I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 46



"Kenapa kau ingin perkelahian tadi terhenti?" tanya Aldi lagi.


"Jika perkelahian kalian terus berlanjut nanti salah satu dari kalian akan ada yang cidera dan mungkin sampai meninggal dan aku tidak mau hal itu terjadi" jelas Naisa lagi dengan wajah yang nampak cemberut.


"Hah? apa maksud ucapan nya?" guman Aldi yang sama sekali tidak memahami penjelasan Naisa tadi.


"Kenapa bapak menatap saya seperti itu?" tanya Naisa kepada Aldi yang menatap nya dengan tatapan lekat. Aldi langsung tersadar akan itu.


"Siapa yang menatap mu?" tanya balik Aldi kepada Naisa. Naisa tidak menjawab nya lagi karna dia tidak mau dan malas berdebat dengan Aldi lagi.


"Emm, pak" panggil Naisa akan Aldi yang sudah berpindah duduk di bawah di atas kursi.


"Hem" jawab Aldi dan menoleh ke arah Naisa.


"Saya ingin pulang" ucap Naisa sedikit ragu kepada Aldi.


"Kau masih sakit" jawab Aldi.


"Tapi pak saya ingin pulang ke rumah kasihan kak Asma sendiri di rumah" jelas Naisa yang bersi keras ingin pulang karna dia tidak yakin jika Asma berani sendirian di rumah tapi nyatanya tidak, Asma tidak sepenakut yang ia pikirkan padahal dia lah yang takut di rumah sakit ntah apa yang dia takuti.


"Oiya kak Asma, Aku lupa" ucap Aldi dengan memukul dahi nya karna dia lupa mengabari Asma, Aldi langsung mengambil ponsel nya yang ada di dalam saku celana nya dan mengirim pesan kepada Asma tapi pesan yang ia kirimkan itu belum di terima oleh Asma.


"Ada pak?" tanya Naisa kepada Aldi karna Aldi nampak sangat pokus kepada ponsel, Aldi tidak menjawab nya karna pesan yang ia kirim belum di terima oleh Asma dan dia memilih untuk langsung menelpon Asma.


"Halo Aldi, Naisa bersama mu?" tanya Asma saat mengangkat telpon dari Aldi dan sangat terdengar jika dia hawatir akan Naisa.


"Naisa sekarang bersama ku, Dia di..." ucap Aldi yang terpotong oleh Asma yang terdengar sangat menghawatirkan Naisa.


"Berikan ponsel nya kepada Naisa" potong Asma karna sedari tadi dia mencoba menghubungi Naisa tapi tidak di angkat. Aldi memberikan ponsel nya kepada Naisa.


"Ini kak Asma ingin berbicara dengan mu" ucap Aldi sambil menyodorkan ponsel nya kepada Naisa. Naisa menerima nya dan meletakkan nya di dekat telinga nya.


"Halo kak" ucap Naisa dengan lembut.


"Astaga Nai, Kau di mana? kenapa kakak sedari tadi menghubungi ponsel mu tapi tidak di jawab? apa kau baik baik saja? apa Aldi macam macam dengan mu? atau teman mu itu yang macam macam dengan mu?" tanya Asma berturut turut dengan nada hawatir dan tinggi sampai sampai Naisa meminggirkan sedikit ponsel itu karna suara Asma yang tinggi.


"Halo Naisa" panggil Asma karna tidak mendapatkan jawaban dari Naisa. Naisa juga belum menjawab nya.


"Naisa kau mendengarkan ku bukan?" tanya Asma lagi karna tak mendapatkan jawaban dari Naisa.


"Nai mendengar nya kak" jawab Naisa.


"Yasudah jawab lah pertanyaan kakak" perintah Asma kepada Naisa.


"Pertanyaan yang mana kak?" tanya Asma.


"Yang kakak ucapkan tadi" jawab Asma.


"Coba kakak ulangi karna tadi kakak berbicara terlalu cepat dengan nada tinggi" ucap Naisa.


