
Karena titahan istrinya, Gifali akhirnya mau bertandang lagi kerumah Pramudya. Mereka berniat datang pada jam makan malam. Tadi sore Maura sudah membuat kue brownis untuk Mertua dan Kakak tiri suaminya sebagai buah tangan.
Dan saat ini mereka sudah ada diperjalanan menuju rumah Pramudya. disepanjang perjalanan, Gifali terus saja bersenandung shalawat sambil mengelus perut istrinya. Maura tersenyum senang, sesekali mengelus dagu suaminya yang semakin lengket saja dengan dirinya.
"Maaf ya, Pak. Kalau risih lihat kami. Ini istri saya, dia sedang mengandung. Ada tiga anak didalam perutnya." ucap Gifali ketika menangkap wajah pengemudi sopir tengah memperhatikan mereka dari spion tengah.
"Oh pantas. Nempel terus kaya perangko." sopir ikut terkekeh.
"Tak perlu menjelaskan kepadanya kalau aku sedang hamil, sayang." bisik Maura dengan nada penuh penekanan.
"Biarin, Ra. Biar dia ikut ketularan senang." Gifali tertawa lalu menurunkan kepalanya untuk kembali mencium perut istrinya.
"Aku akan memberikan nama untuk mereka dengan insial nama dari ketiga Papa kita, bagaimana cinta?" Gifali mendongak dan menatap wajah istrinya. Ingin mengetahui bagaimana respon dari Maura.
"Iya sayang, aku setuju." jawab Maura. Tangannya tidak lepas untuk terus mengusap lembut punggung Gifali.
Suaminya itu kembali bersenandung shalawat. Menyerukan untaian tasbih dari kedua bibirnya.
*****
Terlihat mobil taxi yang membawa Gifali dan Maura sejak tadi sudah berhenti didepan rumah mewah Pramudya.
Setelah membayar taxi, Gifali turun lebih dulu dari pintu mobil, ia memutar langkahnya cepat untuk membukai Maura pintu. Maura tersenyum ketika melihat sikap suaminya yang jadi berbeda setelah mengetahui ada tiga anak didalam perutnya.
"Sini aku aja yang bawa." Gifali melepaskan tas yang sedang bertengger dilengan istrinya dan meraih bungkusan kue yang ada digenggaman tangan Maura.
Oh, manis sekali Gifali. Sebegitu perhatiannya kepada Maura.
"Sayang enggak perlu." Maura mau meraih tas nya yang sudah Gifali letakan di lengannya.
"Gak apa-apa, aku hanya tidak ingin kamu letih sayang." jawab Gifali. Ia menghindar ketika istrinya mau meraih tas itu kembali.
Maura mendesah pasrah. "Ya sudah kalau begitu, makasih ya sayang." jawab Maura. Gifali menggandeng tangan istrinya untuk bersiap membuka pagar rumah Ayahnya.
Gifali mengetuk dan mengucap salam setibanya langkah mereka sampai didepan daun pintu. Ada rasa was-was di hatinya. Karena memang Gifali tidak memberitahukan dulu kedatangannya kepada Pramudya. Ia hanya asal datang dengan terkaan insting kuat kalau Ayahnya itu pasti ada dirumah.
Tak berapa lama pintu utama pun terbuka, dan munculah wanita paru bayah yang masih terlihat muda memberikan senyum merekah.
"Masya Allah, baru aja kita mau ke rumah kalian." seru Tamara. Wanita itu memang sudah rapih dengan dress panjang yang membalut indah tubuhnya.
Mendengar ucapan Tamara, Maura dan Gifali hanya ber oh panjang berjamaah.
"Tapi kita sudah kesini duluan, Bu. Maaf ya, tidak bilang dulu." Maura menjawab.
"Siapa, Mah?" ada suara dari arah lain yang tengah melangkah menuju istrinya.
