My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Eks Part One



Seneng gak dapet notif, isinya bonchap? Hehe. Ini kado dari ku. Karena bulan inii level MSW naik guys🌾🤗.



Alhamdulillah Wasyukurillah, banyak yang sayang sama Abang Gifa dan Kakak Maura. Makasih banyak yah❤️❤️


***


Keluarga kecil Gifali Hadnan kembali berbahagia. Walau mereka harus menunda kepulangan menuju Indonesia, Gifali sedih karena harus menunda lagi keinginannya untuk menguliahi Maura. Saat ini istri tercintanya itu diketahui sedang mengandung buah hatinya kembali.


Kehamilan kedua, atau bisa disebut mengandung anak ke empat dan ke lima. Karena menurut pemeriksaan Dokter, bayi mereka kembar lagi dan berjenis kelamin perempuan.


Tepat bulan ini, kandungan Maura sudah memasuki usia lima bulan. Perutnya sudah terlihat membuncit. Dan selama hamil hanya Pradipta yang mau mendekat. Sedangkan Geisha dan Bisma menjauh. Mungkin mereka masih belum mengerti tentang perubahan bentuk tubuh Bundanya.


Kedua anak itu cemburu, ketika melihat sang Bunda suka mengelus-elus perutnya, kadang berbicara lembut dengan dua buah hati yang masih berada didalam tubuhnya tersebut. Walau Maura berkali-kali menjelaskan, tentang kandungannya.


Geisha dan Bisma kadang mencebikkan bibir dan sedikit menitikkan air mata, ketika mengetahui sikap perhatian Bundanya kepada calon adik mereka.


"Adek minum susu, ya?"


"Ndak ..." Geisha menepis botol susu dari tangan Maura. Anak itu memang sedang konsen menatap acara televisi.


"Kenapa, Nak?" tanya Maura lembut, ia sedikit membungkuk untuk mengambil botol susu yang berguling ke bawah.


Raut wajah Maura getir, ia tahu anak perempuannya itu tengah cemburu. Ia menoleh ke arah Bisma. Dan anak lelaki itu hanya diam saja, menoleh sesaat dan kembali untuk menatap acara kartun.


"Kakak, mau susu?" Maura menawarkan. Dan Bisma hanya menggeleng.


Sakit sekali. Di diami anak sendiri, walau Bisma dan Geisha sejatinya belum mengerti akan apa yang tengah mereka rasakan. Entah mengapa setiap melihat perut Bundanya, mereka selalu menjauh.


"Bunda, aku basah ..." seru Pradipta.


Anak ketiganya itu, keluar dari kamar mandi dengan baju yang basah. Seperti biasa, ia pasti akan bermain air sendirian. Bocah yang sebentar lagi akan menginjak usia empat tahun, sudah lebih jelas dalam berbicara.


Maura meletakan botol susu di meja, kemudian berlalu menghampiri Pradipta.


"Adek main air terus sih, Nak? Nanti kamu masuk angin." ucap Maura. Ia menanggalkan pakaian dan celana Pradipta. Memasukan baju basah kedalam mesin cuci. Lalu menggandeng Pradipta menuju kamar.


Maura duduk ditepi ranjang, mengusap kebasahan Pradipta dengan handuk. Anak lelaki itu terus saja merancau dengan robot gundam ditangannya.


"Ciat ... ciat!" seru Pradipta.


"Diam dulu, Dek. Ini Bundanya susah." decak Maura ketika akan memasangkan baju ditubuh anaknya itu.


Pradipta tersenyum dan mengangguk. Ia terlihat mengelus-elus perut Maura. "Ih, gelak-gelak, Bunda." ucapnya tertawa. Membuat Maura ikut tertawa.


"Kamu bentar lagi jadi Kakak, harus jagain Adek ya."


"Iya, Bunda." jawab Pradipta. Lalu ia membungkuk untuk mencium perut Bundanya. Mengusap-usap dan menempelkan daun telinga di perut Bundanya.


"Suala apa itu, Bunda?"


"Detak jantungnya Dedek bayi, Nak." Maura mencium pusaran rambut Pradipta. Mengelus lembut punggung anak lelaki itu.


