
"Naisa?" panggil seseorang Lelaki yang belum tau siapa itu, Naisa dengan segera menghapus air mata yang sempat jatuh di wajah nya itu dengan kepala yang menunduk setelah itu baru dia menatap dan menoleh ke arah suara yang memanggil nya tadi. Naisa terkejut melihat siapa yang memanggil nya dan sontak mata nya membulat melihat lelaki itu.
"Rafli?" ucap Naisa dan langsung berdiri dari jongkok nya. Rafli teman Naisa sewaktu SMP dia sekarang sekolah di luar negri karna memang dia berasal dari keluarga kaya raya dan otak nya juga pintar, Dia lelaki tampan dan juga baik apa lagi dengan Naisa karna dia pernah menyukai Naisa karna kebaikan Naisa kepada siapapun.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Rafli kepada Naisa.
"Aku sedang berziarah ke makam ibu dan ayah ku, Kau sendiri?" tanya balik Naisa dengan berbicara biasa saja karna memang mereka sangat berteman waktu SMP, Rafli itu sama dengan Renald yang berteman dengan Naisa dan akhirnya jatuh cinta dengan Naisa tapi Naisa sama sekali tidak mencintai Rafli.
"Ayah? maksud mu?" tanya Rafli yang heran karna dia juga mengenal orang tua Naisa karna sering berkunjung ke rumah Naisa dahulu.
"Ayah sudah meninggal setahun lalu" jawab Naisa dengan memaksakan senyuman nya, Rafli tersentak kaget mendengar itu karna dia sama sekali tidak mengetahui masalah itu.
"Kau yang benar saja Nai?" tanya Rafli yang meyakin kan nya. Naisa mengangguk mengiyakan nya dengan senyum paksa.
"Aku turut berduka cita, Aku minta maaf karna tidak bisa datang saat ayah meninggal" ucap Rafli yang bisa melihat kesedihan di wajah Naisa.
"Tidak apa apa, Kau kan juga sibuk dengan belajar mu" jawab Naisa dengan senyum nya. Rafli tidak menjawab dan dia hanya menatap lekat Naisa yang sangat nampak memaksakan senyum itu.
"Oiya, Kau kenapa bisa di sini?" tanya Naisa kembali kepada Rafli.
"Aku ke makam oma" jawab Rafli.
"Kapan kau kembali ke indonesia?" tanya Naisa kepada Rafli.
"Kemarin dan hari ini aku baru sempat ke makam oma karna mungkin aku akan melanjutkan study ku nanti tetap di china" jelas Rafli.
"Bagus lah itu Raf, sukses selalu ya, kalau begitu aku pamit" ucap Naisa dengan melebarkan senyuman nya dan ingin berlalu tapi Rafli menghentikan nya dengan memegang tangan nya.
"Ada apa?" tanya Naisa kepada Rafli dengan menatap tangan Rafli yang memegang tangan nya itu, Rafli melepaskan tangan nya dari tangan Naisa.
"Kau mau kemana? kenapa terburu buru?" tanya Rafli karna dia merindukan wanita yang ia cintai itu.
"Aku masih ada pekerjaan" jawab Naisa.
"Memang nya pekerjaan apa? dan di mana?" tanya Rafli.
"Aku bekerja di toko bunga" jawab Naisa.
"Kenapa kau bekerja?" tanya Rafli.
"Jika aku tidak bekerja bagaimana aku akan menyambung hidup ku" jawab Naisa.
"Kau masih sekolah?" tanya Rafli dengan menatap lekat Naisa, Naisa mengngguk mengiyakan nya.
"Jadi bagaimana dengan sekolah mu jika kau bekerja?" tanya Rafli kepada Naisa.
"Aku bekerja separuh waktu, Pulang dari sekolah baru aku bekerja" jelas Naisa. Rafli mengangguk mengerti akan itu.
"Mari aku antarkan kau ke tempat kerja" ajak Rafli.
"Tidak usah, Kau kan mau mengunjungi makam oma mu" jawab Naisa.
