My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Maaf, Kak.



"Ya Allah ... Gifa!" seru Adrian ketika baru saja membuka pintu kamar perawatan adiknya.


Wajah nya melongo, mulutnya menganga dan bola matanya berpendar kesana kemari, tidak percaya dengan apa yang sedang ia saksikan sekarang.


Ada gempa kah? Sore-sore begini?


Meletakan terlebih dulu makanan yang ia bawa di meja, lalu beringsut cepat untuk berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan Gifali. Lelaki dihadapannya itu duduk sambil menyandar di pintu lemari dengan lemah serta wajah yang sudah basah karena air mata.


"Lo kenapa, Gif?" tanya Adrian. Ia memegang kedua lengan Gifali. Sedikit menggoyangkan tubuh itu, ketika lawan bicaranya hanya terdiam sendu menatap ke atap langit.


"Kenapa?" kini hentakan itu semakin keras. Membuat Gifali terlonjak, ia menurunkan tatapannya lalu menatap Adrian.


"Maura kabur." suara yang terdengar pasrah.


Rasanya kornea mata Adrian ingin terlepas. Ia kaget bukan main.


"Kok bisa?" jawabnya tak kalah nyaring dan ikut panik. Gifali kembali menggeleng lemah, ia memilih untuk memejamkan mata. Berharap Maura bisa mendengar suaranya dari sini walau hanya dengan telepati batin.


"Padahal tadi malam tuh, pas gue wa---"


"Apa?" seketika Gifali beralih cepat menatap Adrian. Ia tersentak.


"Tadi malam, apa?" Gifa menatap lurus bola mata Adrian yang semakin membeliak. Lelaki itu mendadak gugup, ia gelagapan. Langsung berdiri dan memunggungi Gifali.


Bisa mati dirinya, jika Gifali tahu, ia lah yang memberikan kabar tentang sakit lelaki itu kepada Maura. Sungguh, mau menolong orang saja, rasanya kenapa sangar sulit sekali.


Gifali yang masih kaget, pun ikut berdiri. "Tadi malam, apa?" ulanginya dengan nada suara yang sudah meninggi.


"Kak!" seru Gifali. Ia membalikan tubuh Adrian dengan kasar. Menatap tajam bola mata Kakaknya. "Kamu bertukar pesan dengan istriku? Kamu beritahu dia kalau aku sedang---"


Adrian semakin tersudut. Ia tidak punya pilihan untuk menangkis. Ia menatap adiknya lugas dan menganggukan kepala.


Kedua bola mata Gifali melotot hebat. Matanya memicing dengan kedua alis yang menaut. Terlihat raut wajah nya merah seperti tomat, ia sangat kesal. Napasnya begitu memburu.


Dan kemudian.


BUG.


Gifali melepas pukulan panas tepat di wajah Adrian. Lelaki itu terhuyung dan terus merancau kata maaf. Gifali semakin naik darah, masalah kepergian Maura membuat ia menjadi frustasi. Dan tepat ada Adrian, kini lelaki itu menjadi sasaran pelampiasan emosinya.


"Kamu lancang, Kak!" Gifali berteriak sambil menarik kerah baju Adrian.


Dan.


BUG.


Gifali kembali memukul. Ia sudah tidak sadar, jiwanya penuh dirasuki rasa amarah.


"Maaf, Gif. Gue hanya mau bantu, Lo!" ucap Adrian membela diri.


"Bantu apa? Kamu buat aku dalam masalah sekarang!" Gifali geram.


Adrian yang sudah bersimpuh di lantai terlihat meringis kesakitan. Gifa masih saja di rasuk emosi. Ia ingin kembali memukul Adrian namun dengan cepat ada tangan lain yang menghentikannya.


Pramudya memeluk Gifali dari belakang dan menjauhinya dari Adrian.


"Lepas, Yah!" Gifali meronta. Namun sang Ayah tetap memeluk perutnya dari belakang, ia merasakan sekali napas anaknya yang terengah-engah.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berkelahi?" seru Pramudya disertai wajah takut, bingung dan cemas tepat dibelakang tengkuk Gifali.


"Adrian ... Ada apa?" kedua matanya beralih menatap Adrian.


"Gifa emosi, Pah. Dia salah faham." jawab Adrian. Gifali terlihat sedikit menunduk dengan peluh yang sudah bersarang di sekujur tubuh.


Adrian memegang bibir seraya mengusap darah yang terpercik di sudutnya. Ia mengatur ritme napas nya untuk menjadi normal kembali. Sebelum berbicara jujur dengan Ayah dan Gifali yang masih dalam emosi.


"Maafin gue, Gif. Selama ini Maura selalu wa gue untuk nanya keadaan lo selama di London, dibelakang lo. Gue hanya bisa nurut, saat dia bilang gue jangan kasih tau, lo!"


"Karena gue sedih lihat lo, gue ikut ngerasa bersalah dengan awal masalah yang dibuat oleh Agnes, membuat rumah tangga kalian menjadi runyam. Gue ingin Maura kembali memperhatikan lo." nada Adrian terdengar lirih, rasa penyesalannya masih kentara. Bagaimanapun Agnes adalah orang yang patut untuk disalahkan.


"Makanya gue kasih tau tentang keadaan, lo. Gue mau Maura iba, Gif. Itu aja! Dan maafin gue, kalau Maura malah kabur sekarang."


