
Setelah perdebatan semalam yang akhirnya membuahkan hasil, Maura tampak ceria kembali. Ia malah membuat banyak makanan untuk sarapan pagi hari ini.
"Duh banyak banget sayang masaknya." ucap Gifali yang sudah rapih dengan kemeja berwarna biru navy dengan celana jeans berwarna cream susu. Rambut hitam pekat nya terlihat licin karena sudab di oleskan gel rambut. Ia berdiri di ambang celah kamar menuju ruang tamu. Maura yang tengah berjongkok sambil mengisi air di gelas lalu mendongak, menatap senyum suaminya.
"Ayo sini sarapan dulu." titah Maura.
"Sebentar, Ra." Gifa kembali masuk ke dalam, Maura hanya membiarkan lelaki itu berlalu tanpa bertanya, ia fikir Gifali pasti ingin ke kamar mandi. Tahu nya ia kembali dengan sebuah handuk di tangan kanannya.
"Loh buat apa?" tanya Maura sedikit kaget, tentu tangannya tidak berhenti bergerak, ketika sedang menyendokan nasi ke piring suaminya.
Gifali duduk menyila. "Sini kamu duduk." Gifa menepuk bagian didepannya. Maura pun menurut.
"Kamu menghadap kesana." Maura mengangguk dan menghadap dinding, ia duduk memunggungi suaminya.
Gifa mulai menggosok-gosokkan rambut istrinya yang masih sangat basah. Maura tersenyum lalu mengayuh kan tangannya ke belakang untuk mengusap pipi suaminya.
"Baik sekali kamu sayangku." ucap Maura.
"Kamu juga baik semalam." Gifa terkekeh, seketika ia menghindar karena jari lentik Maura ingin mencubit lengan nya.
Memang semalam, Gifali kembali mendapatkan haknya setelah mandi dan makan malam. Maura mengizinkannya tanpa debat macam-macam, tanpa keluhan walau dirinya sedang lelah dan perasaannya masih tidak enak. Namun melihat Gifali yang tengah membara di rundung nafsu, ia pun ikut terpancing. Ia pun tahu dari perangai suaminya tadi malam, Gifali hanya berhasrat kepadanya, bukan kepada yang lain.
"Oh iya sayang, nanti setelah pulang sekolah aku ingin mengantar Ramona ya."
"Kemana?"
Dirasa suami sudah selesai menggosok rambutnya, Maura pun memutar tubuhnya untuk menatap suaminya. Terlihat Gifa sedang menunggu penjelasan dari istrinya.
"Sambil makan yuk, nanti kita telat kalau ngbrol terus tapi nggak makan."
Gifa pun mengangguk, memulainya dengan berdoa lalu mulai menyantap sarapan pagi yang sudah di siapkan oleh Maura.
"Enak banget sayang." pujinya. Maura mengangguk senang.
"Oh jadinya gimana?" Gifali menyambung obrolan mereka yang sempat terjeda.
"Ramona mau kerumah keluarga pacarnya, dia minta aku ikut. Katanya sungkan kalau sendirian."
Gifa mengangguk, ia terus saja memasukan sekumpulan nasi dan daging ayam kedalam mulutnya.
"Yang penting kamu hati-hati ya, jangan kelamaan di sana. Setelah selesai langsung pulang dan istirahat."
Maura mengangguk senyum, ia sudah tahu suaminya yang baik hati ini pasti akan mengizinkannya. Walau kebaikan suaminya itu, ia balas dengan cara berdusta. Entah bagaimana perangai Gifali jika tahu ia sudah dibohongi mentah-mentah oleh istrinya sendiri.
"Setelah selesai kampus, aku juga akan---"
Gifali menghentikan ucapannya. Ia takut jika mengatakan sebenarnya kalau ia ingin pergi ke rumah Pramudya, ia takut Maura akan minta ikut dan jika Gifali melarangnya, sudah dipastikan pagi ini Maura akan kembali merajuk dan berfikir yang aneh-aneh.
"Aku juga akan apa?" tanya Maura mengulangi, ia kembali menaruh tumisan sayur di piring suaminya.
Namun kejujuran adalah pondasi rumah tangga, Gifali tidak ingin menyematkan rumah tangannya dengan kebohongan. Ia menatap kasian kepada istrinya yang selalu mengurus dan merawatnya. Gifali meraih gelasnya, meminum seteguk untuk mendorong kumpulan nasi agar bisa berbicara dengan baik.
"Jadi begini, Ra. Aku diajak untuk makan siang di rumah Pak Pramudya."
"Beliau itu dekan kamu kan? Wah, ada apa sayang?" Maura menghentikan kunyahan nya. Saat ini ucapan Gifali lebih menarik dari pada sarapan paginya.
"Katanya sih hanya makan siang ajaa, dia juga ngajak kamu. Katanya, ajak adiknya ya sekalian."
