
"Terima kasih ya pak atas tumpangan nya" ucap Naisa sedikit menundukkan tubuh nya. Aldi hanya membalas nya dengan anggukan dan senyuman.
"Kalau begitu aku pamit pulang" ucap Aldi. Naisa mengangguk mengiyakan nya dan menunggu mobil Aldi berlalu dari pekarangan rumah nya itu dan baru masuk ke dalam rumah.
Naisa menggantikan bajunya dengan baju biasa dan setelah itu dia kembali keluar dari rumah nya dan mengunci pintu rumah itu dan setelah itu dia langsung berjalan menuju ke tempat kerjanya.
Naisa berjalan santai menuju ke tempat bekerja nya dengan senyum yang selalu mengembang karna memang dia selalu tersenyum ketika sedang berjalan kaki.
Beberapa menit Naisa berjalan akhirnya dia sampai di toko bunga tempatnya bekerja. Naisa masuk ke dalam toko itu dan menyapa pegawai toko itu dengan ramahnya dan di balas sapaan ramah pula oleh pegawai yang sudah datang itu.
Naisa langsung menuju ke ruangan ganti dan meletakkan tas yang ia bawa dan meletakkan nya di dalam loker dan setelah itu dia mengambil celemek yang tersangkut di genah husus celemek. Naisa mengenakan celemek itu dan terlebih dahulu dia menuju ke depan.
"Kak" panggil Naisa kepada Asma. Asma yang sedang bekerja menoleh ke arah nya.
"Hem" jawab Asma.
"Apa ada pesanan kemarin?" tanya Naisa kepada Asma.
"Banyak sekali pesanan Nai dan semua jenis karangan bunga hanya kau yang bisa membuat nya karna kan kau belum mengajari yang lain membuatnya" jelas Asma dan berdiri dari duduknya.
"Oiya Naisa lupa kak, Karna kan kemarin Naisa pulang terlebih dahulu" jawab Naisa sambil melebarkan senyumannya.
"Kakak mengerti dan seharus nya kau hari ini tidak masuk kerja kan kau masih sakit" jawab Asma sambil mengusap lembut bahu Naisa.
"Ah tidak apa apa kak Naisa kan juga sudah sembuh" jawab Naisa lagi sambil melebarkan senyumannya. Asma menanggapi ucapan Naisa dengan cengiran.
"Yasudah kak Naisa akan ke belakang saja sekalian mengajari kakak yang lain untuk merangkai bunga" jelas Naisa.
"Yasudah berhati-hati lah lain kali jangan samai kejadian kemarin terulang lagi" jawab Asma.
"Siap" jawab Naisa sambil hormat ke arah Asma. Asma kembali menyengir dan Naisa juga ikut menyengir.
"Yasudah sana nanti pelanggan komplen jika pesanan nya tidak selesai" ucap Naisa. Naisa mengangguk mengiyakan dan langsung berlalu dari sana dan menuju ke belakang.
Naisa mengambil keranjang dan memilih beberapa bunga yang akan ia rangkai. setelah selesai mengambil bunga bunga yang ingin ia rangkai Naisa mengajak beberapa pekerja yang memang tugasnya di belakang untuk belajar bersama terlebih lagi pesanan bunga semakin meningkat dan dia tidak bisa menyelesaikannya sendiri.
Naisa langsung mengerjakan pekerjaannya yakni merangkai bunga dan para pekerja yang ia suruh memperhatikan tadi mengikuti caranya membuat bunga dan mereka mengenakan sarung tangan karna itu ada jenis bunga yang berduri dan bukan hanya itu karna memang jika bekerja di bagian belakang memang harus mengenakan sarung tangan dan kemarin tangan Naisa yang terluka di dekat siku nya dan masih beperban sampai sekarang
Kring
"Kenapa?" tanya Asma yang heran akan Aldi yang mendekat ke arah nya.
"Apa Naisa masuk kerja?" bisik Aldi di telinga Asma.
"Kau menyukai Naisa bukan Al?" tanya Asma.
"Tidak mana mungkin aku menyukai nya, Aku hanya ingin tau karna dia kan belum terlalu sembuh dan tadi aku lihat waktu di sekolah tangannya juga masih beperban" jelas Aldi.
"Kau satu sekolah dengannya?" tanya Asma. Aldi mengangguk mengiyakannya.
"Tapi kenapa dia bilang tidak mengenali mu?" tanya Asma kepada Aldi.
"Itu karna dia jika di sekolah tidak pernah bergaul dengan siapapun" jawab Aldi.
"Tapi kau sudah lama mengenalnya?" tanya Asma.
"Tidak, Aku baru mengenalnya" jawab Aldi.
"Kau menyukai...." ucap Asma terpotong oleh Aldi.
"Kau ini banyak sekali pertanyaan, jawab tanya ku apa dia bekerja?" tanya Aldi kembali dengan nada kesalnya.
"Dia di belakang sedang merangkai bunga pesanan dan mungkin dia juga mengajari pekerja lain merangkai bunga" jelas Asma.
"Kenapa kau membiarkannya ke belakang lagi?" tanya Aldi.
"Karna hanya dia yang tau dan ingat bentuk bunga kemarin" jawab Asma. Aldi tidak menjawab nya dan memilih langsung berlalu dari sana dan menuju ke belakang.
"Nampaknya Naisa sudah berhasil mengambil hati Aldi" guman Asma sambil melebarkan senyumannya dan menatap punggung Aldi.
"Tapi kenapa Aldi bisa tertarik dengan Naisa dan bagaimana bisa secepat itu? apa Aldi sudah lama mengenal Naisa?" guman Asma kembali yang sangat bingung akan sifat adik angkat nya itu tapi biar pun seerti itu dia sangat senang melihat Aldi yang menyukai Naisa dan perhatian seperti itu kepada Naisa.
Di belakang.
Aldi baru saja ingin keluar pintu belakang itu tapi dia mendengar gelak tawa dari belakang. Aldi menghentikan langkah kakinya dan mengintip ke belakang dan melihat Naisa yang sedang asik tertawa bersama dengan pekerja lainnya.
"Kenapa dia di sekolah sangat pendiam dan tidak ernah tersenyum?" guman Aldi heran dan membandingkan tingkah Naisa jika sedang di sekolah dan di temat kerja.