
"Ayo nai" ajak Ari kepada Naisa. Naisa mengangguk mengiyakan nya.
"Tunggu" teriak Aldi kepada Naisa dan Ari. Mereka berduapun menghentikan langkah kaki mereka dan Ari melihat ke arah Aldi tapi tidak dengan Naisa.
"Ada apa pak?" tanya Ari kepada Aldi.
"Biar saya yang mengantarkan nya" jawab Aldi akan pertanyaan Ari.
"Tidak usah pak biar kak Ari saja yang mengantar kan saya pulang" ucap Naisa sopan dengan menundukkan kepala nya.
"Kau kembali lah bekerja biar saya yang mengantar kan nya" ucap Aldi kepada Ari. Ari mengangguk mengiyakan nya dan langsung berlalu dan kembali bekerja. Asma menatap heran akan Aldi yang mudah akrab dengan Naisa itu karna dia tau betul seorang Aldi fernando yang tidak mudah dekat dengan orang lain apa lagi wanita.
Asma tidak mengambil pusing dan diapun kembali bekerja dan melayani beberapa pembeli yang sudah memesan bunga kemarin dan untung nya Naisa sempat membuat beberapa bunga tadi.
"Ayo" ajak Aldi dan langsung mendahului Naisa masuk ke dalam mobil. Naisa ragu ingin masuk atau tidak.
"Ayo masuk" ucap Aldi dengan membuka kan jendela pintu yang di dekat Naisa. Naisa terpaksa masuk ke dalam mobil itu karna dia juga tidak sanggup berjalan menuju ke rumah nya.
Saat Naisa sudah masuk ke dalam mobil Aldi langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang dan terlebih dahulu dia menuju ke rumah sakit. "Pak jalan rumah saya lurus saja bukan ke sini" ucap Naisa yang melihat Aldi membawa nya tidak sesuai arah.
"Diam lah" jawab Aldi datar dan kembali fokus ke kemudi nya. Naisa mulai gelisah akan Aldi yang membawa nya ntah kemana dan Aldi bisa melihat wajah gelisah Naisa itu dan mempercepat laju mobil nya.
Naisa semakin takut saat Aldi menambah kecepatan mobil itu. Naisa nampak mengeluarkan keringat dingin akibat ketakutan. "Turun lah" ucap Aldi saat sudah memarkir kan mobil nya tepat di depan rumah sakit di sekitaran sana.
Naisa menatap ke arah Aldi dengan tatapan masih takut. "Turun lah kita obati dulu luka mu itu" ucap Aldi karna dia tau pasti Naisa takut dengan nya.
Naisa tidak bergerak sedikit pun tubuh nya seperti terpaku dan dia juga tidak mau turun dan masih menatap lekat Aldi. Aldi bisa melihat wajah pucat wanita yang ada di hadapan nya itu dan dia pun meletak kan punggung tangan nya di dahi Naisa. Naisa tersentak kaget dan membulat kan mata nya saat punggung tangan Aldi menyentuh dahi nya.
"Panas sekali" guman Aldi. Naisa dengan segera menepis tangan Aldi dan terlepas lah tangan Aldi dari dahi nya.
"Saya tidak usah di periksa pak" ucap Naisa yang memberanikan membuka suara.
"Kau demam dan itu pasti karna terkena duri tadi" jawab Aldi. Naisa kembali diam dan menunduk kan kepala nya kembali.
"Ayo" ajak Aldi. Naisa terpaksa mengiyakan nya dan mengikuti Aldi dari belakang. Aldi langsung membawa Naisa masuk ke dalam ruangan husus karna memang rumah sakit itu adalah milik fernando grup.
"Obati dia" perintah Aldi kepada Aisya dokter pribadi keluarga nya dan dia juga sudah menikah dua tahun lalu tapi belum memiliki anak.
"Baik tuan muda" jawab Aisya dan langsung memeriksa Naisa.
"Apa dia kekasih mu?" tanya Aisya karna memang dia sudah menganggap Aldi seperti adik kandung nya sendiri karna Aldi sudah baik sekali kepada nya.
"Dia hanya pekerja di toko bunga mama" jawab Aldi.
"Jika dia kekasih mu juga tidak masalah dan seperti nya dia anak yang baik dan dia juga cantik tapi dia tidak mau berdandan" jelas Aisya karna memang dia selalu menilai wanita yang di abwa oleh Aldi karna dia sedikit bisa membaca karakter orang.
"Sudah lah berikan obat untuk nya" ucap Aldi datar. Aisya memberikan beberapa obat kepada Aldi untuk Naisa. Aldi menerimanya dan langsung berlalu dari sana. Aisya hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah laku Aldi yang selalu dingin itu.
"Ayo" ajak Aldi kepada Naisa yang menunggu nya di depan ruangan Aisya. Naisa tidak menajwab nya dan mengikuti Aldi dari belakang dan masuk ke dalam mobil.
Aldi melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah Naisa. dan di dalam mobil itu sangat hening Naisa sibuk menatap jalan yang ia lewati sedangkan Aldi dia sibuk dengan kemudi.
Tidak lama kemudian mobil mereka pun berhenti tepat di pekarangan rumah Naisa. Naisa langsung turun dari mobil itu dan berjalan ke arah kemudi. "Terima kasih pak" ucap Naisa sambil membungkukkan sedikit tubuhnya saat Aldi membuka jendela mobil itu.
Naisa ingin berlalu masuk ke dalam rumah nya. "Hey tunggu" teriak Aldi dan turun dari mobil itu karna dia lupa memberikan obat yang di berika Aisya kepada nya tadi kepada Naisa.
Naisa menghentikan langkah nya dan membalikkan tubuh nya menatap ke arah Aldi. "Ada pak?" tanya Naisa dengan menunduk kan kepala nya di depan Aldi.
"Ini obat untuk mu" jawab Aldi sambil menyodorkan obat di dalam kresek kepada Naisa.
"Terima kasih pak" jawab Naisa sambil menerima obat yang di sodorkan Aldi kepada nya.
"Kau tinggal di rumah ini sendiri?" tanya Aldi kepada Naisa. Naisa menatap nya dan setelah itu diapun mengangguk membenarkan ucapan Aldi.
"Ibu mu?" tanya Aldi kepada Naisa.
"Ibu saya sudah meninggal semenjak saya kecil pak" jawab Naisa karna memang Aldi tidak mengetahui sedikit pun tentang Naisa.
"Maafkan aku" ucap Aldi merasa bersalah saat tau yang sebenar nya.
"Tidak apa apa pak" jawab Naisa sambil melebarkan senyuman nya menatap Aldi. Aldi menatap lekat wanita yang tengah tersenyum kepada nya itu karna dia sangat jarang melihat wajah wanita itu apa lagi senyuman nya dan Aldi juga menatap iba akan Naisa yang sudah tidak memiliki keluarga itu.
"Kenapa kau tidak mengajak kak Asma untuk tinggal bersama mu?" tanya Aldi kepada Naisa.
"Saya tidak enak untuk mengajak nya pak takut dia menolak dan tidak nyaman tinggal di rumah kecil ini dan lagi pula saya dengan nya juga baru mengenal" jelas Naisa panjang lebar dengan menunduk kan kepala nya.
"Jika dia mau apa kau memboleh kan nya?" tanya Aldi karna dia kasihan akan Anisa yang dinggak sendiri di rumah itu dan Asma juga tidak memiliki tempat tinggal dan tinggal di kontrakan kecil yang jauh lebih kecil dari rumah Naisa.