My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Eks Part Four



Setelah kemarin acara pertunangan Ramona dan Adrian. Hari ini, di rumah Pramudya kembali mengadakan acara syukuran untuk kebebasan Razik, suaminya Agnes.


Kesedihan keluarga Pramudya kembali terasa, ketika Razik di tahan oleh polisi selama dua tahun terakhir karena masalah narkoba. Walau akhirnya semua bisa bernapas lega, ketika lelaki itu bisa bebas dengan cepat karena keberuntungan serta uang yang banyak.


Selama empat tahun terakhir ini, Agnes sudah sembuh dari narkoba. Ia bisa menjalani hidup normal layaknya wanita lain. Awalnya ia terpuruk ketika Razik di tahan, tapi ia tahu bahwa semua itu adalah keputusan Allah untuk mencuci dosa mereka.


Sama halnya dengan Maura. Agnes pun tidak lagi kuliah. Ia memilih untuk bekerja di kantor Pramudya dan mengurus anak satu-satunya, Rayna. Anak perempuan yang hanya berbeda bulan dengan para sepupunya, three G.


Selama tiga tahun ini, Agnes sudah mantap dengan hijabnya. Bajunya pun sekarang sudah gamis semua. Tutur katanya pun sangat ramah dan santun. Tamara, Pramudya dan Adrian sangat bangga melihat perubahan Agnes.


Sungguh luar biasa tobat sang pendosa.


"Kamu duduk aja, Ra. Dari tadi kamu banyak mondar-mandir bantu aku." ucap Agnes. Ia melepaskan nampan berisi kue dari tangan Maura ke meja dapur. Meraih sehelai tissu dan mengusap peluh yang bergerumun di pertengahan dahi Maura.


"Nanti kamu kontraksi, Ra. Aku bisa di omelin sama Gifa." sambungnya lagi disertai dengan tawa.


"Jangan khawatir, Nes. Hanya menyiapkan seperti ini saja tidak akan membuat aku letih sampai semaput. Haha." Maura berdalih.


"Oh, iya. Aku lupa. Kamu kan Bunda yang hebat bisa mengurus ketiga anak sekaligus. Mana lagi hamil, aku tidak bisa membayangkan keletihan mu setiap hari." Agnes melangkah sedikit ke pojok dapur untuk mengambil bangku agar Maura bisa duduk.


"Kami duduk dulu." titah Agnes.


Maura mengangguk lalu menghempaskan bokongnya dengan hati-hati di atas kursi dengan helaan napas panjang. Jujur, kehamilan kedua ini. Sering membuat Maura cepat letih. Perutnya memang lebih besar dibandingkan kehamilan pertama, walau saat itu ia tengah mengandung bayi kembar tiga.


Terkadang tanpa sepengetahuan Gifali, Maura sering mengalami keram di kaki sampai tidak bisa bangun. Kadang di tengah malam, siang atau sore, tiba-tiba Maura suka mengalami sesak napas, namun masih bisa ia kendalikan.


Belum lagi, Bisma, Geisha dan Pradipta semakin aktif dan banyak maunya. Tentu membuat Maura semakin kerepotan. Kadang marah, sedih dan suka menangis. Lagi-lagi ia hanya bisa menyembunyikan itu semua dari Gifali.


"Kayaknya kamu harus punya pembantu lagi, Ra. Hanya punya pembantu satu. Sepertinya tidak cukup. Anak-anakmu akan semakin besar, belum kamu harus mengurus bayi. Dan juga mengurus bayi besarmu jika malam." Agnes kembali tertawa.


Maura pun ikut tertawa. "Cukup satu saja dulu. Terlalu boros kalau sampai mengerjakan dua pembantu. Apalagi aku masih dirumah. Masih bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil. Dan Alhamdulillahnya, jika malam Gifa selalu bergantian untuk mengurus anak-anak kami. Mengajaknya bermain, dan suka terbangun kalau si kembar minta ke kamar mandi."