Pradipta mendongak, ketika mendengar isak tangis pelan dari Bundanya.


"Kok, Bunda nangis?" tanya Pradipta sambil menyeka air bening yang terlihat menggenang di pelupuk mata Maura.


Maura menggeleng samar dan tersenyum. "Senang Bunda, kalau Kakak sayang sama Adek." Maura mengelus kembali perutnya.


"Aku sayang Bunda dan Adik." Pradipta mencium pipi gembul Maura dan memeluk wanita itu.


Maura pun menerimanya dengan hangat. Namun hatinya kembali bergejolak, ketika ia tidak sengaja, menoleh ke ambang pintu kamar. Ada empat mata yang sedang melihat keintiman dirinya, Pradipta dan si calon bayi.


"Kakak ... Adek, sini, Nak." Maura melambaikan tangan ke arah Bisma dan Geisha. Namun dua anak tersebut hanya diam, seraya menggeleng dan kembali pergi ke ruang televisi.


"Ya Allah ..." desah Maura.


***


"Bunda kenapa?" suara yang amat meneduhkan hati kembali terdengar.


Gifali mematikan air keran di wastafel. Lalu menggandeng istrinya untuk duduk di meja makan. Ketika ia ingin ke kamar mandi, tidak sengaja mendengar suara istrinya yang tengah menangis di depan wastafel pencucian piring.


Maura memang sedang mencuci piring-piring kotor bekas makan malam mereka barusan. Baru saja menghempaskan bokong di kursi, Maura langsung menerjang suaminya dengan pelukan. Wanita hamil itu menangis terseguk-seguk.


"Kenapa sayang?" Gifali semakin gelisah. "Ada yang mau dibeli?" tanyanya lagi. Maura hanya menggelengkan kepala. "Bunda sedih, Yah." ucapnya terbata-bata.


"Sedihnya kenapa?" Gifali menarik paksa Maura dari pelukannya, untuk menatap jelas wajah istrinya. "Ada masalah? Apa aku buat salah?"


Maura menggeleng.


"Bisma sama Geisha kayaknya cemburu sama calon Adik-adiknya, Yah." Maura sedikit menghentikan gelak tangisnya.


Kening Gifali terlipat menjadi beberapa gelombang. "Masa, Bun?"


Maura mengangguk.


"Selama perutku terlihat besar, Kakak sama Adek agak lain sikapnya. Banyak diam, apalagi kalau mereka lihat Bunda elus-elus perut. Diam aja seharian, Yah."


Gifali tertawa. "Anak kita kan masih kecil, masa udah ngerti cemburu-cemburuan?"


Maura mendengus, memiringkan sudut bibirnya. Wanita hamil yang mood ya suka berubah-ubah itu langsung diam dan membalikan tubuhnya untuk memunggungi Gifali. "Aku lihat di internet, ada kok syndrom nya. Sang Kakak cemburu dengan adik yang masih di dalam kandungan." bibir Maura terlihat mengerucut.


Gifali mendesahkan napas dan kembali berujar. "Jangan ngambek dong, kan Ayah hanya bercanda." Gifa memegang kedua lengan istrinya dari belakang. Lalu melepas kecupan hangat di pangkal bahu Maura. "Jujur sih, aku juga merasakan keanehan." tukas Gifali.


Maura menoleh. "Tuh kan, bener. Ayah juga ngerasain, kan?"


Gifali mengangguk dengan helaan napas. "Waktu itu sih mikirnya paling hanya perasaan Ayah aja."


"Terus gimana dong, Yah? Kalau sampai Adik-adiknya lahir, sikap kedua anak kita tetap kayak gitu, gimana? Gimana?" Maura semakin menyudutkan Gifali. Ia terus mendesak agar suaminya berfikir. "Ayah sih enak gak di diemin, nah, Bunda. Di kacangin terus. Lihat kan tadi pas mau disuapin, Geisha gak mau." Maura kembali melipat bibirnya.


Gifali mengangguk seraya berfikir, seperti ingin melakukan sesuatu. "Ayo kita ke kamar." Ia meraih tangan Istrinya untuk digandeng menuju kamar.