"Terus?" dua bola mata Maura fokus menatap wajah Gifali yang kembali diam, menghela napasnya dalam.
"Kalau aku ajak kamu, takutnya dia curiga, Ra. Wajah kita kan gak mirip."
"Oh iya satu lagi, hampir aja aku lupa."
"Apa lagi?"
"Pak Pramudya menawarkan aku untuk bekerja di perusahaannya bersama anak lelakinya. Dia akan menggaji ku dengan upah yang cukup besar, dia bilang aku mampu. Tapi aku merasa, kalau aku----"
"Kamu merasa nggak sanggup?" selak Maura, dengan anggukan kepala lemah, Gifa mengatakan kata iya.
"Kalau nggak di coba, kapan lagi? Belajar teorinya kan udah di kampus, nah prakteknya di kantor. Hitung-hitung kamu cari pengalaman, tapi itu sih menurut aku sayang. Kalau kamu lebih suka di Kafe, aku tetap dukung." Maura tersenyum lalu menjawil pangkal hidung Gifali yang bangir.
"Kamu yakin aku bisa, Ra? Kamu juga mau aku kerja di sana?"
"Aku yakin kamu bisa. Hidup mandiri tanpa orang tua dan tetap menafkahkan istri aja kamu bisa sayang, apa yang harus aku ragukan?" jawab Maura, semangat Gifa yang sedari kemarin mulai redup, dan rasa sanggup yang selalu ia tepis kini kembali muncul karena semangat dari istrinya.
"Makasih ya sayang, ini semua buat kamu."
Maura tersenyum, ia senang sudah berhasil membuat suaminya percaya diri kembali. Tidak ada yang indah bagi suami, ketika sang istri memberikan semangat dan mendukung atas apapun yang suaminya lalukan.
Gifali beringsut untuk memeluk wanita itu dengan erat. Hatinya terasa lega karena sudah jujur dan Maura mau mengerti. Gifali akan terus melakukan hal itu didalam rumah tangganya. Ia sudah berjanji akan berkata jujur dalam masalah apapun kepada istrinya.
****
"Assalammualaikum, Tante." Gifali memberi salam, lalu mencium punggung tangan Tamara.
Tamara menyambut kedatangan Gifali dan Adrian di ambang pintu rumah mewahnya.
"Waalaikumsallam ..." jawab Tamara, wanita paru baya itu terperanjat, benar apa kata suaminya bahwa wajah Gifali sangat mirip dengan Sagita Haryani. Karena Tamara sangat hafal dengan wajah wanita itu, fotonya pun masih ia simpan. Walau Pramudya berkali-kali meminta agar foto antara dirinya dengan Gita, lebih baik dimusnahkan saja. Entah ia selalu enggan, mungkin karena suara hatinya tahu kalau suatu saat kebenaran akan datang.
"Apakah benar kamu anaknya suamiku?" gumamnya, ia terus menatap Gifa tanpa kedipan sama sekali. Menyusuri lekuk wajah Gifali yang sekilas mirip Pramudya, walau lebih dominan wajah Gifali mirip dengan sang Bunda.
Gifali merasa aneh di tatap seperti itu, ia pun menoleh ke arah Adrian yang berdiri tepat disampingnya. Adrian pun merasakan hal yang sama, ia jadi tidak enak hati dengan Gifa tentang sikap sang Mama, lalu menghentak pelan bahu sang Mama.
"Mah."
"Eh iya, maaf." Tamara terkesiap, mengelus dadanya karena kesadarannya benar-benar baru kembali. Jantungnya masih saja memburu, ia tidak menyangka ada orang yang semirip ini dengan Gita.
"Mah, Aku keluar dulu ya. Mau jemput Ramona." ucap Adrian.
"Gifa lo tunggu dulu di sini ya ama Nyokap gue."
Gifali mengangguk dengan raut yang terlihat gamang, ia seperti baru saja mendengar sebuah nama yang tidak asing ditelinga pendengarannya.
"Ramona?" cicitnya pelan.
"Kamu hati-hati ya, Nak." Tamara menjawab, mengusap kepala Adrian, ketika anak lelaki itu mengecup tangannya. Gifali terenyuh, ia rindu Mama Difa. Padahal sebelum Gifa sampai dirumah Adrian, Mama Difa sudah menelepon sang anak dari Indonesia.
"Aku rindu Mama." cicitnya sendu.
"Gue tinggal ya." Adrian melambaikan tangannya ke arah Gifa, dan kemudian berlalu.
"Ayo, Nak. Ikut Tante kedalam ya, ada adiknya Adrian, nanti Tante kenalin sama kamu." ucap Tamara merangkul Gifali untuk masuk kedalam.
*****
Ternyata bisa juga di up, yess gak boloss😂😂
Happy weekend sayang sayang❤️