I HATE EVERYONE

I HATE EVERYONE
Episode 6



"Toko bunga?" tanya Aldi karna memang dia sangat membenci yang namanya bunga.


"Iya" jawab Andini sambil melebarkan senyumannya menatap sang anak.


"Mama kan tau kalo Aldi gak suka sama bunga" ketus Aldi dengan wajah kesalnya.


"Maka dari itu mama mau kamu suka sama bunga biar kamu bisa nerusin bisnis mama" jawab Andini.


"Aldi gak mau" bantah Aldi.


"Mama gak mau tau pokoknya kamu harus mau" jawab Andini sedangkan Erdin dia sudah berlalu ke dalam kamar terlebih dahulu.


"Tapi ma.." rengek Aldi. Andini tidak menjawabnya dan langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Aldi menatap kesal ke arah kamar orang tuanya itu. "Aaaah" teriak Aldi dengan menghentakkan kakinya karna dia sangat malas jika di suruh untuk mengurus toko bunga.


"Lebih baik aku terima untuk mengurus perusahaan papa dari pada harus mengurus toko bunga mama Aaayys" ketus Aldi dan langsung naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya.


*****


Naisa berjalan dengan wajah yang nampak bahagia karna dia bisa mendapatkan pekerjaan. tidak lama kemudia Naisa pun sampai di toko bunga yng ada di alamat yang di berikan oleh Andini tadi.


"Astaga tadi aku lupa.." ucap Naisa memukul pelan dahinya dan melihat kartu nama yang ada di tangannya dan untungnya di kartu itu ada nama dan dia tadi lupa menanyakan siapa nama orang tadi.


"Untung aja ada namanya disini" guman Naisa lega dan langsung masuk ke dalam toko bunga tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya salah satu pegawai toko itu.


"Emmm saya ingin melamar pekerjaan disini bu dan tadi saya di kasih ini sama bu Andini" ucap Naisa sedikit ragu saat menyebutkan nama Andini.


"Anda Naisa?" tanya Asma kepada Naisa karna memang Andini sudah memberitahu masalah Naisa kepadanya tadi.


"Iya bu saya Naisa" jawab Naisa dengan senyum yang melebar.


"Jangan panggil saya ibu, panggil saja aku kakak" jawab Asma karna dia tidak setua itu untuk di panggil ibu.


"Iya kak" jawab Naisa sopan.


"Ayo ikut aku" ucap Asma. Naisa mengikutinya dari belakang dan Naisa di bawa ke sebuah ruangan dan di sana banyak sekali celemek yang sama.


"Ini untuk kamu, pakai lah" ucap Asma sambil menyodorkan celemek kepada Naisa. Naisa menerimanya dengan senang hati dan langsung memakainya.


"Mari ikuti aku, aku akan menunjukkan apa saja kerjamu disini" ucap Asma saat melihat Naisa sudah mengenakan celemek. Naisa mengangguk mengiyakannya dan Asma langsung berlalu diikuti oleh Naisa dari belakang.


Asma menjelaskan apa saja yang akan di lakukan oleh Naisa dan Naisa hanya melayani pembeli dan jika dia mau dia juga boleh membantu yang lain dan jika tidak juga tidak apa apa karna itu permintaan dari Andini pemilik toko itu dan toko itu sudah memiliki banyak cabang dan juga ada di luar negeri seerti di mandarin dan di london.


"Hanya itu pekerjaan saya kak?" tanya Naisa yang hanya mendapatkan sedikit pekerjaan.


"Iya, jika kamu mau membantu yang lain juga boleh jika tidak tidak apa apa" jawab Asma sambil melebarkan senyumannya.


"Oiya kak apa saya bekerja paruh waktu? soalnya saya dari pagi hingga siang sekolah dan bisa bekerja saat jam 3 sampai malam" jelas Naisa.


"Tentu saja boleh dan itu sudah di beritahukan oleh pemilik toko ini kepada saya" jawab Asma. Naisa mengangguk mengerti akan perkataan Asma.


