
"Jadi aku harus berbicara seperti apa?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa.
"Berbicaralah dengan sopan kepada nya, Dia adalah Ayah mu dan kau tidak boleh berbicara seperti tadi kepada nya" jawab Naisa akan pertanyaan Aldi.
"Aku tidak mau" jawab Aldi akan jawaban Naisa itu.
"Kenapa?" tanya Naisa dengan menatap lekat wajah Aldi yang sedang duduk di hadapan nya itu.
"Dia saja tidak pernah berbicara dengan lembut kepada ku, Bagaimana aku ingin berbicara dengan lembut kepada nya" jawab Aldi akan pertanyaan Naisa. Naisa sedikit kaget akan jawaban Aldi itu karna dia pikir Aldi mendapatkan kasih sayang yang baik dari ayah dan ibu nya makanya dia kaget mendengar itu.
"Tapi setidak nya kau harus berbicara sopan dengan ayah mu, Jika dia tidak berbicara lembut kepada mu cobalah kau yang berbicara lembut dan sopan kepada nya pasti nanti dia juga akan berbicara lembut juga dengan mu" jelas Naisa yang mencoba memberikan penerangan di kehidupan Aldi masalah sopan santun.
"Tapi..." ucap Aldi yang terpotong oleh Naisa.
"Hey jika papa mu tidak bisa berbicara dengan lembut kepada mu dan hanya kau yang bisa merubah cara bicara nya kepada mu, Dia juga sering marah kepada mu pasti gara gara dia menyayangi mu dan ingin yang terbaik untuk mu karna hanya kau anak mereka satu satu nya, Kau harus mengerti akan itu kau tidak boleh marah balik saat mereka memarahi mu dan kau harus berbuat sebalik nya, Kau berbicara lembut kepada nya pasti papa mu itu akan berubah siring berjalan nya waktu" jelas Naisa dengan menatap lekat wajah Aldi dengan senyum yang mengembang dan berharap Aldi mengerti akan apa yang ia ucapkan dan bisa menjalankan apa yang dia ucapkan.
"Mereka sangat menyayangi mu, Percaya lah kepada ku" sambung nya lagi dengan memegang bahu Aldi dan tersenyum menatap Aldi.
"Hem baiklah, Aku akan mencoba nya" jawab Aldi yang akan mencoba mengiyakan dan melakukan ucapan Naisa itu. Naisa tersenyum lega saat mendengar jawaban Aldi itu dan Aldi juga ikut tersenyum menatap Naisa.
"Aku merasa beruntung saat Naisa masuk di kehidupan Aldi, Karna hanya dia yang bisa mengubah sedikit demi sedikit sikap buruk Aldi dan mengubah sedikit demi sedikit menjadi lebih baik" guman Erdin saat mendengar jelas nasehat demu nasehat yang di ucapkan oleh Naisa kepada Aldi karna dia belum menutup rapat pintu ruangan itu.
"Hati ku sejuk sekali saat mendengar setiap ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut nya" guman Aldi dengan menatap lekat Naisa yang sedang berada di hadapan nya itu.
"Kaki ku ini sudah lumayan mendingan dari tadi" ucap Naisa karna sedikit tak nyaman akan tatapan Aldi.
"Benarkah?" tanya Aldi dengan menatap lekat wajah Naisa.
"Em" jawab Naisa mengangguk mengiyakan nya.
"Coba aku sentuh" ucap Aldi dan menatap kaki Naisa yang masih memar itu dan menyentuh nya sedikit.
"Sakit?" tanya Aldi saat sudah selesai menyentuh sedikit kaki wanita itu. Naisa menggelengkan kepala nya menandakan jika dia tidak merasa sakit akan sentuhan Aldi itu karna Aldi hanya menyentuh nya bukan memegang atau memijat nya.
"Jika ini?" tanya Aldi dan sedikit keras menekan kaki wnita itu.
