
"Keluar kau" ucap Aldi yang masih datar karna dia tidak mau melihat wajah Rafli sedangkan Naisa dia hanya melihat wajah Rafli yang nampak babak belur dan lebih parah dari tadi saat di cafe.
"Diam lah kau" ketus Naisa kepada Aldi.
"Kenapa luka di wajah mu semakin parah?" tanya Naisa kepada Rafli.
"Aku yang menambah nya" jawab Aldi jujur dengan wajah datar nya. Naisa yang awal nya melihat Rafli langsung mengalihkan pandangan nya kepada Aldi.
"Kenapa kau melukai nya lagi?" tanya Naisa kepada Aldi.
"Sudah aku bilang jika ada yang berani mengusik kehidupan orang orang terdekat ku akan aku habisi orang itu" jawab Aldi datar.
"Tapi kau sudah keterlaluan" bentak Naisa saat melihat luka yang sangat parah di wajah Rafli.
"Sudah lah Nai, Ini memang salah ku karna aku menyakiti mu, Aku juga menerima nya" ucap Rafli yang mencoba membuat Naisa paham, Meskipun dia membenci Aldi tapi dia tidak marah saat Aldi menyakiti nya karna itu memang seharus nya dia dapat kan karna dia sudah melukai Naisa.
"Tau juga kau jika ini kesalahan mu" ucap Aldi datar tanpa menatap Rafli.
"Diam lah kau" ucap Naisa kepada Aldi.
"Tapi sekarang kau tidak apa apa kan?" tanya Naisa kepada Rafli.
"Aku sudah tidak apa apa, Kau sendiri apa luka mu itu sangat parah?" tanya Rafli kepada Naisa.
"Dokter tadi bilang ini hanya luka kecil" jawab Naisa karna tadi dia sudah sadar saat dokter sudah memeriksa nya.
"Tapi kenapa darah banyak sekali keluar tadi?" tanya Rafli.
"Itu karna terluka bagian kepala makanya banyak mengeluarkan darah" jawab Naisa.
"Ooh, Sekali lagi aku minta maaf" ucap Rafli kembali. Naisa mengangguk mengiyakan nya dengan melebarkan senyuman nya tapi tidak dengan Aldi yang sedikit kesal akan Naisa yang terlalu mudah memafkan orang itu.
"Naisa" ucap Asma dengan membuka pintu ruangan itu dan membuat semua orang kaget mendengar suara nya, Semua nya menoleh ke arah nya dan melihat Asma datang sendirian.
"Kau kenapa bisa rumah sakit? apa Aldi yang membuat mu masuk rumah sakit?" tanya Asma yang hawatir akan Naisa. Naisa tidak menjawab nya karna Asma sudah memutar dan melihat lihat tubuh Naisa takut ada yang terluka dan mata nya membulat saat melihat perban di kepala Naisa.
"Astaga kenapa dengan kepala mu?" tanya Asma yang sangat hawatir dan menatap perban yang ada di kepala Naisa itu.
"Tidak apa apa kak, Ini hanya terkena benturan" jawab Naisa.
"Ah ini tidak mungkin terkena benturan" jawab Asma yang tidak percaya akan ucapan Naisa dan dia juga tidak memperhatikan sekitar nya. Naisa tidak menjawab nya dan Asma pun menekan sedikit kepala Naisa yang beperban itu.
"Auu" rengek Naisa karna kesakitan akan Asma yang menekan luka nya itu.
"Hey jangan menyentuh luka nya itu" ketus Aldi dengan menarik tangan Asma dan berdiri di hadapan Naisa.
"Kau ini sudah tua masih saja bodoh, Jelas saja yang nama nya luka sakit" jawab Aldi akan pertanyaan yang di tanyakan oleh Asma kepada Naisa.
"Kau ini tidak memiliki sopan santun sekali, Berbicara dengan kakak mu seperti itu" ketus Asma dengan melototkan matanya kepada Aldi.
