I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 71



"Kita sarapan dulu bagaimana?" tanya Aldi kepada Naisa yang sedang menatap ke luar jendela.


"Boleh" jawab Naisa sambil melebarkan senyuman nya. Hubungan mereka semakin dekat saat Aldi sudah menyatakan perasaan nya tadi, Tidak seperti orang pada umum nya yang sudah di tolak malah menjauh tidak dengan Aldi yang sudah di tolak terus berjuang.


Aldi meminta sopir taxi tadi menghentikan mobil tepat di depan restoran mewah yang terletak tidak jauh dari rumah Aldi, Naisa ingin membayar taxi tadi tapi Aldi melarang nya dan dia lah yang membayar nya. "Ayo" ajak Aldi, Naisa mengangguk mengiyakan nya dan mereka pun berjalan masuk ke dalam restoran itu.


Aldi dan Naisa berjalan ke arah kasir dan memesan makanan. "Kau mau makan apa?" tanya Aldi kepada Naisa.


"Apa saja" jawab Naisa sambil melebarkan senyuman nya karna memang dia tidak banyak pilih. Aldi memesan menu yang sama dengan nya untuk Naisa dan membayar makanan itu dan setelah itu mereka pun berlalu dari sana dan menuju ke tempat yang sudah di tunjukkan tadi. Setelah sampai mereka pun mendudukkan tubuh mereka di kursi itu dan menunggu pesanan mereka sampai. Naisa hanya diam dan menatap ke sembarang arah tapi tidak dengan Aldi yang sedari tadi memperhatikan Naisa.


"Kau nampak nya tidak nyaman ya?'' tanya Aldi kepada Naisa.


"Hem, Karna ini pertama kali nya aku makan di tempat mewah dan bagus seperti ini" jawab Naisa karna memang dia tidak pernah makan di restoran semewah itu tapi biar pun seperti itu dia tidak heboh dan biasa saja saat di ajak oleh Aldi makan di sana. Aldi tersenyum mendengar jawaban Naisa yang sangat jujur itu.


Beberapa menit mereka menunggu akhirnya makanan yang mereka pesan pun sampai, Pelayan tadi meletakkan makanan milik Naisa dan Aldi di atas meja itu dan setelah itu pelayan tadi pun langsung berlalu. "Makan lah" ucap Aldi mempersilahkan Naisa untuk makan makanan yang ia pesan. Naisa mengiyakan nya dan memakan makanan itu, Aldi yang sudah melihat Naisa mulai makan pun ikut makan makanan nya.


Setelah selesai makan dan minum mereka langsung berlalu dari sana karna makanan tadi juga sudah di bayar oleh Aldi terlebih dahulu. "Aku akan mengantar kan mu pulang ke rumah" ucap Aldi kepada Naisa saat sudah berada di luar.


"Tidak usah, Aku bisa pulang sendiri" ucap Naisa. Aldi tidak menjawab nya dan langsung menghentikan satu taxi yang melintas di hadapan nya.


"Silahkan" ucap Aldi mempersilahkan Naisa masuk ke dalam taxi itu dengan pintu yang sudah ia buka.


"Aku bisa pulang sendiri berjalan kaki, Lebih baik kau saja yang masuk, Kau kan baru saja sembuh dari sakit" jawab Naisa dengan mendorong Aldi untuk masuk ke dalam taxi itu.


"Tapi...." ucap Aldi terpotong oleh Naisa yang memaksa nya masuk ke dalam taxi itu.


"Pak antar dia sampai ke rumah nya" ucap Naisa dan menutup pintu taxi itu dan sopir taxi itu mengangguk mengiyakan nya dan langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Saat sudah merasa mobil taxi yang membawa Aldi sudah lumayan jauh Naisa pun melanjutkan perjalanan ke rumah nya.


