
Brukkk
Naisa pun tak sadarkan diri. Asma nampak panik begitupun dengan Aldi. Renald yang melihat Naisa pingsan pun langsung menghampirinya. "Kenapa Naisa?" tanya Renald. Tidak ada yang menjawab perkataan Renald dan akhirnya Renald pun langsung menggendong Naisa dan berlari menuju ke rumah Naisa yang tidak terlalu jauh dari tempat Naisa pingsan.
Renald membaringkan Naisa di atas tempat tidur Naisa yang ada di dalam kamar itu dan di temani oleh Asma dan juga Aldi. Asma mengambil air di belakang dan dia juga mengmbil minyak kayu putih. Asma menyodorkan minyak kayu putih itu kepada Renald.
"Nai, Bangunlah" ucap Renald dengan memberi Naisa mencium bau minyak kayu putih itu sedangkan Aldi dia hanya menyaksikan apa yang di lakukan oleh Renald. Naisa mengerjapkan matanya dan terlebih dahulu melihat Renald di hadapannya.
"Minum ini Nai" ucap Asma sambil menyodorkan air yang ia ambil untuk Naisa tadi.Naisa duduk dari tidurnya tadi. Naisa menerimanya dan meneguk sedikit air itu. Naisa mengembalikan gelas tersebut kepada Asma dan Asma menerimanya dengan senang hati dan meletakkan gelas itu ke atas meja belajar Naisa yang terletak di samping ranjang.
"Kau kenapa bisa disini?" tanya Naisa kepada Renald.
"Kau kenapa tadi bisa pingsan?" tanya balik Renald.
"Bukan urusan mu" jawab Naisa dengan menundukkan kepalanya.
"Kau kenapa menghidar dariku seperti ini?" tanya Renald.
"Aku tidak menghindar, Aku hanya ingin hidup tenang" jawab Naisa dengan kepala yang masih menunduk.
"Jika tidak menghindar apa namanya tadi, Kau langsung pulang saat aku datang dan tadi hampir saja kau di pukuli orang" jelas Renald.
"Huh" Naisa mendengus pelan. "Keluarlah, Aku ingin istirahat" ucap Naisa yang tidak tau lagi ingin menjawab apa.
"Tapi Nai..." ucap Renald terpotong oleh Asma.
"Sudah lah jangan ganggu dia, Dia ingin istirahat mari kita keluar" ajak Asma. Renald dan yang lainpun terpaksa keluar. Naisa yang melihat semua orang yang tadi di kamarnya sudah keluar pun langsung merebahkan kembali tubuh nya.
"Ayah apa kabar? ibu juga apa kabar?" ucap Naisa dengan air mata yang sudah mengalir di wajah nya itu tanpa di ketahui oleh siapapun tapi sepertinya ada sepasang mata yang mengintipnya dari balik pintu kamar itu dan dia adalah Aldi.
Aldi masih di rumah itu dan dia ingin mengetahui kabar Naisa tapi saat dia ingin masuk dia melihat Naisa meneteskan air mata makanya dia tidak jadi masuk dan mendengar ucapan Naisa tadi. Sedangkan Renald dia sudah berlalu karna Asma mendorongnya keluar dan tadi Asma juga mendorong Aldi tapi Aldi beralasan ingin membuang air tapi nyatanya dia malah mengintip Naisa.
"Hey, Apa yang kau lakukan?" ketus Asma.
"Shut" ucap Aldi sangat pelan dengan meletakkan jari telunjuknya di hidung dan bibirnya.
"Ada apa?" tanya Asma. Aldi tidak menjawab nya dan kembali mendengar ucapan Naisa.
"Naisa hanya ingin hidup tenang dan bermain dengan teman teman, Tapi Naisa tidak mempunyai teman dan hanya Renald yang ingin berteman dengan Naisa tapi jika Naisa terus terusan berdekat dengannya Naisa akan selalu di ganggu oleh Maya" ucap Naisa dengan memandangi poto kedua orang tuanya dan potonya yang masih kecil. Asma yang mendengar itu langsung menarik Aldi untuk keluar dari rumah itu.
"Ada apa kak?" tanya Aldi saat Asma sudah melepaskan tangannya di luar rumah.
"Apa benar Naisa tidak mempunyai teman?" tanya Asma kepada Aldi. Aldi mengangkat kedua bahunya tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.
"Kau ini, Bilangnya satu sekolah tapi di tanya masalah itu saja kau tidak tau" ketus Asma dan memukul bahu adiknya itu.
"Dia di sekolah sangat tertutup dan sangat pendiam, Aku juga baru tau jika dia satu sekolah dan satu lokat dengan ku" jelas Aldi.
"Benarkah?" tanya Asma yang tidak percaya. Aldi mengangguk mengiyakannya dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana.
"Tapi dia jika di toko atau bersamaku sangat beda, Dia nampak sangat ceria" ucap Asma yang bingung.
"Itu yang aku bingungkan tadi saat melihatnya tertawa dan bergurau dengan pekerja lain, Saat di sekolah dia sangat pendiam dan selalu menundukkan kepala" jelas Aldi.