DEG.


Jantung sesosok lelaki yang akan masuk ke ambang pintu dapur tiba-tiba berdegup kencang. Langkah kakinya terhenti begitu saja, ketika mendengar sang istri mengelu-elukan namanya dengan segala pujian dan kebaikan.


Tiba-tiba saliva terasa banjir di mulut, namun sulit untuk di telan. Ia baru teringat kalau akhir-akhir ini sangat sibuk. Pulang selalu larut malam, sampai melewati makan malam bersama anak dan istri. Sungguh pujian Maura, tidak ada benarnya sama sekali.


Gifali memang sedang sibuk di kantor. Bahkan ia suka lupa untuk mengantar Maura kontrol ke Dokter. Lupa kalau weekend harusnya bermain bersama anak dan istrinya. Tapi, setelah sarapan menuju makan siang. Gifa akan terus berada diruang kerja.


Bahkan disaat, Maura ingin berbincang tentang perkembangan anak-anak mereka. Gifa tetap mendengarkan namun dengan tatapan tidak lepas dari komputer. Maura jadi malas, karena tidak terlalu diperhatikab. Sejak saat itu, ia memilih untuk diam saja.


Sampai terkadang Geisha menangis, ia bergeliat ditubuh Ayahnya untuk di temani bermain. Namun Gifa, hanya mendiamkannya saja ketika kedua matanya sedang fokus menyorot cahaya komputer. Pradipta dan Bisma pun sama, kedua anak lelaki itu selalu komplen kepada Bundanya, karena Ayah mereka selalu sibuk.


Lelaki berwajah tampan dan teduh itu, memang sedang menjalani proyek besar, dan keuntungannya pun sangat banyak. Hal itu akan ia jadikan sebagai tabungan ketika akan pulang ke Indonesia, untuk membiayai kuliah Maura, membeli rumah dan kebutuhan-kebutuhan untuk ke lima anaknya kelak.


Maura hanya bisa mendesahkan napas berat. Dengan perubahan suaminya selama dua bulan terakhir. Ia tidak pernah protes, walau sesekali ia ingin marah. Namun tidak bisa dikeluarkan dan akhirnya memilih untuk menangis. Terkadang ia sampai malas mandi dan makan, karena sudah stress memikirkan suaminya.


Ia tahu, dirinya sudah jadi Ibu dari tiga anak, tidak boleh lagi bersikap seperti anak kecil yang selalu ingin dimanja dan ditimang. Merasa sang istri tidak pernah menunjukan rasa keberatan, maka Gifali menganggap Maura baik-baik saja.


"Baik sekali Gifali. Dia memang lelaki yang baik. Kamu beruntung menjadi Aisyah nya." jawab Agnes. Ia hapal sekali dengan sebutan Aisyah, karena Gifa sering memanggil Maura dengan nama istri sang Baginda Nabi Muhammad SAW.


"Razik juga baik, dia sayang sama kamu, Nes." timpal Maura.


Agnes tersenyum. "Jodoh itu memang cerminan diri ya. Yang baik akan dipertemukan dengan yang baik. Dan pendosa akan ditemukan lagi dengan pendosa."


Maura mengelus lengan Agnes.


Agnes mengangguk. Bersyukurlah dirinya, bisa mendapatkan hidayah setelah melakukan hal keji.


"Kamu di sini dulu ya. Istirahat! Aku mau ke depan lagi." Agnes meraih kue-kue yang sedari tadi sudah ia bagi menjadi beberapa buah di piring. Mengangkat nampan dan berlalu. Namun, sesampainya di bingkai pintu dapur. Ia terlonjak kaget melihat Gifa sudah mematung di sana.


Baru ingin berdecak, Agnes lebih dulu merapatkan bibirnya karena ingin mengomeli, ketika Gifali memberi kode dengan satu jari yang ia letakan di depan bibirnya.