"Yasudah kak saya mau pulang dulu saja besok baru saya akan mulai bekerja" jawab Naisa dengan senyum lebarnya Asma membalas senyuman itu.


"Oiya kak ini dimana meletakkannya?" tanya Naisa.


"Mari" ajak Asma. Naisa mengikutinya dari belakang.


"Ini brangkas husus untuk kamu dan kamu boleh menyimpan apapun barang kamu di dalam ini, dan ini kuncinya" jelas Asma sambil menyodorkan kunci berangkas kepada Naisa . Naisa menerimanya dengan senyum yang mengembang dan setelah itu dia meletakkan celemek dan mengunci kembli berangkas itu dan berpamitan untuk pulang dengan Asma.


Naisa berjalan dengan girangnya menuju ke rumahnya yang terletak tidak terlalu jauh dari toko bunga tadi makanya dia kuat untuk berjalan kaki. Setelah sepuluh menit menempuh perjalanan menuju ke rumahnya dengan berjalan kaki akhirnya dia sampai di rumah.


"Naisa" sapa Renald yang sudah duduk di atas kursi di depan rumah Naisa.


"Renald?" ucap Naisa bingung dan langsung menundukkan kepalanya.


"Kau dari mana?" tanya Renald dengan langsung berdiri mendekat ke arah Naisa.


"Kau mau apa kesini?" tanya Naisa dengan menundukkan kepalanya. Renald heran akan sikap Naisa yang berubah itu karna setaunya Naisa jika berbicara dengannya pasti menatapnya.


"Aku tadinya ingin mengajakmu pergi jalan jalan" jawab Renald.


"Tapi..." ucap Renald terpotong dan menatap iba ke arah Naisa.


"Tapi kenapa?" tanya Naisa menatap Renald.


"Tapi aku dengar dari tetanggamu tadi katanya ayah mu kemarin meninggal dunia ya?" tanya Renald meyakinkannya dengan menatap lekat Naisa dengan perasaan iba. Naisa mengangguk mengiyakannya dan kembali menundukkan pandangnya karna dia menahan tangisnya.


"Aku turut berduka cita" ucap Renald.


"Terima kasih kau pulang lah" ucap Naisa karna dia tidak mau Maya mengganggunya lagi.


"Kau tidak mau menyuruhku masuk?" tanya Renald kepada Naisa.


"Aku tinggal sendiri dan tidak ada laki laki yang boleh masuk ke rumah ini" jawab Naisa.


"Pulang lah sekarang aku sendiri di sini tidak seperti dulu" sambungnya lagi karna memang dulu Renald sering berkunjung ke rumah Naisa.


"Baik lah kau jaga diri mu baik baik jika perlu apa apa hubungi aku" ucap Renald dan ingin berlalu. Naisa mengangguk mengiyakannya tanpa menatap nya.


Renald hnya menatap wanita yang sma sekali tidak menatapnya itu. "Kenapa kau belum pergi?" tanya Naisa yang masih melihat kaki Renald.


"Iya aku pergi....aku pamit" ucap Renald dan langsung berjalan menuju ke mobilnya dan masuk ke dalam.


Tit


Renald memencet kelakson mobilnya dan langsung melajukan mobilnya itu dengan kecepatan rendah karna matanya sedari tadi menatap wanita yang sama sekali tidak menatapnya itu dari kaca spion mobil.


Naisa langsung masuk ke dalam rumahnya san mengunci pintu rumah itu. Naisa langsung merebahkan tubuhnya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa senang karna dia dapat perjaan dan ada juga rasa sedih karna di saat kebahagiaannya ini dia tidak bisa bercerita kepada siapapun karna dulu selalu ada sang ayah yang selalu mendengarkan ceritanya.


"Kenapa sifat nya berubah seperti itu?" tanya Renald kepada diri sendiri saat melihat Naisa sudah masuk ke dalam rumah. Renald pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang tanpa menatap spion lagi.