***


Terlihat ketiga anaknya sedang sibuk bermain sendiri-sendiri di pusaran kasur. Geisha dan Bisma memilih menyudahi permainannya dan masuk ke balik selimut. Sedangkan Pradipta masih sibuk dengan robot gundamnya.


"Dek, bobo." seru Bisma kepada Pradipta. Karena Bisma tahu Ayah dan Bundanya sudah masuk ke kamar, itu tandanya mereka harus tidur.


Gifali dan Maura duduk di bibir ranjang. Menatap ketiga anaknya secara bergantian.


"Coba bangun dulu, terus duduk." titah Gifali. Ketiga anak kembarnya mengangguk. Mereka menyeka selimut dan duduk menyila menatap Bunda dan Ayahnya.


"Kalian udah kenalan kan sama Adik bayi?"


Dan hanya Pradipta yang mengangguk. Sedih sekali, ujung hati Maura terasa sagat perih.


"Kok cuman Adek yang ngangguk? Bisma sama Geisha?" tanya Gifa menatap dua anaknya itu secara bergantian.


"Coba kenalan dulu, terus pegang perutnya Bunda." titah Gifa. Geisha dan Bisma menggeleng. "Ndak ah, Ayah." cicit Geisha polos.


Gerakan dada Maura sudah terlihat naik turun. Air matanya ingin menetes.


"Lho, kenapa? Di dalam sini kan ada anak Ayah dan Bunda juga. Sama kayak Geisha, Bisma dan Pradipta. Adiknya cewek lagi, bisa nemenin Geisha main boneka dan main masak-masakan."


Mendengar ucapan itu, membuat bibir Geisha berbentuk huruf O. "Masa, Yah?" tanya anak itu berbinar. Seketika senyum sumringah mengalir indah di wajah cantiknya.


"Iya, Nak." sahut Maura. "Makanya sini, Adek kenalan dulu." ia meraih tangan Geisha untuk mengusap perutnya.


Geisha langsung menarik tangannya karena geli. "Gelak-gelak." serunya dengan wajah tidak percaya. Geisha kembali mengusap perut Bundanya berulang kali, dan akhirnya ia akan tertawa.


"Nanti kakak yang akan jagain Adek, makanya adeknya di sayang." ucap Gifali sambil mengelus kepala Bisma.


Maura menatap sendu ke arah Bisma. Lalu tersenyum, dan melambaikan tangan ke arahnya. "Sini, Kak. Usap nih perut Bunda."


Bisma tertegun. Ia masih membisu. "Kak, sini. Adek nya gelak-gelak." melihat Geisha tertawa -tawa sambil mengusap-usap perut Maura. Bisma pun tergelitik untuk mendekat.


Ia sepertinya penasaran. Karena sejujurnya selama perut Maura membuncit, dua anak tersebut tidak pernah mau menyentuh. Jika disuruh memegang saja, mereka akan mengelak.


Bisma mengangguk lalu beringsut mendekati Bundanya.


"Iya, gelak-gelak, Dek." ucap Bisma kepada Geisha.


Entah mengapa mereka langsung jatuh cinta kepada calon adik-adiknya. Wajah anak kembar itu tersenyum riang. Mereka malah fokus dengan perut Maura, berbeda hal dengan Pradipta yang kembali fokus ke robot gundam nya dan merancau sendirian.


Melihat sikap kedua anaknya yang sempat berubah, namun kembali normal. Membuat hati Maura kembali lega. Ia menatap suaminya dengan senyuman. Mengelus lembut pipi Gifali.


"Makasih, Ayah. Kembali menyatukan Bunda dengan anak-anak."


"Ucapan terimakasih nya, Ayah tagih pas anak-anak udah tidur ya." kelakar Gifali, sambil memberikan senyuman nakal dan kedipan di salah satu matanya.


"Adeuhh!" Maura hanya bisa memutar bola matanya jenga. Ia sudah tahu, suaminya akan melakukan apa nanti malam.


Kalau Gifali terus seperti ini, sudah dipastikan Maura akan mempunyai anak banyak. Haha.


****


Kalau komennya banyak, nanti akan aku kasih ekstra nya lagi, itu pun ketika aku enggak sibuk ya guys