Gifali masih menunduk lesu dan tanpa sekat mendengarkan setiap penjelasan Adrian dengan detail. Terlihat ia amat menyesal memperlakukan Adrian seperti itu. Pramudya yang mendengar ujung kalimat ikut tertohok.


"Kabur? Maura kabur?" lelaki setengah abad itu berseru berulang-ulang kali.


"Iya, Yah. Istriku kabur." jawab Gifa pelan. Ia kembali gegana.


"Sudah di cari?" tanya Pramudya lagi.


"Maafin gue, Gif." Adrian kembali meminta maaf.


Gifali mendongakkan wajah dan menatap Adrian. "Maura itu nekat, Kak! Makanya aku bilang sama kamu tolong rahasiakan masalah ini, karena takutnya dia akan----"


Suara Gifali terjeda. Adrian dan Gifa saling bersitatap. Mencari-cari kesamaan yang mungkin sedang mereka fikirkan.


DEG!


"Gif ..."


"Iya, Kak."


Mereka saling berseru dalam anggukan kepala. "Lo sepemikiran sama gue, Gif?"


Gifa mengangguk mantap. "Apa mungkin, Kak?"


Adrian mengangguk. "Ayo sekarang kita kesana!" ajak Adrian. "Eh--tapi, lo kuat Gif?"


Gifali mengangguk. "Ayo."


Dengan cepat ia melepaskan dirinya dari dekapan Pramudya, kemudian melepaskan langkah dengan pakaian Rumah Sakit menuju pintu.


"Et, et! Kalian mau kemana?" Pramudya terkesiap, dengan cepat menarik lengan Gifali.


Ia bertambah bingung dengan sikap kedua anaknya yang cepat berubah. Padahal belum ada hitungan lima menit, mereka masih terlibat pertengkaran. Namun sekarang sudah kembali baik.


"Mau kemana? Kamu sedang sakit, Gifa!" tahan Pramudya.


"Oh iya, lupa kalau ada Ayah di sini." Gifa mengusap wajahnya gusar. Ia sampai tak faham mengapa dirinya bisa seperti ini. Tak terkendali, malah sampai memukul Kakaknya. Ia mengutuk dirinya sendiri.


"Gifa mau pergi sama Kak Adrian, Yah. Kami mau cari Maura."


Pramudya menyerengitkan dahi. "Mau cari kemana? Ini London! Bukan Indonesia." Pramudya mencoba mengingatkan jikalau kedua anaknya itu lupa akan negara yang sedang mereka pijaki. Lelaki itu pun cemas ketika mengetahui sang menantu kabur, tapi bagaimana cara mencarinya. Sedangkan mereka berbeda jarak dan tempat.


"Justru itu, Pah. Makanya kita mau cari Maura di sini." sahut Adrian. Dan diiringi dengan anggukan kepala dari Gifali.


Pramudya semakin dibuat tidak mengerti. Kening nya mengkerut-marut "Maksudnya bagaimana?" tanyanya lagi.


"Gifa yakin Maura nekat pergi menyusul Gifa seorang diri kesini, Yah."


"Dan kita akan mencarinya di Bandara."


DEG.


Jantung Pramudya berdetak kencang. Ia menatap manik mata kedua anaknya secara bergantian. Termenung, karena tidak percaya. Wanita yang belum genap berusia dua puluh tahun sedang hamil besar, pergi sendirian? Yakin melakukan hal itu?


"Rasanya tidak mungkin, Nak----" ucapan Pramudya kembali terjeda, ketika ia melihat dua anak lelaki nya itu sudah mencium tangannya secara paksa dan berlalu dengan cepat meninggalkannya.


Adrian dan Gifali mengambil langkah panjang untuk pergi dari Rumah Sakit.


"Ini lo pakai jaket gue!" Adrian melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Gifali.


"Biar suster-suster enggak tau kalo lo pergi sementara."


Gifali mengangguk lalu memasang jaket itu ditubuhnya. Ia berjalan dengan sedikit menundukkan kepala. Mereka terus berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit menuju parkiran mobil.


"Maafin aku, Kak." ucap Gifali menyesal. Adrian menghentak lembut bahu adiknya. Lelaki baik hati itu pun tersenyum.


"Gue ngerti, Kok."


Gifali mengangguk dengan senyuman, hatinya mulai kembali temaran.


Tidak sedikit Perawat yang bertemu dengan Gifali, memandang raut aneh. Bukan karena mengenali wajah lelaki itu, tetapi ia mengenali celana yang sedang dipakai oleh Gifali.


"Seperti celananya pasien Rumah Sakit?" gumam Perawat yang melewati mereka dengan arah berlawanan. Adrian dan Gifali pun faham, mereka semakin memperpanjang langkah agar cepat sampai di tempat parkir.


Tak lama kemudian.


"Gifa ... Adrian!" seru Pramudya, namun sayang ia kalah cepat. Mobil anaknya sudah meninggalkan tempat parkir. Napas lelaki itu terengah-engah hebat, seperti habis berlari marathon.


Pramudya menghembuskan napas panjang lalu mendongak menatap langit seraya berdoa. Agar semua anak-anak serta menantunya selalu dalam perlindungan Allah SWT.


Dan melesat lah Gifali yang masih lemah menuju bandara, untuk menunggu, mencari dan mengecek, apakah betul Maura pergi ke London hari ini dari Indonesia? Jika ia, maka lelaki itu akan sigap menunggu sampai istri tercintanya tiba.


***


Like dan Komennya ya guyss❤️