
"Kenapa kau menundukkan kepala?" tanya Aldi kepada Naisa dengan berusaha menatap wajah Naisa.
"Tidak" jawab Naisa dan kembali menyodorkan sendok yang berisikan makanan kepada Aldi, Aldi menerima nya dengan senang hati sampai akhirnya makanan itu pun habis.
Setelah makanan itu habis, Naisa membereskan bekas makan Aldi itu dan menyodorkan air minum kepada Aldi dan Aldi menerima nya dengan senang hati dan meneguk air itu. Setelah selesai membereskan bekas makan Aldi Naisa kembali duduk di atas kursi di samping Aldi tanpa mengeluarkan suara.
Drittt
Ponsel Aldi berbunyi dan dia pun langsung mengambil ponsel nya yang berada di saku celana nya itu.
"Mama" nama yang tertera di layar ponsel nya itu dan dia pun segera mengangkat nya.
"Ada apa ma?" tanya Aldi saat sudah mengangkat telpon itu sedangkan Naisa dia hanya melihat dan mendengar kan nya.
"Asma bilang kau masuk rumah sakit karna tidak makan dan mag mu kambuh, kenapa kau tidak makan? kau bilang mau makan saat sampai di toko" ucap Andini dengan suara sedikit meninggi dan membuat Aldi menjauhkan sebentar ponsel itu dari telinga nya.
"Lupa" jawab Aldi singkat.
"Kau tidak boleh meninggalkan makan dalam keadaan apapun kau itu memiliki gejala mag kau mengerti?" ucap Andini lagi dengan nada yang sama.
"Iya ma" jawab Aldi datar.
"Mama tidak bisa ke rumah sakit karna mama dan papa sekarang di bogor dan kemungkinan besok kami pulang ke jakarta" ucap Erdin karna memang telpon itu di speaker oleh Andini.
"Hem" jawab Aldi datar.
"Ingat Al, Jangan sampai tidak makan" ucap Andini lagi.
"Iya ma" jawab Aldi malas
"Yasudah istirahat lah" ucap Andini, Aldi pun langsung mengakhiri telpon itu begitupun dengan Andini. Aldi meletakkan ponsel nya itu di atas paha nya.
"Kau ingin pulang?" tanya Naisa kepada Aldi. Aldi menoleh ke arah Naisa yang masih setia menunggu nya di atas kursi.
"Aku sebenarnya malas pulang, Di tambah lagi mama dan papa di luar kota, Dan tidak mungkin jika aku bermain ke rumah nya bukan? Apa lebih baik aku di sini saja dan meminta nya untuk menemani ku?" guman Aldi dengan menatap lekat Naisa yang menatap nya juga.
"Hey" ucap Naisa dengan mengibaskan tangan nya di hadapan wajah Aldi.
"Hem" jawab Aldi.
"Kau mau pulang?" tanya Naisa lagi kepada Aldi.
"Auu" rengek Aldi berpura pura.
"Kau kenapa?" tanya Naisa yang langsung berdiri dan memegang tangan Aldi yang berada di atas perut nya.
"Perut ku masih sakit" ucap Aldi berbohong padahal tidak.
"Sebentar" ucap Naisa dan langsung berlalu keluar dari ruangan itu dan memanggil dokter. Setelah menemukan dokter Naisa kembali ke dalam ruangan mengikuti dokter yang sudah terlebih dahulu, Saat dia ingin masuk ke dalam ruangan itu suster yang menemani dokter tadi menghalangi nya dan menyuruh nya menunggu di luar dan dia pun terpaksa menunggu di luar.
Di dalam
"Iya tuan? apa perut anda masih skit?" tanya dokter tadi.
"Aku sudah baik baik saja" jawab Aldi datar.
"Jadi kenapa nona tadi memanggil saya dan mengatakan perut anda sakit?" tanya dokter tadi lagi.
"Aku hanya berpura pura, Nanti jika dia menanyakan aku bilang saja aku harus di rawat di sini dan besok baru bisa pulang" jelas Aldi.