"Huh, Kau di mana sekarang?" tanya Asma yang kembali mengulangi pertanyaan nya tadi tapi saat ini dia mengulangi nya satu persatu.


"Nai sekarang di rumah sakit" jawab Naisa dengan nada pelan.


"Kenapa kau di rumah sakit? siapa yang sakit?" tanya Asma yang kembali meninggikan nada bicara nya. Naisa kembali menjauhkan ponsel itu dari telinga nya karna suara Asma yang selalu meninggi itu, Aldi yang melihat itu langsung mengambil alih ponsel itu dari tangan Naisa.


"Aku tidak berteriak aku hanya hawatir dengan nya" jawab Asma.


"Jelas jelas kau berteriak tadi" ucap Aldi.


"Kenapa kalian bisa di rumah sakit? siapa yang sakit?" tanya Asma kepada Aldi.


"Naisa yang sakit" jawab Aldi.


"Sakit apa dia?" teriak Asma lagi, Aldi melakukan hal yang sama dengan Naisa yakni menjauhkan ponsel itu dari telinga nya.


"Naisa tadi dia...." jawab Aldi yang terpotong oleh Asma.


"Tunggu aku, Aku akan ke sana sekarang" potong Asma dan langsung mematikan ponsel nya dan bersiap siap ingin berangkat ke rumah sakit.


Saat keluar dari rumah dia baru ingat jika tidak tau di mana alamat rumah sakit Naisa berada. "Astaga aku lupa menanyakan nya" guman Asma yang sudah berada di teras rumah itu. Asma mengambil ponsel nya yang ada di dalam tas nya itu.


"Dimana alamat rumah sakit Naisa di rawat?" isi pesan yang di kirimkan oleh Asma kepada Aldi.


Ting


Aldi kembali membuka ponsel nya dan terlihat pesan dari Asma.


"Rumah sakit H" balas Aldi dan kembali mematikan ponsel nya.


Ting


Asma langsung melihat pesan yang di kirimkan oleh Aldi itu dan diapun langsung mencari ojek untuk menuju ke rumah sakit yang di katakan oleh Aldi.


"Kenapa bapak memberitahu kak Asma?" tanya Naisa kepada Aldi.


"Dia kan bertanya kepada ku makanya aku jawab" jawab Aldi dan kembali menyenderkan tubuh nya di kursi yang ia duduki itu.


"Tapi kak Asma itu pasti baru beristirahat" ucap Naisa yang tidak terima akan Aldi yang menghubungi Asma.


"Aku tidak yakin dia beristirahat tanpa mendapati mu di rumah" jawab Aldi dengan mata yang terpejam.


"Lelaki ini" guman Naisa yang kesal akan Aldi.


Ckleeek


Pintu ruangan itu terbuka, Naisa menoleh ke arah pintu tapi tidak dengan Aldi karna dia sudah yakin jika yang datang adalah Asma. "Rafli" panggil Naisa saat melihat Rafli lah yang datang dengan duduk di kursi roda dan di dorong olehs alah satu perawat.


Aldi yang awal nya memejam kan mata nya pun langsung membuka mata nya saat mendengar nama lelaki yang sangat ia benci itu, Aldi menoleh ke arah Rafli yang sudah masuk bersama dengan suster. "Ada apa kau ke sini?" tanya Aldi datar.


"Nai maafkan aku karna membuat mu masuk rumah sakit" ucap Rafli yang sangat merasa bersalah dan hawatir akan wanita yang ia cintai itu dan dia tidak menjawab perkataan Aldi sama sekali.


"Keluar kau" ucap Aldi yang masih datar karna dia tidak mau melihat wajah Rafli sedangkan Naisa dia hanya melihat wajah Rafli yang nampak babak belur dan lebih parah dari tadi saat di cafe.


"Diam lah kau" ketus Naisa kepada Aldi.


"Kenapa luka di wajah mu semakin parah?" tanya Naisa kepada Rafli.