"Masya Allah, putraku yang datang." seru Pramudya, wajahnya terlihat bersinar. Ia langsung berhambur untuk memeluk Gifali. Mengunci tubuhnya seperti orang yang tengah merindu berat. Jujur, Pramudya takut kalau Gifali berubah benci kepadanya.
"Padahal Ayah dan Ibu baru saja ingin mendatangi rumah kalian untuk mengajak makan malam diluar." ucap Pramudya melepas dekapan itu. Maura beringsut untuk mencium tangan mertuanya. "Terserah mau nya Ayah saja sekarang, kami ikut." jawab Gifali.
"Adrian dan Agnes pun sudah siap, tapi sepertinya masih dikamar. Lebih baik kita tetap makan malam diluar saja ya." sahut Tamara.
Ngomong-ngomong, Agnes sudah mau berdamai dengan keadaan, bukan karena ia sudah mengikhlaskan Gifali. Tetapi karena ia ingin mundur selangkah untuk lompat dua puluh langkah. Ia harus menjalankan dramanya agar bisa berjalan maksimal. Ia tetap ingin menyingkirkan Maura dari hidup Gifali. Walaupun di awal nya ia harus bisa menerima pil pahit kalau Gifali sudah termiliki oleh wanita lain.
"Baik, Bu." jawab Gifali dan Maura bersamaan. "Oh iya, ini Maura buatkan kue, semoga enak ya." ucap Maura lalu menoleh ke arah suaminya. "Ini, Bu." Gifali menyodorkan bungkusan kue yang ia bawa sejak tadi.
"Makasih ya, Nak." jawab Tamara, lalu mempersilahkan mereka untuk masuk dulu sebelum akhirnya berangkat bersama ke restauran.
*****
Tibalah mereka berenam di sebuah restauran mahal di kota ini. Terlihat wajah mereka semua berbahagia. Terutama Pramudya yang sedari turun dari mobil terus merangkul Gifa dan Adrian secara bangga. Kemarin Adrian sempat bertanya kepada Pramudya, apakah rasa sayangnya akan berubah karena sudah ada Gifali sekarang. Tapi Adrian akhirnya bernapas lega, karena Pramudya bilang ia tetap mencintai Adrian seperti anak kandung sendiri.
Lalu, bagaimana dengan Agnes?
Wanita itu melangkah berbarengan dengan sang Mama dan Maura. Terus menatap punggung Gifali yang ad dihadapannya. Tatapannya nanar dan sendu. Ingin berhambur untuk memeluk, namun sulit untuk dilakukan.
Oh, bukannya sulit. Tapi waktunya belum tepat. Dan sorotan mata Agnes itu dapat tertangkap jelas pada pandangan mata Maura.
Wanita hamil berhijab itu, sedikit mendenguskan napas. Ia cemburu dan kesal. Tapi ia ingat dengan pesan Dokter, kalau dirinya tidak boleh emosi, sedih atau stress.
"Makasih sayang." jawab Maura lembut. Sikap romantis mereka sangat membuat kedua mata Agnes tercemar.
"Ingin ku tusuk wajahmu dengan garpu." gumam Agnes menatap Maura.
Gifali dan Maura tidak mau membahas tentang masalah pernikahan mereka kembali. Karena mereka tahu orang terkahir yang belum tau kalau mereka belum menikah adalah Agnes. Dan Agnes pastinya sudah tahu perihal masalah ini dari Pramudya dan Tamara.
Tak lama kemudian makanan yang dipesan sudah datang dan tersaji dengan baik di atas meja. Namun Maura sedikit berbisik ditelinga suaminya.
"Boleh aku pesan yang lain, Gifa? Aku ingin makan sup makaroni pedas." ada suara decakan saliva dari dalam mulutnya. Sebut sana Maura tengah mengidam.
Gifali menoleh. "Gak boleh, Ra. Aku gak izinkan kamu makan yang pedas-pedas."
Pramudya tersenyum. "Sedikit saja tidak apa-apa, Nak. Kasian istrimu--"
"Sedang ngidam rupanya." selak Tamara tertawa.