Di perjalanan menuju ke rumah nya Naisa nampak melamun seperti sedang memikirkan sesuatu. "Aku tidak yakin jika dia serius" guman Naisa karna dia sedari tadi memikirkan ucapan Aldi yang langsung mengajak nya menikah.


"Hey" sapa seorang perempuan yang berdiri di hadapan Naisa. Naisa yang menundukkan kepala pun langsung mendongakkan kepala nya.


"Asanti?" ucap Naisa pelan karna memang itu Asanti yang sedari tadi menunggu Naisa di tempat sepi itu.


"Kau masih ingat dengan ku?" tanya Asanti dengan berjalan mendekat ke arah Naisa, Dia menemui Naisa sendiri dan tidak membawa siapapun karna tidak ada tanda tanda orang di sana kecuali Naisa dan juga dia. Naisa memundurkan langkah kaki nya karna takut jika Asanti menyakiti nya.


"Kau mau apa?" tanya Naisa yang ketakutan.


"Aku tidak mau apa apa, Aku hanya ingin mengajak mu pergi" jawab Asanti dengan senyum licik yang mengembang.


"Pergi ke mana?" tanya Naisa kepada Asanti.


"Nanti kau juga akan tau, Mari ikut aku" ajak Asanti kepada Naisa dengan nada lembut dan bersahabat tapi Naisa tidak percaya dengan nada itu.


"Aku tidak bisa, Aku harus bekerja sekarang" jawab Naisa dengan menepis kasar tangan Asanti yang menyentuh nya, Senyum licik wanita itu mengembang saat melihat Naisa yang menolak nya dan senyuman itu senyuman benci nya terhadap Naisa.


"Sebentar saja" ucap Asanti dengan senyum yang melebar kepada Naisa dan kembali menggenggam tangan Naisa.


"Aku tidak mau" jawab Naisa dan kembali menepis kasar tangan Asanti dari tangan nya itu dan langsung berlari dari sana dengan kecepatan tinggi, Tapi Asanti datang ke sana dengan beberapa preman yang memang ia sewa untuk melenyapkan Naisa, Para preman itu pun langsung menangkap Naisa dan membekap Naisa.


"Emmmm" ucap Naisa karna mulut nya di bekap dan berusaha melepaskan tangan preman itu dari mulut nya. Asanti yang mendengar itu pun langsung menoleh ke belakang, Senyum jahat kembali mengembang di wajah wanita itu saat melihat Naisa yang sudah tertangkap.


Asanti berjalan ke arah Naisa dan para anak buah nya sekitar tiga atau lima orang itu. "Aku sudah mengajak mu dengan baik tadi, Tapi kau menolak" bisik Asanti di telinga Naisa. Air mata keluar dari mata wanita yang sedang di bekap itu.


"Sudah lah jangan menangis" ucap Asanti dengan senyum yang mengembang menatap Naisa. Naisa tidak menanggapi nya dan air mata nya mengalir dengan deras di wajah cantik nya itu.


"Bawa dia" perintah Asanti, Pereman itu mengiyakan nya dan membawa Naisa dan masuk ke dalam mobil yang letak nya memang sangat jauh dari sana karna tidak mau membuat Naisa atau pun orang yang melintas di sana curiga.


Para preman tadi mendudukkan Naisa di tengah tengah dan Asanti duduk di depan, "Ikat tangan dan kaki nya" perintah Asanti tanpa menatap Naisa,


"Baik bos" jawab salah satu preman dan langsung mengikat tangan dan kaki Naisa menggunakan tali berwarna putih.


"Lepaskan aku" ucap Naisa dengan air mata yang terus mengalir tapi itu tidak membuat Asanti melepaskan nya. Naisa sedari tadi mengucapkan kata kata itu berulang kali dan membuat Asanti yang mendengar nya sangat risih.


"Lem mulut nya" perintah Asanti dengan nada tinggi.


"Baik bos" jawab salah satu anak buah nya dan langsung menglem mulut Naisa menggunakan lem berwarna hitam.