"Tapi tuan..." ucap dokter itu yang terpotong oleh Aldi.
"Katakan saja seperti itu, Aku baik baik saja dan tidak kenapa napa" potong Aldi dengan senyum yang melebar menatap dokter yang ada di samping nya itu.
"Baiklah" jawab dokter itu yang pasrah karna dia juga tidak bisa menolak keinginan Aldi karna takut kehilangan pekerjaan nya.
"Kalau begitu saya keluar dulu tuan" ucap dokter tadi.
"Tunggu" jawab Aldi dan langsung mengambil ponsel nya yang ada di atas pahanya tadi dan langsung mengirimkan pesan kepada Asma.
"Kak, Jika Naisa meminta mu untuk menemani ku di rumah sakit kau tolak ya, Karna aku ingin dia yang menemaniku" isi pesan yang di kirimkan Aldi kepada Asma.
"Keluarlah" ucap Aldi saat sudah selesai mengirimkan pesan kepada Asma. Dokter tadi mengangguk mengiyakan nya dan langsung berlalu keluar dari rungan itu, Saat dia keluar dia langsung melihat Naisa yang juga melihat nya.
"Bagaimana keadaan teman saya dok?" tanya Naisa kepada dokter tadi.
"Kondisi tuan muda masih lemah dan belum stabil jadi tuan muda harus di rawat dan besok baru bisa pulang" jelas dokter itu kepada Naisa.
"Oh, Terima kasih" ucap Naisa mengangguk mengerti dan dokter tadi pun berpamitan untuk berlalu dari sana.
Naisa langsung masuk ke dalam ruangan itu dengan membuka pelan Pintu ruangan itu, Aldi yang merasa jika ada yang membuka pintu pun berpura pura tidur dan seperti tidak mengetahui apa apa. Senyum di wajah Naisa mengembang saat melihat Aldi tertidur dan dia pun menutup pelan pintu ruangan itu supaya tidak menganggu Aldi.
Setelah menutup pintu Naisa berjalan mendekat ke arah Aldi. "Siapa yang akan menunggu nya di sini?" guman Naisa karna tadi dia mendengar ucapan Aldi dan Andini. Naisa mengambil ponsel nya yang ada di dalam tas nya itu dan langsung menghubungi Asma.
"Halo Nai" ucap Asma yang sudah mengangkat telpon dari Naisa.
"Halo kak, Naisa mau bilang kalo pak Aldi di rawat dan tidak ada yang menjaga nya, Jadi Naisa minta kakak untuk menjaga nya" jelas Naisa langsung. Mata Aldi terbuka sedikit dan mengintip Naisa yang sedang membalikkan tubuh dan menelpon Asma itu.
"Kakak tidak bisa Naisa karna kakak sekarang di rumah teman kakak" jawab Asma berbohong.
"Jadi siapa yang akan menunggu pak Al?" tanya Naisa.
"Bagaimana kalau kau saja? kau kan juga tidak ada kerjaan dan kakak juga tidak di rumah, Lebih baik kau menemani Al saja di rumah sakit" jelas Asma. Naisa membalikkan tubuh nya dan menoleh ke arah Aldi, Aldi dengan segera menutup kembali matanya dan kembali berpura pura tidur.
"Baiklah Nai yang akan menunggu pak Al di rumah sakit" jawab Naisa yang pasrah karna dia juga tidk berani jika sendirian di rumah.
"Yasudah kakak tutup telpon nya" ucap Asma dan langsung mematikan telpon begitupun dengan Naisa yang juga ikut mematikan telpon nya.
Naisa kembali meletakkan ponsel nya di dalam tas nya dan setelah itu dia meletakkan tas di atas lemari yang ada di samping ranjang Aldi, Naisa menatapa lekat wajah Aldi yang sedang tertidur itu. "Tidak terlalu buruk" ucap Naisa dengan nada yang sangat pelan dan senyum yang mengembang dan tangan yang menyibak rambut Aldi ke samping.