"Aku mau ke dalam." ucap Gifali.


"Ya." jawab Agnes singkat. Ia kembali melangkah untuk berlalu.


"Sayang ..."


Seruan meneduhkan membuat Maura yang sedang memperhatikan kedua kakinya yang sudah sangat bengkak lantas mendongak. Wanita gembil berhijab itu mengulas senyum menatap kedatangan suaminya.


Dua bola mata Gifali berpendar ke sudut dapur, dan ia senang menemukan satu bangku kosong di sana. Lantas di bawa dan diletakan disebelah kursi istrinya.


"Ayah ngapain kesini? Mau minum?" tanya Maura.


Gifali menggeleng. Raut wajahnya berubah sendu. Lelaki itu langsung menangkup kan wajah di pangkuan istrinya. "Maafkan Ayah, Bun."


Maura mengerjap tidak mengerti. "Maksudnya gimana, Yah? Bunda enggak faham. Kok tiba-tiba Ayah minta maaf?"


"Aku banyak melewatkan hari-hari bersamamu, di saat kandungan mu sudah tua seperti sekarang."


Mendengar alasan pemintaan maaf dari suaminya, membuat Maura kaget tidak percaya. Lelaki yang dua bulan ini sangat ia rindukan. Seperti menghilang, walaupun sebenarnya mereka sangat dekat.


Maura tersenyum. Rasa sesak yang sejak berbulan-bulan ini bercokol di dada, kini mulai terasa lega bersamaan dengan ucapan suaminya sekarang.


"Mungkin Ayah lupa kemarin. Bunda juga sudah memaafkan Ayah ..." jawabnya sambil mencium pusaran rambut suaminya. Gifali mendongak dengan mata yang sudah memerah.


"Ayah sampai tidak tau kalau Pradipta sudah bisa pakai celana sendiri, Bun. Dan banyak perkembangan anak-anak kita yang Ayah lewatkan hanya karena pekerjaan dan uang."


"Ayah membiarkan Bunda sendirian mengurus anak sampai malam. Bunda, tetap terbangun ketika Ayah kepalang lelap dan tidak bisa mendengar seruan mereka ketika menangis ingin ditemani pipis."


"Sudah dua bulan ini, Ayah tidak lagi membuatkan Bunda susu ... Maafkan Ayah, Bun ... Maaf." nada Gifali terdengar amat lirih. Ia menatap wajah istrinya dengan genangan air matanya yang akan menetes turun.


Maura hanya bisa mengulas senyum, dengan air matanya yang juga sudah menggenang. Ia seka bola-bola kaca yang sudah bergerumun di kelopak mata Gifali dengan ibu jarinya. Lantas mengecup dua kelopak mata itu secara bergantian.


"Bunda udah maafin Ayah, sebelum Allah menyadarkan Ayah untuk peka seperti sekarang. Jangan terlalu mengejar dunia, Yah. Karenanya, kamu melupakan hari-hari kebersaman dengan kami."


"Lakukan saja pekerjaan dengan porsimu. Jangan berlebihan. Uang bisa dicari, tapi masa-masa emas dan tumbuh kembang anak-anak kita tidak akan pernah terulang lagi."


Gifali mengangguk. Mencium tangan istrinya berkali-kali. "Makasih sayang." Ia beranjak untuk membungkuk. Memberikan banyak kecupan di wajah Maura. Sebelum akhirnya mereka berpelukan dengan derai keharuan.


"Nanti kita jalan-jalan ya, Bun. Kita Babymoon walau udah kepalang telat ..."


Maura mengangguk dan tersenyum bahagia. "Insya Allah ..."


***


Karena rumah tangga itu tidak akan pernah mulus-mulus aja kayak jalan tol. Bisa juga terjal dan berbatu. Ayo nih mau jalan-jalan kemana Bunda sama Ayah?🌺🌺