
"Bapak tunggu di sini sebentar, Saya akan melihat aa Rafli baik baik saja atau tidak" ucap Naisa yang ingin berlalu tapi dengan segera Aldi menarik tangan nya karna jarak tempat yang mereka pijaki dengan rumah sakit lumayan jauh. Naisa menatap tangan Aldi yang memegang nya itu dan setelah itu baru menatap Aldi dengan tatapan heran nya dan berfikir jika Aldi belum memaafkan Rafli sepenuh nya.
"Tidak usah, Telpon saja dia" ucap Aldi dengan narik tangan Naisa supaya Naisa tidak Jadi kembali ke rumah sakit karna jarak dari tempat yang mereka pijaki dan rumah sakit lumayan jauh.
"Tapi pak..." ucap Naisa yang terpotong oleh Aldi.
"Telpon saja dia" potong Aldi dengan nada datar menatap Naisa. Naisa mengangiyakan nya dan langsung mengambil ponsel nya yang ada di dalam tas nya.
Naisa mencari nomor Rafli di ponsel nya dan langsung menghubungi nya. "Halo nai" ucap Rafli saat mengangkat telpon dari Naisa.
"Kau masih di rumah sakit?" tanya Naisa kepada Rafli.
"Hem, Besok aku pulang" jawab Rafli.
"Emmm, Yasudah" ucap Naisa karna dia hanya ingin menyananyakan itu.
"Kau menelpon ku hanya untuk itu?" tanya Rafli kepada Naisa.
"Ehm" jawab Naisa menganggukkan kepala nya sedangkan Aldi dia sedari tadi melihat Naisa.
"Memang nya kau di mana sampai menelpon ku dan Kenapa tidak langsung ke ruangan ku?" tanya Rafli yang heran.
"Aku sekarang di jalan ingin pulang dan saat ingin pulang aku baru teringat dengan mu" jawab Naisa.
"Kenapa tidak mengabari ku jika kau sudah pulang?" tanya Rafli kepada Naisa.
"Aku baru ingat dengan mu sekarang makanya aku menelpon mu" jawab Naisa.
"Kau pulang bersama dengan siapa?" tanya Rafli.
"Bersama pak Aldi" jawab Naisa akan pertanyaan Rafli dengan menatap ke arah Aldi sekilas.
"Yasudah, Hati hati di jalan salam dengan Al" ucap Rafli yang memang sudah menganggap Aldi teman begitupun dengan Aldi tapi sikap datar Aldi menunjukkan Jika dia belum memaafkan Rafli dan masih menyimpan benci padahal tidak.
"Baik lah" jawab Naisa dan langsung mematikan telpon yang terhubung dengan Rafli tadi begitupun dengan Rafli.
"Sudah selesai?" tanya Aldi kepada Naisa.
"Hem, Rafli menitip salam dengan ku untuk bapak" ucap Naisa dan kembali melanjutkan perjalanan nya begitu pula dengan Aldi.
"Em" jawab Aldi singkat karna tidak tau lagi ingin menjawab apa.
"Bapak masih belum memaafkan Rafli?" tanya Naisa yang mendengar Aldi hanya menanggapi dengan Em.
"Siapa bilang?" tanya balik Aldi kepada Naisa.
"Tadi bapak kenapa hanya menjawab 'Em' salam dari Rafli?" tanya Naisa.
"Jadi aku harus menjawab apa?" tanya Aldi kepada Naisa.
"Mana saya tau, Kan saya tidak pernah mendapatkan salam dari siapapun" jawab Naisa dengan mengalihkan pandang nya ke sembarang arah.
"Kau saja tidak tau apa lagi aku" ucap Aldi lagi dan kembali melanjutkan perjalanan nya begitupun dengan Naisa. Naisa tidak membahas nya lagi dan berjalan dengan fikirkan ntah kemana.
"Huh" Naisa mendengus kasar dan itu terdengar oleh Aldi yang berdiri tepat di samping nya.
"Kenapa?" tanya Aldi karna Naisa tidak menjawab perkataan nya dan hanya menatap nya.
"Em?" ucap Naisa yang pikiran ntah kemana.
"Kau kenapa?" tanya Aldi lagi.