"Turutin aja kemauan Maura, Gif. Nanti anak lo ileran." sambung Adrian sambil memasukan potongan daging kedalam mulutnya. Dan Agnes hanya bisa diam menatap makanannya, menelan air ludah karena kekesalan tengah bercokol hebat di dadanya.
"Gak bisa Yah, Bu, Kak. Kata Dokter Maura harus ketat menjaga makanan yang akan ia konsumsi dan memperhatikan segala aktivitasnya. Tidak boleh stress dan emosi. Karena saat ini Maura tengah mengandung tiga anak didalam perutnya." Gifa mengusap kembali perut Maura.
Dan berkat penjelasan itu membuat Agnes tersedak hebat. Karena baru saja ia menekan masuk makanan yang sejak tadi ia kunyah kedalam kerongkongan.
Semua hening dan menatapnya. "Maaf." buru-buru Agnes meraih gelas yang berisi minuman lalu menenggaknya. Setelah itu ia berlalu untuk pergi ke toilet.
"Aku sudah tau sekarang, apa yang seharusnya aku lakukan padamu, Maura." gumam Agnes di benaknya. Ia terlihat menyugingkan senyuman sambil melangkah pergi.
Semua keluarga di meja makan hanya menatap Agnes tanpa kata. Mereka tahu gadis itu tengah kecewa. Karena jalin cinta nya dengan Gifali tidak akan bisa bersambut.
Pramudya, Tamara dan Adrian mengulas senyum kebahagiaan. Mereka sangat antusias dengan kehamilan Maura. Pramudya Sangat bangga kalau sebentar lagi ia akan mendapatkan cucu.
"Coba cek rekeningmu. Ayah sudah mengirimkan sejumlah uang." ucap Pramudya, ia kembali memasuki ponsel ke dalam kantung bajunya.
"Tidak usah, Yah. Gifa masih punya uang." jawab Gifali.
"Pramudya adalah Ayah kandungmu, Nak. Beliau berhak." sambung Tamara.
Lalu Maura menyentuh bahu Gifa. Seraya kode kalau Gifa harus menerima dan menghormati apa yang telah Ayahnya berikan.
"Walau Ayah memberikanmu uang, dimata ku kamu tetaplah suami yang mandiri. Senangi hatinya Gifa." bisik Maura pelan tepat ditelinga suaminya.
Maura seketika menjauhkan wajahnya untuk menatap suaminya lebih jelas. Mengapa Gifali tidak membalas ucapannya walau hanya dengan anggukan pelan.
Maura mengikuti cepat arah mata suaminya yang tengah fokus menatap sesuatu di hadapannya.
Dan
Blass.
Dada Maura begitu terasa sesak, ketika Gifali dan Agnes saling menatap dalam jauh. Agnes terhenti dipertengahan langkahnya, mencoba memberikan senyuman tipis dan Gifa membalasnya.
"Aku harus bicara empat mata dengan Agnes. Agar rahasia Maura aman di kampus." gumam Gifali dalam hatinya.
Maura yang tidak tahu arti tatapan Gifali itu hanya bisa mendenguskan napas pelan. Rasanya begitu sesak, dirinya amat cemburu.
"Apa-apaan kamu, Gifa! Bisa-bisanya kalian saling melemparkan senyum seperti itu!" decak Maura membatin.
Sebenarnya tatapan yang Gifa layangkan kepada Agnes hanyalah tatapan biasa. Hanya rasa hormat sebagai saudara. Namun karena Maura tengah hamil dan hormonnya suka berubah-rubah.
Membuat ibu hamil itu menjadi gusar dan tidak enak hati. Dan di detik setelahnya, Maura terlihat merajuk. Wanita itu tenggelam dalam rasa cemburu dan terkaan buruk yang ia buat sendiri.
*****
Like dan Komen ya guyss❣️
Sehat selalu ya kalian.