"Sakit bodoh" ketus Naisa dan memukul punggung Aldi karna itu sangat sakit.
"Maaf, Aku tidak tau jika ini sakit'' ucap Aldi dengan wajah sedikit bersalah nya.
"Makanya jangan asal menekan nya" jawab Naisa dengan wajah kesal nya dan berusaha memindahkan kaki nya dari kaki Aldi, Aldi membantu wanita itu memindahkan kaki nya ke bawah dan kembali ke ranjang.
"Tidak tau" jawab Naisa dan mengangkat kedua bahu nya menandakan jika dia tidak tau apa dia sudah di izinkan pulang atau belum.
"Kau tunggu di sini, Jangan bergerak ke mana pun" ucap Aldi dan beranjak berdiri dari duduk nya. Naisa hanya mengangguk mengiyakan Ucapan lelaku itu dan Aldi pun langsung berlalu keluar dari ruangan itu.
"Mau ke mana Al?" tanya Andini saat melihat Aldi keluar.
"Menemui dokter" jawab Aldi dan setelah itu langsung berlalu dari sana. Azlan dan Fany yang melihat Aldi berlalu pun langsung masuk ke dalam ruangan Naisa karna mereka belum menjenguk Naisa.
"Nai" panggil Fany saat masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Azlan. Naisa menoleh ke arah Azlan dan juga Fany yang baru saja masuk itu.
"Iya" jawab Naisa akan pangilan Fany.
"Kau sudah mendingan?" tanya Fany dan berjalan mendekat ke arah Naisa begitupun dengan Azlan yang hanya mengikuti Fany.
"Hem" jawab Naisa dan melihat kaki nya, Dia tidak terlalu baik saat ini karna kedua kaki nya sudah cidera. Fany mendudukkan tubuh nya di dekat Naisa dan melihat kaki Naisa.
"Astaga kaki yang ini kenapa jadi memar?" tanya Fany yang kaget saat melihat kaki kanan Naisa yang memar.
"Ahq ini tadi terjatuh saat menuruni tangga di halaman depan" jawab Naisa jujur.
"Kau kenapa memang nya keluar hem? jadi ciderakan kedua nya" ucap Fany dan menatap lekat kedua kaki Naisa secara bergantian. Naisa tidak menjawab dan hanya memilih untuk diam dan mendengar Fany mengoceh.
Ckleek
Pintu ruangan itu kembali terbuka dan semua orang menoleh ke arah pintu dan melihat siapa yang datang dan ternyata itu Aldi yang datang dengan membawa kursi roda. "Dokter sudah mengizinkan mu pulang, Tapi dokter bilang kau tidak boleh menggerakkan kaki mu iti dan harus sering di periksa" jelas Aldi sambil berjalan ke arah Naisa.
"Baiklah" jawab Naisa mengangguk mengiyakan ucapan Aldi.
"Ayo" ucap Aldi dan langsung menggendong Naisa naik ke atas kursi roda, Naisa tidak menolak itu karna dia tidak mungkin meminta Fany menggendong nya makanya dia tidak menolak gendongan Aldi. Aldi meletakkan pelan tubuh mungil wanita itu di atas kursi roda supaya tidak menyakiti Naisa. Setelah selesai meletakkan Naisa di atas kursi roda, Aldi langsung membalikkan kursi roda itu dan langsung mendorong nya menuju ke luar tanpa memperdulikan Azlan dan Fany.
Azlan dan Fany yang melihat Naisa dan Aldi keluar pun ikut keluar dari ruangan itu dan dia juga ingin pulang meskipun acara camping belum selesai.
Drittt
Ponsel Azlan berbunyi saat dia baru saja ingin keluar, Azlan menggantikan sebentar langkah kaki nya dan langsung mengambil ponsel nya yang ada di dalam saku celana nya dan melihat siapa yang menghubungi nya.
"Mang Dadang" nama yang tertera di layar ponsel nya itu.