"Memang nya aku kenapa?" tanya balik Naisa kepada Aldi. Aldi mengangkat kedua bahu nya menandakan dia tidak tau Naisa kenapa.
"Rumah bapak di mana?" tanya Naisa karna dia tidak hapal di mana letak rumah Aldi karna dia hanya beberapa kali ke rumah Aldi dan itu pun di berikan tumpangan oleh Aldi.
"Masuk sini" jawab Aldi dengan menjulurkan tangan nya ingin menggandeng tangan Naisa. Naisa berjalan ke arah nya dan Aldi pun langsung memegang tangan Naisa. Naisa tidak memperdulikan itu dan dia hanya mengikuti Aldi mungkin karna dia tidak sadar jika Aldi menggandeng tangan nya. Mereka berjalan memasuki komplek perumahan megah itu dan nampak rumah rumah di sana sangat besar dan bagus tapi Naisa tidak memperdulikan itu, Biar pun dia miskin tapi dia tidak terlalu tertarik dan kaget melihat rumah besar dan megah seperti itu, Seperti orang yang pernah merasakan hidup seperti itu.
Hanya memerlukan waktu dua menit saat masuk ke dalam komplek itu dan menuju ke rumah Aldi karna rumah Aldi terletak di awal tapi tidak terlalu awal. Tangan Aldi masih menggenggam tangan Naisa sampai mereka masuk ke dalam halaman rumah yang sangat besar itu.
"Nona Naisa dan Tuan Aldi memang sangat serasi ya" ucap pak Vuri sopir pribadi ayah Aldi.
"Iya, Nona dan tuan memang sangat cocok" jawab pak Jony satpam rumah itu. Naisa bisa mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut kedua orang itu, Naisa pun melihat tangan nya dan mata nya langsung membulat saat melihat tangan nya di gandeng Aldi, Dia langsung melepaskan tangan nya itu.
Aldi yang merasa tangan Naisa yang ia pegang hilang pun menoleh ke arah tangan nya dan setelah itu menoleh ke arah Naisa. Aldi menatap heran akan Naisa yang melepaskan tangan nya itu dan Naisa juga menundukkan kepala karna malu di lihat oleh Aldi. "Kenapa kau menundukkan kepala?" tanya Aldi kepada Naisa. Naisa menggelengkan kepala nya dengan pandangan yang masih menunduk.
"Ayo" ajak Aldi tanpa menyentuh Naisa. Naisa mengiyakan nya dan mengikuti Aldi dari belakang. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah itu dengan pintu yang di buka oleh penjaga.
"Mama" teriak Aldi karna dia tidak melihat siapa siapa di rumah nya.
"Jangan berteriak pak" bisik Naisa karna dia malas mendengar teriakan Aldi.
"Kenapa memang nya?" tanya Aldi kepada Naisa.
"Berisik dan tidak sopan" jawab Naisa.
"Terserah ku, Ini kan rumah ku" ucap Aldi.
"Mama" teriak nya kembli. Naisa tidak menjawab nya dan hanya memilih diam karna ucapan Aldi ada benar nya.
"Den" sapa bi Hasnah salah satu sisten rumah tanga Aldi.
"Dimana mama dan kak Asma bi?" tanya Aldi kepada Hasnah.
"Nyonya dan non Asma ada di belakang" jawab bi Hasnah.
"Apa yang mereka lakukan di belakang?" tanya Aldi.
"Tidak tau den, Bibi hanya melihat mereka duduk di atas kursi di dekat kolam" jawab bi Hasnah.
"Ayo kita ke belakang" ajak Aldi yang kembali menarik tangan Naisa.
"Kita ke belakang dulu bi" ucap Naisa sopan. Aldi terus menarik tangan wanita itu.
"Pak lepaskan" ucap Naisa karna dia malas di sangka yang tidak tidak oleh orang orang yang melihat Aldi menggandeng tangan nya.
"Makanya cepat lah ikut aku" jawab Aldi dengan melepaskan tangan nya dari Naisa dan kembali melanjutkan perjalanan nya. Naisa tidak menjawab nya dia pun mengikuti Aldi dari belakang.
"Lelaki ini sudah datar kasar lagi" guman Naisa yang kesal akan Aldi dan mengacung kan tangan nya yang menggepal ke kepala Aldi Seperti orang ingin memukul.