
"Jika bukan kau siapa lagi?" tanya balik Aldi.
"Aku tidak marah, Kau saja yang menyebalkan" jawab Naisa dan membuang tatapan nya dari Aldi, Dahi Aldi kembali mengerti mendengar jawaban Naisa karna setau nya dia tidak berbicara apa apa dari tadi tapi kenapa Naisa mengatakan nya menyebalkan.
"Kenapa jadi aku?" tanya Aldi yang bingung akan ucapan Naisa.
"Kau dari tadi hanya diam dan setelah itu terus terusan bertanya" jawab Naisa datar tanpa menatap Aldi.
"Jika dia marah diam kan saja dan tidak usah di tanggapi, Jika kau menanggapi nya dia akan semakin marah" ucapan Andini kepada nya tadi selalu terngiang saat Naisa marah marah kepada nya, Aldi memilih untuk diam dan tidak menjawab ucapan Naisa dari pada Naisa semakin marah kepada nya.
Naisa tidak melanjutkan perkataan nya lagi dan menatap kesal ke arah Aldi yang hanya diam saja. "Kenapa kau diam?" tanya Naisa dengan dahi yang mengerut kepada Aldi. Aldi tidak menjawab nya dan memilih membenarkan posisi nya untuk kembali beristirahat karna hari juga sudah larut, Biar pun Naisa mood nya sedang tidak bagus dia tetap membantu Aldi untuk kembali berbaring, Aldi memejamkan mata nya tanpa menoleh ke arah Naisa yang menatap nya itu.
"Huh" Naisa mendengus kasar dan kembali duduk seperti semula di atas kursi dan dia juga mencoba untuk tidur sampai akhirnya dia tertidur lelap. Aldi yang belum tidur sudah tidak merasakan Naisa bergerak pun mengintip sedikit ke bawah dan terlihat Naisa yang sudah terlelap di samping nya, Senyum di wajah tampan itu mengembang saat melihat wajah wanita yang tertidur di samping nya itu, Aldi menurunkan tangan nya dan mengusap lembut kepala wanita itu.
"Kau jika galak menakutkan sekali" guman Aldi dengan tangan yang mengusap lembut kepala Naisa.
"Jika kau tidur seperti bayi" guman nya kembali dengan senyum yang mengembang menatap baby face Naisa yang sedang tertidur itu.
"Nanti aku akan selalu melihat wajah ini saat aku bangun tidur" guman nya kembali dengan senyum yang mengembang dan pikiran yang sudah memikirkan ingin menikahkan Naisa.
"Tidur lah dengan nyenyak, Aku mencintai mu" bisik Aldi di telinga Naisa karna gips di leher nya sudah di lepaskan. Aldi kembali memposisikan tubuh nya untuk kembali tidur dengan tubuh miring dan tangan yang mengusap lembut kepala Naisa sampai akhirnya dia tertidur pulas dengan posisi miring dan wajah yang menghadap ke Naisa.
Keesokan pagi nya.
Naisa terbangun terlebih dahulu karna merasa kepala nya di himpit oleh sesuatu, Naisa membuka pelan mata nya, Dia menyesuaikan cahaya lampu ruangan itu dengan mata nya dan dia langsung melihat wajah Aldi yang berada tepat di hadapan nya mungkin karna Aldi membungkuk. Naisa yang awal nya kaget pun langsung tersenyum menatap wajah lelaki yang biasa nya datar itu nampak sangat tampan saat tidur. Naisa mengangkat salah satu tangan nya dan mengusap pipi mulus Aldi itu dengan senyum yang mengembang. Aldi terbangun karna merasa geli di wajah nya tapi dia tidak langsung membuka mata nya.
"Tampan sekali" ucap Naisa dengan nada sangat pelan. Aldi bisa mendengar jelas ucapan wanita itu tapi dia berpura pura tidak mendengarkan apa apa dan tidur seerti biasa padahal di dalam hati dia sangat bahagia dan tertawa lepas mendengar pujian itu.
Naisa sedari tadi mengusap lembut wajah Aldi dn membuat Aldi sangat merasa nyaman akan elusan dari wanita itu. "Kenapa aku bisa mencintai mu? padahal aku tidak pernah mencintai lelaki mana pun kecuali ayah" ucap Naisa dengan nada sangat pelan dengan posisi sama seperti tadi dan menatap heran akan Aldi.
Jantung Aldi terasa ingin pindah dari tempat nya saat mendengar ucapan Naisa itu karna kegirangan akhirnya cinta nya di balas oleh Naisa tapi dia tidak mau gegabah dan tidak mau langsung membuka mata nya karna dia yakin Naisa akan banyak berbicara kepada nya saat dia tidak sadar dari pada saat dia sadar.
"Tapi aku tidak mau berpacaran atau pun menikah sekarang dengan mu, Karna aku belum yakin akan ucapan mu waktu itu yang mengatakan kau mencintai ku" bisik Naisa lagi dengan menatap sedih ke hadapan Aldi. Hati Aldi yang awal nya senang kembali kecewa mendengar ucapan Naisa itu.
"Kurang meyakin kan apa lagi ucapan ku? aku sangat mencintai mu, Aku tidak berbohong masalah perasaan" guman Aldi dengan mata yang masih terpejam dan ingin sekali mengatakan hal itu kepada Naisa saat ini.
"Kau pasti memiliki banyak kekasih di luar sana dan tidak mungkin kau menyukai ku yang miskin dan jelek ini" ucap nya kembali dengan nada sedih dan itu sangat terdengar jelas di telinga Aldi.
"Aku tidak memperdulikan itu dan aku tidak memiliki kekasih di luar sana karna aku hanya mencintai mu" guman Aldi yng menjawab ucapan Naisa tapi dia belum ingin mengucapkan nya secara langsung. Naisa diam dan tidak lagi mengatakan apapun di hadapan Aldi tapi dia sedari tadi mengusap lembut wajah Aldi.
"Jika kita memang jodoh kita pasti akan di temukan, Jika tidak aku akan mengikhlaskan" ucap Naisa lagi, Aldi langsung membuka mata nya dengan pelan seperti orang baru bangun dari tidur dan itu membuat Naisa kaget dan langsung duduk seperti semula tapi dengan segera Aldi menangkap kepala wanita itu dan kembali berada di hadapan Wajah nya.
"Kau sudah bangun?" tanya Aldi kepada Naisa dengan tangan yang memegang kepala Naisa. Naisa mengangguk mengiyakan nya dengan wajah yang memerah akibat Aldi yang menatap nya. Aldi tidak melanjutkan ucapan nya dan menatap lekat wajah Naisa yang cantik itu begitupun dengan Naisa yang menatap wajah Aldi yang sngt tampan itu.
"Apa saja yang kau katakan saat aku tidur?" tanya Aldi dengan menatap lekat Naisa dan mendekatkan wajah nya ke dekat wajah Naisa, Naisa memundurkan kepala nya tapi dengan segera Aldi kembali menggeser kepala wanita itu ke dekat nya.
"Lepaskan aku" ucap Naisa yang mencoba melepaskan kepala nya dari tangan Aldi.
"Jawab lah dulu pertanyaan ku baru aku akan melepaskan mu" jawab Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa yang semakin memerah itu.
"Aku tidak mengatakan apa apa, Aku baru saja bangun dari tidur ku" jawab Naisa akan ucapan Aldi.