakan ingin mengatakan kalau ia ridho dengan perbuatan Papa Galih.
"Aku minta maaf atas nama suamiku, Pak. Sudah membuat kamu babak belur seperti itu." Mama Difa kembali menurunkan tatapannya. Ia tidak mau menatap wajah lelaki yang dibenci oleh suaminya itu, lama-lama.
"Sudah saya maafkan sebelum kalian meminta maaf. Wajar jika Galih marah, ini memang kesalahan saya. Maafkan atas kelancangan saya Difa." jawab Malik dengan wajah memelas. Mama Difa pun hanya bisa mengangguk sebagai respon darinya.
Dan pulanglah keluarga Hadnan kembali ke Indonesia. Dengan hati yang patah dan remuk. Roda kehidupan memang tidak ada yang menebak, beberapa hari yang lalu Mama Difa dan Papa Galih datang ke London dengan perasaan haru dan bahagia. Namun ketika mereka kembali pulang dari London, hanya bisa membawa sejuta tangis yang menusuk dada dan menghujam hati.
*****
Udah dua episode ya.
Like dan komen ya guys, sehat terus yaa❣️