"Itu karna kau yang memegang kepala nya yang terluka makanya sopan santun ku hilang" jawab Aldi dengan membuang pandangan nya.
"Sudah lah pak, Kak" ucap Naisa yang melerai Asma dan juga Aldi yang sedang berdebat itu. Asma dan Aldi sama sama tidak menjawab nya dan sama sama membuang pandang mereka.
"Rafli?" ucap Asma saat melihat Rafli yang tengah duduk di atas kursi roda di samping nya itu, Rafli dan Asma memang saling kenal karna kedekatan antara orang tua Aldi dan orang tua Rafli makanya Asma bisa mengenal nya dan Rafli menganggap nya sebagai kakak kandung nya sendiri.
"Kak Asma" ucap balik Rafli yang biasa saja karna kaget nya sudah terlebih dahulu saat melihat Asma yang yang berdiri di belakang Naisa tadi.
"Kau apa kabar?" tanya Asma kepada Rafli.
"Baik kak, Kakak sendiri apa kabar?" tanya balik Rafli.
"Kakak baik baik saja" jawab Asma dengan melebarkan senyuman nya.
"Wajah mu kenapa babak belur seperti ini? apa Aldi menghajar mu lagi?" tanya Asma yang mengetahui semua permasalahan Aldi dan juga Rafli. Rafli hanya diam karna dia malas membahas masalah itu lagi karna dia juga sudah menerima perlakuan Aldi kepada nya.
"Kenapa kau hanya diam? kau takut dengan Al? apa jangan jangan memang Aldi yang memukul mu?" tanya Asma lagi.
"Jika memang aku kenapa? kau mau marah?" tanya Aldi dengan melototkan matanya kepada Asma.
"Kau ini sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, Kau selalu saja kasar dan menghajar Rafli, Memang nya apa salah Rafli dengan mu?" tanya Asma dengan nada tinggi nya karna memang setau nya Aldi jika bertemu dengan Rafli pasti selalu menghajar Rafli.
"Dia mempunyai banyak kesalahan" jawab Aldi datar.
"Kau ini Al sudah sangat keterlaluan, Apa kau ingin aku mengatakan hal ini dengan mama dan papa?" tanya Asma dengan nada yang masih meninggi.
"Memang nya aku takut dengan ancaman mu itu?" tanya Aldi dengan nada yang tak kalah tinggi, orang tua Aldi dan Rafli memang tak pernah tau masalah anak anak mereka dan Asma juga tidak pernah mengadu kepada orang tua Aldi atau pun Rafli dan ucapan nya tadi hanya ancaman untuk Aldi.
"Pak Al, Kak Asma, Sudah lah" ucap Naisa yang mencoba menenangkan Asma dan juga Aldi. Aldi dan Asma menatap ke arah Naisa begitupun dengan Rafli.
"Kalau begitu aku akan kembali ke ruangan ku" ucap Rafli karna dia tau suasana hati Aldi dan Asma seperti nya tidaj membaik dan hanya Naisa yang bisa menenangkan mereka berdua.
"Cepat sembuh ya" ucap Naisa kepada Rafli sambil melebarkan senyuman nya. Rafli membalas senyuman manis Naisa itu dan setelah itu suster pun kembali mendorong kursi roda Rafli keluar dari ruangan itu.
"Pulang lah kau, Nanti kau di cari oleh mama dan papa" perintah Asma kepada Aldi.
"Aku tidak mau, Aku ingin menjaga Naisa di sini, Kau saja yang pulang" jawab Aldi datar. Asma ingin menjawab perkataan Aldi tapi Naisa menggelengkan kepala menandakan untuk tidak menjawab dan meladeni ucapan Aldi lagi.
"Kakak akan ke kantin sebentar, Kau pasti belum makan" ucap Asma, Naisa mengangguk mengiyakan nya dan Asma pun langsung berlalu dari ruangan itu dan menuju ke ruangan Rafli bukan ke kantin.