"Yasudah ayo" ajak Rafli. Naisa mengangguk mengiyakan nya karna bagaimana pun Rafli itu adalah teman nya dan Rafli pulang ke indonesia juga jarang. Naisa dan Rafli berjalan bersama keluar dari area pemakaman itu.
"Kau kesini naik apa?" tanya Rafli kepada Naisa.
"Jalan kaki" jawab Naisa.
"Kau memang dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah pantas saja tubuh mu tidak pernah gemuk" ledek Rafli karna memang sedari dulu Naisa suka berjalan kaki dari ada menaiki kendaraan umum.
"Jalan kaki kan juga sehat" jawab Naisa.
"Iya aku tau, Yasudah silahkan masuk" ucap Rafli dengan membuka pintu mobil untuk Naisa.
"Aku bisa membuka nya sendiri" ucap Naisa dengan mengambil alih ganggang pintu mobil itu dari tangan Rafli, Rafli tidak melepaskan nya dan Naisa pun terpaksa masuk dan Rafli pun menutup pintu mobil itu saat Naisa sudah masuk ke dalam nya.
Setelah menutup pintu mobil untuk Naisa dia langsung berjalan ke arah kemudi dan masuk ke dalam mobil nya itu. "Dimana alamat tempat kau bekerja?" tanya Rafli kepada Naisa.
"Andini flowers" jawab Naisa.
"Ooh Andini flowers?" tanya Rafli.
"Kau tau tempat itu?" tanya Naisa kepada Rafli.
"Iya aku sangat tau malah, Itu toko tante Andini teman mama ku" jelas Rafli. Naisa mengangguk mengerti akan apa yang di jalaskan oleh Rafli.
Setelah percakapan tadi tidak ada lagi yang ingin berbicara sampai akhir nya mobil yang mereka tumpangi pun sampai ke tempat tujuan yakni Andini flowers.Naisa langsung turun dari mobil itu dan Rafli juga ingin ikut turun. "Kau kenapa ikut turun?" tanya Naisa kepada Rafli saat melihat Rafli juga keluar dari mobil.
"Kenapa memang nya? aku ingin melihat lihat saja" jawab Rafli dan langsung berlalu mendahului Naisa masuk ke dalam toko itu. Naisa tidak menjawab nya dan mengikuti Rafli yang masuk terlebih dahulu.
"Kau mau melihat apa di sini?" tanya Naisa kepada Rafli.
"Toko apa ini?" tanya Rafli kepada Naisa.
"Bunga" jawab Naisa.
"Kau tau jika ini toko kan, Jadi kenapa kau menanyakan hal konyol seperti tadi?" tanya Rafli kepada Naisa.
"Ya, Aku tidak tau jika kau ingin membeli bunga" jawab Naisa dengan menundukkan kepala nya.
"Kau ini jika sudah tersekak mat pasti menundukkan kepala" ucap Rafli yang sudah mengetahui sifat sifat Naisa dan nampak sekali senyum di wajah tampan lelaki itu terukir.
"Naisa" panggil Aldi, Naisa dan Rafli menoleh ke arah Aldi yang memanggil Naisa itu.
"Lelaki ini" guman Rafli yang memang tidak menyukai Aldi tapi dia menghargai Aldi sebagai anak dari taman mama nya.
"Pria lemah ini" guman Aldi menatap Rafli karna Rafli dudlu memang lemah dan selalu bertengkar dengan Aldi saat berada di rumah Aldi tapi Rafli yang dulu bukan yang sekarang, Rafli yang sekarang sudah pandai dalam bela diri. Naisa menatap kedua lelaki yang saling beradu pandang dan pandangan mereka nampak sekali seperti pandangan yang saling tak menyukai.
"Kalian berdua Kenapa menatap satu sama lain seperti itu?" tanya Naisa dengan menatap kedua lelaki itu secara bergantian dengan tatapan bingung. Aldi dan Rafli memutuskan tatapan mereka dan menatap ke arah Naisa yang berada di tengah tengah mereka.