
"Tidak apa apa pak, Mungkin bapak ingin membeli bunga baru untuk pacar bapak?" tanya Naisa.
"Boleh mbak, bisa saya melihat jenis jenisnya?" tanya lelaki tadi. Naisa mengambil karangan bunga yang di rangkai oleh Aldi tadi dan memberi kan nya kepada lelaki tadi. lelaki tadi menerimanya dengan senang hati.
"Bagus sekali bunga bunga nya" puji lelaki tadi yang menyukai karangan bunga yang di sodorkan Naisa kepada nya.
"Ini buatan bos langsung" ucap Naisa sambil melebarkan senyumannya.
"Yasudah saya akan mengambil kedua nya" ucap lelaki tadi.
"Silahkan ke depan untuk melakukan pembayarannya pak" jawab Naisa mempersilahkan lelaki tadi menuju ke depan. Lelaki tadi mengangguk mengiyakannya. Aldi ingin mengikuti lelaki tadi tapi tidak dengan Naisa yang langsung terduduk.
"Perih sekali" guman Naisa sambil melihat tangannya yang terluka lumayan lebar itu. Aldi menghentikan langkah kakinya dan menghampiri Naisa yang terduduk itu. Sampai di dekat Naisa Aldi melihat Naisa memegang tangannya.
"Kenapa tangan mu?" tanya Aldi kepada Naisa. Naisa kembali menyembunyikan lukanya itu.
"Kenapa kau menyembunyikan nya? Sini biar ku lihat" ucap Aldi datar tapi nampak hawatir dan langsung menarik tangan Naisa dengan paksa karna Naisa selalu menolak untuk di lihat.
"Tangan mu ini luka, Ini kena serpihan kaca?" tanya Aldi.
"Tidak, Ini hanya terkena duri" jawab Naisa berbohong.
"Kau pikir aku bodoh? terkena duri tidak mungkin selebar ini lukanya" ketus Aldi dan memperlihatkan luka tangan Naisa kepada Naisa.
"Auu" rengek Naisa karna kesakitan akan Aldi yang selalu memainkan tangannya itu.
"Maaf" ucap Aldi.
"Tidak apa apa" jawab Naisa.
"Ayo ikut, Akan aku obati luka mu ini" ucap Aldi.
"Tidak usah pak, Saya bisa mengobatinya sendiri" jawab Naisa sopan dan menarik tangannya dan langsung berlalu keluar. Aldi mengikuti Naisa untuk memastikan jika Naisa mengobati lukanya itu.
Saat keluar Naisa masih melihat lelaki yang mengamuk di toko tadi. "Mbak, Saya akan mengganti kerugian toko ini" ucap lelaki tadi saat melihat Naisa. Aldi dengan segera berjalan ke arah Naisa karna takut Naisa di apa apakan lagi.
"Baiklah pak" jawab Naisa sambil melebarkan senyumannya.
"Pak, Saya minta maaf atas kejadian tadi dan saya akan selalu membeli bunga disini jika saya membutuhkan bunga" ucap lelaki tadi kepada Aldi. Aldi tidak menjawab nya dan dia hanya diam menatap lelaki yang ada di depannya itu.
"Kami akan selalu menyambut kedatangan bapak disini" jawab Naisa saat melihat Aldi tidak menjawabnya.
"Yasudah kalau begitu saya permisi dan nanti ada orang yang akan datang kesini untuk memperbaiki ini" pamit lelaki tadi sambil menunjuk ke arah pintu yang sudah rusak itu. Naisa mengangguk mengiyakannya dengan senyum yang melebar dan lelaki tadi pun langsung berlalu dengan membawa dua buket bunga yang ia beli.
"Ti.." jawab Naisa yang terpotong oleh Asma.
"Ini pasti terkena serpihan kaca bukan? Astaga Naisa" ucap Asma dan melihat darah yang sudah mengering di tangan Naisa.
"Kembali lah bekerja biar saya saja yang mengobatinya" ucap Aldi yang tiba tiba datang di belakang Asma. Naisa menatap ke sumber suara dan melihat Aldi.
"Obati dia dengan baik" bisik Asma di telinga Aldi saat sudah berdiri dan langsung berlalu kembali ke pekerjaannya. Aldi tidak menjawab nya dan langsung duduk di hadapan Naisa dan mengambil alih obat yang di tangan Naisa.
"Saya bisa sendiri pak" ucap Naisa sopan dan ingin mengambil obat dari Aldi, Tapi Aldi tidak mau memberikannya dan menarik tangan Naisa yang terluka itu dan mulai mengobatinya.
"Auuu" rengek Naisa dengan suara yang sangat pelan tapi terdengar oleh Aldi.
"Tahan lah sebentar" ucap Aldi yang tau jika Naisa kesakitan. Diapun kembali mengobati tangan Naisa itu.
"Pelan pelan" ucap Naisa dengan tangan yang terasa sangat pedih itu.
"Ini sudah pelan" jawab Aldi tanpa menoleh ke arah Naisa dan fokus mengobati luka Naisa itu. Naisa sudah tidak merasa sakit karna Aldi saat ini sudah memasang perban. Naisa menatap lekat Aldi yang sedang mengobatinya itu tanpa di ketahui oleh Aldi.
Saat Aldi sudah selesai mengobati Naisa dia langsung menatap Naisa yang juga menatap nya mereka beradu pandang sebentar dan Naisa pun langsung mengalihkan pandangannya dan melepaskan tangannya dari genggaman Aldi. Naisa nampak sedikit gugup duduk di depan Aldi sedangkan Aldi dia biasa saja dan dia masih menatap Naisa.
"Terima kasih pak" ucap Naisa sopan dan ingin berlalu tapi dengan segera Aldi menarik tangannya. Naisa menatap Aldi kembali dengan tatapan heran akan Aldi.
"Mau kemana kau?" tanya Aldi kepada Naisa.
"Mau kembali bekerja pak" jawab Naisa dengan menunjuk ke belakang.
"Kau istirahat lah, Kau masih sakit" ucap Aldi dan mendudukkan tubuh Naisa di atas sofa kembali dan dia berdiri dari duduk nya.
"Tapi pak...." ucap Naisa yang terpotong oleh Aldi.
"Kau mau istirahat atau kau mau aku pecat?" ancam Aldi kepada Naisa. Naisa menundukkan kepala nya karna dia tidak mau di pecat karna jika dia di pecat dimana lagi dia harus mencari pekerjaan.
"Saya akan istirahat pak" jawab Naisa yang masih menundukkan kepala nya tanpa menatap Aldi. Aldi tersenyum puas saat melihat Naisa menuruti perkataan nya.
"Jangan kemana mana" ucap Aldi dan langsung berlalu keluar toko dan toko itu sudah bersih karna sudah di bereskan oleh para pekerja di sana.
Naisa hanya duduk di atas sofa tanpa melakukan kegiatan apapun dan dia merasa sedikit bosan duduk di sana. Naisa memilih untuk berjalan ke dekat Asma yang berada di dekat kasir. "Kak" sapa Naisa saat sudah sampai di dekat Asma.
"Bagaimana luka mu? apa sudah di obati?" tanya Asma kepada Naisa.